Tubuh David terjatuh menembus kegelapan. Suara benturan terdengar samar dari dasar jurang. Malam mendadak terasa sangat sunyi dan mencekam. Tak ada yang bicara selama beberapa detik.
Oleh. Bunga Padi
(Kontributor NarasiPost.Com)
NarasiPost.Com-Kabut tipis turun perlahan menghiasi jalanan sepi kala malam. Lampu mobil memantul samar pada pagar besi jembatan yang basah oleh embun. Dari dasar jurang, suara sungai menghantam bebatuan terdengar seperti desir kematian yang menunggu giliran.
Di kursi belakang mobil silver, David terengah-engah. Tangannya terikat ke belakang dengan tali kasar. Bibirnya pecah. Wajahnya lebam membiru.
“Mas … tolong … aku bisa jelaskan semuanya”
Suaranya serak dan patah.
Toto yang duduk di kursi depan menoleh perlahan. Tatapannya dingin, tetapi di dalamnya menyala bara dendam yang telah lama dipelihara.
“Jelaskan apa?” suaranya rendah.
“Setelah istriku dikejar debt collector bertahun-tahun?”
“Aku salah … tapi jangan begini …”
Belum sempat David menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan keras menghantam perutnya. Tubuhnya melipat menahan sakit.
“Diam!” bentak Roni.
Mobil terus melaju membelah dinginnya malam.
Beberapa jam sebelumnya.
Susi berdiri di tepi Jalan Kota Metropolitan di Indonesia. Langkah orang-orang berlalu lalang, kendaraan bersahutan, lampu kota mulai menyala satu per satu. Spontan matanya membeku pada satu sosok lelaki yang baru keluar dari gedung.
Tubuhnya bergetar.
“Itu dia” bisiknya lirih.
Tangannya buru-buru meraih ponsel.
“Bang Toto … aku lihat David.”
Di seberang telepon, Toto langsung berdiri dari duduknya.
“Di mana?”
“Depan gedung itu.”
“Awas. Jangan sampai hilang.”
Tak lama kemudian, mobil berwarna silver berhenti mendadak persis di depan gedung besar itu. Pintu terbuka kasar. Toto dan empat temannya turun dengan langkah cepat.
“Toto?” seru David kaget.
Belum sempat memahami keadaan, kerah bajunya sudah ditarik kasar.
“Heh! Apa-apaan ini!”
“Kau masih ingat utangmu?!” bentak Toto.
“Aku bilang nanti aku ganti!”
“Masuk!”
Tubuh David didorong masuk ke dalam mobil.
Keributan kecil sempat menarik perhatian warga. Beberapa orang berhenti menoleh. Namun, semuanya terjadi terlalu cepat untuk dipahami.
Mobil melaju meninggalkan keramaian kota.
Di tengah kemacetan jalan, David melihat celah kecil saat pintu mobil sedikit terbuka. Dengan sisa tenaga, ia menendang pintu keras lalu berlari sempoyongan ke arah kerumunan warga.
“Tolong! Saya diculik!”
Namun, Toto bergerak lebih cepat.
“Maling mobil! Tangkap!” Kalimat itu melesat seperti api yang dilempar ke tumpukan jerami kering.
“Heh! Maling!”
“Kejar!”
Tanpa bertanya. Tanpa berpikir.
Massa bergerak liar.
Seseorang menghantam wajah David dengan helm. Yang lain menendang punggungnya. Pukulan demi pukulan jatuh tanpa belas kasihan.
“Ampun … saya bukan maling” rintih David sambil melindungi kepala.
Sayang seribu sayang, amarah massa telah menutup telinga mereka.
Ironisnya, saat tubuh David hampir tak sadarkan diri, warga justru menyerahkannya kembali kepada Toto.
“Nih, Pak … malingnya.”
Toto menahan senyum tipis.
“Terima kasih.”
Mobil kembali melaju. Di kursi belakang, darah menetes perlahan dari pelipis David. Dadanya naik turun dengan napas berat.
“Aku mau pulang” bisiknya lirih.
“Istriku lagi hamil”
Kalimat itu menggantung di udara. Akan tetapi, tak lagi menyentuh hati siapa pun di dalam mobil. Perjalanan menuju kawasan hutan berubah menjadi lorong maut.
“PIN ATM-mu berapa?” bentak Alex.
David menggeleng lemah.
“Aku gak punya uang sebanyak itu”
Tamparan keras mendarat di wajahnya.
“Karena kau,” desis Toto, “hidup istriku hancur.”
Dengan tangan gemetar dan tubuh penuh luka, David akhirnya menyebut angka PIN ATM-nya.
Mereka berhenti di sebuah minimarket.
Mesin ATM berdenting pelan. Saldo yang tersisa bahkan tak sampai sejuta rupiah.
“Cuma segini?” geram Rivaldo.
Rahang Toto mengeras.
“Dia telah menghancurkan hidup orang.”
“Orang seperti dia gak pantas dikasih kesempatan lagi”.
Kalimat itu membuat suasana mobil mendadak sunyi.
Susi yang sejak awal hanya ingin menagih utang mulai dihantui ketakutan.
Ia menelepon Toto dengan suara gemetar.
“Bang … jangan macam-macam, ya. Ambil saja uangnya”
Namun, jawaban Toto terdengar dingin seperti malam.
“Semuanya sudah terlambat.”
Mobil berhenti di sebuah Jembatan. Kabut turun makin pekat. Udara menusuk tulang.
David diseret keluar. Kakinya nyaris tak mampu menopang tubuhnya sendiri.
“Ampun …” tangisnya pecah.
“Demi Allah … aku salah”
Toto berjalan mendekat perlahan.
“Tahu, gak?!" suaranya berat menahan amarah.
“setiap malam istriku menangis karena utangmu.”
Brak! Wajah David dihantamkan keras ke tiang besi jembatan.
Seketika tubuhnya roboh dan dadanya masih bergerak lemah.
“Buang saja!” teriak seseorang.
Untuk sesaat Toto terdiam.
Matanya menatap jurang gelap di bawah sana. Jurang yang sunyi. Jurang yang siap menelan seluruh amarah manusia.
Tiba-tiba …
Dorongan itu terjadi.
Tubuh David terjatuh menembus kegelapan.
Suara benturan terdengar samar dari dasar jurang.
Dan malam mendadak terasa sangat sunyi dan mencekam.
Tak ada yang bicara selama beberapa detik.
Sampai akhirnya Roni berbisik lirih dengan wajah pucat,
“Bang … kayaknya kita benar-benar keterlaluan.”
Dua hari kemudian, polisi mengetuk pintu rumah Toto.
“Saudara Toto?”
Wajah pria itu seketika pucat.
“Kami dari Polrestabes Kota Metropolitan”
Susi yang berdiri di belakang langsung lemas.
Sebelumnya, aparat mendapat laporan dari seorang wanita yang melaporkan suaminya telah menjadi korban pemukulan dan penculikan.
Berbekal informasi dari beberapa orang saksi dengan sigap polisi melakukan perburuan kepada para pelaku. Selang 1 × 24 jam titik terang ditemukan atas penemuan jasad di dalam jurang.
Jasad lelaki itu segera dibawa ke rumah sakit. Farah terhubung dengan aparat agar segera ke rumah sakit untuk memastikan apakah itu suaminya yang telah diculik. Benar saja, ternyata jasad dalam jurang adalah David suaminya.
Di kamar jenazah rumah sakit, Farah memeluk tubuh suaminya sambil menangis histeris.
“Mas … kenapa tinggalin aku”
Tangannya gemetar menyentuh wajah suaminya yang lebam.
Di dalam rahimnya, bayi tujuh bulan itu masih bergerak kecil, seolah belum memahami bahwa dirinya tak akan pernah melihat wajah ayahnya sebelum ia lahir ke dunia.
*****
Motif di Balik Penculikan David
Satu pertanyaan besar masih menggantung: apa yang membuat geng itu begitu tega melakukan kekejian tersebut? Jawabannya telah tertanam jauh di masa silam.
Kala itu, David dan Susi adalah sepasang kekasih yang tengah menata masa depan bersama. Di antara banyak mimpi yang mereka rajut, ada satu keinginan sederhana: memiliki sebuah mobil untuk menemani perjalanan hidup mereka.
Demi mewujudkan impian itu, David membujuk Susi agar mengambil kredit mobil atas namanya. David berjanji akan bertanggung jawab penuh atas seluruh cicilan. Atas nama cinta dan kepercayaan, Susi mengiyakan tanpa banyak curiga. Tak butuh waktu lama, mobil impian itu pun akhirnya berada di tangan David.
Namun, kepercayaan itu ternyata menjadi awal petaka. Tanpa sepengetahuan Susi, David diam-diam menjual mobil tersebut kepada orang lain dengan nilai hampir ratusan juta rupiah. Uang hasil penjualan masuk ke kantong pribadinya, sementara Susi hanya menerima sedikit bagian yang tak seberapa. Setelah itu, David lenyap begitu saja bak ditelan bumi. Nomornya tak lagi bisa dihubungi, keberadaannya tak diketahui, dan tanggung jawab yang pernah ia janjikan ditinggalkan begitu saja.
Sementara David menghilang, tagihan demi tagihan terus berdatangan. Bunga pinjaman membengkak tanpa ampun. Pihak leasing tak peduli siapa yang menikmati uang hasil penjualan mobil itu; bagi mereka, nama yang tertera di kontrak tetaplah Susi. Dari situlah hidupnya berubah menjadi lingkaran tekanan dan ketakutan. Debt collector terus datang mengejar, meneror, bahkan mempermalukannya.
Beban itu tak berhenti meski waktu berlalu. Hingga Susi menikah pun, utang tersebut masih membayangi rumah tangganya seperti luka yang tak pernah sembuh. Toto, sang suami, hanya bisa menyaksikan istrinya hidup dalam kecemasan akibat tagihan ratusan juta yang bukan sepenuhnya kesalahannya.
Sedikit demi sedikit, rasa marah, sakit hati, dan dendam menumpuk di dalam dirinya mengendap lama seperti bara yang menunggu waktu untuk menyala.
Dan hari itu akhirnya datang.
Sebuah pertemuan tak sengaja di depan gedung menjadi pemicunya. Awalnya, Toto hanya ingin mencegat David dan menagih pertanggungjawaban atas semua penderitaan yang ditinggalkannya. Namun, amarah yang terlalu lama dipendam berubah menjadi ledakan emosi yang tak terkendali. Dari situlah, niat menagih utang perlahan menjelma menjadi awal dari sebuah kejahatan besar.
*****
Persidangan pun berlangsung. Satu per satu fakta dibuka di ruang sidang. Ruangan itu mendadak sunyi ketika hakim membacakan dakwaan pembunuhan berencana. Para pelaku hanya mampu tertunduk, seolah kata-kata yang dibacakan menjadi cermin atas amarah yang telah melampaui batas kemanusiaan.
Namun, luka yang paling menyakitkan justru muncul di akhir cerita.
Baca juga: amarah meledak pasutri berjarak
Polisi menemukan fakta baru. David sebenarnya mulai berusaha mencicil utangnya secara diam-diam beberapa bulan terakhir. Bahkan, di kamar kosnya telah ditemukan catatan kecil berisi rencana ia akan menjual motor demi membayar sebagian tanggungannya.
Akan tetapi, kesempatan itu tak pernah benar-benar tiba. Sebab, dendam bergerak lebih cepat mengeksekusi dari pada tobat dan penyesalan.
Tragedi nyata ini menjadi peringatan besar tentang betapa berbahayanya kezaliman, dendam, dan tindakan main hakim sendiri. Islam tidak pernah membenarkan kemarahan berubah menjadi penghilangan nyawa.
Allah Swt. berfirman:
“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
David memang bersalah. Ia mengkhianati amanah, menghindari tanggung jawab, dan meninggalkan luka bagi orang-orang yang mempercayainya. Akan tetapi, sebesar apa pun kesalahan seseorang, tidak ada manusia yang berhak merampas nyawanya tanpa jalan hukum yang sah. Sebab dalam Islam, darah seorang manusia memiliki kehormatan yang agung.
Rasulullah saw. bersabda:
“Hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibanding terbunuhnya seorang muslim tanpa hak.” (HR. An-Nasa’i)
Imam Al-Ghazali rahimahullah bertutur,
“Dendam adalah api yang mula-mula membakar hati pemiliknya sebelum membakar orang lain”.
Dan benar saja, amarah yang dibiarkan tumbuh akhirnya menjelma jadi petaka. Kasus ini juga memperlihatkan betapa berbahayanya fitnah massa, hanya karena satu teriakan “maling”, banyak orang kehilangan akal sehat, mematikan hati nurani, dan berubah menjadi penghukum jalanan.
Padahal Allah Swt. telah memperingatkan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". (QS. Al-Hujurat: 6)
Kisah ini menjadi pelajaran hidup dan mahalnya harga sebuah tanggung jawab, pentingnya kejujuran, serta perlunya komunikasi bila ada uzur dalam hal utang-piutang dengan orang lain. Sebab, dosa yang dibiarkan membusuk dapat melahirkan dosa yang lebih besar.
Pengkhianatan melahirkan amarah yang tiada usai. Amarah melahirkan kebencian, dan membuka jurang kematian tatkala kehilangan iman dan akal sehat, mampu menyeret manusia menjadi lebih kejam dan buas dari pada yang dibayangkan.
Seperti serpihan kaca yang berserakan, luka itu akhirnya menggores semua orang.
Susi kehilangan ketenangan hidupnya.
Toto kehilangan masa depannya.
Farah kehilangan suaminya.
Dan seorang bayi kehilangan ayahnya bahkan sebelum sempat memanggil kata “Abi”.
Pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang benar-benar menang dalam tragedi jurang kematian. Selain, yang tersisa hanyalah penyesalan, air mata, dan pelajaran bahwa dendam tidak pernah menyelesaikan masalah kecuali hanya memperluas luka.
The end
Demi menjaga kehormatan, nama-nama pelaku dan korban serta lokasi telah disamarkan.[]

















