Resolusi DK PBB dan Mimpi Palestina

Resolusi DK PBB

Resolusi ini akan bernasib sama seperti resolusi-resolusi sebelumnya. Entitas Yahudi itu akan melanggarnya dan dunia pun membiarkannya.

Oleh. Mariyah Zawawi
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin mengatakan bahwa jumlah korban sipil di Gaza terlalu tinggi. Sebaliknya, jumlah bantuan kemanusiaan terlalu sedikit. Austin menyampaikan hal itu saat bertemu dengan Yoav Gallant yang menjadi Menteri Pertahanan (Menhan) entitas Yahudi. Keduanya bertemu di Washington untuk membicarakan rencana operasi militer entitas Yahudi di Rafah. (cnnindonesia.com, 27/03/2024)

Kedua pejabat itu bertemu setelah disahkannya Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB pada tanggal 25 Maret 2024. Sebelumnya, Netanyahu berencana untuk mengirimkan delegasi ke Washington untuk membicarakan serangan ke Rafah. Namun, abstainnya AS pada saat pengambilan suara di DK PBB membuat Netanyahu membatalkan rencananya. Netanyahu menuduh AS tidak konsisten dengan sikapnya sehingga tidak menunjukkan pembelaannya terhadap entitas Yahudi.

Resolusi itu dirancang oleh 10 negara anggota tidak tetap DK PBB. Kesepuluh negara tersebut adalah Swiss, Sierra Leone, Aljazair, Jepang, Guyana, Malta, Republik Korea, Ekuador, Mozambik, dan Slovenia. Dalam persidangan, 10 negara anggota tidak tetap dan empat anggota tetap DK PBB menyetujui rancangan resolusi tersebut. Empat anggota tetap yang menyetujui adalah Inggris, Prancis, Cina, dan Rusia. Sedangkan AS memilih untuk abstain.

Mengapa AS Abstain?

Rancangan Resolusi DK PBB berhasil disahkan karena AS memilih abstain untuk pertama kalinya. Biasanya, AS selalu menggunakan hak vetonya untuk menggagalkan rancangan resolusi tersebut. Meskipun demikian, AS menyatakan bahwa resolusi itu bersifat tidak mengikat sehingga entitas Yahudi dapat terus melakukan serangan.

Abstainnya AS juga bukan berarti negara itu menyetujui isi resolusi tersebut. AS tidak menyetujui rancangan resolusi tersebut karena di dalamnya tidak menyebutkan kecaman terhadap Hamas yang melakukan penyerangan pada tanggal 7 Oktober 2023. Sebenarnya, AS hendak menyampaikan amandemen agar resolusi tersebut juga mengecam serangan Hamas. Namun, AS menyadari bahwa amandemen itu akan ditolak. (cnbcindonesia.com, 26/03/2024)

Selain itu, AS mengkhawatirkan terjadinya kebangkitan umat Islam di seluruh dunia. Negara itu takut bahwa kaum muslim akan bersatu untuk melawan entitas Yahudi jika warga Gaza masih diserang selama bulan Ramadan. Oleh karena itu, AS pun memilih untuk abstain.

Sikap AS ini tidak menunjukkan keberpihakan negara itu terhadap warga Gaza. AS hanya ingin menekan entitas Yahudi agar berhenti sejenak selama Ramadan. Setelah itu, serangan terhadap Gaza dapat dilakukan kembali.

Isi Resolusi DK PBB

Resolusi DK PBB yang baru disahkan itu berisi dilakukannya gencatan senjata selama bulan Ramadan, memperbanyak bantuan kemanusiaan, serta pembebasan seluruh sandera yang ditahan oleh Hamas tanpa syarat. Namun, entitas Yahudi menolak melakukan gencatan senjata. Sebaliknya, mereka menginginkan bebasnya seluruh sandera dan musnahnya Hamas.

Di lain pihak, Hamas menyambut baik resolusi tersebut, meskipun tidak sesuai dengan proposal yang mereka ajukan. Dalam proposal yang diberikan ke Qatar sebagai mediator, Hamas menuntut dilakukannya pembebasan terhadap 100 tahanan yang dihukum seumur hidup oleh Zionis Yahudi. Selain itu, Hamas juga menuntut pemulangan para pengungsi ke tempat tinggal mereka dan penarikan pasukan Zionis Yahudi dari Gaza.

Gencatan Senjata Bukan Solusi

Meskipun DK PBB telah mengeluarkan resolusi agar kedua pihak melakukan gencatan senjata, tetapi hal itu belum berdampak langsung. Entitas Yahudi terus melakukan serangan terhadap warga Gaza hingga menewaskan banyak orang. Hingga saat ini, jumlah korban tewas akibat serangan entitas Yahudi terhadap Gaza telah mencapai lebih dari 32.000 orang.

Entitas Yahudi bahkan telah berencana untuk menyerang Rafah setelah Idulfitri. Rencana itu telah disampaikannya ke Mesir yang bertetangga dengan Rafah. Mesir telah mendapatkan jaminan bahwa serangan itu dilakukan untuk tujuan tertentu. Sebenarnya, serangan itu telah direncanakan sejak bulan lalu. Rencana itu ditunda karena adanya tekanan dari AS. (cnnindonesia.com, 28/03/2024)

Hal ini menunjukkan bahwa resolusi itu tidak akan memberi dampak positif bagi warga Gaza yang telah menderita selama ini. Resolusi ini akan bernasib sama seperti resolusi-resolusi sebelumnya. Entitas Yahudi itu akan melanggarnya dan dunia pun membiarkannya.

Bahkan, PBB yang mengeluarkan resolusi itu pun tidak akan berbuat apa-apa. Tidak akan ada sanksi bagi Zionis Yahudi seperti yang dilakukan PBB terhadap Irak, ketika negara itu menginvasi Kuwait. Saat itu, Irak tidak hanya mendapat sanksi berupa embargo ekonomi. Namun, negeri Seribu Satu Malam itu hancur karena mendapat sanksi militer.

Itulah sebabnya, Zionis Yahudi tidak akan menjalankan resolusi tersebut. Mereka berani melakukan hal itu karena ada AS yang akan selalu siap melindungi. Meskipun mereka saat ini tampak berseteru, tetapi pada dasarnya mereka mempunyai keinginan yang sama, yaitu melakukan peperangan.

Zionis Yahudi beserta negara-negara yang mendukungnya, seperti AS, Inggris, dan Prancis akan terus berupaya melenyapkan warga Gaza dan Hamas. Jika ada perselisihan di antara mereka, hal itu hanyalah kepura-puraan. Sejatinya, mereka tetap bersatu karena adanya kepentingan yang sama, yaitu menghancurkan Gaza.

Bukan Resolusi, Butuh Solusi Hakiki

Melakukan gencatan senjata bukanlah solusi yang hakiki untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina, khususnya warga Gaza. Ketika gencatan senjata selesai, entitas Yahudi akan kembali menyerang mereka. Hal itu karena mereka ingin menguasai Palestina seutuhnya, termasuk Gaza.

Penderitaan rakyat Palestina baru akan berakhir, jika Zionis Yahudi itu diusir dari wilayah tersebut. Namun, hal itu tidak mungkin dilakukan sendiri oleh warga Gaza karena kekuatan mereka sangat tidak seimbang. Zionis Yahudi memiliki berbagai persenjataan yang lengkap dan canggih dan mendapat bantuan dari banyak negara yang mendukungnya. Sementara, warga Gaza hanya bergantung pada kekuatan Hamas yang minim persenjataannya.

Oleh karena itu, jalan yang harus ditempuh adalah bersatunya tentara kaum muslim untuk membela Palestina. Namun, hal itu tidak akan terwujud selama umat ini masih dipisahkan oleh sekat-sekat nasionalisme. Persatuan itu hanya akan terwujud jika mereka menjadikan akidah Islam sebagai satu-satunya pengikat.

Itulah yang dahulu dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika menyatukan kabilah Aus dan Khazraj. Demikian pula saat Beliau saw. menyatukan kaum Muhajirin dan Ansar. Mereka dapat bersatu dan menjadi saudara karena memiliki akidah yang sama.

Mereka dapat bersatu karena memahami firman Allah Swt. dalam surah Al-Hujurat [49]: 10 bahwa mereka bersaudara.

اِنَّمَا الْمُؤمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

Artinya: “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara.”

Hal yang sama juga dilakukan oleh para khalifah yang menggantikan Rasulullah saw. Persatuan yang mereka miliki telah mengantarkan mereka menjadi umat terbaik yang disegani. Musuh-musuh Islam pun takut karenanya.

Persatuan itu pula yang mengantarkan masuknya Baitulmaqdis ke dalam naungan Islam. Dengan persatuan itu pula, Salahudin Al-Ayubi berhasil merebut kembali wilayah itu. Kelak, dengan persatuan itu, kaum muslim akan berhasil merebut kembali Palestina. Kami memohon kepada Allah Swt. agar segera mewujudkan mimpi ini agar menjadi kenyataan.

Wallaahu a’lam bi ash-shawaab []

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Mariyah Zawawi Tim Penulis Inti NarasiPost.Com
Previous
Korupsi Makin Kronis Butuh Solusi Sistemik
Next
Saat Anak Mukalaf
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

3 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Firda Umayah
Firda Umayah
9 days ago

solusi apa pun yang diberikan dalam sistem sekuler tidak akan mampu menyelesaikan masalah Palestina. apalagi zionis Israel selalu mengingkari janji dan bersikap hipokrit.

Siti Komariah
Siti Komariah
10 days ago

Amerika Abstain eh malah kirim jet dan alat tempur ke Israel. Maka nda heran jika DK PBB nda berarti apa-apa kepada pembebasan Palestina.

Mariyah Zawawi
Mariyah Zawawi
Reply to  Siti Komariah
10 days ago

Abstainnya bukan karena setuju dg resolusi. Tp krn ada yang belum pas, menurut AS. Jadi ya, begitulah ....

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram