(Bukan) Salah Nikah Muda

"Nikah muda tak cukup hanya menjadi tren. Akan tetapi, harus diikuti dengan persiapan yang matang, yaitu persiapan ilmu, fisik, dan materi sehingga bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik."


By: Messy Ikhsan
(Novelis dan Founder Diksi Hati)

NarasiPost.Com-Hello guys! Beberapa waktu lalu, jagat maya sempat digegerkan dengan kabar perceraian idola para milenial masa kini. Padahal, mereka menjadi inspirasi anak muda yang ingin nikah muda.

Sama-sama memiliki tampang good looking, sukses karir dan materi, ditambah dengan penampilan yang religius, semakin menambah pesona pasangan muda tersebut.

Mereka juga sering membuat konten romantis, lho. Adem ayem sekali kisah bahtera rumah tangganya, jauh dari gosip miring dan omongan julid para netizen. Siapa coba yang tidak iri melihat kisah mereka? Bisa membuat jiwa jomlo meronta-ronta. Hihi.

Akan tetapi, tiba-tiba sang istri malah update status tentang penceraian, disusul dengan sang suami yang membuat status demikian. Pasangan yang terkenal dengan image romantis, eh, malah berujung dengan tragis. Ini membuat para netizen penasaran dan bertanya-tanya, kok bisa, sih?

Lebih Baik Pacaran daripada Nikah Muda

Sistem Kapitalis yang menuhankan asas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan, melahirkan generasi muda yang memiliki karakter hedonis dan liberal. Mereka hidup sesuka hati dan mengagungkan hawa nafsu, bukan lagi berdasarkan syariat dan standar ilmu.

Generasi muda yang bebas tanpa batas, mengikuti budaya Barat secara mentah-mentah, tanpa memfilter budaya yang masuk terlebih dahulu. Salah satunya seperti budaya pacaran.

Dewasa ini, pacaran dianggap sesuatu yang lumrah, bahkan dipandang perlu bagi generasi muda. Ini untuk membuktikan eksistensi diri di tengah lingkungan. Tak jarang, orang tua yang risau dan gelisah, jika anak-anak tidak pacaran dan punya pasangan. Mereka khawatir anaknya LGBT, abnormal, dan stigma negatif lainnya. Astagfirullah.

Padahal, dalam Al-Quran sudah sangat jelas, Allah melarang segala sesuatu yang mendekatkan pada zina, termasuk pacaran sebagai salah celah membuka pintu maksiat. Memang, tidak semua orang yang berpacaran berakhir zina. Akan tetapi, pacaran adalah salah satu pintu mendekati zina.

Gencarnya dakwah tentang keharaman pacaran, membuat generasi muda perlahan sadar dan ingin memulai hubungan yang diridai Allah, yaitu pernikahan. Nikah muda sebagai salah satu alternatif untuk menghindari pacaran.

Nikah muda tak cukup hanya menjadi tren. Akan tetapi, harus diikuti dengan persiapan yang matang, yaitu persiapan ilmu, fisik, dan materi sehingga bisa mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik. Jika tidak, bahtera itu bisa hancur dan berujung perpisahan.

Nah, dari fakta di atas, lahirlah stigma negatif tentang nikah muda, seperti lebih baik pacaran lama dari pada nikah muda. Alasannya adalah untuk mengenal karakter pasangan yang membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Padahal, pacaran lama juga tak menjamin pernikahan bisa langgeng. Betul apa benar?

Perbanyak Edukasi, Bukan Provokasi

Hari ini, kita tidak hidup dalam naungan sistem Islam. Sejak runtuh pada 3 Maret 1924, umat tersusupi dengan racun pemikiran barat, tanpa ada pemimpin yang bisa mengayomi dan menjadi perisai untuk melindungi kemurnian pemikiran umat.

Selain itu, kita terus gencar mendakwahkan Islam sebagai solusi tuntas setiap permasalahan dan memaksimalkan segala pontensi yang dipunya dalam mempersembahkan yang terbaik untuk kebangkitan Islam.

Siapa pun pihak yang punya pengaruh besar dan terkenal di tengah masyarakat, seperti memiliki segudang follower dan segunung kekuasaan, naik artis, selebgram, penguasa, pejabat, dan lain-lain, gunakan itu untuk mengedukasi masyarkat terkait hal positif, termasuk tentang materi dan terori nikah mudah.

Nikah mudah bukan karena hawa nafsu saja, bukan juga untuk eksistensi dan posting konten uwu saja. Nikah muda mestinya karena mengikuti tuntunan nabi, menggenapkan separuh agama dan mengoptimalkan ibadah.

Maka, jadikan Rasulullah sebagai idola dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Hendaknya masing-masing memahami hak dan kewajiban sebagai suami-isteri, sebagaimana yang sudah diatur dalam syariat Islam, bukan menjadikan artis sebagai idola, yang notabene manusia biasa dan tidak terlepas dari kesalahan.

So, nikah muda tidak salah, kok, guys. Generasi muda perlu banyak edukasi, bukan provokasi. Sebab, menikah itu bukan masalah umur. Akan tetapi, masalah ilmu dan kesiapan yang terukur. Masyaallah.[]


photo : google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Daulat Semu
Next
Dua Mahkota buat Ayah Bunda
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram