Kalau Bisa Dua, Kenapa Harus Satu?

Ada yang mengatakan, kalau misalkan kita sudah mementingkan akhirat, dunia akan mengikuti di belakang. Benarkah?


Oleh: Aqila Ghania Syaakirah

NarasiPost.com- Jadi murid yang paling nge-trend di sekolah, ter-fashionable, paling populer, paling dihormati, diperlakukan kayak princess sama semua laki-laki di sekolah. Begitu pun sebaliknya untuk lelaki. Hal ini sudah menjadi hal yang sangat ingin dicapai kebanyakan remaja saat ini. Sampai-sampai demi mendapatkan itu semua seseorang rela masuk geng yang suka menindas orang, menari-nari yang enggak jelas, memakai baju yang kekurangan bahan dan enggak pantas. Waduhhh

Padahal teman-teman, jika sekalipun kita menjadi salah satu anak terkenal begitu, hidup kita akan menjadi enggak tenang dan banyak masalah. Menjadi yang paling banyak mendapatkan perhatian manusia tidak akan membawa kebahagiaan. Coba, kalau kita menjadi yang paling disoroti dari yang lain, belum tentu kita bisa mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Berbeda dengan mereka yang sedikit temannya tapi semuanya ‘berkualitas’.  Biarkan saja enggak terkenal di dunia, tapi jadi perbincangan utama di akhirat. Di saat semua orang sibuk mengejar sesuatu yang enggak akan ditanyakan di akhirat, mendingan berdiam diri sambil muhasabah diri.

Sob, remaja cerdas itu yang bagaimana, sih?

Remaja yang cerdas itu bukanlah remaja yang pintar di bidang akademik atau kategori duniawi ya, Sob. Tetapi remaja cerdas di sini adalah mereka yang enggak menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang enggak bermakna. Lebih baik mengisi hari dengan aktivitas yang bermanfaat dan meninggalkan maksiat sepenuhnya. Mereka tahu persis untuk apa mereka diciptakan dan segala kebaikan yang pernah mereka lakukan untuk Allah semata membuat mereka bersinar dari dalam, sehingga mereka tidak butuh sorotan. Daebak!

Aku kasih contoh ya, ada seorang remaja. Dia adalah murid terpopuler di sekolah. Namanya sebut saja Urul. Semua orang kenal dengannya. Setiap hari Urul ini selalu menggoda cowok, menggosip, nge-bully, belanja berjuta-juta.

Suatu hari sekolah Urul kedatangan murid baru. Ya, bisa dibilang murid baru ini sama kayak Urul. Berparas ayu, bodygoals, senyumnya manis, keren, kaya, dan sebagainya. Si Urul ini tentunya merasa ‘terancam’ dengan kehadiran si murid baru. Dia takut si murid baru akan mengambil alih posisinya sebagai murid paling populer di sekolah.

Urul berkompetisi dengan si murid baru. Mereka sama-sama menunjukkan siapa yang lebih cantik, keren, kaya. Jutaan uang malah habis untuk hal yang sia-sia. Waktu malah terpakai untuk saling menjatuhkan dan menonjolkan diri.

Dan enggak ada yang tahu siapa yang menang di antara Urul dan si murid baru. Yang jelas gini, kalau Urul menang, pasti Urul pun akan rugi dan makin tenggelam sama tipu daya dunia. Kalau si murid baru yang menang, pasti Urul enggak senang dong. Bisa aja Urul jadi makin benci sama si murid baru. Dan kalau Urul dan si murid baru sama-sama menang, mereka enggak bakalan berhenti sampai ada yang menang. Pokoknya di sini enggak ada pihak yang dapat untung jadinya, Sob.

Mereka bisa aja menggunakan segala cara untuk menjatuhkan lawannya, mau pake cara curang, sebar fitnah atau hoaks, adu domba, pokoknya selama yang di mindset mereka adalah, “Lu enggak berhak ada di sini, gue yang lebih sempurna daripada lu,” mereka enggak akan berhenti.

Sobat, jangan sampai kita bangga karena sudah menjadi yang ter-ter dalam urusan duniawi. Kita ini adalah generasi penerus bangsa. Kita yang akan memberikan warna cerah bagi masa depan bangsa. Kamu, aku, dan kita bisa membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik lagi.

Jadilah yang beda. Di saat semuanya mengejar dunia, kamu mengejar akhirat. Di saat semuanya memburu eksistensi yang sama, kamu memburu pahala untuk mendapat rida Allah. Dunia memang menggiurkan, tapi jangan sampai kita lalai sama akhirat. Ada yang mengatakan, kalau misalkan kita sudah mementingkan akhirat, dunia akan mengikuti di belakang. Benarkah? Yups, InsyaAllah

Well, Sobat. Kalau kita bisa mendapatkan dunia sekaligus akhirat, siapa sih yang enggak mau? Di dunia bahagia, di akhirat juga bahagia. Di dunia sukses, di akhirat juga sukses. Ada banyak dalil yang menerangkan tentang janji Allah Ta’ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, akan sukses dunia dan akhiratnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.” (HR. At-Tirmidzi dan lain-lain).

Masya Allah! Janji Allah mah enggak usah diragukan lagi, Sobat, janji Allah itu pasti. Yang diragukan itu justru kitanya, sudahkah kita mengumpulkan bekal buat akhirat? Sudahkah kita siap meninggalkan dunia dan menghadapi dunia yang abadi nanti? Sudahkah kita menguatkan iman? Sudahkah kita istiqamah di jalan Allah?

Dan ingat Sobat, yang kekal itu yang dipilih, bukan yang sementara atau yang fana. Semoga kita semua bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan juga kebahagiaan akhirat ya Sob. So, tekadkan dalam hati. Tarik napas dalam-dalam, kita pasti bisa. Semangat![]


Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Berlomba Memberi bukan Menunggu
Next
Kekerasan Seksual pada Anak, Butuh Solusi Tuntas
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram