Realitas Pahit Keluarga Hari Ini

Keluarga yang seharusnya memberikan afeksi dan proteksi justru kehilangan kontrolnya dan malah menjadi sumber masalah bagi anak di sistem kapitalisme.

Oleh. Harumi
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Banyak orang yang speak up betapa gap generation itu menjadi bagian dari masalah hidup mereka. Terlebih lagi kebingungan ketika mereka menghadapi tingkah generasi muda. Mulai dari generasi muda yang tidak paham sopan santun, seperti seorang mahasiswa dengan sengaja memblokir dosen yang bertanya mengenai skripsinya atau bahkan ada juga yang menjadi pelaku kriminal dengan motif kejahatan tidak masuk akal, misalnya Klithih.

Disfungsi keluarga mungkin frasa yang sering muncul untuk menjelaskan kenapa anak muda hari ini sulit dipahami, dan sangat berbeda jauh karakternya dengan orang tua mereka sewaktu muda dulu. Memang munculnya fenomena disfungsi keluarga ini membuat beberapa pihak sibuk menafsirkan ulang bagaimana peran ideal keluarga sebenarnya.

Akan tetapi, yang pasti adalah tingkah anak muda tersebut ada potensi berimbas kepada khalayak ramai. Daripada tingkah buruknya bisa memengaruhi anak muda yang lain, maka dari itu masyarakat harus mengambil tanggung jawab untuk mengarahkan mereka menjadi lebih baik.

Dari sisi keluarga, hampir semuanya ingin mengambil peran yang sesuai dan adil agar bisa mewujudkan keluarga bahagia. Apalagi di era digitalisasi hari ini yang sebenarnya ilmu tentang banyak hal bisa diakses dengan mudah untuk dipelajari, misalnya apa saja hak dan kewajiban suami, anak, dan istri, dll. Hal itu nyatanya tidak cukup berperan dalam merealisasikan tujuan mulia berkeluarga. Yang terjadi adalah banyak keluarga yang bereksperimen menjadi keluarga modern, yang menyalahi fitrahnya sebagai makhluk yang harus tunduk kepada Allah Swt.

Realita Pahit Keluarga

Keluarga yang seharusnya memberikan afeksi dan proteksi justru kehilangan kontrolnya dan malah menjadi sumber masalah bagi anak. Hal ini membuat banyak ahli berbondong-bondong menyorot ribuan kasus kekerasan orang tua yang dilakukan kepada anak baik berupa fisik, seksual, maupun verbal. Misalnya data yang dirilis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) memaparkan bahwa ada sekitar 16.854 anak yang menjadi korban kekerasan selama 2023. (DataIndonesia.com, 23/02/2024)

Tidak berhenti di situ, kekerasan yang dilakukan anak terhadap orang tuanya sendiri juga semakin hari makin bertambah. Cukup disayangkan penelitian mengenai perilaku menyimpang anak ini tidak banyak dilakukan, padahal kasus ini sering bermunculan sehingga perlu adanya data resmi dari pemerintah.

Misalnya video viral di media sosial yang menceritakan seorang ibu dianiaya anak kandungnya hingga berdarah-darah karena capek mengurus ibunya. Peristiwa dugaan penganiayaan tersebut terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut). (Detik.com, 06/07/20024)

Sebelumnya juga ada seorang pedagang asal Jakarta Timur yang dibunuh oleh putri kandungnya sendiri. Pelaku sakit hati lantaran dimarahi orang tuanya, kedua putrinya itu masing-masing berusia 17 dan 16 tahun. Adapun penyebab ayahnya marah karena mereka ketahuan mencuri uang ayahnya. (Liputan6.com, 23/07/2024)

Keluarga Bahagia Tidak Materialistis

Persoalan yang sering kali muncul adalah standar kebahagiaan hari ini masih dimaknai sebagai hal yang bersifat materialistis. Mereka dibuatnya sibuk mengejar kesuksesan duniawi untuk memuaskan hawa nafsu yang tiada habisnya atau sekadar jadi ajang pamer kepada keluarga lain. Akhirnya menjauhkan mereka dari hal-hal penting lainnya. Contohnya definisi kebahagiaan menurut Allah Swt.

Seperti di Amerika misalnya, ada istilah American Dream. Akibatnya semua orang saling sikut demi mencapai hierarki tertinggi yakni menjadi orang kaya. Adapun tumbal di balik ini semua adalah orang tua yang abai terhadap tanggung jawabnya menanamkan nilai-nilai agama dan moral. Karena dalam sistem kapitalisme hari ini, hal-hal yang bersifat nonmateri otomatis dianggap tidak penting.

Disfungsi keluarga menyeret masyarakat untuk melempar kritik tajam terhadap aturan yang diberlakukan hari ini agar bisa membantu keluarga agar keluarga mampu mencetak generasi yang berkualitas. Karena jika tanggung jawab ini hanya dilempar kepada keluarga dan masyarakat semata, niscaya akan kewalahan.

Percayakan pada Islam

Mendidik generasi muda juga mewajibkan adanya totalitas peran dari penguasa. Karena pembangunan negara mustahil terwujud tanpa melibatkan SDM yang berkualitas. Generasi seperti apa yang diinginkan oleh bangsa ini, harusnya sudah masuk dalam rencana jangka panjang pembangunan. Mungkinkah generasi berkualitas lahir dari sistem sekuler? Padahal justru sekulerlah yang membuat generasi muda menjadi "sakit".

https://narasipost.com/challenge-np/08/2023/membangun-keluarga-muslim-yang-produktif/

Oleh karena itu, menaruh harapan perbaikan kualitas generasi muda pada sistem sekuler adalah hal yang sia-sia. Justru generasi berkualitas hanya akan muncul dari sistem Islam, yang akan diterapkan oleh Khilafah.

Dengan pendidikan yang berlandaskan akidah Islam tentu ini akan melahirkan generasi yang ber-syakhsiyah Islam, sehingga mereka menyadari bahwa setiap aktivitas manusia akan dipertanggungjawabkan. Kesadaran inilah yang akan membuat siapa pun mampu mengolah emosinya karena ketakutannya kepada azab Allah Swt.

Selain itu, sistem sanksi yang akan diterapkan oleh khalifah akan membuat para pelakunya menjadi jera sehingga pelaku tidak akan mengulanginya lagi. Pada akhirnya hal inilah yang akan meminimalisasi segala bentuk kriminalitas. Wallahu a'lam bishwab. []

Getah Moderasi Beragama

Moderasi beragama sudah jelas akan mengubah cara berpikir dan sikap seorang muslim dari yang taat pada syariat menjadi muslim yang menjunjung tinggi nilai demokrasi sekuler liberal

Oleh. Maftucha
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Agenda moderasi beragama bertujuan untuk mengubah nilai-nilai Islam agar sesuai dengan nilai-nilai demokrasi, menjunjung HAM, feminisme, gender, dan liberal.

Indonesia akan kedatangan tamu yang cukup spektakuler yakni Paus Fransiskus atau pemilik nama Jorge Mario Bergoglio ini akan berkunjung ke Indonesia pada 3 hingga 6 September 2024 mendatang. Salah satu agenda dari kedatangan pemimpin umat Katolik sedunia ini adalah menghadiri pertemuan tokoh lintas agama di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Spirit Kunjungan

Paus Fransiskus adalah paus ketiga yang datang ke Indonesia. Dua paus sebelumnya yakni, Paus Paulus VI (3 Desember 1970) dan Paus Yohanes Paulus II (8-12 Oktober 1989). Pertemuan tokoh lintas agama ini adalah agenda rutin sejak sebelumnya pada 4 Februari 2019 Paus Fransiskus telah melakukan pertemuan dengan Imam Agung Masjid Al-Azhar Mesir Syaikh Ahmad ath-Thayyib yang dilaksanakan di ibu kota Persatuan Emirat Arab dan membuahkan Dokumen Abu Dhabi.

Dokumen Abu Dhabi tersebut berisi pesan akan persaudaraan antarumat beragama di tengah maraknya intoleransi. Untuk itu pertemuan tokoh lintas agama ( interreligious meeting ) di Masjid Istiqlal, Jakarta tersebut merupakan agenda penting sebagai tindak lanjut dari dokumen Abi Dhabi.

Spirit kunjungan Paus Fransiskus inilah yang akan semakin menajamkan getah moderasi yang diusung oleh Barat.

Agenda Moderasi

Kedatangan Paus Fransiskus tidak lepas dari agenda moderasi beragama yang juga sedang digencarkan oleh pemerintah Indonesia. Moderasi beragama dianggap sebagai langkah tepat untuk mencegah tindakan-tindakan yang dianggap intoleran, radikal, dan tindakan ekstremis yang berlawanan dengan nilai-nilai demokrasi.

Moderasi yang berarti tengah atau yang sering disamakan dengan wasath (tengah) dianggap sebagai solusi agar seseorang tidak berlebihan dalam melakukan praktik agamanya sehingga tidak menimbulkan gesekan di tengah-tengah masyarakat.

Sasaran Moderasi Beragama

Moderasi yang merupakan turunan kata moderation memiliki makna tidak berlebihan atau kekurangan alias seimbang. Pegiat moderasi ini juga sering kali menggunakan kata wasath dari bahasa Arab yang artinya pertengahan.

Maka moderasi beragama yang dimaksud di sini adalah upaya untuk mengurangi kekerasan dalam cara berpikir dan bersikap dalam menjalankan agamanya.

Moderasi yang digaungkan oleh pemerintah dan dunia sebenarnya sasarannya jelas yakni muslim yang dianggap berpaham radikal yang selama ini menyerukan penerapan Islam secara paripurna. Agenda moderasi beragama bertujuan untuk mengubah nilai-nilai yang ada agar sesuai dengan nilai-nilai demokrasi, menjunjung HAM, feminisme, gender, dan liberal.

Muslim yang menyerukan bahwa pemimpin mereka harus orang muslim, memaknai jihad dengan perang, menolak bentuk kesyirikan yang dilakukan muslim lain, menolak perayaan agama lain yang dilakukan oleh muslim dianggap sebagai paham yang ekstrem dan intoleran.

Bahaya Moderasi Beragama

Moderasi beragama sudah jelas akan mengubah cara berpikir dan sikap seorang muslim dari yang taat pada syariat menjadi muslim yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang ditetapkan manusia yaitu demokrasi sekuler liberal. Moderasi beragama ini mengajak umat Islam agar toleran dalam hal-hal yang bersifat mendasar seperti turut merayakan dan mengucapkan hari besar agama lain, menganggap semua agama sama, serta tunduk pada nilai kebebasan. Getah moderasi ini akan sulit dihindari oleh kaum muslim selama mereka terperangkap pada ide demokrasi sekuler.

Dan pada akhirnya, umat Islam dibuat lupa pada kewajiban menerapkan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. dan penegakan Khilafah Islamiah. Inilah getah dari moderasi beragama yang akan melumpuhkan pemikiran umat Islam yang bersih.

Islam Agama Rahmatan lil 'Alamin

Tuduhan bahwa muslim yang ingin menegakkan syariat Islam identik dengan kekerasan, terorisme, dan radikal adalah stereotip yang senantiasa di blow up , dan ternyata berhasil.

https://narasipost.com/opini/07/2024/moderasi-beragama-upaya-mengerdilkan-islam/

Padahal fakta membuktikan bahwa justru yang melakukan tindakan terorisme adalah dari pihak-pihak yang selama ini mereka lindungi, sebut saja OPM yang hingga detik ini tidak tersentuh hukum, padahal sudah banyak korban yang berjatuhan, bahkan mereka tidak pernah dijuluki teroris.

Dalam skala internasional Israel juga tidak pernah dianggap sebagai teroris dan tindakan mereka justru mendapat dukungan dan perlindungan, sedangkan Islam dan kaum muslim selalu menjadi kambing hitam.

Islam adalah agama sekaligus ideologi. Islam memiliki seperangkat aturan kehidupan yang sempurna, setiap aturan yang ditegakkan akan memberikan rasa ketenangan dan keadilan. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-A'raf ayat 96 yang artinya:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya". QS. Al-A'raf: 96

Penegakan syariat Islam justru untuk menjawab seluruh masalah yang ditimbulkan oleh ideologi kapitalisme. Kemiskinan akibat buruknya tata kelola SDA, rusaknya generasi muda akibat gaya hidup yang liberal, penjajahan ekonomi, tersanderanya hukum oleh segelintir orang kaya adalah buah dari penerapan ideologi buatan manusia.

Dalam sejarahnya selama 14 abad Islam mampu memimpin dunia dengan menghasilkan sebuah peradaban yang gemilang, yang mampu memberikan rasa keadilan, melindungi nonmuslim sebagaimana muslim, menaklukkan berbagai wilayah tanpa memaksa meninggalkan keyakinan mereka.

Islam tidak butuh moderasi karena Islam sudah mengajarkan bagaimana cara bertoleransi yang benar, jihad bermakna perang tetap akan dilakukan selama musuh juga mengobarkan peperangan. Sejarah telah mencatat bahwa hanya Khilafah yang mampu menaungi rakyatnya yang heterogen tanpa gesekan. Getah kekufuran akan makin hilang dan tak berbekas ketika Khilafah ditegakkan. Wallahu a’lam []

Andai Aku di Posisimu

Lama mengenalmu, meski belum pernah bertemu, aku jadi tahu betapa berat lakumu, betapa sebenarnya dirimu juga sedang berusaha tegar mengampu rumah besar yang bernama NP.

Oleh. Isty Da’iyah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Melihat perjuanganmu yang begitu besar sejak awal berdirinya NarasiPost.Com hingga saat ini, aku merasa kagum dengan keteguhan dirimu. Niatmu yang tulus dalam menebar kebaikan demi berjalannya dakwah Islam, terkadang membuat sisi batinku merasa iri padamu, tebersit kata andai aku di posisimu. Namun, dengan derasnya ujian yang menimpa dirimu, aku juga harus bertanya pada diriku, kuatkah aku?

Lama mengenalmu, meski belum pernah bertemu, aku jadi tahu betapa berat lakumu, betapa sebenarnya dirimu juga sedang berusaha tegar mengampu rumah besar yang bernama NP. Kadang aku bisa merasakan ketika kau juga tertatih, dan merasa letih mengampu hampir semua yang ada di rumah besar itu.

Terlebih setelah membaca untaian aksara yang ditulis oleh Mbak Deena Noor. lewat story-nya, yang menyuarakan gelisah hati sang Pemred, jujur hati ini berdesir. Ternyata lama sebagai anggota Konapost, tidak membuat diriku tahu banyak tentangmu, sampai akhirnya sebuah kisah gelisah hatimu tertulis dalam sebuah story yang indah.

Gundah Hatimu

NarasiPost.Com., di balik nama besarnya, media dakwah yang terkenal dengan standarnya yang tinggi dalam mem-publish sebuah naskah, media yang bertabur challenge dan hadiah yang fantastis, nyatanya ada sosok yang tengah berjuang dengan segala kegundahan hatinya.

Di balik sapaan hangatnya kepada para kontributor di grup Konapost. Di balik lecutan semangat yang ia berikan pada para penulis, baik berupa motivasi, dan materi yang tidak terhitung jumlahnya, nyatanya sang Pemred sedang merasa gundah hati, merasa sendiri.

Sang Pemred, sosok wanita tangguh itu kini sedang gundah, ia merasa lelah. Bukan karena sakit sebagaimana biasanya, bukan pula karena masalah dengan keluarganya, tetapi ia sedang kehabisan kata-kata ketika tugasnya sebagai sang nakhoda di kapal besar NP hanya bertumpu padanya. Ia merasa lelah, ketika harus menunggu dan menunggu sesuatu yang ia harapkan. Ia lelah menunggu ide-ide cemerlang dari orang-orang yang selama ini membantunya. Ia lelah karena ia harus sering mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengharap pengertian-pengertian dari sahabat-sahabat salihah di medianya.

Mengapa aku tahu? Karena ia pernah bilang padaku ketika aku mengirim naskah challenge padanya. Namun, ternyata masih dengan tema yang kurang up to date.
Ia mengatakan, “Begini kalau aku tidak ikut cek TOR dulu,” ungkapnya.

Dari situ obrolan berlanjut, ia mengungkapkan betapa capeknya ia ketika semua harus menunggu instruksi dan ide darinya.
“Saya marah dan kecewa karena harus terus menegur dan mengingatkan. Sekadar mencari tema TOR mingguan saja harus menunggu instruksi dan saya yang mencari,” ungkapnya padaku di sela-sela aku mengirim naskahku.

“Saya merasa lelah karena harus berlari seperti mengajari bagaimana cara berlari,” ungkapnya suatu ketika padaku di sela-sela ia mengkritik naskahku yang menurut ia masih ada sesuatu yang harus di benarkan.

Dari kata-katanya aku merasakan, ada yang mengganjal dalam relung hatinya. Ada sesuatu yang membuat ia gundah, aku pun bisa merasakan apa yang ia rasakan saat itu. Seandainya aku dalam posisinya mungkin aku juga akan lebih gundah. Karena aku tahu NP bukan sekadar media dakwah biasa, NP media berani merekrut para penulis hebat dan berkarakter. Sependek pengetahuanku, hanya sang Pemred NP yang berani memberikan fee berdasarkan akad-akad tertentu pada para tim, dan penulis intinya. MasyaAllah, doa terbaik buat sang Pemred NP. Semoga rezekinya bertambah berkah.

Tidak sedikit biaya yang telah ia keluarkan untuk media dakwah ini. Karena ia juga pernah mengatakan hal ini padaku. Meski tanpa ia kasih tahu pun aku juga bisa mengindra banyaknya materi yang dikeluarkan demi NP tetap bisa bertahan dengan nama besarnya sampai saat ini.

Semua tahu, ketika NP merancang acara yang mendatangkan para pembicara yang tidak abal-abal yang semua diperuntukkan untuk menyuguhkan yang terbaik untuk umat, ketika NP mengadakan challenge, yang reward-nya juga luar biasa besar, sebagai bentuk apresiasi untuk melecutkan semangat para pejuang literasi.

Pengorbanan sang Pemred yang luar biasa dalam memberikan fasilitas bagi para kontributornya, para penulis intinya, para timnya untuk mendapatkan amunisi yang hebat, dengan tujuan agar bisa berkarya dengan hasil yang hebat, memang lumayan berat. Maka tidak salah jika sang Pemred butuh sebuah bukti kesungguhan dari pengorbanannya selama ini.

Aku tahu totalitas tanpa batasmu di NP. Pengorbananmu di NP bukan hanya tenaga, pikiran, dan materi yang hampir menyentuh angka Rp0,5 M, sejak berdirinya NP hingga sekarang. Namun, ternyata perasaanmu juga banyak kaukorbankan demi tetap eksisnya media ini. Kau pernah bilang padaku, “Lelah, kecewa dan marah. Padahal marah hanya bikin dosa saja, aku ingin tidak marah-marah,” ucapmu ketika itu. Dan aku hanya bisa berucap “Sabar ya, Mom.”

Aku merasakan apa yang kamu rasakan, karena andai aku ada di posisimu belum tentu aku sekuat dirimu. Pernah kecewa pada orang-orang terdekat, pernah merasa sendiri menjalankan kapal besar yang penuh risiko ini. Namun, bukankah ada Allah yang akan selalu membersamai orang-orang yang ikhlas mengorbankan harta dan tenaganya di jalan Allah Swt.? Karena janji Allah itu pasti, dan ini diabadikan dalam QS. At-Taubah ayat 111 yang artinya:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”

https://narasipost.com/story/07/2024/gelisah-hati-sang-pemred/

Berjalan Bersama

Aku mengerti keadaanmu, ketika lelahmu menyapa kau pun pernah mengutarakan keinginanmu yang ingin meninggalkan NP. Karena kau pernah berkata padaku, “Kemungkinan besar sang Pemred ini akan keluar dari NP dan fokus mengelola bisnis menikmati masa tua dengan hobiku.”

Tanggapanku, lakukan itu. Namun, setelah cita-cita perjuangan dakwah Islam kaffah terwujud. Setelah Islam kembali menjadi mercusuar di dunia. Kau boleh lakukan itu, tapi bukan sekarang.

Jika aku ada di posisimu, untuk menghibur diri, akan aku ingat selalu untaian hikmah dari sahabat Rasulullah saw., Umar bin Khattab, yang pernah berkata, “Jikalau kita letih karena kebaikan maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun, jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.”

Untaian hikmah yang penuh makna dari sahabat tercintanya Rasulullah saw. adalah sebuah penyemangat ketika kita lelah karena kebaikan. Karena lelah itu pun akan hilang dan kebaikan akan abadi.

Aku tahu sang Pemred, Tim Redaksi, dan semua admin di NP, pasti merasakan letihnya berdakwah di dunia media. Hari-hari yang dilewati dikejar deadline, baik itu menulis, mengedit, dan lain sebagainya termasuk publish naskah. Belum lagi masalah di luar NP, dan masalah pribadi yang harus ditangani. Namun, inilah perjuangan, tantangan dalam dakwah.

Bersama mari kita nikmati, resapi dan ingatlah balasan yang Allah janjikan. Dan inilah hidup, jika merasa lelah berhenti sejenak ambil napas dan bersama kita berjalan bersama. Bergandengan tangan saling menguatkan, NP masih sangat dibutuhkan umat. Doa terbaik untuk sang Pemred, semoga berkah dan selalu dalam penjagaan Allah Swt. Amin.

Wallahu’alam bishawab. []

Sampah Makanan Terbuang di Tengah Mahalnya Bahan Pangan

Sampah makanan ternyata juga menjadi problem dunia. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perilaku konsumerisme, sebagai buah dari penerapan sistem kapitalisme sekuler.

Oleh. Alfiah, S.Si
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Hati nurani siapa yang tak meronta-ronta, di kala mahalnya bahan pangan justru ada 48 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya. Hati siapa yang tak teriris, di saat negara harus menggelontorkan dana triliunan untuk mencegah stunting, justru di sisi lain negara dirugikan Rp551 triliun akibat sampah makanan yang terbuang. Sungguh hal ini mengindikasikan kesenjangan antara si kaya dan si miskin kian menganga.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melaporkan bahwa potensi kerugian negara akibat susut atau sisa makanan (food loss and waste) menembus angka Rp213 triliun sampai Rp551 triliun per tahunnya. Angka ini setara dengan 4 sampai 5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Belum lagi total emisi gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan dari timbunan sampah sisa makanan mencapai 1.072,9 metrik ton (MT) CO2. (tirto.id, 3-7-2024)

Padahal kalau saja sisa pangan yang masih layak dikonsumsi dapat dimanfaatkan, negeri ini tidak hanya bisa menyelamatkan potensi ekonomi yang hilang, tetapi juga dapat memenuhi kebutuhan energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Bahkan menurut studi dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, jika sampah makanan tidak terbuang, maka akan bisa menghidupi 61 juta - 125 juta orang atau setara 29 hingga 47 persen populasi rakyat Indonesia. (CNNIndonesia.com, 27-07-2023).

Sampah makanan atau food waste ternyata juga menjadi problem dunia. Hal ini tidak lain sangat erat kaitannya dengan perilaku konsumerisme, sebagai buah dari penerapan sistem kapitalisme sekuler, yang jauh dari akhlak Islam. Di sisi lain juga menggambarkan adanya mismanajemen negara dalam distribusi harta sehingga mengakibatkan kemiskinan dan problem lain yang tak berkesudahan. Sebut saja kasus beras yang membusuk di gudang Bulog, pembuangan sembako untuk stabilisasi harga, hasil panen pertanian yang tak terserap pasar karena permasalahan distribusi yang berakibat pada membusuknya hasil panen, anjloknya harga pertanian pada saat petani melakukan panen raya dan sebagainya.

Mencermati hal ini sudah seharusnya negara memberi perhatian besar pada persoalan pangan dan pertanian dengan menerapkan kebijakan yang prorakyat. Apalagi penyusutan pangan (food loss) dan sampah makanan (waste) sangat berdampak pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Mindset berpikir masyarakat harus diubah terkait kebutuhan jasmani dan naluri. Sehingga hal ini akan mengubah perilaku masyarakat untuk mengonsumsi makanan sesuai dengan kebutuhannya bukan karena hawa nafsunya.

Islam memiliki seperangkat aturan terbaik dalam mengatur konsumsi dan juga distribusi pangan, sehingga akan terhindar dari kemubaziran dan berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan. Dengan pengaturan yang cermat akan terwujud distribusi yang merata dan mampu mengentaskan kemiskinan, sehingga food waste dapat dihindarkan. Negara dalam sistem Islam akan melakukan penguatan regulasi, optimalisasi pendanaan, pemanfaatan sampah makanan, pengembangan kajian, serta pendataan food loss and waste.

Sejumlah strategi bisa dilakukan negara untuk mencegah food loss and waste antara lain dengan membuat platform dan berkolaborasi lintas sektor yang melibatkan penyedia makanan/donatur yang meliputi restoran, hotel, retail, dan penjual makanan. Negara juga akan membentuk lembaga yang menjadi food hub yang bertugas dalam menghubungkan penyedia/donor makanan dengan kelompok penerima, di antaranya anak-anak, lansia, panti asuhan dan pihak-pihak yang membutuhkan. Selain itu, negara harus menyediakan dan memfasilitasi kendaraan logistik pangan untuk mendistribusikan makanan berlebih dari pendonor ke penerima manfaat.

Jika kesadaran individu terwujud, masyarakat juga peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan, tentu tidak akan terjadi permasalahan terkait sampah makanan. Selain itu dibutuhkan peran negara dalam mencegah food lost and waste dengan menerapkan aturan yang tegas terkait sampah makanan.

Dalam sistem Islam, masalah pangan terbuang tidak akan terjadi. Pemborosan makanan dalam bentuk terbuangnya makanan secara percuma adalah tindakan yang sangat dimurkai Allah. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 26-27 yang artinya : "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan hak mereka, kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang menempuh perjalanan, dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu, termasuk makanan, (ed)) dengan cara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya setan, dan setan itu terbukti ingkar kepada Tuhannya.”

https://narasipost.com/opini/05/2024/food-loss-bukti-gaya-hidup-bermasalah/

Perbuatan membuang makanan karena sudah tak suka atau kekenyangan adalah perbuatan buruk karena termasuk sikap menyia-nyiakan rezeki. Kufur terhadap nikmat atau rezeki yang Allah berikan adalah perbuatan setan. Bagi seorang muslim, kita wajib bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat dan pemberian-permberian-Nya. Menyia-nyiakan makanan juga termasuk perbuatan menyia-nyiakan atau merusak harta, dan Nabi Shallallahu alaihi wasallam telah melarang perbuatan merusak harta tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah meridai tiga hal dan membenci tiga hal bagi kalian. Dia meridai kalian untuk menyembah-Nya, dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, serta berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan tidak berpecah belah. Dia pun membenci tiga hal bagi kalian, menceritakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Muslim No. 1715)

Walhasil persoalan sampah tidak terlepas dari buruknya distribusi dalam sistem kapitalis yang diterapkan saat ini. Itu semua hanya akan bisa diselesaikan dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah. Wallahu a'lam bi ash shawab. []

Pendidikan Gratis hanya Mungkin Ketika Islam Memimpin

Dalam Islam tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berpola pikir Islam dan bertingkah laku sesuai dengan IsIam.

Oleh. Ni'matul Afiah Ummu Fatiya
(Kontributor NarasiPost.Com & Pemerhati Kebijakan Publik)

NarasiPost.Com-Sungguh pernyataan Menko PMK, Muhadjir Effendy selalu membuat masyarakat geregetan. Setelah beberapa waktu yang lalu mengusulkan pemberian bansos kepada korban judol, kali ini malah mendukung wacana pemberian student loan atau pinjol bagi mahasiswa untuk membayar biaya kuliah. Bahkan beliau mengatakan hal itu sebagai bentuk inovasi teknologi. (CNNIndonesia.com, Jakarta 2/7/2024).

Pernyataan seperti itu seharusnya tidak keluar dari mulut seorang pejabat negara karena dia telah dipilih untuk mengurusi rakyat. Namun, dari pernyataannya itu menunjukkan bahwa pejabat yang ada sekarang tidak menganggap bahwa jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah Swt., melainkan peluang untuk meraup pundi-pundi rupiah. Tak heran jika pernyataan atau aturan yang keluar pun bukan membela rakyat tapi justru mendukung para korporat. Bukannya memberi solusi yang mendidik malah menjerumuskan rakyat ke dalam pusaran masalah yang semakin ruwet bahkan terkesan ingin berlepas tangan.

Dunia pendidikan di Indonesia saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Tingginya biaya pendidikan menyebabkan banyaknya pelajar dan mahasiswa yang terpaksa harus putus sekolah atau kuliah dan memilih untuk bekerja apa saja bahkan menjadi buruh kasar di negeri sendiri. Di sisi lain negara malah mendukung pinjol dan menjadikannya sebagai solusi untuk mengatasi masalah pembiayaan pendidikan. Maka bagi masyarakat miskin yang lemah iman, berpola pikir pragmatis pasti akan mudah terjerat dalam jebakan pinjol ini.

Semua terjadi karena sistem pendidikan yang diterapkan saat ini adalah sistem pendidikan yang berbasis keuntungan materi belaka yang lahir dari sistem demokrasi kapitalis. Kapitalis telah membuat pendidikan yang seharusnya menjadi hak seluruh warga negara dan menjadi tanggung jawab negara untuk menyelenggarakannya, justru menjadi sebuah komoditi yang bisa diperjualbelikan. Hal ini terlihat mulai dari tingginya biaya UKT sampai pada sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang menggunakan sistem zonasi, tapi justru memberikan banyak celah-celah korupsi dan jual beli kursi.

Perilaku para pejabat saat ini mencerminkan bobroknya sistem yang diterapkan. Karena sistem inilah, orang baik dan saleh pun bisa berubah menjadi jahat. Sumber daya alam yang melimpah ruah yang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat dalam bentuk pendidikan gratis, hari ini justru hanya dinikmati oleh segelintir orang yang mengatasnamakan wakil rakyat tapi menjadi budak para korporat.

Kalau seperti ini yang terjadi, bagaimana negara bisa mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 45?

Berbeda dengan IsIam yang memandang pendidikan adalah kebutuhan dasar kolektif yang harus dipenuhi oleh negara sebagai hak seluruh warga negara, baik dia kaya atau miskin, IsIam ataupun kafir zimi. Pendidikan juga merupakan modal dasar untuk membentuk kecerdasan anak bangsa dan mendorong kemajuan suatu bangsa.

Dalam Islam tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berpola pikir Islam dan bertingkah laku sesuai dengan IsIam. Akidah Islam dijadikan sebagai pijakan dalam menetapkan kurikulum pendidikan. Dengan demikian tujuan pendidikan untuk menjadikan anak bangsa sebagai manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual namun juga cerdas secara spiritual akan sangat mudah untuk bisa terlaksana.

Begitu pentingnya pendidikan, sampai baginda Rasulullah saw. menjadikan tebusan bagi satu orang tawanan Quraisy dengan mengajarkan sepuluh orang kaum muslimin baca tulis.

Bahkan Rasulullah saw. bersabda bahwa: ”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Dalam Al-Qur’an surah Al-Mujadilah ayat 11 Allah Swt. juga berfirman : "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

https://narasipost.com/opini/08/2022/sistem-pendidikan-islam-lahirkan-generasi-cemerlang/

Negara sebagai pihak yang bertanggungjawab untuk menyelenggarakan pendidikan akan menyediakan infrastruktur yang memadai untuk mendukung terlaksananya pendidikan seperti gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, buku-buku pelajaran dll. Negara juga menyediakan tenaga pengajar yang berkualitas sesuai dengan bidangnya dan memberikan gaji yang cukup, sehingga tidak berpikir untuk mencari uang tambahan dari jalan haram misalnya dengan jual beli bangku sekolah seperti yang banyak terjadi saat ini.

Semua tingkatan pendidikan bisa diakses oleh masyarakat dengan cara gratis, sehingga tidak ada alasan putus sekolah karena tidak ada uang apalagi sampai terjerat pinjol. Semua pembiayaan itu diambil dari kas negara yang berasal dari harta kepemilikan umum seperti pertambangan.

Islam juga telah menetapkan bahwa jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah, maka pejabat yang dipilih juga harus orang yang memiliki sifat amanah, bertakwa kepada Allah dan memiliki jiwa kepemimpinan sehingga mampu mengurusi urusan rakyat, termasuk pendidikan dengan baik dan benar sesuai syariat. Semua hanya mungkin bisa dihasilkan dari proses pendidikan yang berbasis akidah Islam bukan yang lain.

Dengan demikian, maka tujuan dari pendidikan yaitu untuk menghasilkan generasi yang cerdas intelektual dan cerdas spiritual, berjiwa besar, peka dan memiliki jiwa patriotik akan mudah terwujud, bukan generasi yang pasrah dan diam dengan berbagai kezaliman dari para penguasa yang ada saat ini.
Wallahu a'lam. []

Nay, Desainer yang Mahir Menulis Quote

Desain tangan dingin Teh Nay pun bisa kita lihat bersama melalui flyer-flyer challenge NP. Kesan mewah dan elegan memang selalu menjadi ciri khas dari flyer NP

Oleh. Arum Indah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Assalamualaikum, Teh Nay. Kali ini aku akan mencoba untuk me-review Teh Nay, ya.

Jujur, saat mau menulis story ini, rasanya maju mundur cantik, Teh. Hehehe. Mungkin karena aku belum terlalu mengenal Teh Nay dan juga belum pernah bertukar pesan secara pribadi. Akan tetapi, lewat karya-karya Teh Nay yang aku lihat di NP, aku merasa bisa untuk menuangkan bagaimana kiprah Teh Nay lewat tulisan. Semoga berkenan dengan tulisan dariku ini, ya, Teh.

Nama yang Unik

Nay Beiskara. Nama yang unik, kalimat itu yang pertama kali terlintas di benakku saat mengetahui nama salah satu Tim Redaksi NP ini.

Pertama kali mendengar namanya, pikiranku juga langsung berkelana ke animasi tentang seekor lebah yang senantiasa jadi tontonan semasa kecil. Ya, animasi “Honey Bee Hatchi”. Mungkin karena sama-sama ada unsur “bee”-nya ya. Aku juga jadi penasaran. Apa mungkin Beiskara itu berasal dari “bee is kara” (lebah bernama kara) atau kara yang merupakan salah satu merek santan instan, ya, hehehe. Sayangnya, Teh Nay juga lupa dengan asal usul Beiskara. Kalau nanti sudah ingat, boleh di-spill di Grup Konapost untuk menghilangkan rasa penasaran kami ya, Teh. Hehehe.

Sama seperti Tim Redaksi yang lain, awal pertama aku bertemu dengan Teh Nay adalah saat acara “Meet & Greet Tim Redaksi NP” melalui aplikasi Zoom.

Sejak itu, memang belum pernah ada komunikasi intens di antara kami. Di satu sisi, aku segan ingin menegurnya via pesan WA, karena ia jarang terlihat di Grup Konapost. Di sisi lain, mungkin juga tugas Teh Nay tak mengharuskan dirinya untuk bertegur sapa dengan kami. Ternyata benar, tugas Teh Nay memang berbeda dari admin-admin yang lain. Ia bertugas untuk mendesain flyer-flyer NP dan buku-buku terbitan NP.

Desain, Bukan Pekerjaan Mudah

Semasa kuliah dulu, aku pernah diamanahi untuk menjadi tim desain publikasi majelis taklim di kampus, tetapi amanah itu hanya bisa aku kerjakan beberapa bulan saja dan aku memilih untuk angkat bendera putih alias angkat tangan, Guys. Sepertinya tak ada aliran darah seni dalam tubuhku (ngeles). Wkwkwk.

Ya, desain bukanlah suatu perkara yang mudah, sebab kita harus memikirkan image yang tepat, letak image agar proporsional, warna, perpaduan warna, model teks, warna teks, dan lain-lain. Belum lagi bagaimana memberi kesan agar image terlihat “bernyawa”, elegan, keren, intinya perfeksionis, deh. Makanya, saat aku tahu kalau Teh Nay belajar desain secara autodidak, aku salut, Guys.

Ditambah lagi dengan standar desain NP yang enggak mudah serta harus perfect dan ternyata Teh Nay mampu dan juga cukup tahu bagaimana kriteria image yang diinginkan oleh Mom Andrea.

Pantang Menyerah

Mom Andrea pernah bercerita bahwa Teh Nay termasuk seorang yang pantang menyerah. Walau desainnya pernah ditolak berkali-kali oleh Mom, tetapi Teh Nay tetap pantang menyerah sampai titik darah penghabisan, eh, maksudnya sampai lampu hijau menyala. Hehehe. Ini keren banget, sih. Butuh waktu yang enggak sebentar untuk memikirkan sebuah desain. So, kita bisa membayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan Teh Nay untuk menyelesaikan satu flyer dan biasanya flyer challenge selalu lebih dari satu.

Nah, desain tangan dingin Teh Nay pun bisa kita lihat bersama melalui flyer-flyer challenge NP. Kesan mewah dan elegan memang selalu menjadi ciri khas dari flyer NP, ya.

Oh, iya, saat pertama aku menerima buku “Miracle of Words” karya Mbak Bunga Padi, aku juga langsung kagum melihat cover bukunya. Usut punya usut, ternyata yang mendesain buku tersebut juga hasil kolaborasi antara Mom Andrea dan Teh Nay.

Rasa kagum menuntutku untuk berselancar ke website NP, lalu aku melihat cover buku-buku yang pernah diterbitkan NP, Masyaallah, cakep-cakep dan keren-keren, euy. Kolaborasi Mom Andrea dan Teh Nay memang the best. Image-image yang ada terasa hidup, kesannya kuat, dan memiliki pesan tersendiri.

Jago Buat Quote

Mom Andrea pernah mengatakan bahwa Teh Nay jarang menulis naskah, tetapi saat menulis quote bisa langsung menyabet juara dan berhasil mendapatkan reward berupa HP Samsung. Masyaallah.

https://narasipost.com/story/07/2024/nay-beiskara-desainer-nomor-wahid-np/

Saat aku intip kumpulan quote Teh Nay yang berjudul “Masa lalu, Pelajaran Berharga Bagimu”, quote-quote si Teteh memang benar keren.

Ada satu quote yang paling aku suka, begini redaksinya: “Dunia ini tak lagi muda. Kau pun tak lagi belia. Sungguh merugi orang yang mengejar dunia. Padahal, kenikmatannya hanya sesaat semata.”

Wah. Rajin-rajin buat quote, ya, Teh. Hihihi. Kadang memang perlu banget kata-kata yang singkat, padat, dan jelas untuk memantik semangat atau muhasabah.

Pesan untuk Teh Nay

Teh, tetap semangat untuk terus menebar kebaikan bersama NP lewat desain-desain yang memukau.

Oh, ya, Teh, sesekali sapa kami di Grup Konapost, ya. Sekadar say hello or hai. Bertanya kabar atau tanya kami sedang apa juga enggak apa-apa. Apalagi kalau tanya kami mau apa. Boleh banget. Wkwkwk.

Oh, iya, dengar-dengar, sih, katanya Teh Nay itu enggak pendiam, bisa diajak seru-seruan juga. Yah, mungkin karena kita belum terlalu dekat, jadi aku belum tahu betul bagaimana Teh Nay. Semoga lewat tulisan ini, ada langkah maju yang bisa mendekatkan kita, ya, Teh.

Semoga kelak kita bisa bersahabat sebagaimana persahabatan yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:

Allah Swt. berfirman, “Orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya. Para nabi dan syuhada pun tertarik oleh mereka.” (HR. At-Tirmidzi)

Wallahu’alam bishowab []

Terbuat dari Apakah Mom Andrea?

Aku sadar betul, persoalannya jelas dalam azam. Keterbatasan tak menjadikanmu melemah, tapi tetap tangguh dan mampu menguatkan.

Oleh. Yeni Marliani
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Hampir empat tahun aku mengenalnya. Tanggal 25 Desember 2020 kali pertama aku mengirimkan chat padanya berupa tulisan opini. Saat itu aku merasa gugup, rasanya segan bagiku, sebab yang aku hubungi seorang pemimpin redaksi langsung dan ia berdomisili di luar negeri. Namun, ternyata responsnya tak sehoror yang aku bayangkan. Bahkan, ia tak pelit untuk memberikan apresiasi pada tulisanku. Mungkin sepele tapi itu sangat berarti.

Awalnya sering kali aku panggil ia "Bu", seiring berjalan waktu ternyata baginya itu aneh, selanjutnya aku panggil ia "Mom" sebagaimana kebanyakan anggota grup kontributor memanggilnya. Mom Andrea, lengkapnya Andrealica Nhordeeniz. Ia sosok muslimah yang tanpa ia sadari telah menjadi bagian penting dalam proses kiprahku dalam dakwah.

Walau tak pernah bertemu secara langsung, sering kali aku bergumam "Terbuat dari apakah Mom Andrea?" Tersebab ia unik dan segala rasa bercampur jika aku mendengar namanya. Adakalanya segan, rindu, simpati, juga takjub.

Mom, si Penggali Bakat

Beberapa saat setelah ia memasukkan aku ke grup kontributor, ramai di grup membicarakan tim dubber yang hari ini berganti Voice Over (VO). Di situlah aku tertarik untuk bergabung. Dengan mudahnya mom mempersilakanku bergabung, padahal aku tak ada pengalaman sedikit pun.

Ternyata dalam Tim VO, mom tak segan mengeluarkan banyak materi demi Tim VO dapat meng-upgrade kemampuan. Mulai dari memfasilitasi peralatan rekaman lengkap hingga menghadirkan narasumber yang kompeten dalam dunia VO.

Hal terpenting, mom selalu memberikan arahan, saran juga kritik setiap hasil VO, sehingga masing-masing anggota tim dapat memahami kekurangan, kesalahan juga kemampuannya dalam VO.

Walau kini VO NarasiPost.Com sudah tidak aktif, tetapi ilmunya tetap membekas dan bermanfaat untuk aktivitas dakwah di lingkungan tempat tinggalku. Sesekali rindu untuk mem-VO naskah, sedih rasanya melihat alat rekaman yang tertata rapi di lemari dan jarang digunakan.

Ada hal unik, entah dari arah mana mom menilai. Saat aku memperoleh reward alat rekaman, aku kirim video sederhana unboxing sebagai bukti telah sampai dengan baik. Namun, karena hal tersebut mom menugasi untuk membuat video pengenalan Tim VO pada event Milad NarasiPost.Com dua tahun lalu. Di situlah aku belajar dan alhamdulillah memperoleh apresiasi baik dari mom dan tim. Aku merasa itu pencapaian terbaik bagiku dalam membuat video.

Tak hanya Tim VO, para kontributor pun senantiasa di-upgrade kemampuan menulisnya, mulai dari challenge menulis yang rutin diadakan, sharing materi baik via Zoom ataupun WhatsApp group. Bahkan, ada yang mom daftarkan ke kelas menulis keren. Kekinian, mom dorong dan fasilitasi para penulis baik inti maupun kontributor menciptakan buku solo. Masyaallah. Semua itu tentu tidak tanpa materi. Entah berapa banyak materi yang telah mom keluarkan dari kantongnya sendiri.

Aku melihat banyak progres dari penulis yang tergabung dalam WhatsApp grup Konapost (Kontributor NarasiPost). Penulis-penulis ideologis yang tajam pisau analisis. Juga tak hanya menguasai rubrik Opini, ada yang akhirnya mampu menulis rubrik Teenager, Medical, serta Story, dengan kemasan cerdas dan mencerdaskan.

"Terbuat dari apakah Mom Andrea?" Jerih payahmu membuat aku iri sebab ketidakmampuanku menandingi amalmu.

Mom, Pembelajar Tangguh

Sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred), Mom tidak hanya mengelola tulisan yang masuk dan layak tayang. Namun, mom sering kali menghadapi gangguan server dan mom mampu mengatasinya sendiri.

Dari sana aku melihat, seorang mom adalah pembelajar yang tangguh. Ia bangun web sendiri dan mampu menyelesaikan berbagai kendala, padahal tidak ada background IT (Information Technologi).

Aku dan kontributor lainnya pun diajarkan bagaimana mengoptimalkan SEO (Search Engine Optimization), yakni kemampuan tulisan dikenali mesin pencarian, alhasil tulisan akan menyebar lebih luas.

Karena karakteristik mom sebagai pembelajar, Ia pun sering kali melahirkan tulisan yang apik. Terutama untuk rubrik Story dan Medical. Biasanya dikemas secara runut dan rinci. Tak lupa, akan dimasukkan dalil sebagai penguat. Tulisan story mom selalu sukses mengaduk-aduk emosi pembaca, bahkan banjir air mata. Tulisan medical Mom selalu sukses membuka wawasan.

Jika melihat desain-desain ilustrasi tulisan di website NarasiPost.Com, yang unik, cantik, elegan, dan mampu menggambarkan judul tulisan. Jangan salah, itu adalah hasil tangan dinginnya. Sekali lagi, mom pun tak ada background desain. Aku yakin, itu tersebab ketangguhan mom sebagai pembelajar. Lagi dan lagi, "Terbuat dari apakah Mom Andrea?"

Di Balik Ketangguhan Mom

Selama mengenal mom, ada hal yang sesungguhnya membuatku malu. Malu karena kurang optimalnya diri dalam persembahan terbaik untuk dakwah. Ya, aku memang belum pernah berjumpa langsung dengan mom. Namun, selama berinteraksi aku pun tahu, ternyata seorang mom memiliki keterbatasan secara fisik.

Bahkan, kisah hidupnya adalah kisah yang tak pernah terbayangkan itu terjadi pada seorang mom yang kukenal.

Mom, betul mata kananmu telah menurun fungsi penglihatannya. Namun, mata hatimu telah mampu melihat bakat para penulis ideologis hingga berprogres sangat baik.

Mom, betul ibu jari tangan kirimu tak bisa digerakkan secara normal sebab terpotong mesin gergaji. Namun, jemarimu telah mampu melahirkan media dakwah yang kompeten, mampu mem-publish naskah-naskah yang bermanfaat untuk umat dengan desain yang cermat.

Mom, betul alat canggih telah terpasang pada gusimu menggantikan gigi-gigi aslimu yang saraf-sarafnya rusak. Namun, itu tak menghalangi lisan baikmu dalam menempa timmu dan para kontributor menjadi penulis ideologis yang profesional.

Mom, betul rusukmu yang pernah patah hingga kini masih menyisakan sakit bagai tusukan belati tajam. Namun, aku merasakan dekapanmu yang tulus untuk tetap berusaha dan berprogres dalam menulis.

Mom, betul telinga kirimu kini bagai dunia tanpa denting. Namun, aku yakin doa-doa terbaik senantiasa berbisik untukmu.

Ah, tiap kali aku membaca tulisanmu yang berjudul "Dunia Tanpa Denting" (https://narasipost.com/story/05/2023/dunia-tanpa-denting), rasa malu merayapi seluruh tubuhku. Sakit fisikku dan sakit batinku kerap menjadi alasan untuk tidak optimal dalam dakwah.

Pertanyaanku "Terbuat dari apakah Mom?" Memang takkan menemukan jawabannya. Sebab aku dan mom jelaslah berasal dari penciptaan yang sama, memiliki gharizah juga hajatul udhawiyah.

Aku sadar betul, persoalannya jelas dalam azam. Keterbatasan tak menjadikanmu melemah, tapi tetap kuat dan mampu menguatkan. Terima kasih Mom Andrea, atas inspirasinya. Engkau telah menjadi mentari yang menyinari. Semoga kesehatan selalu tercurah untukmu. Aamiin.

Wallahu a'lam bishawab. []

Dokter Asing Diundang, Solusikah?

Dalih pemerintah yang mengatakan negeri ini masih kekurangan dokter, sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus mendatangkan dokter asing.

Oleh. Arum Indah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Wacana untuk mendatangkan dokter asing ke Indonesia menuai pro kontra di kalangan masyarakat. Terlebih saat Profesor BUS (Budi Santoso) diberhentikan dari jabatan Dekan FK Unair (Universitas Airlangga) yang disinyalir merupakan imbas dari pernyataannya menentang kehadiran dokter asing. Meskipun saat ini Prof BUS sudah menduduki kembali jabatannya sebagai Dekan FK Unair, Rektor Unair tetap enggan bersuara mengenai alasan pemberhentian sebelumnya. (BBC.com, 8-7-2024)

Menkes Budi Sadikin justru mengatakan bahwa perspektif kedatangan dokter asing adalah untuk menyelamatkan nyawa manusia dan mempercepat peningkatan kemampuan serta kualitas dokter-dokter muda Indonesia. Budi berpendapat bahwa naturalisasi dokter asing akan memacu peningkatan kualitas dan standar dokter sebagaimana naturalisasi pemain sepak bola yang terbukti meningkatkan kualitas Timnas.

Ketua Kluster Kedokteran dan Kesehatan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, Iqbal Mochtar justru meragukan keputusan pemerintah ini. Iqbal ragu rencana ini dapat berjalan efektif dan sesuai target. Sebab ia mengatakan pangkal permasalahan di Indonesia hari ini adalah distribusi dokter yang tidak merata, khususnya di wilayah-wilayah pedalaman dan terpencil. Iqbal pun menyangsikan kesediaan dokter asing untuk di tempatkan di daerah pedalaman. (nasional.kompas.com, 9-7-2024)

Benarkah kehadiran dokter asing akan dapat menyelesaikan permasalahan kesehatan di negeri ini? Atau justru makin menambah keruwetan masalah negeri?

Alasan Pemerintah

Pemerintah berdalih kebijakan mendatangkan dokter asing ini adalah untuk mencapai ketetapan yang dibuat WHO yakni rasio antara dokter dan penduduk haruslah 1:1.000, sedangkan rasio dokter umum di Indonesia hanya sebesar 0,47 dari 1.000 penduduk. Adapun dokter spesialis, rasionya hanya 0,12 per 1.000 penduduk.

Jika penduduk Indonesia berkisar di angka 270 juta jiwa, maka masih diperlukan sekitar 140.000 lebih dokter lagi. Menkes juga menyebutkan sebanyak 500 puskesmas tidak memiliki dokter dan Indonesia juga masih kekurangan 29.000 dokter spesialis

Saat ini ada 226.190 dokter dengan perincian 173.247 dokter umum dan 52.843 dokter spesialis di Indonesia.

Keputusan yang Tidak Tepat

Keputusan pemerintah untuk menghadirkan dokter asing merupakan langkah yang tidak tepat di tengah kemelut problem kesehatan yang menimpa negeri.

Dalih pemerintah yang mengatakan negeri ini masih kekurangan dokter, sebenarnya bisa diselesaikan tanpa harus mendatangkan dokter asing. Seperti biasa, pemerintah hanya selalu berfokus pada besaran angka, bukan distribusi. Pasalnya distribusi dokter di wilayah Indonesia juga menjadi masalah yang belum teratasi.

Konsil Kedokteran Indonesia justru menyatakan bahwa per 24 April 2024, ada 59.422 dokter spesialis yang terdaftar dengan sebaran yang cukup jomplang. Terdapat lima provinsi yang memiliki sebaran dokter spesialis terbanyak, yakni Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sumatra Utara. Di Jakarta, jumlah dokter spesialis menembus angka 10.849 atau mencapai 18,3% dari populasi dokter spesialis, sedangkan di Sulawesi Barat, Maluku Utara, Kalimantan Utara, dan Papua merupakan empat provinsi dengan dokter spesialis paling rendah.

Buah dari Liberalisasi Kesehatan

Pemerintah tampaknya benar-benar serius akan merealisasikan niatnya ini. Beberapa waktu lalu, beberapa rumah sakit telah diminta untuk mengisi formulir keterangan akan kebutuhan terhadap dokter asing.

Kehadiran dokter asing ke Indonesia bukan merupakan rencana baru. Rencana ini sudah dicetuskan sejak bulan Juli tahun 2023 silam saat pemerintah mengesahkan UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 yang membuka ruang bagi dokter asing untuk hadir ke Indonesia. Aturan itu tertuang pada pasal 248 hingga 257, yang menyatakan tenaga medis dan tenaga kesehatan asing yang dapat melakukan praktik di Indonesia hanya berlaku bagi tenaga medis spesialis dan subspesialis, serta tenaga kesehatan pada tingkat kompetensi tertentu setelah mengikuti evaluasi kompetensi.

UU Kesehatan ini sendiri merupakan buah dari liberalisasi kesehatan. Kesehatan dijadikan sebagai lahan profit bagi pemerintah dengan menyerahkan kesehatan pada mekanisme pasar bebas yang memang menjadi tuntutan bagi negara-negara GATS (General Agreement on Trade in Service) untuk memaksimalkan liberalisasi pada sektor bisnis, konstruksi, kesehatan, pariwisata, dan beberapa sektor lain.

Aroma cuan dari kesehatan juga tercium saat Jokowi pernah mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri mengakibatkan pemasukan negara berkurang Rp180 triliun. Begitulah hubungan penguasa dan rakyat yang dibangun oleh kapitalisme, semuanya bersandar kepada keuntungan materi belaka.

Krisis Kesehatan Terus Terjadi

Krisis kesehatan yang terus terjadi di Indonesia mencakup dua faktor, yakni:

Pertama, penyebaran dokter yang tidak merata. Selama ini, dokter-dokter banyak terdistribusi di Pulau Jawa dan hanya di kota-kota besar. Sering kita temui fakta akan kurangnya fasilitas kesehatan termasuk keberadaan dokter di wilayah-wilayah terpencil. Harusnya, langkah yang dilakukan pemerintah adalah memastikan penyebaran dokter merata di seluruh wilayah dan sesuai kebutuhan. Pemerintah juga harus menjamin kelayakan hidup para dokter.

Kedua, mahalnya biaya pendidikan dokter. Tak sedikit generasi yang ingin menjadi dokter, tapi selalu terkendala pada biaya pendidikan yang sangat mahal.

Dokter Asing dalam pandangan Islam

Kesehatan adalah tanggung jawab penguasa. Pada dasarnya, Khilafah boleh saja memiliki dokter asing sebagaimana Rasul pernah menjadikan dokter yang dihadiahkan Raja Mesir sebagai dokter untuk umat.

Hanya saja, kehadiran dokter asing dalam Khilafah berbeda pandangan dengan negara kapitalsime. Khilafah akan mengizinkan kehadiran dokter asing apabila keberadaannya benar-benar dibutuhkan. Khilafah akan terlebih dulu memaksimalkan segala potensi yang dimiliki generasinya untuk mengatasi problem kesehatan.

Langkah Khilafah Mengatasi Problem Kesehatan

Setidaknya ada empat langkah yang akan dilakukan oleh Khilafah, yakni:

Pertama, pembudayaan hidup sehat, yakni dengan menekankan kebutuhan gizi harian, lebih banyak mengonsumsi buah, kebersihan, puasa sunah, dan lain-lain. Khilafah juga akan mewujudkan iklim ekonomi yang kondusif untuk merealisasikan budaya hidup sehat.

Kedua, pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan dengan cara mendorong umatnya untuk melakukan inovasi kesehatan, membiayai, dan memfasilitasi para ilmuwan dan peneliti kesehatan.

https://narasipost.com/opini/03/2023/gelagat-kapitalisme-dalam-pengurusan-spesialisasi-dokter/

Ketiga, penyediaan infrastruktur dan layanan kesehatan yang memadai di seluruh wilayah.

Keempat, penyediaan pendidikan, Khilafah akan membangun fakultas-fakultas kedokteran dan akan mendidik para generasi yang memiliki minat dan ketertarikan untuk menjadi dokter tanpa biaya tinggi.

Kejayaan Kesehatan dalam Islam

Pada abad pertengahan, hampir seluruh kota besar dalam Khilafah memiliki rumah sakit besar. Di Kairo, rumah sakitnya mampu menampung hingga 8.000 pasien. Rumah sakit ini juga digunakan untuk pendidikan universitas dan riset.

Semua rumah sakit di Khilafah juga disertai dengan tes kompetensi bagi dokter dan perawat, aturan kemurnian obat, kebersihan dan kenyamanan ruangan, kesegaran udara, serta pemisahan pasien berdasarkan jenis penyakitnya.

Khatimah

Kehadiran dokter asing bukan solusi untuk mengatasi masalah kesehatan di Indonesia. Kehadiran mereka hanya merupakan tuntutan pasar bebas dan buah dari liberalisasi kesehatan.

Kesehatan bagi rakyat hanya akan terwujud secara sempurna saat negara ini mau menerapkan hukum Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiah.
Wallahu’alam bishowab. []

Prof. BUS dan Liberalisasi Kesehatan

Pencopotan secara sepihak terhadap Prof. BUS menunjukkan adanya ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ada campur tangan kekuasaan untuk mencopot siapa pun yang kritis terhadap pemerintah.

Oleh. Isty Da’iyah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sistem kapitalisme sekuler makin menampakkan kebatilannya. Berbagai persoalan yang membelit negeri menjadi bukti bahwa sistem ini tidak layak untuk diadopsi. Kebijakan-kebijakan yang digulirkan nyatanya justru menambah beban bagi rakyat kebanyakan, termasuk kebijakan dalam hal pengurusan kesehatan. Bahkan ketika ada yang memberikan kritik terhadap kebijakan ini, nyatanya pemecatan yang didapatnya, sebagaimana yang menimpa Dekan FK Unair Prof. Dr. Budi Santoso (Prof. BUS).

Prof. BUS dicopot dari jabatannya sebagai Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga per Rabu, 3 Juli 2024. Pemecatan Prof. BUS diduga karena sikap beliau yang menolak kebijakan Kementerian Kesehatan tentang didatangkannya dokter asing ke Indonesia. Pemberhentian Prof. BUS sebagai Dekan FK Unair memicu demo dari rekannya dan para dokter. (suarasurabaya.net, 6-7-2024)

Menurut pantauan CNNIndonesia.com ada lebih dari 30 rangkaian bunga yang bernada dukungan untuk Prof. BUS. Salah satu yang tertulis dalam karangan bunga itu adalah ucapan dukacita atas hilangnya demokrasi di dunia pendidikan. Suasana di depan gedung FK Unair sangat ramai dipenuhi oleh mahasiswa, alumni, dan sejumlah pengajar yang bersiap melakukan aksi solidaritas untuk dr. Budi. (CNNindonesia.com 4-6-2024)

Pencopotan yang dilakukan secara sepihak terhadap Prof. BUS menunjukkan adanya ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. Ada campur tangan politik kekuasaan untuk mencopot siapa pun yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Ini adalah pembungkaman serta pemberangusan kebebasan akademik. (Tempo.co 4-7-2024).

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Prof. BUS memberi respons terhadap kebijakan pemerintah terkait kebutuhan dokter asing. Ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan praktik dokter asing secara bebas dan mandiri di Indonesia.

Diangkat Lagi Menjadi Dekan

Istilah no viral no justice adalah hal yang nyata dalam sistem rusak demokrasi saat ini. Setelah sempat viral dan menuai banyak kecaman, jugamelalui proses perundingan, akhirnya keadilan untuk sang dekan barulah didapatkan. Karena kegaduhan akibat pemecatan dan banyaknya protes, pada 9-7-2024, Prof. BUS akhirnya diangkat kembali menjadi Dekan FK Unair. (Detik.com 9-7-2024)

Meskipun Prof. BUS kembali diangkat menjadi dekan, kebijakan-kebijakan tentang liberalisasi kesehatan tetap tidak akan ada perubahan. Kebijakan dokter asing akan tetap berjalan sesuai dengan UU Kesehatan, padahal kebijakan pemerintah terhadap dokter asing adalah bagian dari liberalisasi kesehatan yang berdampak pada makin mahalnya biaya kesehatan. Keberadaan dokter asing untuk memenuhi kekurangan dokter menjadi sorotan di tengah liberalisasi kesehatan yang merugikan rakyat maupun dokter lokal.

Liberalisasi Kesehatan

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, UU Kesehatan yang telah disahkan pada 2023 adalah tonggak transformasi kesehatan nasional yang mandiri dan inklusif. Melalui UU Kesehatan ini, kesehatan di Indonesia disebut tidak lagi berorientasi pada pengobatan, melainkan pada pencegahan. Selain itu masih menurut Menkes, UU Kesehatan akan menjamin pemenuhan infrastruktur sumber daya manusia, pemasaran, prasarana, pemanfaatan teknologi telemedis, dan pengampuan jejaring prioritas layanan kesehatan yang berstandar nasional dan internasional.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, telah dibuka kesempatan bagi dokter asing untuk bisa bekerja di negeri ini. Aturan tentang dokter asing juga telah tercantum di dalam UU Kesehatan. Sebelum UU Kesehatan ini disahkan, telah terbit Permenkes 6 Tahun 2023 Tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing.

Kebijakan yang telah disahkan ini makin menjadikan kesehatan sebagai komoditas, dari health care menjadi health industry. Sistem layanan kesehatan ini mengacu pada Barat.

Hal ini selaras dengan posisi Indonesia yang menjadi anggota dari WTO (World Trade Organization) yang telah menggagas konsep liberalisasi perdagangan. Dalam perjanjian ini terdapat salah satu perjanjian di bawah WTO yang mengatur perjanjian umum untuk semua sektor jasa. Harapannya perdagangan jasa di dunia akan meningkat dan salah satunya adalah jasa kesehatan dan sosial.

WHO sebagai organisasi kesehatan dunia juga telah mendikte negara-negara anggota PBB untuk menjalankan politik kesehatan yang bersandar pada kapitalisme sekuler. Di Indonesia sendiri penyerahan layanan kesehatan diselenggarakan oleh BPJS yang makin menampakkan kapitalisasi kesehatan. Politik kesehatan dalam kapitalisme merupakan pengaturan kesehatan yang bersandar pada sekularisme yang dilakukan secara praktis oleh negara di bawah kontrol WHO, dengan cakupan upaya promotif, preventif, dan kuratif. Alhasil negara berperan hanya sebagai regulator dalam mewujudkan layanan kesehatan tersebut.

Bisa dikatakan inilah imperialisme dalam bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan negara terikat MoU dan harus merealisasikan di negaranya dalam bentuk kebijakan yang diberlakukan untuk masyarakat.

Impor Dokter Asing

Dalam sistem kapitalisme sekuler, kemudahan yang diberikan oleh pemerintah terhadap dokter asing merupakan bentuk kapitalisasi kesehatan. Sedangkan kebijakan impor dokter asing adalah sebuah bentuk pengakuan jika negara telah gagal mencetak sumber daya manusia di bidang kesehatan. Penyebab lain kegagalan pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia di bidang kesehatan adalah faktor mahalnya biaya pendidikan untuk jurusan studi kedokteran. Hal ini menyebabkan banyak sumber daya manusia yang cerdas dan mampu harus berpikir berkali-kali ketika akan kuliah di pendidikan kedokteran, akibat tingginya biaya yang harus dikeluarkan.

Sejatinya, apabila pemerintah fokus memberikan pendidikan berkualitas untuk anak bangsa maka akan menghasilkan tenaga kesehatan yang mumpuni di negeri ini. Namun, inilah konsekuensi logis yang terjadi dalam sistem kapitalisme sekuler. Kesehatan adalah jasa yang harus dikomersialkan. Negara berhitung untung rugi dalam membuat kebijakan untuk menjamin keberlangsungan komersialisasi tersebut.

Persoalan kesehatan di negeri ini sangatlah kompleks sehingga perlu usaha untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas untuk rakyat. Bukan malah merugikan kepentingan rakyat dan para tenaga kesehatan.

Untuk mencegah terjadinya impor dokter asing harusnya pemerintah menyediakan pendidikan berkualitas terbaik bagi calon dokter. Dengan demikian, ketersediaan dokter umum dan dokter ahli sangat memadai, termasuk keberadaan riset, laboratorium farmasi, dan penunjang kesehatan lainnya. Tidak akan ada lagi beban bagi tenaga kesehatan untuk bersaing dengan dokter-dokter impor karena negara akan mendahulukan pemanfaatan sumber daya manusia dalam negerinya dahulu, sebelum mengambil sumber daya manusia dari luar negeri.

Kesehatan dalam Islam

Dalam sistem Islam, kesehatan merupakan salah satu kebutuhan vital masyarakat yang pelayanannya harus dijamin oleh negara. Negara akan menyediakan pelayanan kesehatan bagi setiap individu rakyat secara mudah bahkan gratis tanpa merugikan pihak mana pun, terutama para tenaga kesehatan.

Dalam pandangan Islam, kesehatan tidak boleh memiliki nilai bisnis. Walhasil, negara akan menjalankan tugasnya untuk menyelenggarakan kesehatan berbasis syariat Islam karena kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat.

https://narasipost.com/opini/07/2024/dokter-asing-pro-kontra-dan-urgensinya/

Islam memandang kesehatan sebagai kepentingan dan kenikmatan yang tidak terlepas dari keimanan. Oleh karenanya, ketika seorang muslim sehat maka ia akan menggunakan kesehatan tersebut untuk melaksanakan tugasnya sebagai hamba. Ketika sehat maka ia mampu untuk menjalankan kewajibannya kepada Al-Khalik. Konsep kesehatan Islam ditunjukkan dalam firman Allah Swt. yang terdapat dalam surah Asy-Syu’ara' ayat 78-81 yang artinya,

"... Yang menciptakanku, lalu Dia menunjukiku, dan yang memberi makan dan minumku, dan jika aku sakit, Dia yang menyembuhkanku, dan yang mematikanku, kemudian akan menghidupkanku.”

Sebenarnya dalam sistem Islam tidak ada larangan untuk menggunakan jasa dokter asing. Karena negara punya kendali penuh terhadap kebijakan yang akan memberikan jaminan kesehatan kepada seluruh rakyatnya. Di sisi lain, para dokter muslim juga menjadi agen perubahan dalam mewujudkan paradigma kehidupan bernegara yang sesuai dengan Islam.

Paradigma bahwa kesehatan adalah hak setiap individu akan menjadikan negara bersungguh-sungguh menunaikan kewajibannya untuk mengurus kesehatan yang sejatinya tidak hanya melulu masalah kesehatan.

Khilafah akan menjalankan upaya-upaya dalam mewujudkan kesehatan, di antaranya adalah:

  1. Preventif non klinis, penetapan standar mutu kesehatan bagi air minum, makanan, kemurnian udara, dan kebersihan lingkungan dari pencemaran dan limbah industri.
  2. Pemantauan pola penyakit serta pencermatan faktor-faktor perusak kesehatan, dan perwujudan solusinya.
  3. Antisipasi, dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk menghindari bahaya yang mengancam kesehatan, termasuk penyebaran penyakit menular.

Layanan kesehatan yang prima untuk rakyat Khilafah akan mendapat dukungan dari sistem pendidikan dan sistem ekonomi Islam. Khilafah menyiapkan sistem pendidikan yang bisa mencetak SDM kesehatan yang berkualitas. Hal ini didukung oleh teknologi, industri berat, dan pembiayaan yang bersumber dari baitulmal.

Catatan Sejarah Islam di Bidang Kesehatan

Dalam memajukan ilmu dan teknologi untuk kesehatan, sejak zaman Rasulullah telah dicontohkan banyak sekali macam pengobatan yang dikenal saat itu. Bahkan Rasulullah saw. adalah inspirator utama kedokteran Islam. Meski beliau bukan dokter, kata-katanya yang terekam dalam banyak hadis menginspirasi bagi kemajuan teknologi kedokteran yang dilanjutkan pada zaman kekhilafahan. Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran berkembang sangat pesat.

Sebut saja Al-Kindi yang menunjukkan aplikasi matematika untuk kuantifikasi di bidang kedokteran yang berfungsi untuk mengukur derajat penyakit, mengukur kekuatan obat hingga dapat memprediksi saat kritis pasien.

Ada juga penemuan cikal bakal vaksinasi sebagai cara preventif untuk mencegah penyakit berbahaya. Lahir juga dokter-dokter pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani. Bahkan banyak lagi bapak-bapak kedokteran yang lahir pada masa itu, sebut saja Ibnu Sina yang menemukan termometer, Abu Al-Qasim Az-Zahrawi yang dianggap bapak ilmu bedah modern, dan masih banyak lagi dokter dan penemu alat-alat kesehatan. Semua prestasi itu terjadi karena adanya Daulah Khilafah yang mendukung aktivitas riset kedokteran untuk kesehatan umat. Umat yang sehat adalah umat yang kuat dan produktif. Kesehatan pada masa kekhilafahan dilakukan secara preventif atau pencegahan, bukan cuma kuratif atau pengobatan.

Bahkan keberadaan rumah sakit pada masa kekhilafahan menjadi tempat favorit bagi para pelancong asing. Mereka ingin merasakan sedikit kemewahan tanpa biaya. Ini karena ketika masa kekhilafahan dan kejayaan Islam, seluruh rumah sakit di Daulah Khilafah sangatlah nyaman dan gratis. Bahkan ketika keluar dari rumah sakit karena sudah sembuh, mereka akan diberi "uang saku" untuk menghidupi keluarganya yang ditinggal selama si kepala keluarga sakit.

Penutup

Fakta yang menunjukkan bahwa kaum muslim pada era kekhilafahan sangat paham akan pentingnya hidup sehat dan kesehatan, tidak lepas dari adanya peran negara. Ini merupakan kerja sama yang baik antara tenaga kesehatan dan negara yang memfasilitasinya.

Support system dari negara yang mewujudkan pelayanan kesehatan yang paripurna akan melahirkan aturan dan kebijakan yang membawa kemaslahatan untuk semua masyarakat. Dengan demikian, individu rakyat bisa mengakses layanan kesehatan terbaik secara murah bahkan gratis. Sementara itu, tenaga kesehatan dan para dokter akan mendapatkan penghargaan yang setimpal.

Dengan mengambil syariat Islam kaffah sebagai sistem pemerintahan, segala kebijakan yang diambil akan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh fitrah manusia. Kebijakan kesehatan akan terintegrasi dengan kebijakan-kebijakan lain yang diwujudkan dalam sebuah sistem pemerintahan yang tegak di atas paradigma dan aturan terbaik, yakni akidah dan syariat Islam.

Ini karena aturan Islam yang Allah Swt. turunkan adalah aturan terbaik sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 50 yang artinya,

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Wallahua'lam bishawab.[]

#MerakiLiterasiBatch2
#NarasiPost.Com
#MediaDakwah

Sistem Politik Demokrasi Utopis, Sistem Islam Ideal

Sistem politik demokrasi menampakkan kecurangan melalui kamuflase hasil pemilu yang seolah-olah mencerminkan suara rakyat, padahal suara pemilik modal.

Oleh. Maman El Hakiem
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Sistem politik ideal selalu menjadi topik yang menarik dan relevan dalam diskusi politik global. Selama ini, gagasan tentang sistem politik yang ideal sering kali dikaitkan dengan pelaksanaan sistem demokrasi pada suatu negara. Seperti tidak ada pilihan lain selain dari barometer demokrasi, padahal demokrasi bukanlah satu-satunya pilihan. Secara fakta, demokrasi sedang berada di ujung kehancurannya.

Jika belajar dari perjalanan sejarah negeri ini, tidak ada kata final bagi sebuah sistem politik, apalagi selama ini belum ditemukan sistem politik yang ideal. Sejak kemerdekaan Republik Indonesia 1945, negeri ini telah mencoba berbagai sistem politik, mulai dari demokrasi terpimpin yang semisosialis hingga saat ini demokrasi semikapitalisme, bahkan mengarah kepada kapitalisme global.

Sekalipun punya keunikan tersendiri sebagai negara yang berasaskan Pancasila, tetapi secara fakta tidak bisa dilepaskan dari dua sistem ideologi yang ada, yaitu sosialisme dan kapitalisme. Sedangkan mayoritas penduduk di negeri ini adalah muslim yang memiliki akar sejarah yang kental dengan Kekhilafahan Islam.

Sepertinya, ada upaya pengaburan dan penguburan sejarah Islam di bumi Nusantara ini. Ada proses pengikisan budaya Islam dengan nilai-nilai sekularisme yang dibawa oleh penjajah. Sekalipun penjajahan secara fisik sudah hengkang dari negeri ini, sistem hukum dan politik yang ada masih menerapkan warisan sistem hukum dan politik penjajah yang sekuler.

Sistem Politik Demokrasi Utopis

Sistem demokrasi dengan ideologi kapitalisme begitu menggurita menjajah negeri ini. Melalui sekelompok masyarakat kecil (oligarki) , mereka berada di balik sosok pemimpinnya yang populis, tetapi otoriter. Banyak sekali aturan atau undang-undang dibuat sesuai pesanan para pemilik modal yang menanamkan saham politiknya pada kekuasaan yang "dibelinya" dari rakyat melalui pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun.

Adanya kekuasaan yang dikuasai oligarki inilah yang menjadi sorotan publik, termasuk Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Arif Satria. Menurutnya, sistem politik di negeri ini secara keseluruhan makin tidak inklusif dan harus ada evaluasi total untuk memperbaikinya. "Sistem politik Indonesia perlu dievaluasi total agar tak jadi monopoli pihak yang punya modal besar," ungkapnya seperti dilansir CNNIndonesia.com (6/7/2024).

Secara terang benderang demokrasi sebenarnya telah menampakkan kecurangan melalui kamuflase hasil pemilu yang seolah-olah mencerminkan suara rakyat, padahal suara pemilik modal. Tidak mengherankan jika sistem demokrasi hanya melahirkan pemimpin yang populis, tetapi cenderung otoriter oligarki.

Ada yang beranggapan bahwa sistem politik yang ideal harus berlandaskan pada demokrasi yang representatif dan partisipatif. Ini berarti warga negara tidak hanya memiliki hak untuk memilih wakilnya, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan politik.

Selain itu, keadilan sosial dan ekonomi harus menjadi prinsip utama. Setiap individu harus memiliki kesempatan yang sama untuk sukses tanpa diskriminasi. Pemerintah perlu memastikan akses yang adil terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Sistem perpajakan yang progresif dan program kesejahteraan yang efektif dapat membantu mengurangi kesenjangan sosial.

Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pemerintah. Semua proses politik dan administrasi harus terbuka untuk pengawasan publik. Mekanisme audit dan investigasi independen perlu diterapkan untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

Begitu pun dengan sistem hukum yang adil dan tidak memihak adalah fondasi dari sistem politik yang ideal. Hukum harus diterapkan secara konsisten tanpa pandang bulu. Sistem peradilan yang independen dan bebas dari campur tangan politik sangat penting untuk menjamin keadilan.

Senjata andalan demokrasi tidak lain adalah perlindungan hak asasi manusia (HAM). Kebebasan berbicara, beragama, dan berkumpul harus dijamin. Pemerintah harus bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak ini dan memastikan tidak ada individu atau kelompok yang mengalami diskriminasi atau penindasan.

Hanya saja, semua itu bualan demokrasi semata, tong kosong yang nyaring bunyinya. Pada faktanya, demokrasi hanyalah sistem politik yang utopis karena hanya berupa janji manis kaum kapitalis. Kebebasan yang selama ini gencar didengungkan hanya berlaku untuk mereka yang memiliki akses kekuasaan dengan merobohkan segala aturan yang sekiranya menghambat masuknya investasi asing atau swasta. Kekuasaan yang sejatinya berada di tangan rakyat beralih kepada para pemilik modal dengan kedaulatan berada di tangan manusia yang ambisius dan rakus terhadap harta dan takhta.

Sistem Politik Islam Ideal

Oleh karena itu, perlu dibuka ruang diskusi tentang solusi sistem politik Islam yang ideal. Rakyat sudah jenuh dengan jargon politik demokrasi yang mengatasnamakan kekuasaan di tangan rakyat , padahal buktinya di tangan oligarki. Gagasan untuk menggabungkan kedaulatan hukum syariat Islam dengan kekuasaan rakyat melalui sistem kesatuan negeri dalam satu kepemimpinan umat menjadi salah satu alternatif yang menarik untuk dieksplorasi.

Sebabnya, syariat Islam mencakup aturan dan hukum yang didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunah. Implementasi syariat sebagai dasar hukum bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera, dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

https://narasipost.com/opini/10/2022/pemimpin-amanah-harapan-umat/

Syariat Islam mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan politik, untuk memastikan perilaku yang beretika dan sesuai dengan ajaran agama. Hal ini sangat memengaruhi pembentukan masyarakat yang berakhlak dan bermoral tinggi.

Kekuasaan berada di tangan rakyat. Dalam pandangan syariat Islam, kekuasaan harus dibedakan dengan kedaulatan (penetapan hukum) yang harus merujuk pada dalil hukum syarak yang bersumber pada Al-Qur'an dan Sunah.

Khatimah

Atas dasar ini, sistem demokrasi tidak memiliki dasar sama sekali dalam sistem pemerintahan Islam. Mewujudkan sistem politik yang menggabungkan kedaulatan hukum syariat dengan kekuasaan rakyat hanya dapat terwujud bila sistem Islam diterapkan secara kaffah. Inilah solusi sistem ideal yang akan membuka pintu keberkahan dari Allah Swt.

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi." (TQS. Al-A’raf: 96).

Wallahu'alam bishawab. []

Cukai, Langkah Instan Mengadang Impor?

Menaikkan cukai tanpa membangun industri yang mampu bersaing dengan produk impor, sejatinya hanya jalan pintas untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam melindungi pasar domestik.

Oleh. Sartinah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com & Penulis Rempaka Literasiku/Bianglala Aksara)

NarasiPost.Com-Cukai menjadi salah satu sektor penyangga perekonomian negeri ini. Cukai yang serupa dengan pajak memang sudah lama diterapkan oleh pemerintah, salah satunya terhadap barang-barang impor. Selain sebagai penyangga APBN, penerapan cukai juga berfungsi untuk mencegah gempuran produk-produk impor.

Baru-baru ini, pemerintah kembali akan memberlakukan pengenaan bea masuk atau cukai hingga 200 persen. Bea masuk tersebut akan dikenakan terhadap produk tekstil dari berbagai negara, termasuk Cina. Mengutip laman liputan6.com (6-7-2024), dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut kebijakan pengenaan bea masuk tersebut dilakukan untuk melindungi industri dalam negeri sesuai dengan peraturan yang ada.

Selain itu, kata Luhut, Presiden Jokowi juga meminta agar pengawasan impor diperketat, khususnya terhadap pakaian bekas dan barang selundupan yang masuk ke Indonesia. Hal ini penting dilakukan karena pakaian bekas dan barang selundupan dari luar negeri berpotensi mengganggu pasar domestik. Benarkah upaya membatasi masuknya barang impor melalui pengenaan bea masuk mengindikasikan bahwa produk impor benar-benar telah menguasai pasar domestik? Jika demikian, apa dampaknya bagi usaha dan industri di dalam negeri?

Gempuran Produk Impor dan Dampaknya

Indonesia memang menjadi "surga" bagi produk-produk impor, khususnya yang berasal dari Cina. Produk impor Cina menjadi salah satu yang terbanyak menguasai pasar domestik sejak 2021 silam. Selain Cina, empat negara dengan jumlah produk impor terbanyak di Indonesia selanjutnya adalah Hong Kong, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat.

Direktur Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea Cukai di Kementerian Keuangan Fadjar Donny Tjahjadi menyebut barang-barang impor dari Cina yang dijual melalui e-commerce secara konsisten selalu di atas 20 persen. Sementara itu, empat negara lainnya tidak melampaui 20 persen sepanjang periode 2021 hingga 2023. (solopos.com, 12-10-2023)

Gempuran produk impor dari Cina menjadi kekhawatiran para pelaku industri di dalam negeri. Tak hanya mengalahkan produk lokal, produk impor pada akhirnya akan mematikan perusahaan-perusahaan lokal. Hal ini pun diungkapkan oleh Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman. Ia menyebut, sebanyak 60 persen industri tekstil dan produk tekstil yang merupakan Industri Kecil Menengah (IKM) tak lagi beroperasi alias gulung tikar.

Salah satu penyebabnya, menurut Nandi, adalah gempuran produk tekstil impor sepanjang dua tahun terakhir. Pasar dalam negeri, baik online maupun offline, dikuasai oleh produk impor dengan menawarkan harga yang sangat murah. (tempo.co, 20-6-2024)

Penyebab Maraknya Impor

Gempuran produk impor di pasar dalam negeri tentu membuat terenyuh. Bagaimana mungkin produk-produk impor begitu bebas masuk dan memonopoli pasar domestik hingga membuat industri dalam negeri kolaps? Tak hanya yang berlabel resmi, produk impor ilegal pun diduga masuk dan menguasai pasar dalam negeri. Akibat membanjirnya produk impor tersebut, banyak perusahaan yang terpaksa memangkas jumlah karyawan, bahkan sampai gulung tikar. Lantas, apa sebenarnya penyebab maraknya impor di negeri ini?

Sejatinya, ada beberapa faktor penyebab banjirnya produk impor di Indonesia. Namun, faktor utama membanjirnya impor di pasar domestik adalah ditandatanganinya perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yakni perjanjian perdagangan bebas pada KTT RCEP ke-3. Perjanjian tersebut melibatkan 10 negara anggota ASEAN dan lima negara mitra dagangnya (Australia, Selandia Baru, Cina, Jepang, dan Korea selatan.

Orientasi RCEP adalah liberalisasi perdagangan secara gradual atau berangsur-angsur. Sederhananya, negara-negara anggota RCEP nantinya akan menghilangkan hambatan tarif sedikit demi sedikit menuju bea masuk nol persen. Akibat liberalisasi perdagangan tersebut, negara-negara anggota RCEP berpotensi mengalami gempuran barang impor. Inilah yang kini dialami negeri ini.

Ditambah lagi, belum maksimalnya upaya perlindungan perdagangan di negeri ini membuat pelaku usaha domestik makin tercekik. Pemerintah akhirnya tak tinggal diam. Berbagai upaya melindungi industri dalam negeri pun dilakukan, termasuk penerapan bea masuk sebesar 200 persen. Lantas, apakah penerapan bea masuk 200 persen tersebut akan efektif melindungi pasar domestik?

Menakar Keefektifan Cukai 200 Persen

Pemerintah berharap, penerapan cukai sebesar 200 persen dapat mengadang gempuran impor. Namun, rencana tersebut mendapat kritik dari para pengamat, salah satunya Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal. Faisal mempertanyakan alasan pemerintah menerapkan bea masuk hingga 200 persen. Kritik tersebut memang bukan tanpa alasan. Sejak 2015 misalnya, Indonesia sudah terikat perjanjian perdagangan dengan ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA). (cnnindonesia.com, 5-7-2024)

Perjanjian tersebut mengakibatkan negeri ini kebanjiran produk impor dari Cina selama 20 tahun terakhir. Kesepakatan itu juga berakibat sebagian produk dikenakan tarif sangat rendah, bahkan sebagian besarnya sampai nol persen. Sebenarnya, langkah tersebut memang bisa mengadang gempuran impor dari banyak negara, khususnya Cina. Namun, pemerintah seharusnya tidak berhenti sampai di situ. Harus ada langkah antisipasi berikutnya setelah penerapan bea masuk 200 persen tersebut.

Hal ini karena wacana penerapan cukai merupakan langkah drastis yang memiliki konsekuensi bagi Indonesia. Pemerintah seharusnya sudah memperhitungkan berbagai kemungkinan sebelum menerapkan bea masuk tinggi. Sebagai informasi, Indonesia masih belum mampu menyediakan bahan baku untuk sebagian kegiatan sektor industri di dalam negeri. Karena itu, bahan mentahnya harus diperoleh dari impor yang sebagiannya berasal dari Cina.

Dengan penerapan bea masuk tersebut, bisa jadi bahan baku yang dibutuhkan oleh industri justru sulit masuk ke Indonesia. Jika bahan baku impor tersebut tidak bisa digantikan dengan substitusi impor lainnya, bisa jadi industri dalam negeri akan kesulitan berproduksi. Ini satu hal yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Pada sisi yang lain, pemerintah juga harus mempertimbangkan munculnya impor gelap atau ilegal jika bea masuk 200 persen benar-benar diterapkan.

Jika bea masuk ditetapkan sangat tinggi, sedangkan koordinasi lintas departemen dalam kegiatan impor begitu lemah, bukankah hal ini berpotensi memunculkan para importir ilegal? Impor ilegal memang menjadi semacam penyakit yang sulit disembuhkan hingga saat ini. Meski berbagai kebijakan dilakukan untuk mengawasi kegiatan impor ilegal, negeri ini tetap saja kecolongan.

Jika hal itu terjadi, industri dalam negerilah yang akan menerima dampaknya, yakni tak mampu bersaing dengan produk impor legal maupun ilegal. Penegakan hukum yang tegas tentu diperlukan terhadap berbagai pelanggaran dan kecurangan yang merugikan industri di dalam negeri. Namun pertanyaannya, siapkah pemerintah menegakkan hukumnya dengan adil?

Dari uraian di atas dapat disimpulkan, penerapan cukai sebesar 200 persen tersebut tidak memiliki dampak signifikan bagi industri dalam negeri jika pemerintah tidak mempertimbangkan berbagai akibat turunan dari penerapan cukai tersebut.

Minimnya Perlindungan Negara

Memang benar, membatasi impor yang telah memonopoli pasar dalam negeri harus dilakukan. Hal ini sebagai bentuk penjagaan terhadap industri dalam negeri. Namun, upaya itu tidak cukup hanya dengan menaikkan cukai bagi produk-produk impor. Pemerintah seharusnya melakukan langkah konkret untuk melindungi sekaligus membangun industri dalam negeri yang berkualitas.

Contohnya, pemerintah bisa membuat kebijakan untuk membatasi produk asing, menetapkan besaran harga produk, melakukan pengawasan ketat, dan menegakkan hukum yang tegas. Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pembinaan, pelatihan, serta pendampingan SDM dari para pelaku usaha dalam rangka meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, dan kualitas produk. Hal ini dilakukan agar produk yang dijual mampu bersaing dengan produk impor.

Sayangnya, upaya tersebut belum dilakukan secara maksimal. Hal ini terjadi karena harapan pemerintah tidak sejalan dengan langkah yang dilakukan. Di satu sisi, pemerintah memang ingin menyelamatkan industri dalam negeri dari gempuran produk asing. Namun, pada saat yang sama pemerintah justru membiarkan liberalisasi pasar terbuka lebar.

Alhasil, selama kebijakan pasar bebas masih terus dilakukan, perlindungan terhadap industri dalam negeri nyaris mustahil dilakukan secara maksimal. Apalagi, kebijakan pemerintah selama ini justru lebih menguntungkan korporasi global yang memiliki mitra dagang dengan Indonesia. Jika benar ingin berpihak pada rakyat, seharusnya pemerintah meninggalkan politik ekonomi kapitalisme liberal yang menyengsarakan rakyat. Inilah sesungguhnya urgensi memilih sistem alternatif sebagai solusi mengatasi karut-marut permasalahan impor.

Peran Sentral Negara

Jika sistem kapitalisme sangat minim memberi perlindungan bagi industri dalam negeri, berbeda halnya dengan Islam. Dalam kacamata Islam, negara memiliki peran sentral dalam melindungi rakyatnya dan menjamin kebutuhan mereka. Negara bukanlah perpanjangan tangan para kapitalis global yang berjuang memuluskan kepentingan mereka.

Negara adalah pengurus dan pelayan rakyat. Terkait hal ini, Rasulullah saw. pun telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari,

فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: "Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat. Dia akan diminta pertanggungjawaban tentang rakyatnya."

Namun, peran tersebut hanya akan maksimal dengan penerapan Islam secara kaffah. Di bawah naungan Islam, seluruh aspek dijalankan berdasarkan standar syariat. Dalam bidang ekonomi misalnya, negara menerapkan sistem ekonomi Islam yang di dalamnya mengatur industri perdagangan, baik dalam maupun luar negeri (ekspor dan impor).

Mekanisme Ekspor dan Impor dalam Islam

Dalam mengatur perdagangan ekspor dan impor, negara (Khilafah) memiliki beberapa mekanisme:

Pertama, Islam menetapkan bahwa aktivitas perdagangan adalah jual beli, sebagaimana dijelaskan dalam buku Politik Ekonomi Islam, karya Abdurrahman al-Maliki. Islam juga menentukan bahwa hukum-hukum yang terkait jual beli adalah hukum-hukum tentang pemilik harta, bukan hukum tentang harta. Sementara itu, status hukum perdagangan dalam Islam tergantung pada siapa pedagangnya, apakah ia berasal dari negara Islam (Khilafah) atau negara kufur.

Pembedaan ini dilakukan karena Khilafah akan memberikan pelayanan dan pengurusan kepada siapa saja yang berstatus warga negara. Warga negara adalah setiap orang yang memiliki kewarganegaraan Khilafah, baik muslim maupun nonmuslim. Sementara itu, mereka yang berstatus orang asing adalah orang yang tidak memiliki kewarganegaraan Khilafah, baik muslim maupun nonmuslim.

https://narasipost.com/opini/07/2022/cukai-rokok-kian-ngebul/

Kedua, setiap warga negara yang berprofesi sebagai pedagang boleh melakukan perdagangan dalam negeri. Meski demikian, dalam menjalankan aktivitas perdagangannya mereka harus tetap terikat dengan hukum-hukum Islam. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang terlarang dalam perdagangan, seperti melakukan penimbunan, menjual barang-barang yang diharamkan, mematok harga, berbuat curang, dan sebagainya.

Ketiga, selain melakukan perdagangan dalam negeri, para pedagang juga boleh melakukan perdagangan luar negeri (ekspor dan impor). Ekspor dan impor hanya boleh dilakukan pada komoditas yang tidak membawa dampak buruk bagi rakyat. Jika ada komoditas yang berpotensi membawa dampak buruk, negara akan melarang komoditas ekspor impor tersebut.

Kebijakan lainnya terkait impor, setiap warga negara diizinkan mengimpor komoditas dari negara-negara kafir, kecuali kafir harbi fi'lan. Sementara itu, bagi orang-orang kafir yang negaranya menjalin perjanjian dengan Khilafah, mereka diperlakukan sesuai poin-poin perjanjian yang sudah disepakati, baik komoditas yang diimpor dari Khilafah maupun yang diekspor ke Khilafah. Namun, mereka tidak diizinkan mengimpor persenjataan dan alat-alat pertahanan strategis.

Keempat, negara akan memberlakukan cukai atas perdagangan yang dilakukan oleh negara kafir, sebagaimana mereka juga menarik cukai dari perdagangan Khilafah. Namun, cukai tidak dipungut dari para pedagang (warga negara) atas perdagangan ekspor dan impor yang mereka lakukan.

Khatimah

Demikianlah pengaturan impor dan ekspor dalam kacamata Islam. Pembatasan impor dengan menetapkan cukai 200 persen bukanlah solusi hakiki melindungi industri dalam negeri. Menaikkan cukai tanpa membangun industri yang mampu bersaing dengan produk impor, sejatinya hanya jalan pintas untuk menutupi kegagalan pemerintah dalam melindungi pasar domestik. Satu-satunya cara membendung gempuran impor adalah dengan mencampakkan sistem kapitalisme yang melahirkan liberalisasi perdagangan dan menjadikan Islam sebagai solusi.

Wallahua'lam bishawab.[]

#MerakiLiterasiBatch2
#NarasiPost.Com
#MediaDakwah

Dokter Asing, Pro Kontra dan Urgensinya

Terlepas dari pro kontra dokter asing, Islam memandang bahwa negara memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan masyarakat dalam sektor kesehatan.

Oleh. Firda Umayah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Kehebohan kabar pemecatan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair), Budi Santoso yang dianggap menolak kedatangan dokter asing tampaknya mulai mereda. Pasalnya, Dekan FK Unair tersebut telah kembali menduduki jabatannya. (bbc.com, 8-7-2024)

Meski demikian, rencana kedatangan dokter asing tetap meresahkan sebagian masyarakat, khususnya kalangan tenaga medis. Sekalipun Kementerian Kesehatan telah menjelaskan bahwa isu kedatangan 6.000 dokter warga negara asing adalah hoks semata. (kompas.tv, 4-7-2024). Lantas, bagaimanakah urgensi dokter asing yang menjadi polemik dalam negeri?

Pro Kontra Dokter Asing

Sebagian masyarakat yang setuju dengan kedatangan dokter asing berargumen kebutuhan dokter di dalam negeri jauh dari kata ideal. Rasio tenaga dokter hingga Januari 2024 berada di bawah standar, yakni 0,32 per 1.000 penduduk. (kompas.com, 31-1-2024)

Selain itu, kedatangan dokter asing telah disahkan melalui UU Kesehatan sejak 2023. Dalam UU Kesehatan Pasal 248 Ayat 1 dijelaskan, dokter spesialis dan subspesialis warga negara asing bisa melakukan praktik di Indonesia. Pasal 251 menyebutkan, dokter asing dapat melakukan praktik apabila ada permintaan dari fasilitas pelayanan kesehatan dengan batas waktu tertentu.

Hampir sama, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga tidak menolak kedatangan dokter asing. Hanya saja, IDI berharap pemerintah lebih memprioritaskan dokter lokal. IDI juga meminta agar pemerintah memiliki regulasi untuk memproteksi dokter dalam negeri. (cnnindonesia.com, 10-7-2024)

Bagi masyarakat yang menolak kedatangan dokter asing, kebijakan tersebut dianggap bagian dari liberalisasi sektor kesehatan sebab dapat memicu persaingan layanan dengan dokter lokal. Dalam sistem kapitalisme, wajar jika semua sektor dijadikan sebagai lahan untuk mencari keuntungan.

Antusiasme sebagian masyarakat untuk mendapatkan pengobatan terbaik hingga ke luar negeri bisa saja dimanfaatkan untuk menghadirkan dokter asing ke dalam negeri. Terlebih lagi, pemerintah Indonesia terikat dengan perjanjian internasional yang turut bekerja sama dalam mengembangkan sektor kesehatan. Seperti terlibat dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang secara otomatis menjadi anggota GATS (General Agreement on Trade in Services) yang  mengembangkan liberalisasi pada sektor jasa.

Memang, di satu sisi jumlah dokter spesialis dalam negeri memang membutuhkan tambahan tenaga. Namun, di sisi lain pemerintah cenderung abai terhadap kepengurusan di bidang kesehatan.

Jamak diketahui bahwa pendidikan kedokteran menjadi salah satu pendidikan dengan biaya termahal. Anggaran untuk alokasi pendidikan dari pemerintah yang sampai ke tangan rakyat juga sangat sedikit. Itu pun dibagi untuk semua jenjang pendidikan.

Meskipun pemerintah mengeklaim bahwa alokasi dana pendidikan mencapai 20 persen dari keseluruhan APBN, faktanya, dana yang dialokasikan tersebar kepada 22 kementerian dan lembaga. (detik.com, 23-5-2024)

Maka wajar jika masih muncul pertanyaan dalam benak masyarakat, mengapa pemerintah tak serius untuk menambah sumber daya manusia di bidang kesehatan dengan memberikan dukungan penuh? Jika alasannya karena biaya yang tak mencukupi, mengapa negara tidak mengambil kembali dan mengelola kekayaan alam yang ada dan saat ini dikuasai swasta lokal dan asing?

Pandangan Islam

Terlepas dari pro kontra kedatangan dokter asing, Islam memandang bahwa negara memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam sektor kesehatan. Jika tenaga medis dalam negeri kurang, negara harus memenuhinya secara mandiri. Yakni tanpa terikat dengan perjanjian yang dapat merugikan negara dan masyarakat.

Rasulullah saw. pernah menerima hadiah seorang tabib dari Mesir untuk mengobati masyarakat. Namun, Rasulullah dan para khalifah memegang kendali atas semua kepengurusan rakyat, termasuk dalam sektor kesehatan. Hal ini terbukti dengan lahirnya banyak dokter muslim yang memiliki sumbangsih besar terhadap peradaban dunia.

https://narasipost.com/opini/04/2024/refleksi-hari-kesehatan-rakyat-sudah-mendapat-jaminan/

Sebut saja Ibnu Sina yang mendapatkan julukan bapak kedokteran modern dunia. Dengan dukungan penuh dari negara, ia berhasil menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh pada abad pertengahan. Dokter lain yang juga merupakan seorang ilmuwan adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria, Abu Manshur Al-Hasan bin Nuh, Abu Sahal Al-Masihi, dan lain-lain.

Adapun untuk pembiayaan jaminan pendidikan dalam negeri, negara bisa mengambil dari hasil pengelolaan kekayaan alam, kharaj, fai, jizyah, dan sebagainya. Semua itu tentu hanya hadir dalam sistem pemerintahan Islam. Sebuah sistem yang dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah taala sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 208.

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia (setan) musuh yang nyata bagimu."

Khatimah

Pemenuhan kebutuhan layanan dalam sektor kesehatan adalah tanggung jawab negara. Jika tenaga medis yang dibutuhkan kurang, negara wajib memenuhinya secara mandiri. Negara juga harus memaksimalkan kepengurusan rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga medis dari dalam negeri. Semua itu hanya dapat terwujud dalam Daulah Islam yang menerapkan semua aturan hidup berdasarkan syariat Allah.

Wallahu a'lam bishawab. []

Masoud Pezeshkian dan Masa Depan Iran

Meskipun Masoud Pezeshkian berjanji akan menentang Israel, harus diingat bahwa Iran masih berada di bawah kendali AS, sama seperti Israel.

Oleh. Mariyah Zawawi
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Masoud Pezeshkian telah dinyatakan memenangkan pemilu di Iran pada 6 Juli lalu dan akan menggantikan Ebrahim Raisi yang meninggal 19 Mei lalu. Ia berhasil mengalahkan Saeed Jalili dan menjadi Presiden Republik Iran ke-9. Kemenangan Pezeshkian adalah kemenangan kelompok reformis atas konservatif.

Sejumlah kepala negara pun memberikan ucapan selamat kepada presiden baru berusia 69 tahun tersebut. Di antara mereka adalah Vladimir Putin, Pangeran Mohammed bin Salman, dan Xi Jinping.

Masoud Pezeshkian banyak didukung oleh kalangan muda serta warga perkotaan. Para pendukungnya merayakan kemenangannya dengan turun ke jalan-jalan di Teheran serta kota-kota besar lainnya. Kemenangannya juga dirayakan oleh masyarakat Kota Urmia, kampung halaman Pezeshkian. Mereka turun ke jalan sambil membagikan permen serta kudapan khas Iran. (kompas.id, 06-07-2024)

Akankah Iran Melunak pada Israel?

Masoud Pezeshkian memiliki slogan “Baraye Iran” yang artinya “Untuk Iran”. Melalui slogan ini, Pezeshkian ingin merangkul semua kalangan. Slogan itu diambil dari lagu karya musisi Iran, Shervin Hajipour. Musisi itu mendapat hukuman tiga tahun penjara karena membuat lagu yang mendukung protes terhadap kekejaman aparat kepada Mahsa Amini pada 2022 lalu.

Dalam pidato pertamanya setelah terpilih menjadi presiden, Masoud Pezeshkian berjanji akan mengulurkan tangan persahabatan kepada semua orang. Dokter bedah jantung berusia 69 tahun itu memang dikenal sebagai tokoh moderat. Ia berjanji akan mendorong kebijakan luar negeri yang pragmatis.

Selain itu, ia akan berupaya untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara besar untuk menghidupkan kembali Pakta Nuklir 2015.  Pezeshkian juga berjanji akan meningkatkan prospek pluralisme politik serta liberalisasi sosial. Hal ini dilakukannya untuk mengeluarkan Iran dari isolasi.

Keinginan Iran agar diterima oleh negara-negara besar dikhawatirkan akan membuatnya melunak terhadap Zionis Israel. Apalagi Iran pernah memiliki hubungan baik dengan Zionis Israel pada masa kepemimpinan Reza Pahlevi. Negeri para mullah itu termasuk negara yang mengakui kedaulatan Zionis Israel.

Namun, setelah terpilih sebagai presiden, Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan tetap pada kebijakannya yang menentang tindakan kriminal Zionis Israel. Iran juga akan terus mendukung perlawanan terhadap rezim Zionis yang tidak sah.

Peran Sentral AS di Balik Gimik Iran

Meskipun Masoud Pezeshkian berjanji akan tetap menentang Zionis Israel, tetapi harus diingat bahwa Iran masih berada di bawah kendali AS, sama seperti Zionis Israel. Iran memang menjadi negara yang paling banyak mendapat sanksi dari AS. Sanksi itu mulai dijatuhkan oleh AS setelah Iran berubah menjadi Republik Islam pada 1979.

\AS menjatuhkan sanksi ke Iran agar memperbaiki penerapan HAM di negara tersebut. Sanksi itu juga diberikan untuk menghentikan program nuklir Iran serta mengakhiri dukungan Iran terhadap terorisme. Yang lebih penting dari itu, AS menghendaki digantinya rezim yang berkuasa di Iran saat ini. (voaindonesia.com, 08-05-2024)

Akan tetapi, semua itu hanyalah sandiwara. Selama ini, Iran dan AS selalu menjalin hubungan di belakang layar. AS dan Iran memang tidak memiliki hubungan diplomatik sejak 1980. Namun, mereka berkomunikasi melalui negara lain yang disebut “protecting power”  atau “kekuatan pelindung”. “Kekuatan pelindung” adalah suatu negara yang mewakili negara berdaulat lain di negara yang negara berdaulat tersebut tidak memiliki perwakilan diplomatik. (wikipedia.org)

Oleh karena itu, Iran akan selalu melakukan koordinasi dengan AS saat hendak mengambil keputusan dalam bidang militer. Koordinasi itu dapat dilakukan secara langsung atau melalui pihak lain. Misalnya, saat Iran hendak membalas serangan yang dilakukan oleh Zionis Israel beberapa waktu lalu, Iran menyampaikan rencana tersebut kepada AS melalui Turki.

Sanksi yang diberikan oleh AS kepada Iran juga hanya sandiwara. Hal itu hanya sebuah permainan politik yang akan memperkuat Iran. Buktinya, Iran dapat terus melakukan pengayaan nuklir hingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Timur Tengah.

Akibat Nasionalisme

Sikap Iran yang seperti itu merupakan akibat dari nasionalisme yang diterapkan oleh negeri-negeri Islam. Para pemimpin umat Islam hanya memikirkan kepentingan nasional mereka. Hal ini membuktikan bahwa nasionalisme telah berhasil memecah belah persatuan umat Islam.

Nasionalisme di negeri-negeri Islam merupakan buah dari imperialisme. Para penjajah yang menerapkan ideologi kapitalisme berupaya untuk menyebarkan ideologi mereka melalui penjajahan. Penjajahan itu akan lebih mudah dilakukan jika umat Islam terpecah belah.

https://narasipost.com/world-news/05/2024/bermain-minyak-dengan-iran/

Oleh karena itu, mereka embuskan ide nasionalisme ke dalam benak tokoh-tokoh Islam. Mereka yang kemudian disebut sebagai tokoh pembaharu itulah yang berusaha untuk mewujudkan nasionalisme di negeri-negeri Islam. Akibatnya, persatuan umat Islam pun hancur. Mereka kemudian tersekat-sekat dalam negara bangsa. Tidak ada lagi persatuan di antara mereka. Tidak ada lagi ukhuwah islamiah seperti yang pernah mereka miliki saat berada di bawah naungan Islam. Hal itu membuat mereka lemah. Para penjajah menguasai mereka dengan mudah. Mereka pun hidup menderita karenanya.

Posisi Negara Islam terhadap Zionis Israel

Sikap tidak tegas Iran maupun negeri Islam lainnya terhadap Zionis Israel merupakan akibat ide nasionalisme. Padahal, nasionalisme bukan ajaran Islam. Sebagai muslim, seharusnya kita senantiasa menyandarkan setiap perbuatan terhadap hukum syarak.

Salah satu hukum syarak itu adalah menolong saudaranya sesama muslim. Allah Swt. telah menyatakan hal ini dalam QS. Al-Anfal [8]: 72,

وَإِنِ اسْتَنْصُرُوْكُمْ فِي الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Artinya: “Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam urusan agama, kalian wajib menolong mereka.”

Umat Islam di Palestina telah dijajah oleh Zionis Israel selama bertahun-tahun. Sejak penjajah itu ditancapkan di bumi Palestina oleh musuh-musuh Islam, mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Tanah dan rumah mereka dirampas dan kehormatan mereka dilanggar. Mereka harus kehilangan harta, bahkan nyawa.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh umat Islam Palestina untuk mengusir penjajah. Namun, kemenangan belum berpihak kepada mereka. Semestinya, umat Islam di wilayah lain, terutama yang berada di sekitar Palestina harus menolong mereka. Para pemimpin muslim seharusnya bersatu mengerahkan kekuatan militer mereka untuk membantu rakyat Palestina. Jika mereka mau melakukan hal itu, Allah Swt. pasti akan memberikan pertolongan-Nya. Rakyat Palestina akan menikmati kembali kemerdekaan mereka yang telah lama hilang. Sayangnya, hal ini hanya dapat terwujud jika mereka bersatu dalam naungan sistem Islam yang kaffah.

Wallahua’lam bishawab. []

#MerakiLiterasiBatch2
#NarasiPost.Com
#MediaDakwah

Moderasi Beragama, Upaya Mengerdilkan Islam

Moderasi beragama merupakan ide yang menyimpang dari ajaran Islam. Islam bukan sekadar sebuah agama, tetapi Islam merupakan ideologi.

Oleh. Siti Komariah
(Tim Penulis Inti NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Moderasi beragama bisa diartikan sebagai sebuah konsep beragama yang menekankan kepada sikap saling menghormati dan meninggikan rasa toleransi di antara umat beragama. Kali ini moderasi beragama pun kembali bergema. Pasalnya, Paus Fransiskus telah melakukan kunjungan ke Indonesia, salah satu agendanya yakni berkunjung ke masjid Istiqlal untuk menghadiri pertemuan tokoh lintas agama (interreligious meeting).

Kedatangan pemimpin tertinggi gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus ke masjid Istiqlal yakni untuk menguatkan persaudaraan dan perdamaian di antara umat beragama. Menurut Paus Fransiskus, "Iman kepada Allah itu merekatkan tali persaudaraan dan mempersatukan seluruh manusia, bukan justru memecah belah walaupun bermacam-macam agama yang dianut oleh manusia di dunia ini. Selain itu, iman kepada Allah juga menghindari terjadinya kebencian dan permusuhan."

Sebelumnya, pada 4 Februari 2019, Paus Fransiskus juga telah menandatangani dokumen Abu Dhabi (Document of Human Fraternity for World Peace and Living Together) bersama dengan Imam Agung Masjid Al-Azhar Mesir, Syekh Ahmed el-Tayeb. Dengan ditandatanganinya dokumen tersebut, kedua pemimpin telah sepakat bahwa semua manusia bersaudara. Dokumen tersebut juga memiliki tujuan untuk menciptakan perdamaian di tengah maraknya sikap intoleran (Kompas.com, 05-07-2024).

Dari fakta di atas tampak bahwa kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia ditujukan untuk menguatkan isu moderasi beragama.  Ia menginginkan kaum muslim beserta dengan orang yang memeluk agama lain saling menghargai, menghormati, dan menciptakan rasa toleransi di tengah kehidupan beragama. Lalu, apakah benar bahwa moderasi beragama hanya ingin menciptakan perdamaian dan kerukunan?

Di Balik Moderasi Beragama

Moderasi beragama secara kasatmata terlihat ingin menciptakan kerukunan dan rasa toleransi di antara umat beragama. Seolah-olah konsep ini sesuai dengan Islam yakni kaum muslim dianjurkan membangun kerukunan, perdamaian, dan saling menghargai di antara umat beragama. Akan tetapi, konsep moderasi beragama tidak sesederhana yang kita lihat. Konsep ini justru memiliki bahaya besar bagi kaum muslim dan ajaran Islam itu sendiri.

Ada beberapa bahaya tersirat di balik moderasi beragama, di antaranya:

Pertama, mengerdilkan ajaran Islam. Moderasi beragama sejatinya bukan hanya sebuah konsep yang menekankan adanya sikap saling menghargai dan menjaga kerukunan di antara umat beragama. Namun, moderasi beragama merupakan cara pandang beragama yang moderat. Dengan kata lain, seorang muslim hanya bisa mengamalkan dan memahami ajaran agamanya seperlunya dan disesuaikan dengan kondisi zaman.

Target moderasi beragama adalah Islam. Mengapa demikian? Sebab lahirnya wacana moderasi beragama berasal dari Barat, lebih tepatnya di Amerika Serikat. Pada 11 September 2001 terjadi tragedi yang mengerikan di Amerika Serikat hingga menewaskan 3.000 orang. Tragedi tersebut berasal dari serangan "teroris" yang meruntuhkan World Trade Center (WTC) di New York. Setelah tragedi tersebut, penguasa AS menetapkan sebuah slogan War on Terorrism. Wacana itu pun terus bergulir sampai Desember 2017 (detik.com, 11-08-2022).

Selanjutnya, tahun 2019 dideklarasikan dalam sebuah Resolusi Majelis Umum PBB sebagai International Year of Moderation. Resolusi ini memiliki tujuan untuk terus mempromosikan moderasi sebagai solusi untuk mencegah lahirnya ekstremisme dan terorisme serta mempromosikan nilai-nilai toleransi kepada seluruh negara di dunia.

Oleh karena itu, moderasi beragama sejatinya merupakan upaya mengerdilkan ajaran Islam dengan membuat Islam bisa disetir sesuai dengan keinginan musuh Islam. Barat berupaya mengubrak-abrik ajaran Islam dengan dalih agar Islam bisa berjalan sesuai dengan kehidupan manusia saat ini. Selain itu, diopinikan bahwa Islam mengajarkan perdamaian serta kerukunan, padahal sejatinya semua itu adalah tipu daya untuk merusak ajaran Islam.

Di samping itu, moderasi beragama mengubah cara pandang kaum muslim yang seharusnya menjadi pedoman perilaku kaum muslim adalah hukum syarak, berubah menjadi berpedoman pada pandangan manusia. Ketika manusia menganggap bahwa ajaran tersebut dapat menimbulkan pertentangan dan ketidakadilan, ajaran itu pun tidak boleh diamalkan.

https://narasipost.com/opini/12/2021/jebakan-narasi-moderasi-beragama/

Di sisi lain, orang yang mengamalkan ajaran Islam dengan sempurna dicap sebagai radikal, intoleran, dan sebutan negatif lainnya. Citra buruk disematkan kepada ajaran Islam kaffah, padahal semua ajaran Islam kaffah berasal dari Allah yang diamalkan oleh Rasulullah. Misalnya hukuman mati bagi pelaku pembunuhan yang disengaja atau rajam bagi pezina dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM), padahal aturan tersebut telah ditetapkan oleh Allah.

Kedua, memudarkan jati diri kaum muslim. Moderasi beragama juga berupaya untuk memudarkan jati diri kaum muslim yang sesungguhnya. Ide moderasi beragama berupaya untuk meliberalisasi agama Islam. Dengan adanya liberalisasi ini akan membuat kaum muslim makin jauh dari agamanya, sebab aturan-aturan Islam yang sejatinya haram bisa menjadi halal atau boleh. Ini seperti ketika seorang muslim menghadiri perayaan natal dan mengucapkan selamat natal. Sedangkan dalam Islam mengucapkan selamat natal kepada nonmuslim hukumnya haram, apalagi sampai mengikuti proses peribadahan mereka. Akan tetapi, dalam wacana moderasi beragama, itu hal yang dibolehkan, bahkan dianjurkan karena untuk menjaga kerukunan.

Selain itu, dengan dalih toleransi dan moderasi, pengemban moderasi beragama kerap kali mengungkapkan, "Tuhan kita semuanya sama, yang berbeda hanyalah cara penyembahannya." Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa ide moderasi mengajarkan kepada kaum muslim untuk mengakui bahwa semua agama adalah benar. Sesungguhnya, konsep tersebut jelas bertentangan dengan firman Allah dan akidah umat Islam yang termaktub dalam surah Ali Imran ayat 19.

Sesungguhnya jati diri kaum muslim sedang dalam ancaman ide moderasi beragama. Kaum muslim dicekoki dengan berbagai pemahaman agar mereka tidak kaku dalam beragama. Tidak boleh mengamalkan ajaran agamanya secara ekstrem, tetapi mengamalkan ajaran agamanya harus disesuaikan dengan zaman.

Ketiga, melanggengkan penjajahan ideologi kapitalisme dan membendung kebangkitan Islam. Ide moderasi beragama bukan hanya mengerdilkan ajaran agama Islam serta menghilangkan jati diri kaum muslim. Namun, ide ini justru makin melanggengkan penjajahan ideologi kapitalisme. Ia juga sebagai strategi musuh-musuh Islam untuk membendung kebangkitan Islam.

Seruan pengamalan ajaran Islam moderat akan berakibat pada ditolaknya Islam kaffah oleh kaum muslim. Ketika kaum muslim telah menolak penerapan Islam maka membuat ideologi kapitalisme akan makin berkuasa dan kebangkitan Islam dalam bingkai Khilafah akan terbendung. Fakta ini pun kian terlihat, bagaimana kaum muslim justru berada di garda terdepan dalam menolak ajaran Islam kaffah.

Kaum muslim dicekoki dengan pemahaman bahwa ajaran Islam kaffah tidak cocok diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan karena bisa menimbulkan pertikaian dan pertentangan. Apalagi diketahui bahwa Indonesia merupakan negeri dengan penduduk yang berbeda-beda agamanya, mulai dari Hindu, Kristen, Islam, Buddha, dan lainnya.  Kondisi ini jika dibiarkan akan membuat ide moderasi beragama kian membahayakan akidah kaum muslim serta ajaran Islam.

Waspada Moderasi Beragama

Moderasi beragama merupakan ide yang menyimpang dari ajaran Islam sehingga kaum muslim harus memahami benar tentang agamanya. Islam bukan sekadar sebuah agama, tetapi Islam merupakan ideologi atau aturan hidup yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengatur kehidupan manusia, mulai dari sistem perpolitikan, sosial, ekonomi, penjagaan akidah, sistem sanksi, dan lainnya.

Setiap muslim diwajibkan untuk mengambil Islam secara kaffah dalam kehidupan mereka, tidak boleh mengambil Islam hanya sebagian. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah,  "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208).

Di sisi lain, sandaran pengambilan hukum serta sandaran bagi perbuatan kaum muslim bukanlah hawa nafsu atau akal manusia. Akan tetapi, sandarannya adalah akidah Islam yang terpancar dari Al-Qur'an dan hadis, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Ahzab ayat 36. Ketika kaum muslim bersandar pada dua pusaka yang ditinggalkan oleh Rasulullah, mereka akan selamat di dunia dan akhirat . Rasulullah bersabda, "Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Al-Qur'an dan hadis.” (HR. Malik, Hakim, dan Baihaqi).

Oleh karena itu, kaum muslim harus waspada dengan berbagai strategi yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk melemahkannya serta menjauhkannya dari Islam ideologis. Misalkan, ide moderasi beragama yang terus digencarkan, bahkan didukung oleh penguasa negeri ini dan penguasa negeri-negeri muslim yang lainnya.

Khatimah

Kaum muslim harus berjuang untuk membongkar berbagai racun berbalut madu yang diciptakan oleh Barat untuk meracuni generasi Islam. Juga membongkar kebusukan sistem yang sejatinya justru menghancurkan dan membuat petaka bagi kehidupan manusia. Kemudian, memberikan solusi jitu bagi keamanan serta kerukunan manusia yang hanya ada pada Islam. Wallahua'lam bishawab.[]

#MerakiLiterasiBatch2
#NarasiPost.Com
#MediaDakwah

Mom Andrea, the Strongest Woman

Oleh. Arum Indah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Mom, menulis story tentang bagaimana kiprahmu di NarasiPost.Com adalah hal yang sulit untukku pribadi. Bukan karena aku buta akan bagaimana sepak terjangmu, tetapi sungguh aku kesulitan menemukan padanan kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa tangguh dan kuatnya dirimu.

Dari semua genre challenge, menurutku story adalah salah satu genre yang paling menguras pemikiran (setelah World News), tak mudah merangkai diksi untuk menggambarkan isi hati. Namun, aku akan tetap mencoba melukiskan Mom Andrea dalam tulisanku kali ini. Semoga akan banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil oleh para pembaca.

Mom, the Strongest Woman

“The strongest people are not those always win, but they were still going when they crashed.” (Ashley Hodgeson)

Saat membaca quote di atas, aku teringat dengan sosok hebat yang baru aku kenal selama tujuh bulan belakangan ini. Sosok yang sudah banyak melewati asam garam kehidupan. Ia asli Indonesia, tetapi perjalanan hidupnya banyak dihabiskan di berbagai belahan dunia. Saat ini, ia menetap di benua yang terkenal dengan julukan “Negeri Kanguru”, ya, ia adalah Mom Andrea, Pemimpin Redaksi NP.

Mom pernah bercerita kisah pahitnya di masa lampau beberapa kali, tentang perselingkuhan, perampasan harta, amarah, dan lain sebagainya. Kisah-kisah yang membuatku merasa yakin bahwa mom adalah sosok wanita yang sangat kuat, sebab mom berhasil melewati dahsyatnya badai kehidupan dan tetap berdiri tegar. Mom, aku tak tahu berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk recovery semua kondisi itu. Ketegaranmu dalam menghadapi badai ujian, semoga menjadi motivasi tersendiri bagi mereka yang tengah dilanda ujian saat ini.

Mom dan NP

Saat awal aku berkunjung ke website NP, aku langsung terpukau dengan segala hal yang ada di dalamnya. Mulai dari desain website, logo NP, moto NP, cover buku-buku terbitan NP, dan tampilan image tiap tulisan yang publish. Aku seperti masuk ke dalam sebuah rumah yang memiliki kemegahan desain interior. It’s elegant.

Tak cukup sampai di situ. Saat pertama aku tahu NP akan mengadakan challenge, yakni Challenge Dawai Literasi, aku makin berdecak kagum melihat flyer challenge. Tak sekadar desainnya yang keren, namun reward untuk para pemenangnya juga sangat luar biasa. Jujur, baru pertama aku melihat challenge seperti itu. Timbul dalam benakku sebuah tanya, siapakah gerangan yang rela  mendonasikan hartanya hingga sebanyak itu? Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengetahui siapa sosok di balik gegap gempita challenge yang berlangsung, ya, dialah Mom Andrea.

Sejak aku bergabung ke Konapost, aku makin melihat betapa ringannya Mom Andrea berbagi rezeki dengan kami. Hampir tiap bulan, Mom selalu mengirim reward pulsa untuk orang yang memberikan komentar terbanyak di web NP. Mom juga tak pernah kehabisan akal, ia selalu punya cara tersendiri untuk berbagi. Seperti waktu itu, Mom pernah berbagi pulsa untuk seorang ibu di Grup Konapost yang rajin membagikan tulisan para kontributor di laman Facebook-nya, atau Mom juga pernah berbagi beras, daging, uang, dan lain sebagainya. Pokoknya, kadang aku sampai speechless, banyak banget idenya mom.

Ini masih perkara reward, Guys. Belum lagi dana untuk domain NP, gaji para tim redaksi, dana untuk membeli peralatan penunjang performa NP, dan lain-lain. Sungguh tak terbayang, berapa ratus juta yang telah mom habiskan untuk ini semua. Masyaallah, sungguh apa yang Mom lakukan mengingatkanku kepada para sahabat yang juga selalu jorjoran dalam berinfak harta. 

Aku juga teringat akan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 261:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti orang-orang yang menabur sebutir biji benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.”

Ibu para Penulis Ideologis

Banyak penulis ideologis yang lahir dari NP. Tak sekadar ideologis, naskah-naskah besutan NP juga selalu memiliki kualitas yang bagus. Mungkin sudah sering aku katakan, bahwa ketertarikanku pada dunia literasi berhasil aku pupuk kembali bersama NP.

Tim redaksi NP juga membuat kami banyak belajar mengenai seluk beluk dunia literasi. Jujur, saat aku membandingkan tulisanku sebelum dan setelah bergabung di Konapost, aku merasakan sentuhan yang berbeda di tulisanku, lebih rapi dan lebih enak untuk dibaca. Semua itu, tentu tak lepas dari peran Mom dalam menjaga kualitas timnya. Hihihi, tak terbayangkan olehku bagaimana mom menggembleng para Tim Redaksi. Mereka pasti sering mendapat jitakan kasih sayang dari mom.

Oh, ya, berbicara tentang jitakan kasih sayang, aku juga punya kisah tersendiri.

Jitakan Kasih Sayang

Pagi itu, gawaiku beberapa kali bergetar. Beberapa notifikasi pesan masuk memenuhi layar HP. Aku pun bergegas mengecek pesan masuk yang rata-rata mengucapkan selamat berhari raya. Namun, ada satu notifikasi pesan yang sangat menarik perhatianku, pesan masuk dari kontak yang kuberi nama “Mom Andrea Aussie”. Lebih dari satu pesan yang dikirim Mom. Hatiku bergetar, Guys. Ada apa gerangan? Apakah mom mengungkapkan perasaannya padaku? Dengan semangat dan rasa penasaran tinggi, aku pun membuka pesan dari mom.

Masyaallah, benar dugaanku. Ungkapan perasaan kasih sayang dari Mom. Hihihi. Panjang, lebar, kali tinggi. Jadilah sebuah balok untuk tempatku bersembunyi. Wkwkwk.

Iya, Guys, aku kena jitakan kasih sayang dari mom. Apa penyebabnya? Biarlah itu menjadi rahasia di antara kami, ya. Ternyata begitu rasanya kalau kena jitakan kasih sayang dari ibu pemred, berasa kayak Sinchan yang kena jitak Mami Mirae. Hahaha.

Akan tetapi, sungguh aku tak berkecil hati sedikit pun, sebab aku sudah menganggap Mom Andrea seperti ibuku sendiri. Segala hal tentang Mom, baik cerianya, sedihnya, amarahnya, dan sabarnya, kelak akan menjadi hal yang sangat aku rindukan.

Tahu tidak, Guys? Ada sedikit kemiripan kisah sedih kami di masa lampau dan sosok Mom Andrea yang bisa bangkit, lalu berdiri kokoh dan tegar telah menjadi inspirasi tersendiri buatku pribadi. Makanya, saat aku menerima jitakan kasih sayang darinya, aku merasa aman dan fine-fine saja. Bukankah sebuah hubungan baru akan teruji saat sudah melewati riak-riak ujian? Hehehe.

Mom Andrea dan Kepiawaiannya

Selain jago menjitak (duh, aku kabur deh, Hehehe, canda, ya, Mom), mom juga sangat piawai dalam menulis. Ia selalu bisa mengemas sebuah cerita dengan alur yang begitu menarik. Kecerdasan dirinya juga tampak dari karya-karya yang dilahirkannya. Setiap tulisan Mom publish, pasti tak pernah sepi dari pembaca.

Banyak hal yang membuatku salut kepada Mom Andrea, usianya tak lagi muda, tetapi ia tetap bisa berkontribusi untuk Islam dan mengalahkan yang masih berusia muda. Saat sakit dan duka melanda, Mom tetap menyempatkan diri untuk beraktivitas di NP. Rasanya, aku bisa tahu betapa besar cinta dan pengorbanan Mom Andrea untuk NP sebagai media dakwah.

Personalitas Mom Andrea juga bisa aku lihat dari NP. Karakter NP yang tampak elegan dan perfeksionis itu, tentu tak lepas dari sisi mom yang juga memiliki karakter yang sama. Ia telah berhasil membawa NP menjadi media dakwah yang besar.

Jika diibaratkan sebuah kapal, NP layaknya sebuah kapal samudra. Tahukah kapal samudra, Guys? Kapal samudra berbeda dengan kapal feri yang hanya mengangkut penumpang antarpelabuhan. Bukan juga kapal pesiar yang hanya membawa penumpangnya untuk sekadar berwisata. Kapal samudra adalah kapal yang didesain sedemikian rupa dengan badan kapal yang lebih tebal, bahan bakar, dan perbekalan yang lebih banyak guna perjalanan melintasi samudra.

Ya, jika NP adalah kapal samudra, maka Mom Andrea adalah nakhoda yang siap membawa NP untuk berlayar menjelajahi samudra, menerjang setiap ombak yang menyerang, dan berlayar dengan gagah untuk mencapai titik tujuan, yakni kemenangan Islam. Lagi dan lagi, Mom memang layak untuk mendapat julukan “The Strongest Woman.”

Pesan untuk Mom Andrea

Saat aku membaca tulisan Mbak Deena Noor tentang “Gelisah Hati sang Pemred”, aku jadi sedikit paham bagaimana seluk beluk perjuangan mom dalam membesarkan sayap NP.

Memang tak mudah untuk bertahan dan terus berdiri, mom yang paling tahu rasanya, sebab ia yang menjadi denyut nadi NP. Pasti berat dan penuh lika-liku untuk tetap mempertahankan posisi dan menjaga kualitas NP. Tak semua bisa berada di posisi mom, tetapi Allah tahu bahwa mom sanggup menjalankan amanah itu. Rasanya tak keliru, jika sejak awal tulisan ini, aku mengatakan bahwa mom adalah the strongest woman.

Mom, aku hanya ingin mengatakan padamu, teruslah istikamah untuk menebar kebaikan bersama NP. Sungguh, NP telah membantu banyak orang untuk mencintai dunia literasi. Walaupun banyak orang yang mungkin tak bisa membalas dengan membantu di kala kesulitan melandamu. Akan tetapi, ada Allah yang senantiasa menjadi sandaran, saat tak ada bahu-bahu kami yang mampu menopang kelelahanmu. Ada Allah yang setia mendengar seluruh keluh kesahmu, saat tak ada telinga kami yang siap mendengar ceritamu selama 24 jam penuh.

Mom, meski kita belum pernah bertatap muka langsung, aku merasa dekat dan bahagia denganmu. Mungkin juga tak banyak hal yang bisa kulakukan untuk meringankan pekerjaanmu, tetapi percayalah, Mom, doaku selalu menyertai langkahmu. Semoga Allah senantiasa menjagamu, menguatkanmu, memudahkanmu, meridai setiap aktivitasmu, hingga kelak Allah akan memberikan tempat teristimewa bagimu di surga kelak. Mom, big hug for you!

Wallahu a’lam bishowab []

You cannot copy content of this page