Inilah Hasil Kesepakatan Para Pemimpin ASEAN Terkait Isu Myanmar

"Krisis politik di Myanmar ini mendorong para pemimpin ASEAN untuk mengangkat masalah tersebut dalam KTT ASEAN atau ASEAN Leaders Meeting"


Oleh : Nay Beiskara

NarasiPost.Com-Krisis Myanmar masih terjadi hingga detik ini. Krisis yang berawal dari kudeta yang dilakukan oleh junta militer ini terus menerus memakan korban jiwa. Sekitar 739 orang tewas di bawah senjata pasukan keamanan Myanmar dan 3.370 orang pendemo ditahan (cnnindonesia.com, 24/4/2021).

PBB beserta sejumlah pengamat politik internasional mengkhawatirkan kondisi negara itu. Bila krisis tidak segera diselesaikan, maka akan menyeret Myanmar pada perang sipil dan kejatuhan negara tersebut. Myanmar pun akan terancam menjadi negara gagal (failed state).

Krisis politik di Myanmar ini mendorong para pemimpin ASEAN untuk mengangkat masalah tersebut dalam KTT ASEAN atau ASEAN Leaders Meeting yang diadakan di Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta, pada Sabtu (24/4). Ini adalah pertemuan pertama para pemimpin ASEAN selama masa pandemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Ketua ASEAN Sultan Hassanal Bolkiah dalam pernyataan resminya mengungkapkan bahwa lembaga ini mengakui peran positif dan konstruktifnya dalam memfasilitasi solusi damai di Myanmar. Tujuannya semata-mata untuk kepentingan dan penghidupan rakyat Myanmar.

Mediaindonesia.com (25/4) melansir, Ketua ASEAN Hassanal Bolkiah menyatakan pula keprihatinannya yang mendalam atas situasi politik di Myanmar, termasuk laporan mengenai jumlah kematian dan eskalasi kekerasan yang terjadi di negara itu. Guna mengakhiri krisis di Myanmar, para pemimpin ASEAN berdiskusi dan menyepakati lima konsensus terkait isu tersebut.

Adapun lima poin konsensus itu antara lain, pertama, menghentikan segala bentuk kekerasan di Myanmar dan semua pihak yang terkait harus mampu menahan diri. Kedua, mengupayakan dialog konstruktif antara semua pihak terkait guna mencari solusi damai demi kepentingan rakyat Myanmar. Ketiga, delegasi khusus dari ASEAN akan memfasilitasi proses mediasi dibantu Sekretaris Jenderal ASEAN.

Keempat, ASEAN melalui AHA Centre akan melayangkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Myanmar. Kelima, ASEAN akan mengutus delegasi khususnya untuk berkunjung ke Myanmar dan bertemu dengan semua pihak yang terkait.

Kompas.com (25/4/2021) menginfokan, tidak hanya kantor berita lokal dan regional yang meliput acara yang khusus membahas masalah Myanmar ini. Tetapi juga, kantor berita internasional turut mengabarkan dengan memfokuskan pemberitaan pada beberapa poin. Sebut saja kantor berita Associated Press (AP), AFP, CNN, dan Reuters, semuanya turut mewartakan hasil pertemuan ini di laman beritanya.

Secara khusus kantor berita AP berpendapat bahwa keinginan ASEAN kepada pemimpin junta militer, Min Aung Hlaing telah disampaikan dengan blak-blakan. AP menyebut upaya ASEAN ini telah menerobos prinsip dasar konservatif blok 10 negara itu, dimana prinsipnya tidak boleh mencampuri urusan dalam negeri masing-masing anggota.

Namun, tiap-tiap kantor berita ini satu suara bahwa lima konsensus yang disepakati oleh para pemimpin ASEAN ini telah tercapai. Pemimpin junta sendiri tidak menentang apa yang menjadi hasil kesepakatan walaupun pihaknya tidak memberikan pernyataan resmi pada publik. Kesepakatan ini merupakan upaya internasional dalam membantu menyelesaikan krisis politik yang terjadi di Myanmar.

Penyelenggaraan KTT yang diinisiasi oleh Presiden Jokowi merupakan langkah awal untuk menghentikan segala bentuk kekerasan di Myanmar. Banyak yang mengapreasiasi diadakannya gelaran tersebut walaupun tak sedikit pula yang menyangsikan realisasi dari konsensus yang telah disepakati.

Peneliti bidang politik internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Lidya Christin Sinaga, dalam hal ini berpendapat bahwa penyelesaian konflik Myanmar tidak cukup hanya mengupayakan dialog-dialog yang sifatnya diplomatis. Tetapi juga, dialog tersebut harus diiringi dengan menggandeng aktor-aktor yang concern terhadap demokrasi dan HAM di tingkat regional. Ia pun menambahkan, tidak ada yang dapat menjamin bahwa pertemuan itu mampu menghasilkan perubahan yang signifikan, sebagaimana yang dilansir oleh Detik.com (24/4/2021).

*Dari berbagai sumber[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Di Balik Duka KRI Nanggala 402
Next
Korupsi : Problem Sistematik yang Butuh Solusi Sistematis
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram