Lampu Kuning di Ujung Jalan Kehidupan

“Maka apabila ajal itu tiba, mereka tidak akan dapat meminta penangguhan dan tidak pula mempercepat(nya) barang sesaat pun,“ (QS. Al-A’raf (7):34).


Oleh: Hazimah Wangi

NarasiPost.com - Dalam waktu dekat ini, sudah berapa banyak jari-jemariku mengetikkan pesan ungkapan bela sungkawa atas berita-berita kematian. Keluarga dekat sendiri, ibunya seorang sahabat, ayahnya sahabat yang lain, pamannya teman lama, dan lain-lain. Berturut-turut kabar duka tersebut datang tanpa jeda. Beraneka ragam sebab datangnya ajal mereka. Ada yang terkena covid-19, sakit bawaan atau tidak ada sebab apa-apa. Yang pasti apapun itu, sebuah kematian tetap menyisakan kesedihan dan pelajaran yang mendalam.

Sudah sangat hafal di luar kepala, firman Allah Swt di dalam Alquran surat Ali Imran ayat 185, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati“. Dari ayat ini secara pasti dinyatakan bahwa siapapun ia dan makhluk apapun itu, jika ia bernyawa pasti akan mati. Tidak ada seorang manusia pun yang mengingkari hal ini.

Di dalam ayat lain, Allah Swt berfirman, “Maka apabila ajal itu tiba, mereka tidak akan dapat meminta penangguhan dan tidak pula mempercepat(nya) barang sesaat pun,“ (QS. Al-A’raf (7):34). Itulah ajal, yang sudah ditetapkan waktunya secara pasti: hari, jam, menit bahkan detiknya. Jika ia datang, tiada seorang pun yang mampu mencegahnya. Tidak peduli apakah ia dalam keadaan sehat wal’afiyat, ataukah sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit kelas VIP. Demikian juga, apakah ia sedang bersembunyi di dalam benteng yang kokoh dan kuat, ataupun sedang berselancar riang membelah ombak lautan dengan papan surfing-nya. Malaikat maut tak pernah salah orang!

Sadar atau tidak, sesungguhnya maut senantiasa mengintai kita siang dan malam, pagi dan petang. Hanya orang-orang yang selalu berzikir dan mengingat kematian saja yang akan selalu waspada. Matanya tidak pernah lepas mengawasi lampu kuning di ujung jalan kehidupannya. Ia sadar bahwa sebentar lagi lampu itu akan berubah merah. Tanda hidupnya di dunia telah berakhir dan ia harus pulang ke kampung halaman aslinya.

Sayang, manusia adalah makhluk yang diliputi kelalaian. Meskipun tahu persis bahwa ia akan kembali kepada penciptanya, tetap saja ia sibuk dengan urusan-urusan dunia yang tak pernah ada habisnya. Tetap saja ia mengejar angan-angan panjang yang tangannya pun tak sampai meraihnya. Ia habiskan waktu dan tenaga untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya bagi hari tuanya yang fana. Tapi ia lupa, bekal apa yang sudah ia siapkan untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi.

Manusia bekerja membanting tulang untuk membayar cicilan rumahnya, cicilan mobil, ruko, apartemen, dan sebagainya seolah ia akan hidup seribu tahun lagi. Namun apakah ia juga sibuk mencicil pembangunan rumahnya di surga? Padahal belum tentu ia berkesempatan untuk menikmati benda-benda mewah duniawi itu. Lampu kuning kehidupannya bisa berubah merah kapan saja!

Rasulullah Saw jauh hari sudah mengingatkan, “Barang siapa menjadikan dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan (kefakiran) di antara dua matanya (di hadapannya), dan tidaklah datang kepadanya (harta benda) melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat niatnya (tujuannya) maka Allah akan himpun baginya urusannya dan menjadikan perasaan cukup ke dalam hatinya dan akan datang dunia kepadanya dalam keadaan rendah,“ (HR. Ibnu Majah).

Nasihat Rasulullah ini sangat bermakna dan menenangkan jiwa untuk dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan. Apalagi yang kita khawatirkan? Jatah rezeki sudah Allah tetapkan. Sementara waktu terus berputar; detik demi detik, menit demi menit, hari berganti bulan, dan bulan terus berjalan meniti tahun. Entah kapan denting jam dinding itu berhenti yang secara otomatis akan merubah lampu kuning itu.

Namun begitulah manusia. Tersentaknya, tersadarnya, teringatnya, hanyalah sesaat. Setiap mendengar kabar kematian, apalagi dari kerabat terdekat, seolah-olah jiwanya sendiri pun ikut melayang. Membayangkan malaikat maut juga menghampirinya. Namun setelah berlalu beberapa hari saja, ia kembali tertawa dan terlena dalam tipu daya kenikmatan dunia yang tak lebih dari setitik air laut yang jatuh dari ujung jarinya.

Lagi-lagi Rasulullah telah mengingatkan, “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, kalian pasti akan sedikit tertawa dan banyak menangis,“ (HR. Muttafaq ’Alaihi).

Hadits ini isyarat bagi kita, bahwa banyak hal menakutkan yang tidak kita ketahui yang mungkin akan menimpa kita di kehidupan berikutnya, kehidupan yang sebenarnya. Hal-hal yang akan membuat kita menangis, yang akan mendatangkan penyesalan panjang, yang tak mungkin untuk diubah karena kesempatan sudah diberikan namun kita sia-siakan. Masa yang telah ditetapkan sejak ruh ditiupkan ke rahim, tidak mungkin akan diputar mundur ke belakang. Tidak ada mesin waktu yang bisa mengembalikan kita ke dunia!

Oh diri yang lalai dan selalu mengeluh. Banyak-banyaklah mengingat hari akhirmu. Persiapkanlah bekal terbaikmu sebelum kapal bernakhoda Izrail datang menjemputmu. Jangan sampai penyesalan tak berujung dan air mata ketakutan yang akan mengiringi perjalanan panjangmu untuk bertemu Sang Pemberi hidup.

Wahai diri yang harus segera bertobat, hidup ini singkat, hanya persinggahan sesaat. Telah banyak orang-orang yang mendahuluimu. Keluargamu, teman sepermainanmu, sahabat-sahabat karibmu, guru-gurumu, orang-orang yang kau cintai, mereka menunggumu di sana. Ingatlah, lampu kuning di ujung jalan kehidupanmu akan segera berubah merah. Bersiaplah.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Awas, Miras Bikin Tak Waras!
Next
Negeri Para Bedebah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram