Gue yang Bablas, atau Loe yang Bebas?

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat."
(QS. An-Nur : 30-31)


Oleh : Messy Ikhsan
(Novelis Dan Aktivis Dakwah Kampus)

NarasiPost.Com-Hello Guys! Pada tahu berita yang lagi viral, tidak? Seorang remaja putri yang berumur 17 tahun asal Kalimatan Selatan menjadi korban pelecehan seksual oleh 17 pria. Nauzubillah summa nauzubillah.

Tentu hal itu bikin ngeri, marah, geram sekaligus sedih, kan, Guys? Kenapa peristiwa sekeji ini bisa terjadi? Nah, Setelah ditelusuri lebih mendalam, ternyata, para pelaku adalah teman korban sendiri, termasuk Doi dari korban. Astagfirullah!

Seharusnya, teman yang baik akan saling menjaga, bukan malah menyakiti salah satu pihak. Si Doi yang berlindung di balik kata cinta, seharusnya menjaga si perempuan, dong, bukan malah ikutan untuk menyakiti korban! Dari sini, semakin jelas bobroknya aktivitas pacaran. Makanya, dalam Islam diharamkan aktivitas tersebut karena merusak dan mengandung banyak mudarat.

Dalam situasi seperti ini, netizen terbagi menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah yang royal dalam membela pelaku. Mereka beralasan bahwa si perempuanlah yang memancing kejadian. Misalnya, karena mengenakan baju ketat dan merangsang nafsu, sehingga membuat lelaki tertarik dan berbuat khilaf. Jadi, yang berhak disalahkan adalah perempuan.

Ada pula kubu yang royal membela pihak korban. Mereka menganggap bahwa tak ada yang salah dengan pakaian ketat. Toh, meskipun mengenakan pakaian tertutup rapat, kalau isi kepala lelaki itu negatif, ya … tetap saja terangsang berbuat buruk. Jadi, yang berhak disalahakan adalah lelaki.

Ujung-ujungnya, lahirlah kalimat yang mencari pembenaran, "Bukan gue yang bebas, tapi loe yang bablas." "Bukan baju gue yang mini, tapi otak loe yang mini?" Benarkan pernyataan di atas?

Buah Penerapan Sistem Sekular

Miris sekali melihat kondisi pemuda dalam sistem Kapitalis. Semua orang hidup bebas tanpa batas. Norma-norma agama tidak lagi diperhatikan. Semuanya ditebas habis mengikuti keinginan nafsu, sebagai buah sekulersime yang diterapkan di negeri ini. Agama hanya mengatur ibadah ritual belaka. Sementara, dalam kehidupan sehari-hari, aturan agama dicampakkan.

Dengan demikian, bukan menjadi rahasia umum lagi, bahwa kasus pelecehan seksual terus meningkat, seakan tidak ingin berhenti. Ditambah lagi hukuman yang belum memberikan efek jera. Perlindungan bagi perempuan juga jauh dari harapan. Lantas, masihkan kita bertahan dalam lingkaran setan?

Islam Sebagai Problem Solver

Padahal, dalam Islam sudah ada aturan super lengkap tentang hubungan antara lelaki dan perempuan. Tidak boleh ada interaksi tanpa kepentingan syar'i, seperti dalam pendidikan, kesehatan, muamalah, pengadilan, dan lain-lain.

Selain itu, perempuan diperintahkan untuk menundukkan pandangan, menggunakan pakaian syar'i dan tidak tabaruj. Sementara, lelaki juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan, menjaga mata, hati, dan kemaluan, dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Allah berfirman :

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat."
(QS. An-Nur : 30-31)

Ditambah lagi dengan perlindungan super ketat dari Khalifah yang menjamin perlindungan dan keamanan bagi setiap rakyat, terutama kaum perempuan yang laksana intan berlian. Kita juga bisa belajar dari Khalifah Mu'thasim Billah yang mengirim tentara sangat panjang hanya untuk menyelamatkan satu perempuan saja. Masyaallah!

So, stop cari pembenaran dan saatnya mencari kebenaran. Stop juga bagi lelaki dan perempuan saling menyalahkan. Lebih baik, kita saling menjaga dan menundukkan pandangan sesuai yang diperintahkan Al-Qur'an. Bukankah itu jauh lebih baik, Kawan? Mari, bersama kita berjuang menerapkan aturan Rabb semesta alam.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Beribadah untuk Sekeping Kenikmatan Dunia
Next
Data Pribadi Warga Menguap, Siapa yang Bertanggung Jawab?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram