Cantik Itu …

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian. Tapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim dan Ibnu Majah )


Oleh: Deena Noor

NarasiPost.Com-Sobat, menurutmu, wanita tercantik di dunia itu siapa? Yakin, pasti akan muncul jawaban yang berbeda. Ada yang menyebut K-Pop idol sebagai wanita tercantik di dunia karena memang trend dunia sekarang tengah dikuasai oleh Korean Wave. Ada pula yang menyebut nama-nama pesohor Hollywood dan Bollywood yang tenar karena kecantikannya, atau artis-artis dalam negeri yang datang silih berganti. Bahkan, bisa jadi ada yang menyebut ibunya sendiri sebagai wanita tercantik sedunia. Sah-sah saja sih, karena setiap orang punya penilaian masing-masing.

Seorang akademisi dari Inggris, Doktor Chris Solomon dari University of Kent berusaha menemukan definisi ‘keindahan yang ideal.’ Ia menggunakan teknologi yang biasa dipakai dalam membuat kompilasi foto buronan guna merancang 100 profil wajah yang berbeda untuk kemudian dipilih oleh para responden. Hasilnya, perempuan yang dinilai berwajah ideal adalah Emma Stone atau Natalie Portman yang memiliki alis tebal, wajah berbentuk hati dan bibir yang penuh.(cnnindonesia.com, 06/04/2015)

Tentu saja ‘keindahan ideal’ itu hanya cocok di dataran Inggris sana. Di tempat berbeda, kriteria cantik juga akan menyesuaikan dengan kearifan lokal. Suku Mauritania di Afrika misalnya, menganggap wanita cantik adalah yang bertubuh gemuk. Suku Dayak di masa lalu, menentukan cantiknya wanita dari telinganya yang panjang. Semakin panjang telinganya, maka dianggap semakin cantik. Suku Karen, Thailand, menilai cantik identik dengan leher yang panjang. Ada pula suku Fula di Afrika, memiliki kriteria cantik dengan tato di sekujur wajah, dahi jenong dan lebar. Dan masih banyak lagi perbedaan kriteria cantik di seluruh penjuru dunia.

Dari situ, terlihat bahwa kecantikan itu relatif. Antara satu orang dengan yang lainnya memiliki penilaian berbeda. Kulit putih, hidung mancung dan tubuh langsing bagi sebagian orang adalah kecantikan. Namun, bagi yang lain, kulit sawo matang, bahkan hitam, rambut ikal, mata bulat, tubuh yang berisi, merupakan ciri wanita cantik. Penilaian cantik bagi setiap orang bahkan bisa saling bertolak belakang.

Jelas sekali, standar kecantikan yang ditetapkan manusia nyatanya memiliki garis beda yang tebal dan beragam. Namun, ada satu benang merah dari seluruh kriteria cantik tersebut, yakni dinilai dari segi fisik. Ciri-ciri cantik yang disebut di atas hanya memberikan penilaian dari sisi fisik seorang wanita.

Penilaian seseorang akan sesuatu dipengaruhi latar belakang budaya, norma, adat, nilai-nilai, dan pandangan tentang kehidupan. Maka, akan sulit menyamakan kriteria cantik dari beragam persepsi yang dilatarbelakangi perbedaan tersebut.

Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan seperti sekarang ini, sudah pasti standar kecantikan akan meminggirkan prinsip agama. Kecantikan ditentukan dari ukuran materi menurut pemikiran manusia. Di berbagai media, wanita ditampilkan untuk menunjukkan standar kecantikan ala kapitalisme. Berbagai produk kecantikan bersliweran di hadapan mata dengan menampilkan model wanita untuk melariskan bisnis para kapitalis. Kaum hawa mengiklankan cantik versi mereka kepada sesamanya.

Gempuran standarisasi cantik di alam kapitalis membuat kaum wanita mau tak mau harus mengikutinya. Demi untuk mencapai kecantikan yang paripurna, para wanita bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka melakukan berbagai perawatan, mulai dari yang minimalis dan murah meriah, hingga yang eksklusif, mahal dan ribet. Meskipun harus menahan sakit, mereka rela menjadi cantik seperti yang ditampilkan oleh para artis tersohor.

Bukan hanya dana, waktu pun harus diberikan begitu banyaknya untuk merawat kecantikan fisik, sehingga waktu untuk merawat ‘otak’ seringkali terabaikan. Apalagi waktu untuk merawat iman, banyak terpakai untuk menjaga cantiknya fisik, yang sebenarnya cepat memudar. Kecantikan fisik seolah menjadi yang utama. Sering kita dengar, “Cantik-cantik kok beg*!” Atau ada juga yang mengatakan, “Cantik, tapi akhlaknya minus.”

Kalau pun ada slogan brain, behavior, and beauty, ujungnya tetap bertumpu pada hasil materi yang didapat. Cantik di alam kapitalis ditentukan dari seberapa banyak ia bisa mendatangkan keuntungan dan kepuasan lahiriah semata. Semakin dituruti, semakin merasa kurang dan memacu untuk terus melakukan upaya lainnya demi menjadi cantik sempurna. Ini menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi para pemilik modal.

Berbeda halnya dalam Islam yang memiliki standar kecantikan yang jauh lebih sederhana, tetapi elegan dan pasti. Yang menentukan standar kecantikan bukanlah manusia dengan akalnya yang lemah, bias dan terbatas, melainkan Allah yang menciptakan manusia dan kecantikan itu sendiri.

Dalam hadist dikatakan:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian. Tapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim dan Ibnu Majah )

Ini menunjukkan bahwa kecantikan fisik bukanlah yang utama. Di mata Allah, yang dinilai adalah hati dan amal hamba. Ketakwaan pada Sang Pencipta itu yang menentukan ‘cantik’ atau tidaknya wanita. Selama hamba itu menetapi jalan taat pada-Nya, maka ia telah mempercantik dirinya di hadapan Tuhan Penguasa Alam Semesta.

Ketakwaan pada Allah tersebut dilakukan dengan sepenuh hati dalam segala kondisi dan waktu. Ia taat sepenuhnya di sepanjang waktu, menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya dan meninggalkan segala yang dilarang-Nya secara totalitas, tidak pilih-pilih mana yang disukai.

Menutup aurat secara sempurna, berbakti kepada kedua orang tua atau patuh pada suami bagi yang sudah menikah, menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, berakhlak baik kepada sesama, taat beribadah, berdakwah memperjuangkan tegaknya syariat Allah adalah sebagian upaya untuk mencapai rida Illahi.

Amal-amal yang dilakukan secara ikhlas dan ihsan inilah yang akan memancarkan kecantikan yang sebenarnya. Setiap tetesan keringat yang dicurahkan untuk menjadi pribadi taat pada-Nya akan menjadi penghias wajah muslimah sehingga nampak glowing dengan indahnya. Kecantikan yang dipoles dengan ketaatan sepenuhnya pada Allah merupakan kecantikan yang tak lekang oleh waktu.

Dengan mengikuti standar kecantikan ala Islam, kaum wanita tak perlu repot-repot menghabiskan uang dan waktu berjam-jam untuk bersolek mempercantik lahiriahnya. Justru sebaliknya, para muslimah akan fokus untuk mempercantik diri dengan amal saleh sebanyak dan sebaik mungkin. Cantik di hadapan Rabbnya jauh lebih penting daripada dipandang menawan oleh mata manusia yang sering kali tersilap.

Semua wanita pada dasarnya cantik. Namun, yang menjadikannya cantik sempurna adalah kesalehannya. Rasulullah saw. bersabda,

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah” (HR. Muslim).

Inilah panduan bagi kaum muslimah untuk menjadi cantik yang sesungguhnya. Jadi, jangan khawatir bila memiliki wajah yang tak sesuai kriteria cantik menarik versi manusia. Tak usah sedih bila kulit kita tak sebening artis-artis Korea atau tak berhidung mancung seperti artis-artis Barat. Kamu tak akan ditolak masuk surga lantaran tak berkulit putih atau berparas menawan. Namun, kamu akan bebas masuk surga dari pintu mana saja, asalkan amalmu mencukupi untuk itu.

Hiasi diri dengan sebanyak mungkin melakukan amalan di jalan ketakwaan pada-Nya. Maka, dengan itu kamu layak menyandang wanita cantik yang sesungguhnya.
Wallahu a'lam bish-shawab[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Ketika Hari Menjadi Abu-Abu
Next
Inkonsistensi Penguasa di Balik Larangan Mudik
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram