Dakwah Wajib, Diam Bukan Solusi

Kita butuh tindakan nyata. Butuh gerak, dan itu dilakukan dengan dakwah. Aktivitas tertinggi yang langsung diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'aala.


Oleh : Ana Nazahah (Revowriter Aceh)

NarasiPost.com - Assalamualaikum shalihah! Kamu tahu nggak bahwa hidup itu pilihan. Seperti kamu memilih menjadi pejuang Islam terpercaya atau menjadi orang biasa yang menyemangati dakwah dari luar jemaah. Memilih memperbaiki diri saja, misalnya. Apapun pilihanmu Allah sudah siapkan rewardnya. Terbaik pilihan, terbaik pula hadiahnya.

Kamu tahukan bahwa Surga itu reward yang paling baik di antara yang paling baik? Muslim mana bersuka rela menyerah mendapatkan Surga. Tak ada! Semua bercita-cita menjadi penghuninya. Tak terkecuali yang minim ibadahnya. Hanya saja, logisnya, bisakah mendapatkan tempat terbaik tersebut dengan ibadah sekadarnya?.

Dewasa ini, semakin terang benderang di hadapan kita, mana kedzaliman mana pula kebenaran yang wajib dibela. Jika kita berada di luar barisan dakwah. Hanya menonton saja dan merasa cukup dengan berdoa memohon kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta'aala Mana bisa dukungan untuk Islam dan dakwahnya bisa terealisasikan. Atau dengan kata lain kemenangan Islam akan semakin lama tegaknya.

Kita butuh tindakan nyata. Butuh gerak, dan itu dilakukan dengan dakwah. Aktivitas tertinggi yang langsung diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'aala.

Bukan tidak boleh berdoa, dan mendukung dakwah dari luar. Hanya saja, sekarang bukan saatnya. Saat Islam dihina dan syariatnya dinista, sungguh tak layak bagi kita sebagai Muslim diam saja. Menyelesaikan dengan doa dan dakwah secara kontinu, adalah kewajiban setiap umat Islam, saat melihat kemungkaran di depan mata.

Aktivitas dakwahlah yang akan menyelamatkan umat dari kebodohan dari mengenal Tuhannya dan hukum-hukum syariat yang wajib ditegakkan. Tanpa dakwah umat akan terus berada dalam kegelapan, kejahiliyahan dan kekufuran. Umat yang jauh dari pemahaman Islam yang benar, adalah pangkal dari segala kemerosotan. Pangkal dari sebagian Muslim menolak Islam dan memusuhi syariat agamanya sendiri. Meski aneh, inilah fakta yang kita lihat hari ini.

Oleh karenanya, dakwah menyadarkan umat terkait pentingnya syariat Islam, terlebih sebagai Muslim, yang Allah perintahkan taat adalah keharusan yang paling tinggi. Menerapkan dan melaksanakan setiap hukum-hukum syarat yang Allah tetapkan adalah perintah qath'i (nggak boleh ada keraguan lagi). Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'aala dalam surat Al-Baqarah Baqarah ayat 208 :

يَايُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu."

Masuk ke dalam Islam secara keseluruhan di sini adalah kita menjalankan seluruh yang Allah perintahkan. Dan larangan mengikuti langkah syaitan adalah larangan berbuat sesuatu yang tidak Allah perintahkan. Karena syaitan bertugas menggelincirkan manusia dari jalan Tuhan.

Seluruh yang terjadi dan menimpa kita hari ini, dakwahlah solusinya. Bagi yang telah tahu membagikan ke yang belum tahu. Sekecil apapun ilmu yang dimiliki. Kebaikan itu wajib dibagi. Disebarluaskan. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104 :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Pribadi beruntung di sisi Allah, adalah capaian tertinggi dari segala capaian yang dirindukan oleh setiap Muslim. Dan itu hanya bisa dididapatkan ketika kita mau menegakkan dakwah di muka bumi. Dengan begitu, posisi umat terbaik bisa kita raih. Melepaskan diri dari belenggu kedzaliman dan penjajahan hari ini, adalah tugas kita bersama. Percayalah, diam bukan solusi!.

Wallahua'lam.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Islam Tegas Melarang Miras!
Next
Menyisir Jalan Setapak ke Surga
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram