Setiap kali aku datang ke tempat itu dan menyaksikan mereka mengingatkanku tentang kematian yang senantiasa mengintai kapan dan di mana pun kita berada. Mayat-mayat itu bagaikan guru-guru dunia, karena mengajarkan ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi pengingat akan kehidupan dunia yang sementara ini.”
Oleh. Andrea Aussie
(Pemred NarasiPost.Com)
NarasiPost.Com-Udara terasa dingin mencekam seolah ingin menusuk tulang-tulang tubuhku melalui rongga pori-pori kulitku. Suara detak sepatuku bagaikan irama simfoni memecah sunyinya malam saat kutelusuri koridor gedung laboratorium anatomi. Dan langkahku terhenti tepat di depan pintu ruangan itu.
Kurapikan seragam dinasku. Kuatur letak maskerku dan kaca mataku. Sambil menahan napas kucoba membuka pintu kamar itu.
Kusapa Renita yang sedang mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan. Aku meyakini di balik maskernya terulas senyum ikhlas seperti pancaran bola matanya.
Di depan kami terbujur kaku seorang mayat yang hanya ditutupi sehelai kain putih dari atas kepala hingga ke ujung kakinya. Darahku berdesir saat kubuka kain penutup kepalanya. Wajah dan kepala yang remuk akibat benturan keras. Memyisakan warna hitam dari aliran darah yang membeku serta guratan wajah keras yang tak beraturan.
Kusingkapkan kain putih yang menutupi seluruh tubuh mayat itu. Terlihat jelas lengan kiri yang hampir putus dan sobekan di perut sepanjang 8 cm.
Sejenak kuraih dan kubaca file tentang mayat itu. Biodata dan hasil pemeriksaan eksternal membuatku mengernyitkan dahi.
“Apakah dirimu sudah siap, Re?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan kepalanya. “Autopsi kali ini akan dimulai dari bagian dada, perut, perut bawah atau daerah pinggul. Sementara untuk organ otaknya, kita harus merendam dulu dalam formalin agar organ tersebut menjadi lebih padat dan mudah diiris secara presisi.”
Dengan hati-hati aku dan Renita melakukan pembedahan dengan membuat sayatan besar pada tubuh mayat berbentuk Y, dimulai dari kedua sisi bahu hingga daerah tulang pinggul. Kulit dan jaringan pada bagian bawah dipisahkan sehingga tulang rusuk jenazah dan ruang di daerah abdomen (rongga perut) terlihat lebih jelas. Perlahan tulang rusuk depan kulepas sehingga memperlihatkan organ-organ leher dan dada dengan jelas.
Tangan-tangan kami mulai mengambil trakea, kelenjar tiroid dan paratiroid, esofagus, jantung, aorta toraks serta paru-paru. Begitu juga dengan organ-organ lainnya seperti hati, pankreas, limpa, ginjal, dan usus. Semuanya kami ambil untuk bahan pemeriksaan internal.
Waktu terus berjalan. Pergulatan kami melakukan autopsi terhadap jenazah itu akhirnya selesai juga. Dengan cekatan tangan kami segera menjahit bagian yang terbuka setelah organ-organ yang diambil dikembalikan ke tempat semula. Lalu tubuh itu kami oleskan formalin di bagian-bagian tertentu dan kami kembalikan ke tempat penyimpanan jenazah.
“Kau lihat Re, betapa mengerikan melihat wajah-wajah tegang mayat saat kita melakukan autopsi. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat malaikat Izrail datang menjemputnya. Bahkan, untuk mereka yang sepanjang hidupnya terkenal dengan kesalehannya dan dengan pengambilan ruh yang lembut saja merasakan sakaratul maut yang benar-benar sakit. Lalu bagaimana dengan kita yang masih berlumur dosa dan sadar akan siksa neraka, namun masih tetap melakukan hal-hal yang yang dilarang-Nya?” kataku hampir bergumam.
“Benar Drea, terkadang aku tak tega saat harus membuka lapisan demi lapisan kulit jenazah, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek untuk sekadar menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi.
“Kita wajib memperlakukan mereka dengan lembut dan baik, walaupun sudah terbujur kaku sebagai mayat. Karena dulunya juga mereka manusia seperti diri kita sendiri.”ujarku pelan.
“Adakalanya timbul pertanyaanku apakah dosa mereka dimaafkan oleh Allah Swt.? Mungkin saat hidupnya mereka sebagai preman atau sampah masyarakat yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya. Namun, yang pasti tentu mereka tidak berharap tubuhnya menjadi media praktikum atau diautopsi untuk keperluan bahan penyelidikan. Bisa saja mereka semasa hidupnya berharap jika kelak meninggal mayatnya diurus dengan baik. Dimandikan, disalatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarganya.
“Aku tidak tahu,Re ! Hanya Dia yang Maha Mengetahui. Mungkin kita hanya bisa mendoakan agar dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah Swt. Berharap juga dari tiap sentuhan kita selama melakukan autopsi pada tubuhnya maka berguguran segala kesalahannya.Dan apa yang kita dapatkan dari tubuh-tubuh mereka menjadi pembuka misteri ilmu pengetahuan yang berguna untuk kemaslahatan umat."jawabku mantap
“Di laboratorium anatomi banyak sekali mayat-mayat yang tidak dikenali. Setiap kali aku datang ke tempat itu dan menyaksikan mereka mengingatkanku tentang kematian yang senantiasa mengintai kapan dan di mana pun kita berada. Mayat-mayat itu bagaikan guru-guru dunia, karena mengajarkan ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi pengingat akan kehidupan dunia yang sementara ini.”
“Ya Re, mereka adalah dosen kematian.” jawabku menutup percakapan kami.
Aku dan Rere segera keluar dari ruangan jenazah itu. Kami terdiam dengan pengembaraan pikiran masing-masing. Membiarkan detak sepatu kami yang saling bertautan bagaikan alunan melodi memecah kesunyian.
Pikiranku berkecamuk memikirkan arti sebuah kematian. Topik kematian yang senantiasa dihindari oleh berbagai kalangan terutama kalangan anak muda. Padahal, Allah Swt. sudah berkali-kali mengingatkan tentang kematian untuk hamba-Nya seperti dalam firman-Nya QS. Al-Munafiqun ayat 21”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya.”
“Re, terima kasih sudah membantuku dalam autopsi tadi. Sampai jumpa lagi di acara autopsi medis minggu depan. Aku pamit dulu ya Re. Salam untuk keluargamu.“ ucapku sambil tersenyum.
“Sama-sama Drea. Terima kasih juga atas kesempatan dan ilmu yang dirimu bagikan untukku. Tapi Ndrea, mohon maaf sepertinya aku tidak bisa melanjutkan lagi pekerjaanku ini!”
“Maksudmu?” tanyaku heran.
“Aku berniat mengundurkan diri dari dunia phatologi. Mungkin ini yang terakhir kali melakukan autopsi!”
“Why?” tanyaku kaget.
“Entahlah Ndrea. Sejak aku mengikuti kajian Islam aku sering mengalami pergulatan batin. Sering kubertanya apakah yang kulakukan selama ini halal atau haram. Terkadang aku takut dengan salah satu sabda Rosulullah dalam hadis Abu Dawud no. 3207 dan hadis Ahmad (Al Musnad) no 24.783 yang mengatakan,”Memecahkan tulang mayat sama dengan memecahkan tulangnya saat dia masih hidup”. Dan kita tahu sendiri bahwa Islam melarang melanggar kehormatan mayat.
“Maaf ya Re, yang aku pahami adalah sampai saat ini masih terdapat pro dan kontra dari para ulama tentang hukumnya autopsi menurut Islam. Memang benar beberapa ulama seperti Syeikh Taqiyuddin An Nabhani dari Palestina, Syeikh Bukhait Al Muthi’i dan Hasan As-Saqab melarang autopsi dengan dalil seperti yang dirimu ungkapkan tadi. Tapi ada juga beberapa ulama seperti Syeikh Hasanain Makhluf dari Mesir, Syeikh Sa’id Ramadhan Al Buthi dari Suriah yang memperbolehkannya dengan alasan untuk kemaslahatan dalam keamanan, keadilan, dan kesehatan. Adanya pro dan kontra temtang autopsi tersebut menyimpulkan aturan bahwa autopsi diperbolehkan hanya untuk nonmuslim. Begitu juga fatwa MUI no.6 tahun 2009 yang sebelumnya mengharamkan autopsi berubah memperbolehkan dengan beberapa syarat seperti dipenuhinya hak jenazah serta adanya kebetuhan dari pihak berwenang. Dan apa yang kita lakukan selama ini, senantiasa berusaha memenuhi hak mayat juga atas kebutuhan dari pihak yang berwenang sesuai fatwa MUI.”
“Ya Ndrea, aku paham.“
“Re, coba bayangkan jika autopsi diharamkan di Indonesia. Mungkin mahasiswa kedokteran tidak akan pernah tahu dan belajar tentang anatomi tubuh manusia yang sesungguhnya. Mungkin juga dunia penelitian tentang manusia akan gelap. Dan yang lebih fatal adalah kasus-kasus kematian yang tidak wajar seperti kematian kasus kopi sianida, kasus kematian Joshua bahkan kasus aktivis HAM Munir yang diracum dan lain-lain tidak akan terungkap dan kejahatan akan terus bergulir. Dan mereka yang jadi korban pembunuhan misterius tidak selamanya orang nonmuslim. Khususnya mayat-mayat yang berada di praktikum anatomi di mana jarang sekali ditemukan identitas mereka yang sebenarnya,” ucapku panjang lebar.
“Ya Ndrea, aku bisa mengerti tentang hal itu. Dulu juga saat kuputuskan menekuni dunia phatologi ingin menjadi ahli forensik ideologis yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Namun seiring dengan berbagai kajian Islam yang aku ikuti, makin besar kegelisahan hatiku. Makanya aku berunding dengan keluargaku dan memutuskan mau mengundurkan diri dari pekerjaanku ini.”
“Baiklah Re, apa pun keputusanmu harus kuhargai. Dan apa pun rencanamu ke depan akan selalu ku-support. Terima kasih juga atas kerja samamu selama ini ya !” jawabku seraya memeluknya.
Kami berpisah menuju halaman parkir. Kulihat suami Renita sudah menunggunya di mobil dan mereka menghilang dari pandanganku sesaat Renita masuk ke dalam mobil itu.
Kubuka pintu mobilku. Sejenak kualihkan lagi pandanganku ke arah gedung tempat jenazah-jenazah terbujur kaku menunggu giliran untuk diautopsi. Kuperhatikan telapak tanganku. Sudah berapa puluh mayat yang kubedah dalam rangka pemeriksaan internal. Dulu aku sempat merasakan rasa jijik yang luar biasa tatkala membedah mayat manusia. Namun Allah Swt. memberikan nikmat lupa pada manusia, sehingga aku masih bisa menikmati makan dengan tangan yang sama padahal baru beberapa jam digunakan membedah mayat. Seiring perjalanan waktu aku sudah membiasakan diri bahwa melakukan autopsi pada jenazah adalah pekerjaan rutinku. Dan batinku sering bergumam, “Manusia berawal dari setetes air mani yang hina, berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk. Dan saat ini berada di antara keduanya dengan membawa kotoran ke mana-mana.
Double Bay Sydney, 31 Juli 2023
https://narasipost.com/opini/01/2023/jenazah-manusia-dijadikan-pupuk-kompos-kok-bisa/
Bertemu mayat tiap hari dan melakukan autopsi ?
Ya Rabb... Sehebat apapun manusia jika kematian datang pada akhirnya tidak ada yang dibawa.
Maaf mom, kalau autopsi itu untuk apa saja? Tapi jika keluarganya tidak mengizinkan maka tidak di autopsi kan?
Syukran Ilmunya Mom
Sama2 mbakku, saling berbagi ilmu yang bermanfaat ya..
MasyaAllah, profesi yang luar biasa. Butuh kekuatan mental yang super tangguh. Semoga Allah Swt. senantiasa melimpahkan rahmat dan cintaNya padamu , Bu.
Gak kuat ngebayanginnya. Jazaakillah khoir atas ilmunya yangbluar biasa, Mom
Berbagi ilmu ya Bu Dosen, oh ya mana naskah challengemu? heheheh
MasyaAllah, satu sisi sy g kebayang proses autopsi mayat, melihat mayat saja sy kadang takut. Apalagi harus bedah sana bedah sisi, ngorek-ngorek tubuh mayat. Subhanallah.... keren mom, ngeri-ngeri sedap bacanya. G terasa sampai merinding saya
ayo di tunggu naskahmu dlm rubrik lain ya..
Tulisan mom keren, apa pun rubriknya selalu memiliki diksi yang unik. Ngeri ya ketika mayat diotopsi, kebayang mereka merasakan sakitnya. Inilah kenapa Islam melarang mayat itu dibedah. Semoga dengan kecanggihan teknologi ada cara lain untuk mengungkap misteri kematian korban.
Saya hanya penulis yg fakir ilmu mbak. justru naskahmu yg kmrn sy publish super keren hehehe
Pernah baca tulisan, intinya yg rajih adalah haram otopsi dalam Islam, baik mayat muslim atau non muslim karena menyakiti mayat. Terkait otopsi dibutuhkan utk penyelidikan kematian tak wajar, pernah baca jg jika beberapa tahun belakangan ini dalam dunia kedokteran sudah ada PMCT (Post Mortem CT Scan), yaitu penggunaan mesin pencitraan (CT Scan) yang dapat digunakan mengungkap rahasia medis orang mati. PMCT ini dapat menggantikan tindakan pembedahan dalam proses otopsi. Keuntungan PMCT (Post Mortem CT Scan) di antaranya adalah diagnosisnya tidak invasif dan dianggap tidak merusak mayat.Wallahu a’lam saya fakir ilmu, itu pemahaman yg saya mengerti. Saat ini keputusan tuk tetap melakukan otopsi atau tidak akhirnya masih menjadi keputusan yg dipilih individu dengan berbagai dalil yg diyakininya karena ketiadaan Daulah Islam. Ketika Daulah tegak nanti pasti Khalifah akan melegalisasi hukum terkait otopsi ini sehingga tidak membuat masyarakat kebingungan sebab keputusan Khalifah akan menghapuskan perbedaan, apalagi pada kasus2 yang bisa menimbulkan perdebatan bahkan kisruh di masyarakat
Tp di luar itu semua, tulisan Mom ini pastinya menjadi pengingat kita bahwa kematian itu sesuatu yang pasti, tinggal menunggu giliran saja, makanya persiapkan bekal untuk kematian nanti. Sejatinya saat kita di dunia, ibarat pengembara, ini adalah perjalanan menuju kampung. Kampung yang sesungguhnya ya akhirat itu. Jadikan dunia dan kehidupan sebagai wasilah mengumpulkan bekal akhirat...Barokallah Mom atas sharingnya, sangat bermanfaat dan memberikan nasehat
Naam ukhty fillaah, naskah itu memang prosedur autopsi sebelum mesin-mesi canggih hadir. True Story berbalut cerpen yang berkisah pergulatan batin
Seru cerpennya. Sarat ilmu.
alhamdulillah bisa bersharing ilmu walau via sebuah story
Aku kayak terseret masuk ke dalam ruang autopsi.
Salut sama dr. Andrea dengan kegelisahan hatinya atas pekerjaannya sebab sudah tahu hukumnya dalam Islam.
Aku fan dengan dr. Andrea, dokter ideologis.
Kadang harus extra hati-hati ketikadalam menulis atau berbagi ilmu. Hal2 gini terkadang di block kalau terlalu frontal hehheheh..
Masyaallah ...hanya bisa termenung setelah membaca naskah ini. Satu kata keren mencerdaskan
alhamdulillah.. mana naskahmu lho mbak..hehehhe
Masya Allah, story yang luar biasa. Tema yang diangkat membuat pembaca lebih memahami syariat Islam. Baarakallaah Bu
wafik barakallah.. ayo di tunggu naskahmu ya
MasyaAllah, luar biasa Mom. Ketika baca seolah sedang berada di TKP.
Barakallah ❤️
alhamdulillah.. sebagai penulis memang seharusnya membawa pembaca ikut berada dalam suasana naskah yang disodorkannya..
MasyaAllah mom, baca cerpen bonus ilmu yang Luar bisa. Sempet mikir ini cerpen horor atau apa? Merinding setiap baca kematian..
Keren pokoknya lah mom ini...
Hehehehe, tadinya sempat mikir si Tuan FB bisa blokir nggak ya kalau nulis kayak ginian hehehhe
Masyaallah.. keren.. bukan sekadar story biasa, tetapi mengandung ilmu..
Selalu beranggapan bahwa dokter ahli phatologi adl orang yg kuat.. ternyata memang benar adanya..
Eh, agak salfok ada Mbak Rere juga.. hehe..
Boleh request nggak? Bikin lagi story tentang dunia medis kayak gini dong.. maaf, ngelunjak nih.. hihi..
Soalnya kalau nulis nama asli tokoh aslinya berbau bule, takutnya canggung jadi ciduk saja nama seorang tim Redaksi NP hehehheh
Jujur, kalau habis lihat sesuatu yang berhubungan dengan kematian / jenazah masih lumayan grogi. Salut untuk para dokter yang membidangi hal ini.
hehehhe.. bisa dipahami..
Wah cerita tentang bedah membedah ya... aku bunuh kecoak aja tega gak tega, apalgi nyayat orang meski sudah mati
woi..aku kenal banget dikau hehhehe
Ma sya Allah bagus sekali ini seperti terbawa di ruang mayat di Rumah Sakit.
Alhamdulillah..
MasyaAllah wa tabarakallah. Keren banget tulisannya, Mom. Tapi saya ngilu baca setiap detail proses pembedahannya.
Nah bagian itu yang bikin saya mikir cukup lama, bisa tidaknya saya tulis takutnya banyak yang shock. Tapi saya bicara ke hati, bagaimana orang akan tahu ttg autopsi itu apa?
Masyaallah, tulisan Mom makin cetar. Saya tuh hanya tahu autopsi di berita-berita tanpa tahu teknisnya. Ngomongin autopsi, jelas erat kaitannya dengan orang yang sudah tidak bernyawa. Bagi hamba yang sadar, pasti akan mengingatkan dirinya pada kematian. Kalau terkait pro dan kontra autopsi memang betul Mom, masih ada perbedaan pendapat dari para ulama. Ada yang setuju dengan dalih demi kemaslahatan, tapi ada juga yang gak setuju dengan dalih melanggar kehormatan mayit. Tapi sebagai muslim kan gak mungkin ya kita ambil dua hukum pada satu fakta yang sama. Kalau saya sih lebih memilih ikut ulama yang mengharamkan dengan dalil yang disebut di atas. Tapi Menurut ust Shidiq al Jawi, ini ada pengecualian bagi mayit orang kafir. Katanya kalau mayit orang kafir boleh diautopsi. Wallahu alam
saya mah cuma corat coret saja, sangat beda dgn tulisanmu yang super keren hehehhe
Story dikemas dalam bentuk cerpen, keren banget mom ❤️
Pro kontra yang masing-masing memiliki argumen.
Pemred NP memang keren banget ❤️❤️
Barakallah, mom ❤️
Menunggu naskah challengemu yang rubrik lainnya ya.. heheeh
Masyaallah luar biasa pekerjaan Mom Andrea ini. Kematian adalah sesuatu yang pasti namun jarang manusia mengingatnya, terima kasih Mom, dengan tulisan Mom membuat kesadaran ini muncul kembali,, oh ya Mom kalau identitas jenazah nya tidak jelas apakah muslim atau enggak nya, apakah tetap di autopsi juga?
Tetap di autopsi terutama digunakan untuk medis dan klinis. medis itu dunia kedokteran khususnya mahasiswa kedokteran.Tapi klinis adalah dunia penelitian
Ya Allah, berasa saya yang dijamah. Sangat mengingatkanku pada pemutus kelezatan dunia. Story-nya keren. Barokallah
Naskahku biasa saja mbakku. dirimu sang maestro sastra..
Ya Allah. Saya ngga bisa komen apa-apa mom. Soalnya pas baca yang lagi ngeluarin organ-organ yang ada dalam perut, langsung merinding.
Intinya naskahnya keren. Untuk pengingat adanya kematian yang mengintai setiap saat.
Barakallah mom
Iya, bagian itu yang sempat bikin saya ragu ditulis nggaknya heheheh