Becik Ketitik Ala Ketara

Tak selalu yang berpenampilan indah rupawan, memiliki akhlak yang baik pula. Begitu pula sebaliknya. Maka, tampilan luar bukan tolok ukur sesungguhnya.


Oleh: Deena Noor

NarasiPost.com- Becik ketitik ala ketara adalah sebuah peribahasa Jawa yang bermakna kebaikan pasti tampak, keburukan pasti kelihatan. Yang baik akan tetap terlihat, meski coba ditutupi, dihalangi sedemikian rupa. Begitu pula adanya dengan keburukan. Ia akan terkuak kemudian meski coba disembunyikan, disamarkan atau dipoles dengan keindahan seperti apapun.

Dari peribahasa tersebut bisa kita ambil pelajaran bahwa antara kebaikan dan keburukan punya warna yang jelas berbeda, tak mungkin tertukar. Meski bercampur antara keduanya dan disamarkan sedemikian rupa, setiap kebaikan dan keburukan akan nampak pada akhirnya. Karena memang keduanya sangat kontras, berkebalikan layaknya langit dan bumi, atau seperti siang dan malam hari.

Becik sendiri dalam bahasa Indonesia artinya adalah baik, tidak ada cacatnya, indah. Sedangkan ala berarti jelek, tidak bagus, buruk. Apakah indah dan cantik atau jelek dan buruk berdasarkan tampilan fisik semata? Tak selalu yang berpenampilan indah rupawan, memiliki akhlak yang baik pula. Begitu pula sebaliknya. Maka, tampilan luar bukan tolok ukur sesungguhnya.

Demokrasi yang katanya mengutamakan rakyat, tapi faktanya malah memperalat rakyat untuk meraih kekuasaan. HAM yang digaungkan melindungi seluruh hak manusia, pada kenyataannya bisu dan tuli terhadap ketidakadilan yang menimpa muslim. Mayoritas dianggap baik, sedang minoritas adalah buruk. Padahal minoritas bisa menjadi tirani, sebagaimana mayoritas bisa pula bertindak semena-mena.

Seringkali apa yang diikuti banyak manusia dianggap sebagai suatu yang baik, sementara sedikitnya yang melakukan, dianggap hal buruk. Banyak yang melakukan kemaksiatan seperti zina, riba, menipu, dan lain-lain; apakah dengan begitu menjadikan kemaksiatan itu sesuatu yang baik? Dan, sedikitnya manusia yang mengambil jalan perjuangan dakwah, apakah menjadikan dakwah sesuatu yang buruk, padahal ia menyeru pada kebenaran?

Manusia acapkali salah dalam menempatkan atau dengan sengaja menukar antara yang baik dengan yang buruk. Apalagi di kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang, dimana segala hal diukur dari sisi keuntungan/manfaat. Jika dianggap mendatangkan keuntungan/manfaat, maka hal itu dipandang sebagai sesuatu yang baik. Demikian pula sebaliknya, jika membahayakan dirinya, maka sesuatu itu dianggap buruk.

Manusia adalah makhluk yang lemah dengan akal yang terbatas. Manusia juga tempatnya perbedaan, perselisihan, pertentangan serta terpengaruh oleh lingkungan. Bila diserahkan pada masing-masing manusia, maka akan terjadi konflik kepentingan dan kekacauan. Apa yang menurut si A baik, belum tentu baik pula bagi si B, dan seterusnya. Tak akan ada titik temunya bila standar sebuah kebaikan atau keburukan diserahkan menurut pemikiran masing-masing manusia.

Juga kecenderungan manusia adalah menggolongkan apa yang disenanginya sebagai baik, dan apa yang dibencinya sebagai buruk. Perbuatan dikatakan baik dan perbuatan lain dikatakan buruk, didasarkan pada manfaat yang didapatnya atau kemudharatan yang dijumpainya. Akibatnya, dalam menentukan pandangan baik dan buruk adalah menurut perasaan (suka/benci) manusia.

Karena didasarkan pada adanya manfaat atau bahaya dan pada perasaan suka atau benci inilah, maka baik-buruk adalah hal yang tidak pasti. Penilaian baik-buruk terhadap sesuatu menjadi tidak tetap dan bisa berubah-ubah sesuai kondisi. Kita telah melihat banyak sekali contoh dalam kehidupan yang menunjukkan pemanfaatan dalih “Karena kondisi yang memaksa” membuat seseorang ‘terpaksa’ melakukan kejahatan dan kemaksiatan. Apa yang dilarang dan diharamkan menjadi dibolehkan dan dihalalkan demi tujuan tertentu, yang tak jauh dari seputar materi.

Manusia seringkali mencintai dengan makna manfaat dan membenci dengan makna bahaya. Padahal, apa yang membawa manfaat dan dicintai, belum tentu itu adalah hal yang baik. Riba misalnya, bagi sebagian orang itu baik dan disukai karena mendatangkan manfaat. Sebaliknya, jihad dan mengemban dakwah dianggap buruk dan dibenci karena menjauhkan dari berbagai kesenangan dunia, mengantarkan pada kesulitan-kesulitan, bahkan sampai kematian.

Maka, Allah menjelaskan dalam QS. Al Baqarah ayat 216: “Telah diwajibkan atas kalian berperang. Padahal perang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Kemudian jika kalian membenci mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19)

Sesuatu dikatakan baik atau buruk bila sesuai dengan perkataan Allah. Aktivitas yang dalam rangka mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, adalah yang baik karena diridai oleh Allah. Sebaliknya, apabila aktivitas itu adalah perkara yang dimurkai Allah, yaitu karena menyalahi perintah-Nya dan mengikuti larangan-Nya, maka aktivitas itu buruk. Dengan demikian, dapat diketahui perbuatan baik (terpuji) yang harus dikerjakan dan perbuatan buruk (tercela) yang harus ditinggalkan.

Islam telah menetapkan tolok ukur yang jelas bagi manusia untuk menilai sesuatu, yakni seruan Allah yang dibawa oleh Rasul-Nya, bukan akal atau nafsu manusia. Maka, untuk menentukan sesuatu dengan baik dan buruk, bukan dari zatnya dan tidak pula dari pemikiran manusia. Melainkan harus bersandar pada sudut pandang yang benar tentang kehidupan, yaitu aqidah yang dipeluk oleh manusia, yang darinya terpancar pemikiran dan sistem kehidupan. Itulah aqidah Islam yang telah meletakkan standar rinci tentang baik dan buruk.

Dengan aturan Islam, setiap perkara dalam kehidupan manusia menjadi jelas hukumnya. Baik adalah baik dan buruk adalah buruk, tak bisa ditukar. Semuanya tegas dan jelas, tidak samar-samar, tapi terang seterang sinar mentari. Sehingga dengannya, kehidupan bisa berjalan dengan baik dan teratur dalam naungan berkah-Nya.
Wallahu ‘alam bish-shawab.[]


Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Menciptakan Sistem Pendidikan 'Amphibi'
Next
Demokrasi Mendorong Praktik Politik Kotor
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram