Jurinya, Aku!

Jurinya aku

“Bila engkau bukan putra raja atau putra ulama besar, maka menulislah!” (Imam Al-Ghazali)

Oleh. Dia Dwi Arista
(Tim Redaksi NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-”Janganlah menilai apa yang tidak kaurasakan. Sebab, penilaianmu akan berbeda dengan yang merasakan” (Dia D. Arista)

Ehem, tes ... tes ..., sudah siap didongengin? Yuk ah, simak baik-baik. 

Pertama baca judul naskah ini, kata apa yang muncul di benakmu? Sombong? Apa sombong banget? Aku maklum jika kalian mengira si penulis rada-rada lain emang. Sebabnya, tema challenge kali ini tuh susah, Pemirsa! Sesusah tema-tema sebelumnya. Alias semua susah. Hehehe

Jadi gini, selama puluhan purnama aku gabung di NP, mulai dari menjadi kontributor biasa, kontributor tetap, hingga naik jabatan jadi tim redaksi, aku gak pernah jadi juara umum. Sebagian karena emang kalah dengan peserta lain, sebagiannya karena emang gak ikut challenge-nya. Peace!

Nah, pengalaman paling berkesan ikutan challenge NP adalah “Challenge Kaleidoskop” akhir tahun 2021 yang mengharuskan pesertanya menulis 10 hari berturut-turut. Masih ingat, gak? Di challenge tersebut beneran bahdilan juhdi menulis tiap hari demi kejar deadline. Bahkan, di hari ke-8 atau ke-9 hampir tertendang karena waktu menunjukkan injury time sedangkan jempolku kalah dengan beratnya kelopak mata. Iya! Tinggal pencet kirim doang, eh, merem! Mata oh mata. Padahal, menulis tiap hari itu tidak gampang, Pemirsa! Dan ya, itu adalah challenge paling melelahkan yang aku ikuti di NP. 

Lanjut, maaf ya, lima paragraf di atas hanya prolog. Kita lanjut ke intinya. Kenapa harus ”Jurinya, Aku!” ?

Karena, berhari-hari aku memikirkan angle apa yang gak pasaran. Dan ternyata, pengalaman jadi juri di challenge adalah angle khusus yang gak semua orang pernah merasakan. Berasa ingin kibas-kipas kerudung ke kanan kiri, merasa bahwa diri ini cerdik sekali. Ahai! Semoga juri dan mantan juri lainnya gak terpikir angle ini. Wkwkwkw.

Enaknya Jadi Juri

Pemirsa! Jangan dikira jadi juri itu gak untung. Untung tahu! Apalagi seringnya rubrik yang aku ampu adalah rubrik Story dan Cerpen. Selain gak terlalu banyak mikir tentang komprehensif tidaknya naskah tersebut, naskahnya juga ringan, enak dibaca, terkadang saking ringannya sampai menutup mata, a.k.a ketiduran. Pun, kalau mengutip kata Mbak Ragil Rahayu, mengedit naskah Story/Cerpen merasa  membaca cerpen/story gratis. Mana hobi juga baca novel pula, klop, dah

Dengan menjadi juri True Story, kamu akan menjadi orang pertama yang akan membaca kisah-kisah hebat anak manusia. Ambillah contoh kisah Iztania Balqis dengan Takdir-Mu Terbaik Untukku di challenge lalu.https://narasipost.com/challenge-np/07/2023/takdir-mu-terbaik-untukku/

Kisah ini ditulis dengan segenap perasaan, ya, aku merasakannya. Bahkan, saking terhanyutnya tak sadar kubuat alur sendiri, suuzan pada sang suami. Kukira takdirnya akan pahit sepanjang kenangan dengan suaminya yang selingkuh atau menikah lagi, eh alhamdulillah sang suami  tak ke mana-mana, tetap membersamai tokoh utama, lega rasanya.

Sungguh, waktu membaca tentang  datangnya kebahagiaan tokoh utama dengan keluarga kecilnya, sudut hatiku mulai waswas. Takut jika skenario Tuhan akan tetap menguji tokoh utama dengan pengkhianatan sang suami, hatiku tercubit sakit rasanya meski itu hanya bayangan. Namun, nyatanya yang pergi bukanlah sang pendamping hidup. Akan tetapi, figur yang selalu dirindukan selama bertahun-tahun, Ayah. Dan nyatanya, kisah ini membuatku terhanyut dan merasa ikut sakit hati selama beberapa waktu. Mau minta pertanggungjawaban penulisnya, kok ya gak mungkin. Nasib! 

Kalau begini, jadinya ini keuntungan apa kebuntungan? Pikir ajalah sendiri. 

Selain itu, ada satu lagi, Pemirsa. Dengan menjadi juri, kita dituntut untuk selalu teliti dan belajar. Mengecek puluhan naskah dengan jumlah kata ratusan bahkan kadang ribuan butuh kesabaran dan ketelitian. Pun, ketika di tengah jalan menemukan kata-kata yang “mencurigakan” maka wajib langsung buka KBBI V atau EYD V. Kedua aplikasi itu kek gula dan garam ketika masak, tak boleh lupa dan sering-sering tes rasa, eh tes benar tidaknya kata-kata yang ada dalam naskah.

Kukasih Bocoran. Ssstt!

Pemirsa, andai kau tahu ... eh, kok malah mirip lagu si onoh. Andai kalian tahu, ternyata jadi juri itu serba-serbi. 

Serba teliti, serba cepat, serba sabar, dan serba yang lain. Kukasih contoh bocoran, nih. Sebelumnya, alhamdulillah setiap challenge NP peserta membludak hingga naskah yang masuk kek serangan burung pipit kala panen. Apalagi di waktu-waktu mendekati injury time, banyak!

Naskah yang masuk wajib cek plagiat dan jumlah kata, sebab syarat itu selalu tertera di flyer, sudah pernah lihat ‘kan? Setelah itu, cocokkan isi naskah dengan tema/judulnya sambil diteliti kesalahan-kesalahan seperti tipo, KBBI, EYD, kalimat rancu, kalimat tidak efektif, dll. Dan seringnya, satu kesalahan diulang berkali-kali dan itu fatal, Pemirsa! Sebab, meski salahnya satu kata, tapi diulang hingga 20 kali, maka nilaimu minus 20, rugi! Hihihi. Nah, jadi segera teliti lagi naskahmu, Oke!

Bisa bayangin gak, jika satu kata salah saja diulang berkali-kali, dan aku harus hitung setiap kata dan kalimat yang salah, maka ketika banyak kata salah dan diulang-ulang juga kesalahannya, ini mata rasa-rasanya bertambah minus, panas, dan berat.  Pun jempol serasa keriting. Apalagi sebagai juri merangkap editor, jadi harus segera mengeditnya agar layak publis di muka web kesayangan pemirsa sekalian, NarasiPost.Com.

Selanjutnya, sebagai juri juga harus pandai-pandai mencari ibrah dari naskah tersebut, karena itu masuk penilaian. Jangan sampai tulisan panjang dengan banyak kesalahan minus ibrah. Oh, No! 

Satu kali lagi yang penting dalam penulisan story dan cerpen jika kalian menggunakan percakapan di dalamnya, jangan sampai gak tahu ilmu penggunaan tanda elipsis, dialog tag, kata sapaan. Sebab, banyak banget nilai terjun bebas gegara tiap percakapan kesalahannya banyak, sedih akutuh. 

Jadi memang menjadi juri butuh kepala dingin agar hati tak condong ke si dia atau dirinya. Condongnya sama isi tulisannya aja, ya. Lanjut, setelah semua nilai sudah didapat, barulah kita rekap semua menjadi satu. Dan abrakadabraDi akhir waktu yang ditentukan, muncullah satu nama yang akan menjadi pemenang. Apakah itu kamu? Atau aku? Hehe.

Kalau baca serasa mudah dan cepat ya, tapi aslinya mah enggak, Pemirsa! Lama.

Rasa Malas itu Ada

Bertanya-tanyakah dirimu, dengan puluhan naskah yang hadir, ada kebosanan dan kemalasan yang melanda? 

Eits, jangan ngawur, ya! Ya pasti ada! Lucunya, rasa malas dan bosan itu terjadi di saat naskah banjir. Mau lihat kiriman naskah challenge kok ya horor sekali. Padahal ‘kan harusnya segera eksekusi satu per satu agar cepat selesai, ini malah sebaliknya. Untuk mengatasinya, aku punya kiat tersendiri, Pemirsa! Mau tahu?

Tidur. Yup, tidur nyenyak.

Berharap ketika bangun dari mimpi, aku sudah siap menghadapi kenyataan hidup, yakni edit naskah. Hehehe. Aktivitas sepele yang jadi hobiku ini ternyata bisa dijelaskan secara medis, lo.

Tidur buatku adalah sebuah refreshing, entah kalau kamu, ya. Refreshing ala aku tak harus mendaki gunung lewati lembah kek Ninja Hatori. Cukup bekal bantal dan kasur, sudah bisa “berhenti sejenak”. 

Menurut laman halodoc.com, istirahat itu dapat menjadi mood booster juga meningkatkan kinerja. Sehingga, dapat membantu memaksimalkan kemampuan otak untuk berkonsentrasi. Kenapa? 

Ketika diri ini sedang refreshing, ternyata beberapa bagian otak kita justru malah lebih aktif. Area otak yang lebih aktif ketika kita refreshing ini disebut default mode network (DMN). Si DMN ini ternyata memainkan peranan penting saat memusatkan perhatian ke dalam, daripada memusatkan fokus ke dunia luar. So, sleep works better for daily use. Sebab, kita gak perlu keluar modal dan tenaga buat tidur.

Nah, ini tipku, silakan komen di bawah untuk tipmu, ya.

Pemirsa, jadi tidurlah di saat challenge membuatmu pusing, setelah tidur jangan lupa file-nya dibuka lagi, jangan malah sapu-sapu dan cuci-cuci dulu. Entar hasil refreshing-nya malah menguap, ide jadi buntu lagi, gitu aja terus sampai ganti tahun. Malah gak selesai ikutan challenge-nya.

Sah Saja

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi peserta maupun juri challenge, pastilah ada tujuan dan niatan yang dituju. Entah sekadar meramaikan, ingin hadiah, atau yang lain. Apa pun niatnya sah-sah saja. Sah saja jika hanya ingin menyampaikan dakwah lewat tulisan, pun sah jika memang menginginkan reward yang telah dijanjikan asalkan bukan niat buruk atau niat yang dapat mencederai hati, hingga berkembang menjadi penyakit hati. 

So, teruskan goresan pena kalian. Sebab, salah satu imam mengatakan:

“Bila engkau bukan putra raja atau putra ulama besar, maka menulislah!” (Imam Al-Ghazali)

Tunjukkan eksistensi kalian di dunia ini dengan menulis jika kalian bukan orang terkenal. Tunjukkan jika kalian punya peran dalam peradaban. Menulis adalah salah satu senjata para ulama untuk menembus ribuan bahkan jutaan pembacanya. Pun, menulis adalah amalan jariah yang kan tetap mengalir pahalanya. 

Akhirul Kalam

Adanya challenge di NarasiPost.Com tak ayal menjadi daya tarik bagi para penulis untuk semakin mengasah kemampuan. Masalah menang atau kalah janganlah jadikan sebagai masalah besar hingga memengaruhi hati dan kehidupanmu. Jadikan challenge sebagai salah satu episode terbaik hidupmu. Yakni, bersama-sama berlomba dalam kebaikan untuk peradaban.

Allahu a’lam bish shawaab. []

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim Redaksi NarasiPost.Com
Dia Dwi Arista Tim Redaksi NarasiPost.Com
Previous
Melawan Rasa Bersalah ala Ka'ab bin Malik
Next
Beautiful Story About Me and NP
5 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

62 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Raras
Raras
3 months ago

Setuju dengan kalimat ini: Jadikan challenge sebagai salah satu episode terbaik hidupmu. Yakni, bersama-sama berlomba dalam kebaikan untuk peradaban.

Yaa...meski aku merasa belum bisa berbuat yang terbaik untuk challenge. Seringnya di penghujung DL.

Kebiasaan tidur ketika penat, mirip diriku. Hehe..., saat bangun jadi lebih segar dan tenang. Barokallah mbak Dia, selalu tampak ceria menyapa Konapost tanpa kami ketahui di balik itu.

Nofifah
Nofifah
3 months ago

wah, jadi merasa bersalah ngirim tulisan ke NP yang mungkin masih banyak salahnya bu. btw memang betul sih bu "tidur itu refreshing banget", jadi gak usah merasa bersalah kalau tidur sementara pekerjaan belum selesai, justru itu adalah cara kita untuk mencharge energi. terima kasih untuk storynya bu.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Nofifah
3 months ago

Sami2, semoga bermanfaat. Ketika umur bertambah, anak bertambah, healing saya bukan keluar rumah, tapi tidur. Wkwkwk

Bunda Yeni
Bunda Yeni
3 months ago

Iya iya deh yang jadi juri! Hehe..Keren paket lengkap nih storynya, ada kisah serunya, ada ibrohnya, banyak note bermanfaat pula..jadi kebayang gimana jadi juri challenge NP, susaahhh, kalau saya jadi juri dan ngikutin tipsnya Mba Dia, yang ada saya banyak tidur wkwk.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Bunda Yeni
3 months ago

Jadi tipnya gak bisa ditiru ya

Yanti Yunengsih
3 months ago

Maa syaa Allah mba Dia Dwi Arista cerpen story tulisan nya kaya anak muda gitu bahasa gaul enak dibaca penuh inspirasitif..so selalu sabar, teleti dan.gercep lagi ada tips nya juga kalau pusing obat ya tidur....mau ikutin mba Dia ah klu pusing ya tidur Juri keren Mba Dia barakallah

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Yanti Yunengsih
3 months ago

Jangan kebablasan tapi......

Mahyra senja
Mahyra senja
3 months ago

Kaka juri keren

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Mahyra senja
3 months ago

Kakak Cerpenis lebih kereennn

Indrarini
Indrarini
3 months ago

Tinggal pencet kirim doang, merem! Masih mendiiiiing ga kehapus.
Saya lagi ngedit, merem! Mana jepol jatuh di tombol delete pulak, huh, hilang dah itu naskah, kezeeeeeel...

Barakallah yo, mbak Dwi.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Indrarini
3 months ago

Maaf mbak, aku ngikik pada penderitaanmu. Wkwkwkkw

Iztania Balqis
Iztania Balqis
3 months ago

Masya Allah. Saya baru sempat berkunjung membaca tulisan ini. Tak ku sangka Mbak Dia sempat sakit hati dengan kisah story ku he..he...Menjadi juri pasti lebih menguras waktu dan pikiran. Tip yang diberikan bagus sekali yakni tidur saat challenge terasa pusing. Dari pemilihan bahasanya mantap. Pantaslah Mom percaya mbak Dia untuk jadi juri kategori story dan cerpen. Sukses selalu untuk mbak Dia dan NP.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Iztania Balqis
3 months ago

Iya nih, yang disebut malah datang telat... tanggung jawab gak nih?

Iha Bunda Khansa
Iha Bunda Khansa
3 months ago

Ternyata jadi juri ya kudu cerdas dan sabar, obyektif .
Keren Mbak... naskahnya enak dibaca, jadi ngebayangin gimana kerempongan jadi juri ya ...
Barakallahu fiik

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Iha Bunda Khansa
3 months ago

Rempong Bunda. Beneran. Betul kata mbak Ragil, kita cosplay jadi Kolong ngalah2in Mbak Kukun

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  andrea_aussie
3 months ago

Ashiappp

Netty
Netty
3 months ago

Kereen...angle yang lain daripada yang lain. Kalo tahu jadi juri begini, lebih enak jadi peserta yo mb. Nulis kirim lupakan. Lhah jadi juri malh terngiang2 melu sakit hati. Ha ha ha

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Netty
3 months ago

Ho.oh mbak, tapi kalau jadi peserta aku susah nulisnya. Keder dulu sama suhu2

Hanimatul Umah
Hanimatul Umah
3 months ago

membaca naskah mbk Dwi Arista seperti sebuah story tapi ada di dalamnya ada pengetahuan tentang menulis, tak bosan membacanya

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Hanimatul Umah
3 months ago

Alhamdulillah... semoga bermanfaat

Maman El Hakiem
Maman El Hakiem
3 months ago

Bahasanya mengalir, menghibur, namun sebenarnya ada pergolakan batin yang tidak semua orang bisa menyampaikannya dengan jujur.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Maman El Hakiem
3 months ago

Wah, kebatinan nih Pak Maman. Bisa terawang. Hehe

Nur Hajrah MS
Nur Hajrah MS
3 months ago

Setelah baca ini, saya jadi tahu letak kesalahan naskah challenge storyku.. MasyaAllah jadi pembelajaran agar naskah challenge bisa lolos dan layak tayang. Terimakasih mbak Dia atas ilmunya.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Nur Hajrah MS
3 months ago

Hehe, ditunggu next stoeynya Kakakkk

Firda Umayah
Firda Umayah
3 months ago

Masyaallah. Juri yang satu ini enggak cuma renyah dalam obrolan tapi juga dalam tulisan. Barakallahu fiik.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Firda Umayah
3 months ago

Waiyyaki Mbak Firda

Afiyah Rasyad
Afiyah Rasyad
3 months ago

Masyaallah, saat suhu turun gunung. Wes mantap surantap. Barokallah

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Afiyah Rasyad
3 months ago

Wah suhu komen

Nirwana Sadili
Nirwana Sadili
3 months ago

Maasyaalah barokalah mbak Dia. Tulisannya keren ibarat keripik renyah dan rasanya enak, ingin terus untuk ngemil, tiba-tiba dah habis.seperti itu juga tulisan mbak Diah.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Nirwana Sadili
3 months ago

Loh... ini bukan kripik mbak. Bahaya kalau dikunyah

Wiwik Hayaali
Wiwik Hayaali
3 months ago

Baraakallah Mbak Dia ❤️

Alhamdulillah, aku merasa tercubit dipoin, Kukasih bocoran.

Alhamdulillah, suwun sudah menulis story ini Mbak Dia.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Wiwik Hayaali
3 months ago

Entar lain kali tak kasih bocoran lagi. Wkwkwk
Kalau gak lupa

Sherly
Sherly
3 months ago

Barakallah, mbak Dia

Juri, editor dan admin keren ❤️❤️❤️

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Sherly
3 months ago

Aamiin wa fiiki baarakallah

Sartinah
Sartinah
3 months ago

Ini mb juri ... kocaknya ada di mana-mana ya. Barakallah mb Dia, cakeep

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Sartinah
3 months ago

Iya, biar kamu kangen sama aku

Atien
Atien
3 months ago

Masyaallah. Komentarku selalu sama untuk naskahnya mba @Dia, selalu renyah seperti keripik tempe langgananku. Tak berubah dan enak dibaca tanpa merasa bosan Barakallah mba Dia

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Atien
3 months ago

Minta mbak

Dyah Rini
Dyah Rini
3 months ago

Membaca naskah Mbak Dia seperti sedang melihat & mendengar Mbak Dia bicara secara langsung. Renyah kayak kerupuk udang yang baru digoreng. Enak banget dimakan dan dinikmati. Barakallah Mbak.

Desi Nurjanah
Desi Nurjanah
3 months ago

Biasanya setelah baca tulisan para senior atau team redaksi rasa yang muncul setelahnya ada Insecure, Sedih minder. Eh baca naskah ini kok malah jd semangat yaa. Kocak bgt bahasanya... Bisa selugas itu.. Maa sya Allah Barokallah mbak Dia Dwi Arista

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Desi Nurjanah
3 months ago

Jangan minder, tim redaksi juga manusiaaaa

Yuli Juharini
Yuli Juharini
3 months ago

Dua kata untuk Neng Dia.
Top markotop.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Yuli Juharini
3 months ago

Alhamdulillah

Maman El Hakiem
Maman El Hakiem
3 months ago

Kalau aku sih....yes mbak Dia pemenangnya, besok umrah.

Bedoon Essem
Bedoon Essem
3 months ago

Enaknya jadi juriii wkwkwkwk

Haifa
Haifa
3 months ago

Serba-serbi jadi juri ternyata senano-nano ini ya, Mba? Ga terbayang kalo naskah cerpen dan story-nya bikin overthinking semua. Bakal gimana Mba Dia ya?

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Haifa
3 months ago

Iya mbak, td jam 3 saja saya koreksi 1 naskah. Ada rasa sedih, kasihan, terharu, semangat, kocak, nano nano, pengwn tak komenin aja di naskahnya langsung. Wkwkwk. Tp nanti dijitak Mom. Padahal ini naskah pengalaman pertama dia ikut challenge. Tp keren bingit.

Maftucha
Maftucha
3 months ago

Mbak Diaaa, story nya keren bingit.. Cara penyampaiannya itu lo. Mengalir kayak air terjun. Selamat mbak angel nya memang pas hehehe

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Maftucha
3 months ago

Jazakillah khoir sudah mampir mbak. Ditunggu naskahnya... atau sudah kirim tp masih antre koreksi ya?

Siti Komariah
Siti Komariah
3 months ago

Masyaallah. Barakallah mba Dia.
Asli keren dah.

Ngebacanya ngalir banget.

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Siti Komariah
3 months ago

Alhamdulillah, wa fiiki baarakallah mbakKu

Mariyah Zawawi
Mariyah Zawawi
3 months ago

Masya Allah, nggak pernah gagal dalam menampilkan karakter ceria dan kocaknya member penulis. Isinya juga wow. Baarakallaah, Mbak

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Mariyah Zawawi
3 months ago

Sudahlah dunia ini menyedihkan, jangan pula nulos yang mellow2. Gak bakat aku

Wd Mila
Wd Mila
3 months ago

MasyaaAllah, barakallah Mba. Bahasanya gaul bgt.. top lah

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Wd Mila
3 months ago

Hayuk ditunggu anskah mbak Mila mana??? Wkwkwk

Deena
Deena
3 months ago

Tos.. Challenge Kaleidoskop 2021 itu memang sesuatu.. bikin meriang.. hehe..

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Deena
3 months ago

Eh samaan ternyata

Dia dwi arista
Dia dwi arista
3 months ago

Selamat membaca

Maya Rohmah
Maya Rohmah
3 months ago

Lincah sekali tulisannya Mbak Dia. Enak dibaca sampai akhir. Recommended!

Dia dwi arista
Dia dwi arista
Reply to  Maya Rohmah
3 months ago

Alhamdulillah, masih diberi kemudahan menggerakkan jari. Dan memang, menulis enjoy itu ketika menulis dari hati.
Tararenkyyuu

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram