Antara Riya' dan Sum'ah

"Barangsiapa yang berbuat sum’ah, maka akan diperlakukan dengan demikian oleh Allah, dan siapa yang berbuat riya' maka ia akan dibalas dengan riya'."
( HR. Bukhari)

Oleh: Aya Ummu Najwa
(Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Dalam kitab Min Muqawwimat An-Nafsiah Al-Islamiyyah dijelaskan bahwa, riya' adalah mengharapkan keridaan manusia ketika bertakarub ilallah. Riya' termasuk aktivitas hati, yang merupakan tempat tujuan dari perkataan atau perbuatan, sehingga terjadi pengalihan tujuan takarub, yang sejatinya ditujukan hanya untuk Allah semata, menjadi karena manusia. Perkataan dan perbuatan manusia bukanlah riya' itu sendiri, tapi ia adalah tempat adanya riya'. Jika manusia melakukan suatu perbuatan takarub dengan tujuan yang mencakup Allah dan manusia, maka ini sungguh berbahaya, merupakan keharaman, terlebih lagi jika perbuatan itu hanya ditujukan untuk manusia semata, bukan Allah.

Riya' dibatasi hanya pada perbuatan takarub, selain itu maka tidak ada riya'. Contoh, ketika jual beli dilaksanakan disaksikan oleh banyak orang maka itu tidak termasuk riya', termasuk juga berhias diri dengan pakaian yang dibolehkan, dan lain sebagainya.

Takarub terkadang bisa dalam bentuk aktivitas ibadah ritual juga aktivitas lainnya. Sujud yang diperlama, ketika sedekah karena ingin dipandang dermawan, berjihad agar terlihat hebat, maka mereka bisa dikatakan riya'. Tidak hanya itu, bahkan ketika menulis naskah hanya karena ingin disebut berilmu, ingin membuat orang terkagum-kagum dengan berpidato, orang yang ingin terlihat zuhud dengan memakai baju tambalan, mengeraskan bacaan AL-Qur'an agar tetangganya mendengar, pun ketika selalu membawa mushaf kecil, agar terlihat saleh sehingga dicintai manusia, maka mereka adalah orang-orang yang riya'.

Tentang Riya' Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam telah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah No. 4204, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu, dia berkata: “Datang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada kami ketika kami sedang membicarakan Ad-Dajjal. Lalu beliau bersabda: “Maukah aku beritahukan pada kalian sesuatu yang lebih aku takutkan terhadap kalian daripada Ad-Dajjal?” Jawab kami: “Ya, wahai Rasulullah”. Maka beliau pun bersabda: “Syirik yang tersembunyi" Yakni orang yang melakukan salat, lalu dia perindah salatnya hanya karena dia ingin orang lain memperhatikannya”_

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari hadis di atas, yaitu: Pertama, hal yang begitu penting, bahwa ketika amal saleh dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka akan tertolak dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kedua, Allah sangat membenci perbuatan syirik, karena salah satu sifat Allah adalah Mahacukup. Allah adalah sekutu terbaik, tak ada sesuatu yang menyamai-Nya. Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam begitu khawatir para sahabatnya terjebak riya’.

Di zaman di mana Islam tidak diterapkan seperti sekarang ini adalah suatu keumuman manusia berbuat riya'. Mereka seakan tak malu lagi melakukan riya', sebab keinginan agar dikagumi manusia, mereka tak memahami hukum-hukum terkait riya'. Hal ini dikarenakan sistem hidup kapitalisme telah menjadikan manusia jauh dari tuntunan agama. Materi dan penilaian manusia yang dipertuhankan menjadikan manusia rakus dan memandang dunia adalah segalanya. Mereka berlomba menggapai dan menggenggamnya, tak peduli sesama, tak peduli aturan agama.

Riya' dapat merusak bahkan menghapuskan amalan. Imam Muslim telah meriwayatkan satu hadis dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,“Allah Ta’ala berfirman: Aku sekali-kali tidak butuh sekutu dalam perbuatan syirik. Siapa saja yang menyekutukan-Ku dengan sesuatu, maka Aku akan meninggalkannya dan perbuatan syiriknya."
Wajib atas setiap hamba hanya mempersembahkan setiap amal salehnya untuk Allah semata. Allah sungguh tidak membutuhkan amalan yang dicampur dengan pengharapan keridaan selain dari-Nya. Dan setiap amalan itu pasti tertolak, bagaimana mungkin pahala akan didapat?

Adapun sum'ah atau tasmi' adalah membicarakan aktivitas takarub ilallah kepada manusia, dengan harapan mendapatkan keridaan mereka. Jika riya' adalah menyertai amal, maka sum'ah dilakukan setelah beramal. Riya' tidak diketahui kecuali oleh Allah, karena ia merupakan amalan hati, jalan pelakunya sendiri tidak akan tahu bahwa ia melakukan riya' kecuali jika ia berubah menjadi ikhlas. Dalam kitab Al-Majmu' dari Imam Asy-Syafi'i, Imam An-Nawawi meriwayatkan bahwa, "Riya' tak akan diketahui kecuali oleh orang yang ikhlas."
Tidak ada yang mampu ikhlas kecuali orang yang telah memisahkan dirinya dari urusan dunia, karena sesungguhnya ikhlas hanya bisa diraih dengan kesungguhan jiwa.

Perbedaan Antara Riya' dan Sum'ah.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengemukakan pendapat Izzudin bin Abdussalam dalam kitabnya Fathul Bari, yang menjelaskan perbedaan antara riya' dan sum’ah, ketika seseorang beramal bukan untuk Allah maka itulah riya', sedangkan sum’ah adalah saat seseorang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia perdengarkan hal itu pada manusia. Semua riya' itu buruk dan tercela, adapun sum’ah, jika ia melakukannya karena Allah dan untuk mendapatkan keridaan-Nya maka itu termasuk amalan terpuji, namun akan menjadi tercela jika ia bicarakan amalannya di hadapan manusia.

Allah telah memperingatkan terkait perbuatan riya' dan sum'ah ini dalam Al-Qur'an, dalam surah Al-Baqarah ayat 264, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu hilangkan (pahala) sedekahmu dengan membicarakannya dan menyakiti hati yang kau beri, layaknya orang yang menginfakkan hartanya sebab riya' kepada manusia."

Akan halnya Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wasallam juga telah memperingatkan manusia dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, "Barangsiapa yang berbuat sum’ah, maka akan diperlakukan dengan demikian oleh Allah, dan siapa yang berbuat riya' maka ia akan dibalas dengan riya'." Maksud dari diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah adalah dibuka dan diumumkan semua aibnya di akhirat. Sedangkan maksud dari dibalas dengan riya' adalah diperlihatkan pahala amalannya, tetapi pahalanya tidak diberikan kepadanya. Na’udzubillah.

Padahal setiap manusia menginginkan pahala pada setiap perbuatan baiknya. Namun, perbuatan baik ini mempunyai dua syarat agar dapat memperoleh pahala, yang pertama adalah niat ikhlas semata-mata hanya karena Allah. Dan yang kedua adalah bersesuaian dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah, tanpa keduanya maka pahala tidak akan didapat malah mengundang murka dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Rasulullah sangat mengkhawatirkan umatnya atas perbuatan riya' ini. Sebab riya' merupakan syirik kecil, tidak ada perbedaan pendapat sama sekali atas keharaman riya'. Dalam satu hadis riwayat Imam Ahmad, beliau menjelaskan, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas diri kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat pun bertanya, “Apa maksud syirik kecil itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya'.” “Allah akan berfirman pada hari kiamat kelak ketika Dia memberi balasan atas amal perbuatan hamba-Nya, "Pergilah kalian kepada orang yang kalian berbuat riya' padanya." Lihat Apakah kalian mendapat balasan dari mereka?” Setelah itu Rasulullah mendengar ada yang melantunkan zikir dengan suara yang kencang. Kemudian beliau pun bersabda, “Sejatinya ia sangat taat kepada Allah.” Ternyata orang itu adalah Miqdad bin Aswad."

Jangan pernah meremehkan syirik kecil ini, karena sesungguhnya ia akan berubah menjadi syirik besar jika tiga hal ini terjadi: Pertama, apabila dia tidak akan pernah melakukan ibadah, melainkan dengan riya' atau sum’ah. Ia menyembunyikan kekufurannya, tetapi ia perlihatkan imannya. Inilah yang disebut riya’ murni, dan hal ini biasa dilakukan oleh orang-orang munafik. Kedua, amalannya sebagian besar dilakukan atas dasar riya atau sum’ah. Ketiga, pelaku tak pernah mengharapkan Allah dalam setiap amalannya, ia hanya menginginkan dunia semata.

Penyakit Riya' Bisa Diobati.

Karena riya' dan sum'ah merupakan penyakit hati, maka ia pun dapat diobati jika pelakunya ingin sembuh dan terhindar dari bahaya penyakit ini. Cara mengobatinya dengan cara sebagai berikut,

1. Senantiasa mengingatkan dirinya tentang keutamaan ikhlas. Bahwa hanya ikhlas karena Allah-lah yang akan mengantarkannya kepada keridaan-Nya. Tanpa ikhlas yang murni ini maka amalnya akan menjadi sia-sia bahkan kelak akan membawanya pada kesengsaraan.

2. Selalu mengingatkan dirinya akan bahaya riya' dan sum'ah yang dapat menghapuskan amalan, tentu tak ada yang menginginkan amalannya sia-sia, maka dua perbuatan ini harus selalu dihindari dan dijauhi.

3. Senantiasa mengingati kampung akhirat. Bahwa dunia ini hanya tempat singgah, bukan kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan hakiki adalah kelak di akhirat, maka harus diperhatikan dan diupayakan semua amalan tertuju pada-Nya.

4. Harus senantiasa tahu bahwa manusia tidak mempunyai kuasa untuk memberikan manfaat maupun menjauhkan bahaya. Jika hal ini ditanamkan dalam jiwa maka tak akan lagi ia sudi mencari-cari perhatian dan simpati mereka.

5. Perbanyak doa agar dijauhkan dari perbuatan riya' dan sum'ah yang merupakan syirik tersembunyi. Salah satunya seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadis riwayat Imam Ahmad, hadis ini dinyatakan sahih oleh Syekh Al-Albani dalam kitab Sahih Al-Adabul Mufrad.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئاً أَعْلَمُهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُهُ

“Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari menyandingkan-Mu dengan sesuatu sedang aku mengetahui dan aku memohon ampun kepada-Mu atas sesuatu yang tidak aku ketahui"

Jika aktivitas riya' berhubungan dengan penglihatan yaitu menginginkan perhatian manusia atas amalnya, maka sum'ah adalah aktivitas yang berhubungan dengan pendengaran dengan mengharapkan sanjungan manusia setelah memperdengarkan bahwa ia telah melakukan amalan begini dan begitu. Keduanya sungguh berbahaya, maka seorang mukmin harus senantiasa menjauhinya dan terus memperbaharui niatnya dalam setiap aktivitasnya hanya untuk Allah semata. Wallahu a'lam.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Aya Ummu Najwa Salah satu Penulis Tim Inti NP
Previous
Rambu-Rambu Muslimah dalam Media
Next
Kuntum Khaira Ummah Ukhrijat Linnas
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Firda Umayah
Firda Umayah
5 months ago

Hem, riya' dan sum'ah sama-sama tercela. Namun ada perbedaannya. Semoga diri ini dan umat Islam terhindar dari kedua sifat ini. Aamiin

bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram