Jomblo yang Dirindukan Bidadari Surga

Pacaran mungkin enggak sempat terpikirkan, karena seluruh perhatiannya untuk kebaikan umat dan mencari keridaan-Nya. Inilah para jomblowan yang bidadari surga merindukannya. Karya-karyanya abadi dan mutiara ilmunya masih sampai kepada generasi kita.


Oleh: Andi R. Rustandy (Smart Teen’s Consultant)

NarasiPost.com - Ramadan bulan mulia. Eits, sayangnya ini bukan ngomongin tentang bulan. Sesekali enggak apa-apa ngomongin jomblo, kan? Yups, jomblo mulia. Pernah dengar? Mungkin, sepanjang era perjombloan, yang sering dibicarakan itu jomblo ngenes. Hmmm.. Okay, tarik napas sebentar, sabar, dan tetap berpikir waras. 

Jomblo mulia, ia yang menjadikan hidup bermakna dengan karya. Berkarya untuk agama dan meninggikan kalimat-Nya. Kesibukannnya dalam amal salih dan ketaatan. Perjuangannya fi sabilillah. Enggak kenal lelah dan payah. Enggak ada istirahat, kecuali ketika kaki telah menginjak surga. MasyaAllah.

Betapa hebat jomblo yang seperti ini, ya? Kebaikannnya mengucurkan barakah. Pahala mengalir deras, padahal tubuhnya sudah enggak lagi di dunia. Sebab ketika di dunia ia telah menanam investasi pahala, sehingga kekayaan pahala tetap mengalir di ‘rekening’ amalnya meski sudah enggak bisa beramal di dunia, keren, kan?

Inilah manusia extra ordinary. Manusia yang cerdas, yang memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki untuk mengukir prestasi akhirat. Inilah manusia yang beruntung, yang menjadikan setiap waktu dan kesempatan untuk bersibuk dalam amal salih dan ketaatan. Sehingga terkadang, saking sibuknya dalam kerja-kerja keras kebajikan, enggak sempat terpikirkan untuk melirik bidadari dunia, sampai ia benar-benar siap.

Ia berpikir "Gimana kalau panggilan jihad menjemput duluan sebelum aku menjemput jodoh? Sejauh mana persiapanku?" Ia pun mengerti bukankah jodoh dan kematian itu berkejaran? Maka harus dipersiapkan keduanya.

Kesibukannya dalam kebaikan sudah menyita banyak waktu; siang dan malam menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu, agar memberikan sebesar-besar manfaat bagi umat. Bisa jadi nih, Mblo, karena kesibukannya yang super, atau enggak ada sesuatu yang mancing-mancing nalurinya, sehingga naluri (gharizatun nau’) menjadi kecil. Pacaran mungkin enggak sempat terpikirkan, karena seluruh perhatiannya untuk kebaikan umat dan mencari keridaan-Nya. Inilah para jomblowan yang bidadari surga merindukannya. Karya-karyanya abadi dan mutiara ilmunya masih sampai kepada generasi kita.

Ada sebuah kisah seorang remaja yang super sibuk dalam beramal salih, berkarya untuk kepentingan umat. Malam itu sang ibu sudah menyiapkan makan malam untuknya. “Wahai anakku, makan malam dulu,” sapa ibunya.

“Aku sedang sibuk, Bunda,” begitu jawaban polosnya. Ia terus sibuk dengan tulisannya. Bundanya mendatanginya, membawa makanan untuknya, lalu menyuapinya. Suapan demi suapan terus diberikan. Sang anak masih saja sibuk dengan aktivitasnya sembari menerima suapan dari sang ibu.

Nah, setelah rampung tulisannya, akhirnya fajar tiba. Si anak pun bertanya kepada ibunya, “Wahai Bunda, mana makan malamku?”

Ibunya menjawab, “Aku sudah menyuapimu, Anakku.”

Putranya menjawab, “Demi Allah, aku tidak merasakannya!”

Allahu Akbar Siapakah remaja ini? Dia adalah Imam an-Nawawi.

Siapa yang enggak kenal Imam Nawawi rahimahullah. Gelarnya muhyiddin (yang menghidupkan agama). Beliau telah melahirkan banyak karya berharga bagi umat, di antaranya yang fenomenal adalah Riyadhus Shalihin. Kitab kecil Hadits Arbain sudah jutaan orang yang membaca dan mempelajarinya. Kitab Al-Adzkar, Syarh Shahih Muslim, dan banyak lagi karya-karya lainnya. Inilah jomblowan mulia yang insyaallah husnulkhatimah. Investasi kebaikannya bagi umat mengucurkan barakah. Pahala mengalir deras. Menjadi jomblowan di dunia, tapi bidadari surga merindukannya.

Tentunya Sobat kenal juga Ibnu Taimiyah, bukan? Mutiara ilmu bagi banyak ulama. Beliau adalah Syaikhul Islam. Muridnya banyak. Di antara murid beliau adalah Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Karyanya melimpah. Meski enggak sempat menikah, tapi ‘tabungan’ investasi pahalanya bisa jadi lebih dari cukup untuk meminang bidadari surga. Insyaallah.

Ada pula Sayyid Quthb, seorang ulama Mesir. Beliau seorang ulama yang kritis terhadap rezim pemerintah yang zalim, sehingga hidupnya berakhir di tiang gantungan. Diceritakan oleh polisi yang menyaksikan eksekusi hukuman matinya, peristiwa itu sangat menggetarkan iman, sehingga dua orang polisi yang menyaksikannya memilih masuk Islam.

Karyanya yang fenomenal dan mengguncang adalah sebuah buku kecil berjudul Ma’alim fi Ath Thariq. Dan tafsir Al-Qur’an dengan kalimat-kalimat indah berjudul Fi Zhilalil Qur’an yang beliau tulis semasa di penjara. Kesibukannya dalam kerja dakwah dan jihad, menghidupkan ilmu dalam karya, membuat beliau tak sempat meminang bidadari dunia.

Inilah sedikit contoh tentang jomblowan mulia, yang membuat hidupnya berharga dengan karya dan kebermanfaatan yang besar bagi umat. Bagaimana dengan kita, Sobat? Sudahkah kita mengabdikan diri untuk agama ini, mengisi masa jomblo dengan sebesar-besar manfaat bagi umat? Sudahkah kita menjadikan masa jomblo menjadi berharga dengan karya dan prestasi akhirat?

Semoga kita dapat mengisi waktu saum kita sebelum tiba waktu berbuka dengan kerja-kerja ketaatan dan bersibuk dalam kebaikan. Semoga masa jomblo dapat kita pergunakan sebagai sebaik-baik kesempatan beramal salih sebelum menyempurnakan amal salih bersama pasangan hidup yang membawa berkah. Semoga kita selalu dibimbing dan diberi pertolongan oleh-Nya. Allahumma aamiin…

Siapakah jomblo yang dirindukan bidadari surga? Kamu, iya kamu yang menyempatkan membaca tulisan ini di masa penantianmu dan sibuk berkarya untuk umat.[]


Picture Source by Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Seberkas Cahaya
Next
Kekuatan Motivasi Mengundang Kesuksesan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram