Manusia Rebahan? Say No!

Manusia Rebahan

Manusia rebahan sambil main game, scroll sosmed, hingga kecanduan smartphone adalah musibah. Mereka harus diselamatkan agar terhindar dari sifat malas dan lalai.

Oleh. Sulastri Abduh
(Kontributor NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Guys, kalian masih ingat tidak, wabah virus Covid-19 (Corona) yang menjangkiti hampir seluruh wilayah di dunia di tahun 2020 hingga beberapa tahun setelahnya? Bukan hanya trauma, peristiwa itu juga ternyata menyisakan hal lain yang mana kita lebih patut waspada.

Yup! Kecanduan smartphone, tak kenal waktu tak kenal lelah. Wabah memang telah memaksa kita akhirnya lebih banyak hidup di dunia maya dan hiburan layar kaca. Tapi setelah wabah dadah bye-bye, kecanduan gawainya malah nempel tak mau pergi, Say.

Generasi hari ini sepanjang hari tak pernah kelihatan. Dikira sibuk, tahunya rebahan. Bersosial media, bermain game, atau tongkrongi bias-bias yang rupawan. Dipanggil emak pun menyahut kagak, malah pura-pura pingsan. Tidak salah kemudian jika akhirnya muncul istilah ‘kaum rebahan’.

Lalu siapa yang salah? Virus Corona atau smartphone kalian?

Ups! Stop dulu mengambinghitamkan. Simak baik-baik penjelasan di bawah, ya.

Bahwa tidak ada yang salah dengan smartphone kita, apalagi dengan virus Corona. Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Anbiya' ayat 83

وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, "(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”

Wabah itu adalah ketetapan Allah, sebagaimana apa yang ditetapkan Allah kepada Nabi Ayub. Kita tidak boleh mengutuk apalagi menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan. Seharusnya musibah yang ditimpakan justru semakin menjadikan kita sebagai hamba yang taat karena takut pada kuasanya Allah.

Begitu juga tentang smartphone kita. Sebagaimana kaidah syarak yang menjelaskan:

اْلأَصْلُ فِي اْلأَعْيَانِ اْلإِبَاحَةُ وَالطَّهَارَةُ

Artinya: “Hukum asal benda adalah suci dan boleh dimanfaatkan.”

Maksudnya, selama tidak ada dalil yang mengharamkan, maka semua benda itu boleh digunakan. Termasuk smartphone kita ya, Guys.

Hanya yang jadi masalah kemudian, bagaimana kita akhirnya memanfaatkan benda ini agar tidak  justru menjatuhkan kepada hal-hal yang sekadar mubah apalagi haram? Astagfirullah. Karena tidak bisa dimungkiri smartphone secara tidak langsung telah membuat banyak orang lalai dalam beragama. Menunda salat bahkan tidak salat karena keasyikan bermain game, menjadikan media sosial sebagai ajang flexing (pamer), buka aurat dan aib, gibah, dan sebagainya, atau menonton tayangan-tayangan tidak mendidik yang menjurus kepada kekerasan atau drama baperan yang mewajarkan aktivitas pacaran. Naudzubillah.

https://narasipost.com/teenager/04/2023/nuzulul-quran-kaum-rebahan/

Kegiatan di dunia nyata pun mulai teralihkan. Belajar nanti kalau ada ujian, silaturahmi nanti kalau ada kesempatan, ikut kajian pun mulai ditinggalkan dan akhirnya dakwah pun tak berjalan. Ini menjadikan masalah di kehidupan kita tak kunjung terselesaikan karena manusianya telah berubah menjadi manusia rebahan. Miris, ‘kan?

Ditambah kurangnya peran negara dalam menyaring hadirnya berbagai aplikasi dan fitur-fitur terbaru yang mengkhawatirkan, membuat smartphone semakin menjadikan pemiliknya terlalaikan. Tayangan pornografi, pinjaman riba online, dan aplikasi judi online masih bisa diakses dengan mudah hari ini tanpa larangan dan sanksi dari pihak yang berwenang.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa peran negara dan sistem apa yang diterapkannya sangat penting dalam menghentikan laju fenomena manusia rebahan.

Negara yang masih menerapkan sistem sekuler kapitalisme tidak akan berorientasi pada keberlangsungan hidup masyarakat, melainkan hanya demi cuan dan cuan. Selama membayar pajak dan menghasilkan keuntungan, fitur-fitur dan aplikasi semacam ini akan terus ada bahkan sengaja dipelihara. Manusia-manusia rebahan pun akan semakin bertambah. Sangat meresahkan, sumpah!

Manusia Rebahan, Say No!

Berbeda halnya jika negara menerapkan aturan Islam. Konsep dasar negara Islam sejak awal adalah menerapkan aturan dari Allah termasuk mengatur dan melayani rakyat. Apa pun upaya akan dilakukan demi menjaga kelangsungan hidup umat manusia.

Jika ada hal-hal yang dianggap bisa menimbulkan huru-hara dalam kehidupan, seperti fitur smartphone yang melalaikan, maka negara Islam akan melarang dan memberi sanksi bagi pelaku yang terlibat di dalamnya.

Kita kembali diingatkan bagaimana upaya Rasulullah Muhammad saw. dan para sahabat menghilangkan kebiasaan orang-orang di Madinah dulu yang selalu menjamu tamu dengan minuman keras (khamar). Pertikaian dan kerusakan sering terjadi karena kebiasaan minum khamar ini. Banyak pula yang lalai beribadah. Begitu diturunkannya larangan meminum khamar, maka semua minuman keras tersebut langsung ditumpahkan ke jalan-jalan yang ada di Madinah. Bagi yang masih menjualnya akan diberi sanksi. Seperti itulah cara Rasulullah menjaga keberlangsungan kehidupan rakyat kala itu.

Jadi, Guys, jika negara belum mampu melakukan tugasnya, saatnya kita yang bangkit sendiri meninggalkan dunia rebahan. Awali dengan banyak beristigfar dan mohon ampun. Selanjutnya, kembali mengingat bahwa kita di dunia terus berpacu dengan waktu. Hanya sementara. Mati itu pasti, tapi masuk surga itu masih jauh. Bermain gadget sambil rebahan hanya membuang banyak waktu. Tahu-tahu sudah dijemput malaikat maut.

Kalian juga boleh meminta bantuan orang tua atau saudara-saudara kalian yang lebih tua untuk membantu mengontrol penggunaan smartphone dengan menyetor smartphone kalian di waktu-waktu produktif dan penting. Selain mengurangi waktu bermain bersama smartphone, ini akan menjalin komunikasi yang baik antara kalian dan orang tua. Sip dah!

Terakhir, ayo kembali mengikuti kajian-kajian keislaman yang sempat ditinggalkan. Belajar lebih banyak untuk mendalami agama. Selain menyiram rohani, paling penting juga menajamkan akal untuk mencari tahu kebangkitan yang hakiki bagi remaja Islam itu seperti apa. So, manusia rebahan, say no!

Selamat bangkit, teman-teman!

Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Sulastri Abduh Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Polemik Kuota Haji dan Kapitalisasi
Next
Utang demi Anggaran?
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Firda Umayah
Firda Umayah
1 month ago

Generasi memang harus disadarkan dari kebiasaan rebahan dengan smartphone agar bisa menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat untuk Islam dan kaum muslimin.

bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram