Anak Durhaka Marak, Pertanda Apa? 

Anak Durhaka

Anak durhaka makin menjadi akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler yang tidak mampu menjaga bangunan keluarga. Padahal, keluarga adalah kehormatan yang harus dipelihara.

Oleh. Rizki Ika Sahana
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Kisah Malin Kundang, legenda si anak durhaka yang sangat populer di masanya, ternyata kalah sadis dari kisah nyata anak durhaka zaman now, Guys! Pasalnya, Malin Kundang hanya mengusir ibunya, sementara anak zaman now bukan hanya menyakiti hati orang tua atau mengusirnya, tetapi melakukan hal yang lebih mengerikan lagi. Mereka bahkan tega membunuh hanya karena persoalan sepele. Parah banget!

Cuma gara-gara sakit hati karena dimarahi ayahnya misalnya, K yang masih berusia 17 tahun dan P adiknya, 16 tahun, menusuk ayahnya itu menggunakan sebilah pisau hingga tewas. Kejadian ini belum lama, Guys, terjadi di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur! (liputan6.com, 23-06-2024)

Yang bikin geram, kemarahan ayahnya itu ternyata bukan tanpa sebab. Ia marah karena dua orang anak gadisnya, yakni si kakak-beradik kedapatan mencuri uangnya.

Ya Allah, benar-benar di dengkul, ya, logika mereka. Jelas-jelas salah, bukannya minta maaf, malah marah dan menyerang fisik hingga menghilangkan nyawa ayah kandungnya.

Terus ada lagi nih, Guys, yang juga gak masuk akal. Seorang anak di Pesisir Barat, Lampung, membunuh ayahnya yang strok karena kesal diminta mengantar ke kamar mandi. (enamplus.liputan6.com, 21-06-2024)

Bayangkan, Guys, secapek-capeknya kita, masa iya diminta tolong ortu justru membunuh. Sementara, sedari bayi merah sampai segede sekarang, kita sudah banyak menyusahkan ortu lahir dan batin. Kok gak sadar, ya? Subhanallah.

Yang bikin heran, pada kenapa sih orang-orang ini? Ada apa dengan mereka yang tega berbuat kejam, bahkan kepada ortu sendiri? Apa yang salah?

Sungguh tak lain dan tak bukan, biangnya karena penerapan sekularisme kapitalisme dalam kehidupan kita, Guys! Sekularisme kapitalisme telah merusak dan merobohkan pandangan yang benar mengenai keluarga.

Bahwa keluarga adalah bangunan cinta yang harus dijaga. Keluarga adalah kehormatan yang harus dipelihara. Keluarga adalah tempat saling support, mengasihi, dan menasihati untuk meraih surga Allah. Semua itu nyaris sirna. Sekularisme kapitalisme telah merenggut pemahaman ini, Guys!

Jadinya, keluarga hari ini tuh cuma institusi biologis, cuma terminal tempat numpang makan dan tidur, hampa tanpa kasih sayang juga jauh dari semangat fastabiqul khairat di dalamnya.

Padahal Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

“Wahai orang-orang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sistem Sekularisme Biang Masalah

Sekularisme juga telah nyata melahirkan manusia-manusia miskin iman. Mereka bahkan gak mampu mengontrol emosinya, mentalnya rapuh, kesabarannya setipis tisu, serta jiwanya kosong, Guys! Bahkan meski badannya tinggi besar, ya, kematangan berpikir dan kemampuan pengelolaan emosinya sangat kerdil. Miris banget!

https://narasipost.com/opini/01/2021/anak-durhaka-ibu-terpenjara/

Terus, karena kapitalisme juga menjadikan materi sebagai tujuan, maka atmosfer yang terwujud di tengah masyarakat kita adalah sikap abai kepada keharusan untuk birrul walidain. Kamu merasakan itu, gak? Coba perhatikan di sekitar tempat tinggalmu atau konten-konten keseharian di media sosial! Kalau ada anak yang berbakti kepada ortu, pasti dibilang makhluk langka. Karena memang seribu satu yang kayak gitu!

Penyelenggaraan sistem pendidikan ala kapitalisme yang sekuler juga gak mendidik anak untuk birrul walidain. Sistem pendidikan hari ini, justru lebih mementingkan perolehan nilai tinggi untuk mata pelajaran. Pemahaman tentang urgensi birrul walidain itu nomor sekian. Bahwa birrul walidain adalah bagian dari ketaatan kepada Rabb yang akan mendatangkan keridaan-Nya dan memasukkan setiap orang beriman ke dalam janah. Akhirnya sama sekali tak ada dalam benak generasi kita. Jadinya, ya wajar, kalau kemudian lahir generasi yang rusak kepribadiannya, rusak cara berpikir dan berperilakunya, serta rusak pula hubungannya dengan Allah.

Nyata banget, ya, penerapan sistem hidup kapitalisme telah gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal gak terpelihara. Manusia pun semakin dijauhkan dari tujuan penciptaannya, yakni sebagai hamba dan khalifah fil ardh. Manusia justru didorong hidup hanya untuk memperturutkan hawa nafsunya. Subhanallah!

Hal ini bertolak belakang dengan Islam yang mendidik generasi menjadi generasi berkepribadian Islam. Islam menyelenggarakan sistem pendidikan yang mewujudkan generasi dengan pemikiran dan perilaku luhur. Generasi semacam ini akan berbakti dan hormat kepada orang tuanya, memiliki pola pikir cemerlang, serta memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi dengan baik.

Untuk menjauhkan generasi dari kemaksiatan sekaligus tindak kriminal, Islam bukan hanya mencegah melalui upaya preventif, yakni menyelenggarakan sistem pendidikan yang andal tadi, Guys! Islam juga memiliki sistem sanksi yang mumpuni. Islam menegakkan sistem sanksi yang membuat jera sehingga dapat mencegah semua bentuk kejahatan termasuk kejahatan anak kepada orang tua. Sistem sanksi Islam bersifat adil, gak pandang bulu, pun gak bisa dibeli dengan uang. Para hakim dan perangkat lainnya adalah orang-orang bertakwa, produk sistem pendidikan Islam yang juga bervisi dunia maupun akhirat.

Masyaallah, bagaimana kita gak rindu kepada tegaknya sistem Islam, Guys?! Sebab hanya sistem Islam yang bisa mengeluarkan kita semua dari angkara murka dan ancaman menjadi makhluk hina yang nyata. Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Rizki Ika Sahana Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Botulisme, Penyakit Langka yang Menghantui Rusia
Next
Server PDN Diretas Hacker
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram