Di Balik Kisah Mereka

Rasulullah menyampaikan kepada kita, dalam sebuah hadis; kisah seekor kucing yang diikat dan tidak diberi makan oleh seorang wanita, hingga wanita itu masuk ke neraka.


Oleh: Eka Dwi Novitasari

NarasiPost.com- Ulasan buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck, yang diterjemahkan "Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat" karya Mark Manson, yang diampu oleh Gurunda Yudha Pedyanto, banyak pesan tersurat maupun tersirat yang dapat diambil, terlebih bagi seorang muslim.

Al-Quran nyampein ke kita dalam setiap kisah terdapat pengajaran (QS. Yusuf[12]:111). Rasulullah menyampaikan kepada kita, dalam sebuah hadis; kisah seekor kucing yang diikat dan tidak diberi makan oleh seorang wanita, hingga wanita itu masuk ke neraka.

Dalam hidup, entah itu kisah orang lain atau pengalaman pribadi semestinya dijadikan bahan pengingat bagi diri. Apalagi seorang muslim adalah kaum berakal.

Ya benar saja, memang setiap masalah atau pun keadaan ketika dihadapi oleh seorang muslim, haruslah diambil pelajaran darinya. Yuk, ambil pelajaran dari buku ini.

Di pembahasan awal bukunya, Mark Manson memberi pesan bahwa jangan terlalu memberi perhatian kepada yang tidak perlu diperhatikan. Om Mark ini mengajari kita "Yuk, masa bodo terhadap sesuatu yang tidak penting. Ojo ngoyo".

Charles Bukowski, seorang tokoh yang digambarkan Om Mark, dia seorang penjudi, pemabuk, bahkan pecandu prostitusi, menolak untuk bekerja di tempat yang lebih menjanjikan dibanding tempat sebelumnya. Dengan hidup pas-pasan, kerja "Sing penting iso mangan", tapi di akhir hidupnya ia bisa menghasilkan karya novel yang menakjubkan. Ia masa bodo dengan dirinya, namun bisa meninggalkan karya gemilang.

Terkadang, kita merasa insecure terhadap orang lain dengan gaya hidupnya yang mewah, apapun yang diinginkan dapat terkabul sebab harta bergelimang.

Atau kita dipaksa, "Nak, kamu harus bisa sukses seperti dia, biar bisa punya rumah, mobil mewah, biar nanti anak-anak dan istri/suamimu tidak sengsara".

Lha, aku kudu piye?

Guys, ternyata, kita lupa, ada perkara yang tidak mungkin diabaikan oleh Allah kepada hambanya selama ia masih hidup; rezeki. Pahamilah, ini hanya masalah waktu. Kita pasti akan diberikan tunai oleh Allah. Allah enggak lihat sebejat atau sebaik apapun kita, selama kita masih hidup yakin Allah pasti ngasih, deh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Hud[11]:6)

Sebejat-bejatnya Charles Bukowski (yang tak beriman), ia tetap diberikan rezeki oleh Allah. Apalagi kita, seorang muslim, yang udah diyakinkan oleh Pencipta segala sesuatu.

Karena itu, kita bekerja, kita menjalani hidup di dunia tetaplah sesuai perintah-Nya, patuhi saja Allah, rezeki itu pasti dikasih kok. Pesan pertama, ojo ngoyo. Fokuskan diri pada urusan yang kekal abadi, perbanyak amal sholeh, raih rida Illahi.

Pesan kedua, kita ini ciptaan, hanya seorang manusia. Bukan pencipta yang punya power, jadi kudu tahu diri.

Banyak orang hebat di luar sana, sejatinya ia hebat bukan karena pemberian sejak lahir, namun mereka hebat karena terus meng-improve diri, mengasah diri agar menjadi lebih baik.

Seorang Einstein, yang terkenal dengan teori relativitasnya di dunia fisika. Ketahuilah, jauh sebelum itu ia telah menulis 248 jurnal ilmiah. Dan jurnal-jurnal itu tak bernilai apapun di mata dunia, kecuali hanya teori relativitas khususnya yang mahsyur.

Itu seorang non-muslim, yang tak dipandang kecuali sebab karyanya. Demikian pula seorang muslim. Guys, kita itu tak ada apa-apanya di mata Allah. Kita semua sama, kecuali yang membedakan adalah ketakwaan.

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti" (QS. Al-Hujurat[49]:13)

Terkadang kita sudah merasa diri baik, sampai kita tidak mau menerima kenyataan pahit. Kita merasa "Saya sudah lakukan yang terbaik kok, tapi kenapa saya harus dikhianati?" "Saya sudah berusaha memperbaiki semuanya, tapi kenapa hal ini harus terjadi?"

Kita kecewa, pasrah, hingga akhirnya give up. Padahal Allah sudah nyampein ke kita loh.

"Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah[2]:216)

Coba sedikit kita resapi kisah dua tokoh berikut.
Hiroo Onoda, seorang tentara Jepang, yang sangat patuh dengan negaranya. Hingga ia diberikan tugas, bergerilya di hutan belantara dalam waktu yang tidak singkat, yaitu 30 tahun.

Tibalah saatnya ia pulang, dengan penuh keyakinan akan kemenangan. Namun, sebaliknya, ia malah kecewa. Mengapa? Kehidupan di Jepang so far, jauh berbeda, Jepang hidup atas budaya materialistik, konsumeris, dan kapitalis. Sebab Jepang telah ditaklukkan oleh AS sejak bom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Jepang kehilangan nilai-nilai luhur dan ini membuat Hiroo Onoda kecewa.

Atau, seorang Dave Mustaine, ia merasa dirinya tak berguna sebab hanya bisa menghasilkan sedikit album musik setelah ia didepak dari grup musiknya yang terkenal. Dibanding karya grup musik lamanya, ia merasa karyanya tak ada apa-apanya. Ia merasa gagal.

Terkadang kita berpikir bahwa hidup kita gini-gini aja, atau kita membandingkan diri kita dengan orang lain.

"Pencapaian kita kok tak lebih baik dibanding dia? Yang karyanya sudah bejibun dan melanglang buana di berbagai tempat? Sedang kita masih jalan di tempat? Ah, saya telah gagal, saya payah"

Guys, tidakkah Allah telah memberi kita resep, yang dengan ini kita akan merasa hidup bahagia, apapun kondisi kita? Resepnya; rasa "syukur".

Pahamilah, untuk perkara akhirat lihatlah orang di atas kita, sedang perkara dunia lihatlah orang di bawah kita.

"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita memandang dunia adalah segalanya. Padahal, kita pun di dunia tidak bisa hidup selamanya. Kita punya masa tenggang.

Allah berfirman :
"Semua yang ada di bumi itu akan binasa," (QS. Ar-Rahman[55]:26)

Guys, dunia itu fana. Tak ada yang patut dibanggakan, kecuali amal saleh. Allah memberikan masalah kepada kita itu bukan karena Allah benci atau enggak suka, tapi karena Allah ingin menguji ketakwaan kita.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah[2]:155)

"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk[67]:2)

So, live is choice. Pesan ketiga, hidup adalah pilihan. Pilihan kita akan menentukan seperti apa kita di dunia, dan kita ingin dipandang sebagai apa. Kita ingin hidup enak, itu pilihan kita. Akhir hidup kita pun ditentukan pilihan kita di dunia. Jangan cuma milih hidup enak, eh tapi lupa mati enak.

Prioritizing better value, choosing better things to give a fuck about. Because when you give better fucks, you get better problems. And when you get better problems, you get e better life

(Prioritaskan nilai terbaik, pilihlah sesuatu yang terbaik itu untuk diberi perhatian. Sebab ketika kamu memberi perhatian terbaik, maka kamu akan mendapatkan masalah yang terbaik. Dan ketika kamu punya masalah yang lebih baik, maka kamu akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik).

Dalam banget nih maknanya, Guys; kita harus paham bahwa kita adalah abdillah, hamba Allah, yang tujuan kita diciptakan adalah mengabdi pada-Nya, tunduk atas segala syariat-Nya, agar Allah rida dan agar bahagia tak hanya di dunia, juga kekal di akhirat.

Sebab kita tahu, di dunia tak ada yang abadi. Kita semakin menua, semakin sedikit ruang dan waktu yang diberi Allah untuk mengabdi pada-Nya. Maka, di waktu yang sedikit ini berikanlah yang terbaik.

Kehidupan setelah dunialah yang selamanya. Maka untuk apa berpayah-payah di dunia dengan masa yang terbatas ini sedang kita tahu kehidupan setelah dunialah yang selamanya?

Yes, pesan ke-empat, kita pasti mati. Jangan sekali-kali terbesit dalam diri kita untuk hubbud dunya dan takut mati. Sejatinya, mati adalah gerbang awal kehidupan kita yang baru.

Seperti kata Mark Twain "The fear of death follows from the fear of life. A man who lives fully is prepared to die at anytime".

(Di dalam hidupnya, dia akan dibayang-bayangi ketakutan, sebab takutnya akan mati. Seorang manusia sejati itu telah siap untuk mati kapan saja).

Allah berfirman :
"Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh. (QS. An-Nisa'[4]:78)

"Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Munafiqun[63]:11).

Sekali lagi, kita pasti mati. Jangan siakan sisa hidup ini untuk hal yang tidak berguna. Ojo ngoyo, ojo silau dunya.

Di akhir bukunya, Mark Manson menampar kita bertubi-tubi dengan sederet pertanyaan:
What is your legacy? How will the world be different and better when you're gone? What mark will you have made? What influence will you have caused? They say that a butterfly flapping its wings in Africa can cause a hurricane in Florida; well, what hurricanes will you leave in your wake?

(Apa warisan kita? Bagaimana dunia akan menjadi berbeda dan lebih baik ketika kita akan pergi? Tanda apa yang akan kita tinggalkan? Apa pengaruh yang akan kita hasilkan? Seekor kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di Afrika akan menghasilkan sebuah badai di Florida; lalu, badai apa yang akan kita tinggalkan ketika kita hidup?)

Harta kita, waktu kita, tenaga kita, karya kita tidak akan berarti apa-apa jika tak kita pakai untuk ketundukan kita kepada Allah. Tak berarti apa-apa, jika kita tidak berikan di jalan Allah. Tak berarti apa-apa, jika tak kita gunakan untuk memperjuangkan Islam.

Ini enggak main-main Guys, seluruh harta dan bahkan diri kita yang telah kita berikan untuk memperjuangkan agama ini, Allah akan bayar tunai dengan nikmat surga yang kekal abadi.

Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah[9]:111).

For the last, Allah berfirman:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur[24]:55).

Mari songsong janji Allah dengan seluruh daya dan upaya yang kita punya, selagi masih di dunia, sebelum Allah memanggil pulang.

Wallahu 'alam bishshowab.[]


Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Perilaku Elit Politik dan Rasa Malu
Next
Bukti Cinta pada Baginda Nabi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram