Jangan Makan Daging Saudaramu

Jangan

Jangan makan daging saudaramu, karena ini bisa memproduksi dosa yang berakibat pada berkurangnya pahala kebaikan kita.

Oleh. Isty Da’iyah
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Hai, Sob, ternyata salah satu tanda kesempurnaan iman seorang muslim, dapat dilihat dari sejauh mana seseorang bisa menahan diri dari gibah, gosip, dan mencela. Hal ini karena godaan untuk melakukannya sangat besar. Karena banyak orang senang terhadap isu, rumor, dan kabar burung. Terlebih yang dibumbui dengan kecurigaan, kebencian, permusuhan, dan hasad, yang berakibat pada perbuatan mencela.

Jangan Makan Daging Saudaramu

Sobat, pernahkah kalian mendengar istilah jangan makan daging saudaramu? Yup, sebuah perumpamaan bagi seorang muslim yang suka membicarakan kejelekan saudaranya. Hal ini dilarang dalam Islam lo.

So, jangan suka melakukannya, ya, Sob! Karena ini bisa memproduksi dosa, yang berakibat pada berkurangnya pahala kebaikan kita. Sayang bukan? Pahala yang sudah kita kumpulkan susah-susah malah hilang diambil orang.

Mau tahu? Mengapa orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain diibaratkan dengan pemakan daging saudaranya sendiri? Begini ceritanya!

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. jika beliau senang berkumpul dengan para sahabat-sahabatnya dalam majelis. Suatu ketika ada salah satu sahabat yang pergi meninggalkan majelis tersebut, lalu ada sahabat yang lain berkomentar negatif tentang sahabat yang baru saja pergi itu. Setelah itu Nabi langsung menyahut, “Sela-salailah gigimu dengan memakai tusuk gigi!”

Hal ini membuat para sahabat terheran-heran mendengar perkataan beliau. Sahabat yang ditegur Rasulullah saw. bertanya, "Kenapa saya harus menyelai gigi saya, wahai Rasulullah? Memangnya saya makan daging?”

Ternyata sahabat tersebut belum juga menyadari kesalahannya. Akhirnya sebagaimana diungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tabrani, Nabi saw. menjelaskan:

"Sesungguhnya kamu baru saja menyantap daging saudaramu!”

Barulah sahabat itu tersadar bahwa apa yang ia lakukan itu sungguh sebuah perilaku kanibalisme yang sangat kejam, tidak kurang sadisnya dari memakan daging saudaranya secara langsung.

So, sekarang sudah tahu 'kan? Bahwa menggunjing saudaranya itu tidak boleh.

Salah Satu Cabang Iman

Sobat, tahukah kalian salah satu cabang iman terpenting? Menjaga kehormatan orang lain dengan tidak menggunjingnya adalah salah satunya. Kita tidak boleh merusaknya dan menjaganya dengan cara menahan diri dari mencari-cari kesalahan dan berusaha menutupi aib sesama muslim. Caranya adalah dengan tidak menggunjingnya dan mengumbar kebencian dengan cara menyebarkan isu, gosip, dan hal-hal yang bisa mencemarkan nama baik orang lain.

So, kehormatan manusia dalam Islam memang harus dijaga, karena hal ini adalah salah satu tujuan ditegakkannya syariat, lagi pula menutup aib merupakan salah satu akhlak yang dianjurkan. Karena Allah Swt. setiap saat selalu menutup aib-aib hambanya. Oleh karenanya Allah Swt. sangat menyukai orang yang menutup aib saudaranya.

Jangan Buka Aib

Sobat tahu tidak, mengapa Islam sangat menekankan kita untuk menjaga kehormatan dan menutup aib orang lain dengan cara tidak menggunjingnya? Karena diri kita sesungguhnya juga punya aib-aib yang telah ditutup Allah Swt. Sehingga tidak pantas kita membuka aib orang lain yang telah Allah tutup.

Bayangkan jika sekiranya Allah membuka aib kita, siapa yang akan menghormati kita? Barangkali orang yang terdekat dengan kita seperti teman, keluarga, dan saudara akan lari dan malu menyaksikan aib kita. Jangankan menghormati dan memuliakan, bisa jadi mereka bahkan menjauh dari kita. Hanya karena Allah Swt. yang menutup aib-aib kita, maka orang di sekitar kita masih mencintai dan menghormati kita.

So, sebagai seorang mukmin tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara menggunjing, ya, Sob! Terlebih berusaha membongkarnya. Tahanlah diri kalian untuk tidak menyelidiki kesalahan orang lain dan tidak pula berusaha untuk mempublikasikannya, sebab hal ini merupakan akhlak tercela.

Sebaliknya, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menutupi rapat rahasia orang lain, kesalahan dan dosa merupakan rahasia yang harus disimpan rapat-rapat bukan malah diumumkan.

Namun, Sob, lain halnya jika kejahatan atau dosa itu dilakukan oleh orang yang sering melakukannya. Dalam Islam orang tersebut digolongkan sebagai fajir.

Kelompok ini sudah biasa berbuat maksiat secara terang-terangan. Mereka tidak malu menunjukkan kefasikannya. Menceritakan aib orang seperti ini tidak dianggap sebagai gibah atau membuka aib orang lain, karena manfaatnya untuk mencegah kemungkaran. hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw. yang artinya:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka kalian wajib mengubahnya dengan tangan (kekuasaan). Jika tidak mampu maka hendaknya diubah dengan lisan. Jika tidak mampu hendaknya dilakukan dengan hati. Yang demikian itu termasuk selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Hal ini juga boleh dilakukan terhadap para pejabat publik yang melakukan korupsi dan kejahatan asusila, serta kejahatan kemanusiaan. Terhadap kejahatan ini Islam tidak memberi toleransi. Dalam diri mereka ada beban yang harus ditanggung yaitu menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

So, kejahatan mereka layak untuk dipublikasikan agar menjadi pelajaran bagi orang lain dan bagi pelakunya. Hal ini diharapkan sebagai hukuman untuk menimbulkan efek jera.

Kehormatan Adalah Nyawa

Sobat, Allah Maha Baik karena Allah Swt. memuliakan manusia dan menghargai nyawanya. Maka manusia memberikan harga yang sama untuk kehormatannya, kemudian dalam rangka memproteksi keduanya dari gangguan pihak lain, Allah Swt. menetapkan hukum yang sama atas segala tindakan kezaliman terhadap keduanya.

Melalui lisan Rasulullah, Allah menegaskan,

“Cukuplah seorang berbuat buruk jika ia meremehkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim)

Itulah sebabnya para ulama merumuskan bahwa di antara tujuan pokok syariat Islam adalah menjaga kehormatan.

https://narasipost.com/motivasi/04/2024/dia-saudaramu-bukan-musuhmu/

Bila saat ini banyak orang dengan mudahnya menggunjing dan menyebut saudaranya dengan julukan yang menyakitkan jika didengar, tentu kemungkinan terbesar disebabkan faktor ketidaktahuan dan tipisnya iman.

Sahabat Umar berpesan, "Jika kalian melihat saudara kalian melakukan suatu kesalahan maka luruskanlah, dan doakanlah agar Allah mengampuninya. Serta menyadarkannya untuk bertobat. Janganlah kalian menjadi pembantu setan untuk bekerja sama mencelakakannya.”

Sobat, bayangkan jika petunjuk ini dapat dilaksanakan dengan baik oleh setiap orang, maka ia akan hidup, mati, dan bangkit secara terhormat.

Langkah Agar Terhindar dari Dosa Menggunjing

Sobat, berikut ini adalah cara agar kita bisa terhindar dari perbuatan tercela tersebut. Padahal kita bisa sangat aktif jika dilibatkan, atau malah aktif melibatkan orang lain dalam membicarakan kejelekan dan kekurangan orang. Langkah-langkah tersebut di antaranya:

Pertama, sibuklah meneliti kekurangan sendiri.
Kita harus menyadari bahwa waktu yang tersedia untuk setiap kita sebagai mukmin sangat terbatas. Kita sadar bahwa waktu yang terbatas harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan, baik dalam rangka mencari keberkahan dunia maupun sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Hal inilah yang menjadi dorongan untuk meninggalkan segala sesuatu yang sia-sia, apalagi melakukan gibah, dan seperti merusak kehormatan orang lain.

Kedua, jangan mencela orang lain.
Kita harus menyadari tentang kekurangan dan kesalahan setiap manusia. Tidak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari dosa. Oleh karena itu, tidak sepantasnya kita menjelekkan dan menghina orang lain. Sebaliknya, jika kita muslim sejati maka kita wajib menghormati saudara sesama muslim.

Ketiga, jangan membalas celaan. Di sekitar kita sangat mudah dijumpai orang yang mulutnya mudah mengucapkan kata celaan. Lisannya sangat mudah untuk meremehkan dan menghina orang lain, pada dasarnya mereka juga tidak suka dihina tetapi karena sudah menjadi karakter dan kebiasaannya, mereka tidak puas jika tidak meremehkan orang lain.

Terhadap orang-orang jahil seperti ini pada dasarnya kita memiliki hak untuk merendahkan dan menghinakan. Hak kita untuk membalas kezaliman dengan perbuatan yang setimpal. Jika mereka memiliki bahan untuk menghinakan kita sesungguhnya kita juga punya bahan yang sama untuk menghinakannya. Akan tetapi ketika kita bersabar kita akan menjadi manusia yang istimewa dan berakhlak mulia.

Katiga, ketika kita dihina dan diremehkan orang lain, maka akhlak Islam mengajarkan kita untuk memaafkan dan tidak membalasnya, itulah kemuliaan akhlak yang diajarkan oleh Islam.

Keempat, membalas dengan kebaikan. Banyak orang yang tidak tahu bahwa membalas kejahatan dan kebaikan adalah sesuatu yang dahsyat. Hanya orang-orang mulia dan berhati emas saja yang bisa melakukannya.

Kelima ,takut akan siksa di akhirat. Media sosial saat ini, sering dijadikan alat penyebar gosip, fitnah dan berbagai tuduhan keji kepada orang. Perbuatan tersebut kurang lengkap rasanya jika tidak disertai dengan celaan. Terhadap hal ini harusnya kita sadar bahwa neraka jahanam telah menanti. Jangan sampai kita melakukan perbuatan tercela tersebut.

So, mudah-mudahan Sobat semua diselamatkan dari perbuatan tercela, termasuk kebiasaan menggunjing. Sehingga Sobat semua terhindar dari siksa neraka dan semoga Allah Swt. selalu memberikan kepada kita petunjuk dan jalan yang lurus menuju surga-Nya. Amin.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com
isty Daiyah Kontributor NarasiPost.Com & Penulis Jejak Karya Impian
Previous
Bukan Sekadar Kapal Perang Biasa
Next
Perdagangan Manusia, Bagaimana Solusinya?
3 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

5 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Mimy muthmainnah
Mimy muthmainnah
10 days ago

Masyaallah barakallah naskah mbaku Isty benar-benar jadi pengingat diri...jazakillah khairan telah menghadirkan naskah ini

Sinta larasati
Sinta larasati
10 days ago

Nasehat untuk kita juga,para emak emak.

Noval
Noval
10 days ago

Artikel yang bermanfaat. Nasihat tanpa menggurui

Zul wijaya
Zul wijaya
10 days ago

Artikel buat remaja, cocok untuk untuk keadaan saat ini. Nasehat yang bagus.

Isty Da'iyah
Isty Da'iyah
10 days ago

Guys, dikala aku kehabisan ide, ternyata ada ide jangan makan daging saudaramu. Jadi dech naskah ini. Ayo kita share ke Sobat Muslim semua.

bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram