Menjadi Lebih Baik Atau Celaka, Pilih Mana?

Telah berulang-ulang kita dengar, bahwa hanya amal ibadah yang akan menemani kita di alam keabadian. Yang artinya, amal ibadah lebih wajib kita perjuangkan mati-matian. Mengumpulkan amal baik setiap hari, dan menjadikannya tabungan akhirat yang bermanfaat dan memberi syafaat. Tapi lihat diri kita sekarang! Lebih banyak lalainya.



Oleh : Ana Nazahah (Pemerhati Remaja)

NarasiPost.com - Assalamu'alaikum sobat! Semoga dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'aala. Diberikan kesehatan dan umur yang berkah. Sungguh, kita tidak tau kapan ajal kita. Karenanya, mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik tiap harinya adalah wajib, menjadi prioritas.

Akhir kisah hidup kita memang tak dapat ditebak. Seperti yang dikutip indozone.id. Kamis, 1 Oktober 2020. Tentang kisah cinta A dan F (21) di Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ketika akan melangsungkan prosesi ijab kabul pada Selasa, 29 September 2020, si calon mempelai wanita yaitu F mendadak meninggal dunia. F mengaku lelah dan ingin berbaring. Siapa sangka, itulah hari terakhirnya di dunia.

Rumah sudah didekor, penghulu sudah di tempat. Tak diduga, tamu undangan yang datang demi mengucapkan selamat bahagia, berubah menjadi pelayat di rumah duka. Dari sini, tidakkah kita belajar betapa berharganya setiap waktu yang kita habiskan?

Iya sih, kita tahu ajal sewaktu-waktu bisa datang. Ada banyak kerabat, tetangga, yang sudah mendahului kita. Kita paham betul bahwa hidup tak selamanya. Suatu hari kita akan pergi, meninggalkan semua yang kita punya dan segala hal yang kita usahakan mati-matian di dunia.

Ya, mati-matian! Penuh pengorbanan dan air mata. Tapi sayangnya, banyaknya usaha yang mati-matian itu, ternyata tidak bisa dibawa mati. Pasalnya, saat ini kita lebih sibuk dengan dunia. Melupakan ibadah dan kewajiban kita sebagai hamba.

Coba perhatikan! Pada ibadah wajib yang sering kita lalaikan. Cara berpakaian yang belum sesuai perintahNya. Ibadah pilih-pilih sesuai kondisi hati. Kadang-kadang masih suka khalwat dan ikhtilat. Dalam hal kewajiban berdakwah, jangankan menyampaikan Islam, disampaikan kebenaran Islam saja, dalam hati masih ada penolakan. Nastaghfirullah. Apa jadinya jika saat ini Allah tarik nyawa kita?

Telah berulang-ulang kita dengar, bahwa hanya amal ibadah yang akan menemani kita di alam ke-abadian. Yang artinya, amal ibadah lebih wajib kita perjuangkan mati-matian. Mengumpulkan amal baik setiap hari, dan menjadikannya tabungan akhirat yang bermanfaat dan memberi syafaat. Tapi lihat diri kita sekarang! Lebih banyak lalainya.

Coba bayangkan! Andai saja F yang kisahnya viral tersebut, tahu hari itu adalah hari terakhirnya di dunia. Tentu, dia akan berusaha lebih keras untuk mempersiapkan pertemuan terbaik dengan Tuhannya. Memperbaiki ibadah, menegakkan salat dan tak berlepas dari sujud. Berharap dijemput malaikat Israil dalam keadaan penuh takwa.

Sayangnya, kita tidak bisa menebak ajal kapan datangnya. Entah berapa lagi sisa waktu kita di dunia. 10 tahun lagi, 10 bulan lagi, atau besok lusa. Tak ada yang tau.

Karena itu sobat! Bagi kita yang masih Allah berikan kesempatan hidup. Masih diberi kesempatan melihat mentari lagi, pagi ini. Kita selalu bisa memilih untuk menjadi pribadi yang baru. Sebagaimana petuah yang masyhur kita dengar (konon kalimat ini berasal dari Ali bin Abi Thalib Ra). Yaitu ;

"Barangsiapa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia adalah orang yang merugi. Dan barangsiapa hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka ia adalah orang yang terlaknat."

Pribadi yang baik ternyata pribadi yang mau menghargai setiap detik yang dia miliki. Mengisinya dengan amal ibadah terbaik. Tentunya ini relevan dengan sabda baginda nabi shallallahu 'Alaihi Wassalam. Saat beliau bersabda kepada seorang laki-laki dan menasihatinya; "Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu." (HR Nasai dan Baihaqi).

Masya Allah! Semoga kita termasuk pribadi yang mau menghargai waktu. Penuh tekad menjadi muslim sejati. Tak ada pilihan selain taat. Berusaha keras untuk menyesali hari ini demi menghindari penyesalan di yaumil akhir nanti.[]

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Motivasi Nafsiyah
Next
Kau Tak Layak Dicintai
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram