Hakikat Rasa Malu

Jika rasa malu untuk bermaksiat telah hilang dari benak seorang Muslim maka, hilanglah cahaya dari hatinya, tidak gelisah ketika bermaksiat dan meninggalkan kewajiban.


Oleh: Aminah Darminah, S.Pd.I.
(Muslimah Peduli Generasi)

NarasiPost.com - Ide liberalisme sudah bercokol di tengah-tengah kaum Muslimin. Akibat cengkraman liberalisme yang bediri di atas aqidah sekularisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan, hilanglah rasa malu bahkan tidak kenal rasa malu.

Ibnu Mas'ud menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda: "Sesungguhnya di antara kalam nubuwah (ungkapan kenabian) yang disampaikan kepada manusia adalah "Jika kamu tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu" (HR al-Bukhari). Dalam Hadits tersebut kata berbuatlah sesukamu adalah kalimat perintah yang mengandung konotasi berita yakni berupa ancaman. Rasa malu yang maksud adalah malu kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala.

Kaum liberal adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa malu, terbukti dengan kebiasaan mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala baik dalam ide pendapat maupun perilaku. Kaum liberal banyak melontarkan pemikiran-pemikiran rusak menyamakan khilafah dengan komunis, jihad dengan teroris dan lebih parah lagi orang saleh yang taat ibadah dianggap bibit teroris dan radikal. Menakwilkan makna Al-Qur'an sesuai hawa nafsu.

Berkaitan dengan tindakan, di negeri ini Penguasa tidak punya rasa malu untuk korupsi uang rakyat di saat rakyat menjerit kesusahan, tidak malu mengabdi kepada asing dan aseng, tidak malu menjual kekayaan alam kepada asing, tidak malu ketika menerapkan undang-undang yang justru merugikan dan mengorbankan rakyat.

Kalangan liberal tidak punya rasa malu mendukung para penghina Nabi, mendukung pelaku seks bebas, hubungan sesama jenis. Bahkan terang-terangan tanpa rasa malu menghina keturunan Rosulullah.

Ibnu Qoyyim berkata "salah satu akibat kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu sebagai unsur utama hidupnya hati dia adalah pondasi setiap kebaikan. Maka hilangnya rasa malu dari seseorang berarti sirnanya seluruh kebaikan."

Jika rasa malu untuk bermaksiat telah hilang dari benak seorang Muslim maka, hilanglah cahaya dari hatinya, tidak gelisah ketika bermaksiat dan meninggalkan kewajiban.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda "Iman memilki lebih dari 77 cabang atau lebih dari 60 cabang, yang paling utama adalah ucapan Lailahaillah yang paling rendah adalah menyingkirkan hal yang mengganggu di jalan dan malu termasuk salah satu cabang iman" (HR. Muslim). Dengan rasa malu jiwa seseorang terdorong untuk melakukan kebaikan dan terbentengi dari perbuatan maksiat. Jadi malu bukan sikap seseorang yang tidak mampu berinteraksi dengan orang lain atau tidak percaya diri. Jangan merasa Malu jika hidup sederhana apa adanya demi meninggalkan maksiat, jangan malu dianggap tidak modern karena meninggalkan budaya barat.

Rasa malu akan muncul jika seorang Muslim Makrifat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala, pengagungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'aala. Semakin banyak makrifat seorang hamba kepada Rabbnya semakin bertambah rasa malunya.

Rasa malu kepada Allah harus dibuktikan dengan meninggalkan berbagai macam keburukan dan kekejian serta melakukan kebajikan, menurut Imam al Baidhowi hakikat malu kepada Allah adalah memelihara diri dari segala ucapan dan tindakan yang tidak Allah ridhoi.
Wallahua'lam .

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Lima Pertanyaan Dalam Satu Perjalanan Panjang
Next
Ilusi RUU Minol dalam Sistem Demokrasi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram