Cinta Berbelok di Negeri Beton

Salah satu sisi kehidupan BMI yang sangat jarang dikupas dalam media. Seolah menganggap hal biasa. Syiar Islam seperti hembusan angin yang berlalu dari telinganya. Bahkan alunan kalam-kalam illahi seolah tersaingin  hentakan musik disco dan sebagainya. Hausnya belaian kasih sayang mereka salurkan kepada hal-hal yang seharusnya dijauhi karena dosa zina menantinya. Bisingnya tuntutan ekonomi dari keluarganya seolah menggiringnya menggali lubang di tempat-tempat renternir dengan bunga yang lebih dari 21 %.


Oleh : Andrea Ausie

NarasiPost.Com-Mungkin ada yang bertanya ya, koq judulnya seperti cerpen sich? Padahal kan biasanya diriku nulis traveling kalau sudah nulis sebuah nama negara.
Hm..iya sich.
Kuingin ngajak jalan-jalan mengenal salah satu sisi kehidupan di sebuah negara Asia selama saya berdines disana. Ada hubungannya juga dengan orang-orang Indonesia yang bekerja disana.
Penasaran?
Yuk.. kita ikuti yuk kisahnya.

Pasti tahu kan yang namanya Negeri Beton. Itu lho julukan buat Hong Kong. Ratusan ribu orang Indonesia banyak mengadu nasib disana dan dikenal dengan sebutan BMI (Buruh Migran Indonesia). Mereka mempunyai latar belakang pendidikan berbeda. Banyak lho yang lulusan sarjana.

Sebelum diriku pindah ke Finlandia, pernah tinggal di Hong Kong selama 10 tahun.
Kota pertama yang kutempati adalah  Tai Wai. Sebuah kota kecil dengan alam yang masih asri. Menempati apartement lantai ke-28 block dua dari tiga gedung Grandvile. Kebanyakan penghuninya para western peoples.

Kenangan yang tidak mungkin terlupakan dari tempat ini adalah di cuekin lebih dari  setahun oleh para BMI karena aku nggak bisa bahasa Indonesia dengan lancar dan jarang bicara. Terbiasa berbahasa inggris dan bergaul dengan western peoples membuat para BMI takut ngobrol denganku heheheh.
Dan dari tempat ini pula asal mulanya diriku tahu liku-liku kehidupan para BMI yang menyimpang dan memutuskan menjadi freelance journalist. Aku berkenalan dengan BMI asal Wonosobo Jawa Timur. Dialah yang membimbingku menunjukan kehidupan BMI yang sesungguhnya di Hong Kong.

Cuma 2 tahun diriku tinggal di Tai Wai. Pindah ke  Ma On Shan, Cause Way Bay dan terakhir di Sai Kung.Cukup lama tinggal disini
Di Sai Kung inilah tempat yang benar-benar kusukai. Mungkin karena alamnya yang masih asri dan dikelilingi lautan membuatku betah tinggal disana. Apalagi sangat kental dengan lingkungan western.
Di Saikung ini juga banyak petualanganku sebagai freelance journalist untuk mengisi Storyline, websiteku serta menjadi kontributor Liputan6 SCTV.
Diriku banyak mengangkat kisah-kisah kehidupan para BMI khususnya Lesbianisme.

Sabtu dan Minggu diriku selalu berusaha jalan-jalan ke Cause Way Bay atau ke  Tsim Sha Tsu, Mongkok, TaiChung dan kota-kota lainnya yang biasa di jadikan tempat liburan para BMI.

Cause Way Bay tepatnya daerah Victoria Park ibarat kampungnya para BMI  saat hari Sabtu dan Minggu. Sementara Central sebagai markas para buruh migran asal Philipine. Ratusan ribu BMI berkumpul bersama melakukan berbagai kegiatannya. Lorong-lorong, emperan toko bahkan tangga menuju jembatan juga penuh sesak dengan aktivitas mereka.
Wajar jika Victoria Park dan Cause Way Bay  mendapat sebutan kampungnya BMI. Bisa dengan mudah kita menemukan berbagai macam makanan Indonesia yang tidak peduli walau harganya cukup mahal juga.

Aku sering menemukan beberapa kelompok yang melakukan kegiatan dakwah Islam. Mengkaji hal-hal tentang syariat Islam dan yang lainnya. Namun sayangnya selalu ada oknum yang memanfaatkan dengan hilir mudik mencari sumbangan tanpa kita tahu kejelasannya kemana arah sumbangan yang terkumpul itu.
Ada juga kelompok yang membahas dalam dunia literasi serta yang melanjutkan pendidikan paket C.

Ada pemandangan yang selalu membuatku penasaran dan miris saat mataku menjelajah kehidupan BMI di tempat itu.
Menatap dandanan mereka, mengamati prilaku dalam berhubungan dan hal-hal yang tak lazim mereka lakukan sebagai sesama wanita.

Otakku selalu berpikir melihat pemandangan mereka seolah mengingatkanku akan sejarah Nabi Luth AS. Seolah mengulang kejijikan kaum Luth dalam versi wanita. Padahal Allah swt sudah mengingatkan dalam sejarah Nabi Luth AS dalam Firman_Nya :

مَاسَبَقَكُمْبِهَامِنْأَحَدٍمِنَالْعَالَمِينَ 

"Mengapa kalian mengerjakan perbuatan faahisyah itu yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun di dunia sebelum kalian?"
(QS; Al Araf 7:80)

Bagaimana tidak?
Mengubah penampilan layaknya seorang laki-laki, memperlakukan pasanganya sebagai suami istri dengan mesra bahkan tak jarang menyewa hotel murah untuk melampiaskan nafsu syahwat tanpa mereka berpikir bahwa mereka “ Jeruk makan Jeruk!

Apa enaknya jeruk makan jeruk? Tak ingatkah azab yang Allah swt timpakan kepada kaum Nabi Luth?
Alasan yang menjijikan saat ditanya mengapa jadi lesbian dan dengan simple menjawab “ daripada hamil oleh cowok, mendingan bermesraan dengan sesama tanpa resiko hamil, yang penting terpuaskan!”
Serapih dan seindah apapun busana yang dipakainya tetap saja tidak bisa menyembunyikan identitas sebagai seorang wanita yang tidak bisa dimiliki laki-laki normal. Jadi buat apa membohongi diri sendiri dan menentang kodratnya sebagai seorang wanita?

Semula aku tidak pernah habis pikir bagaimana mereka bisa terjerumus pada kegiatan lesbianisme. Bagaimana mereka bisa bertahan dengan gaya metropolitan dalam komunitas  lesbianisme sementara keluarga di Indonesia menunggu kiriman transfer dari gaji mereka sebagai BMI setiap bulannya.

Enam hari dalam seminggu mereka melebur diri sebagai BMI yang harus menunaikan kewajibannya bekerja di perumahan orang-orang Hong Kong dan saat hari Sabtu atau Minggu mengubah penampilan mereka menjadi gagah layaknya pria yang sedang kasmaran.

Menyelidiki kehidupan mereka, mau tidak mau diriku harus melebur dengan mereka. Menutup rapat status diri dan melebur dalam komunitas mereka dan pura-pura menjadi BMI. Banyak hal-hal yang tidak terduga dan kisah-kisah kehidupan mereka yang mengiris hati di balik penampilan mereka yang glamor.

Kekecewaan atas pengkhianatan suaminya di Indonesia atau bisingnya tuntutan ekonomi keluarganya membuat mereka berpaling mencari kesenangan sendiri dengann melampiaskan orang disekitarnya yang mau menjadi pasangan suami istri.
Sementara para wanita yang mau menjadi pasangannya dan berperan sebagai istrinya kebanyakan karena mereka tersakiti suaminya dan haus akan belaian kasih sayang seorang pria.
Tak jarang juga mereka bersitegang memperebutkan wanita idaman layaknya laki-laki memperebutkan wanita idamannya untuk menjadi istrinya.
Suara keras dan kata-kata kotor terkadang keluar tanpa kendali.

Untuk mempertahankan gaya kehidupannya tidak jarang mereka mensiasati dengan menerjunkan diri menjadi nasabah prime credit. Gali lubang tutup lubang terbelit dalam pusaran hutang tanpa peduli bunga peminjamannya yang sangat tinggi. Banyak usaha-usaha prime credit yang mencekik dengan sasaran para BMI seperti halnya Bank of China, Prime Credit Overseas Worker, dan sebagainya.
Tak jarang banyak BMI yang sudah bekerja bertahun-tahun namun hasilnya hampir zero. Hanya sedikit yang berhasil membawa pulang jerih payah keringatnya untuk keluarganya di Indonesia.

Keluar dari Cause Way Bay biasanya diriku berjalan-jalan ke daerah Tsim Tsa Tsui tepatnya daerah Kowloon park sebelum menuju pelabuhan Tsim Tsa Tsui.
Di Kowloon Park juga banyak kutemui para BMI dan para buruh migran dari philipine. Ada sebuah mesjid dan islmic center di Kowloon Park yang terletak di tepi jalan raya. Biasanya banyak kutemui juga kegiatan keagamaan disini sambil berbelanja jilbab dan kerudung yang menarik.
Sementara di dalam taman Kowloon sendiri banyak ditemuin para BMI yang mempunyai pasangan dari laki-laki berhidung bangau yakni Pakistan atau pasangan Bule atau Africa.
Hubungan yang terlewat batas seringkali membuahkan janin-janin yang di gugurkan atau kadangkala dibawa pulang ke Indonesia dengan menanggung malu yang tiada tara. Kasus-kasus ini banyak di temui di shelter-shelter Christian Migran Care atau lembaga amal Pathfinder yang banyak membantu lebih dari 6000 kasus buruh migran.

Masih banyak tempat-tempat di Hong Kong yang biasa dijadikan markas para BMI. Dari jumlah 100 % BMI disana kemungkinan besar cuma 15% sd 20 % yang berkecimpung dalam komunitas dakwah Islam atau kepenulisan ataupun pendidikan.
Biasanya mereka yang berkecimpung dalam komunitas dakwah dan kepenulisan bermarkas di Wan Chai dan Tsim Tsa Tsui. Sementara mereka yang meneruskan pendidikan akan pergi ke daerah Central.
Selebihnya banyak yang terjerumus dalam dunia glamor negeri beton atau menjadi BMI  sederhana yang pergi berlibur bertemu teman, makan bersama dan pulang lagi ke rumahnya.

Mimpi merubah nasib dengan mendulang emas di negeri beton terkadang sulit terwujud saat terjerumus arus kehidupan yang tak terkendali karena rapuhnya segi keimanan untuk membentengin diri serta perlindungan hukum yang sangat lemah untuk BMI.

Syiar Islam seperti hembusan angin yang berlalu dari telinganya. Bahkan alunan kalam-kalam illahi seolah tersaingin  hentakan musik disco dan sebagainya. Hausnya belaian kasih sayang mereka salurkan kepada hal-hal yang seharusnya dijauhi karena dosa zina menantinya. Bisingnya tuntutan ekonomi dari keluarganya seolah menggiringnya menggali lubang di tempat-tempat renternir dengan bunga yang lebih dari 21 %. Belum lagi potongan gaji yang dibebankan oleh para agent penyalur tenaga kerja khususnya para BMI Hong Kong sebagai biaya penempatan BMI ke Hongkong sangat tinggi. BMI terjerat hutang peminjaman ke lembaga keuangan multifinance dengan bunga 21 % dan biasanya selama 7 bulan pertama berturut-turut gaji BMI dipotong hutang dan hanya mendapatkan 10 % dari gajinya.

Jadi lembaga pinjaman ini seolah sinterklas padahal prakteknya melebihi renternir. Dengan bunga pinjaman 21 % gaji para pekerja habis untuk mencicil pinjaman. “ kata ketua BP2MI Beny Rhamdani dilansir detik. Com (18/6/2020)

Begitu komplek permasalahan yang dihadapi para BMI namun seolah banyak cara dan jalan untuk memecahkan problema mereka terlebih mengobati rasa stress akibat pekerjaannya sebagai BMI dan jeratan hutangnya.
Sepengetahuanku kehidupan lesbianisme BMI di Hong Kong jauh lebih tinggi dibandingkan kehidupan lesbianisme di negara manapun yang menampung keberadaan BMI.

BMI sebagai Pahlawan Devisa bagi Indonesia sudah sepatutnya mendapatkan perlindungan hukum dan pembinaan keagamaan yang kuat agar tidak terperosok kehidupan semu negeri Beton. Banyak cara untuk menyadarkan kembali mereka yang sudah terjerumus kembali pada asalnya Ada baiknya merevisi surat perjanjian kerja antar negara yang lebih membela BMI itu sendiri sehingga mereka tidak terpedaya dengan perbudakan yang dilakukan penyalur tenaga kerja yang nakal. Harus sering juga dihadirkan event-event dakwah Islam untuk menyadarkan mereka yang sudah terlanjur salah arah serta pembinaan-pembinaan kependidikan dalam berbagai sektor. Bukan semata melepas mereka seperti sapi perahan pendulang devisa namun selayaknya memperlakukan mereka sebagai pahlawan devisa. Dibalik  gemerlapnya kehidupan para BMI banyak tersimpan segudang kegetiran hidup dalam perjuangannya di negara pendulang emasnya.[]


Bersambung pada story : Kehidupan di Shelter dan jeratan renternir

Photo : Pribadi dan Google Sorce

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Dipaksa Menuju Surga
Next
Berburu Untung di Hutan Lindung
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram