Saya Muslim, Tidak Merayakan Tahun Baru!

"Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka." (HR. Abu Dawud).


Oleh: Ana Nazahah

NarasiPost.com - Jangan membiasakan sesuatu karena alasan sudah terbiasa. Sekalipun itu disepakati dan dilakukan oleh mayoritas manusia. Karena kesepakatan bersama belum tentu benar di mata Allah Swt. Sebagaimana merayakan tahun baru Masehi, sudahkah kita pertimbangkan bagaimana Syara' memandang? Bagaimana jika ternyata Islam justru melarang, akankah budaya ini kita pertahankan?

Sebagai Muslim, sejatinya kita wajib paham. Sekecil apapun perbuatan akan Allah mintai pertanggungjawaban. Karena komitmen menjadi seorang Muslim itu artinya kita telah sepakat menjadikan aturan Islam sebagai satu-satunya pedoman kehidupan. Satu-satunya aturan yang akan melahirkan menusia terhormat, beradab, hidup penuh rahmat.

Tahun baru Masehi adalah produk peradaban Barat. Tidak diajarkan dalam Islam. Bahkan bertentangan dengan Islam. Sistem kalender Tahun baru Masehi dipengaruhi oleh nilai-nilai dan paham agama dan kepercayaan bangsa- bangsa penyembah Tuhan lain, selain Allah Swt.

Teman-teman mungkin sudah pernah dengar, setiap Muslim diharamkan ikut-ikutan dan tasyabbuh (menyerupakan diri) dengan orang-orang kafir. Ikut menyelamati mereka dalam aktivitas ritual keagamaan mereka. Bersuka cita, dan bersama merayakankannya. Ini sama saja kita menyetujui sebuah kemungkaran. Absurd sekali bukan? Di mana di saat yang sama Allah perintahkan kita untuk mencegah kemungkaran.

Coba kita buka kembali lembaran sejarah, memperingati tahun baru masehi merupakan pesta dari orang-orang Romawi. Mereka merayakan hari tersebut untuk seorang dewa bernama Janus. Yaitu dewa gerbang yang membuka awalan baru bagi kehidupan mereka. Karena itu bulan pertama dari tahun masehi bernama Januari, yang diambil dari nama Dewa Janus.

Karena itu bagi mereka merayakan tahun baru adalah sesuatu yang istimewa, dinanti-nanti. Dirayakan semeriah mungkin. Dari mulai konvoi di jalanan, pesta kembang api, tiup terompet, konser musik sambil joget-joget, hingga pesta mabuk-mabukan yang tidak sedikit berakhir pada seks bebas. Semuanya bersenang-senang dengan cara-cara asing dan bertentangan dengan ajaran Islam. Lalu, pantaskah budaya ini kita tiru?

Sahabat! Ayo kita kembali pada identitas diri kita sebagai Muslim. Sadarlah meniru-niru atau bahkan mengikuti perbuatan agama lain adalah salah satu perbuatan yang diharamkan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam mengingatkan kita melalui sabda-Nya.

"Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka." (HR. Abu Dawud).

Maukah kita dianggap Rasul sebagai golongan orang-orang kafir? Maukah kita menjadi golongan orang-orang yang tidak dianggap umat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam nanti di yaumil akhir?

Jika kita tidak menginginkan Allah dan Rasul-Nya membenci kita di yaumil akhir, sudahi! Perbuatan mengikuti ritual agama lain ini kita hentikan. Ingatlah! Merayakan tahun baru Masehi bisa saja menghancurkan pondasi iman kita sebagai Muslim. Ridaa dan ikut menyelamati bahkan merayakan keyakinan mereka adalah bentuk lain dari insecure terhadap agama kita sendiri. Mereka membangga-banggakan hari besar mereka, dan kita malah ikut-ikutan. Mereka mencintai keyakinan mereka dan kita ikut suka, merayakan. Lupakah kita bahwa kita Muslim? Toleransi tidak begini!

Kembalilah ke jalan yang benar, jalan petunjuk yang menyelamatkan. Sebagaimana Firman Allah Swt.

إن الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85).

Jika ada yang malah menyelamati kita akan tahun baru. Berani saja, sampaikan dengan tegas. "Saya Muslim, tidak merayakan tahun baru." Memilih tegas terhadap kemungkaran itu wajib. Agar terang benderang mana kebenaran dan mana pula kebatilan. Selain karena iman, mengokohkan Muslim dalam berbuat. Tak ada abu-abu dalam akidah. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Begitu.

Wallahua'lam.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Nikah Syar'i Gerbang Nikah Berkah
Next
Waktu Mati
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram