Mulianya Tawadhu

"Abdullah bin Al Mubarrok berkata, puncak dari sifat tawadhu yaitu ketika engkau mendudukkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam hal nikmat Allah, bahkan sampai engkau memberitahunya bahwa dirimu tidaklah semulia dirinya." (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)


Oleh: Aya Ummu Najwa

NarasiPost.com - Tawadhu diartikan sebagai sikap rida seseorang apabila dirinya dianggap berkedudukan lebih rendah dari yang seharusnya. Sifat tawadhu ini merupakan sifat yang berada di pertengahan antara sifat sombong dan menghinakan diri. 

Jika kesombongan telah mengakibatkan setan diusir dari surga dan menjadi makhluk terlaknat, maka sikap tawadhu telah berhasil menjadikan Adam dan Hawa sebagai manusia yang diampuni setelah keduanya melakukan dosa. Karena di antara banyaknya ciri dari sifat tawadhu seseorang adalah kemauan untuk mengakui kesalahan dirinya sendiri.

Jika ia laki-laki dan seorang suami, maka salah satu tanda tawadhunya adalah kerelaannya untuk membantu istrinya dalam hal pekerjaan rumah. Dalam hal ini, Rasulullah pun telah mencontohkannya, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membantu pekerjaan rumah istrinya saat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ada di rumah dan beliau akan keluar rumah ketika telah tiba waktunya shalat.

Suatu saat Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah ditanya terkait sikap tawadhu, kemudian beliau menjawab; Tawadhu adalah tunduk dan patuh kepada kebenaran, siapapun yang menyampaikannya akan ia terima, walaupun mungkin kebenaran itu ia dengar dari anak kecil. Bahkan jika mendengar kebenaran itu dari orang yang paling bodoh sekalipun" (Madarij as-Salikin 2/329)

Begitu pula, Imam Al Hasan al Bashri rahimahullah, beliau menjawab dalam pertanyaan terkait tawadhu; menurutnya tawadhu adalah ketika kamu keluar rumah, sedang kamu menganggap setiap muslim yang kamu jumpai adalah lebih baik darimu. (Dalam kitab At-Tawadhu’ wal Khumul hlm 154, juga Ihya Ulumuddin 3/342).

Sedangkan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, telah menjelaskan hakikat dari tawadhu. Beliau memberikan penjelasan dan membedakannya dari sikap menghinakan diri (al-Muhanah). Beliau mengatakan; yang membedakan antara tawadhu dan al-Muhanah (menghinakan diri) adalah jika tawadhu muncul dari ilmu pengetahuan tentang Allah Subhanahu Wa Ta'ala , mengenal asma wa sifat, pengagungan, maupun kecintaan serta penghormatannya, juga dari ilmu tentang diri dan jiwanya secara rinci serta aib dari amalan-amalan juga faktor perusaknya. Dari semua inilah muncul sifat tawadhu.

Tawadhu adalah hati yang merendah karena Allah Subhanahu Wata'ala, ia akan merendahkan hatinya dan memenuhinya dengan rahmat kepada sesama hamba Allah, sehingga ia tidak akan memandang dirinya memiliki kelebihan juga hak atas orang lain. Bahkan ia memandang akan kelebihan manusia atas dirinya dan hak-hak mereka atas dirinya. Dan sifat ini hanya Allah berikan kepada orang yang Dia cintai, muliakan serta dekatkan kepada-Nya. (Kitab Ar- Ruh hlm 273).

Tawadhu mempunyai banyak keutamaan, di antaranya adalah;

Pertama, tawadhu adalah sebab mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yaitu;

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah pada seorang hamba sifat pemaaf kecuali hal itu akan semakin memuliakan diri hamba tersebut. Dan juga tidaklah pula seseorang yang mempunyai sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Kedua, tawadhu adalah sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.

Sudah sifat manusia ia akan lebih menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Hal inilah yang ada pada diri Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadis beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Dan sesungguhnya Allah telah mewahyukan padaku agar memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang membanggakan diri (menyombongkan diri) dan melampaui batas  kepada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Tawadhu sendiri memiliki beberapa ciri:

Pertama, Ia dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan, kekuatan serta peluang untuk berlaku sombong, tetapi ia memilih untuk tidak bersikap sombong karena mengharap keridaan Allah.

Kedua, tawadhu tidak dilakukan secara berlebihan. Jika dilakukan secara berlebihan, tawadhu bisa berubah menjadi sifat sombong dan membanggakan diri.

Ketiga, tawadhu dilakukan pada waktu dan situasi yang tepat. Maka tidaklah mengapa berlaku sombong di depan orang yang sombong. Layaknya sikap berjalan yang tegap dan gagah di depan musuh dalam peperangan untuk menakuti mereka.

Para ulama teladan berbicara tentang tawadhu.

قال الحسن رحمه الله: هل تدرون ما التواضع؟ التواضع: أن تخرج من منزلك فلا تلقى مسلماً إلا رأيت له عليك فضلاً .

"Al Imam, Hasan Al Bashri mengatakan, Apakah kalian tahu apa itu tawadhu?Tawadhu adalah ketika engkau keluar dari rumahmu kemudian engkau bertemu dengan seorang muslim. Dan engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu."

Imam Syafi'i Rahimahullah pun berkata tentang tawadhu,

يقول  الشافعي: « أرفع الناس قدرا : من لا يرى قدره ، وأكبر الناس فضلا : من لا يرى فضله »

"Berkata Imam Asy Syafi’i, manusia yang paling tinggi kedudukannya ialah manusia yang tak pernah menampakkan kedudukannya. Sedang manusia yang paling mulia ialah manusia yang tak pernah menampakkan kemuliaannya." (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304)

Juga Imam Abdullah bin Mubarrok pun juga mengatakan terkait sifat tawadhu,

قال عبد الله بن المبارك: “رأسُ التواضعِ أن تضَع نفسَك عند من هو دونك في نعمةِ الله حتى تعلِمَه أن ليس لك بدنياك عليه فضل.

"Abdullah bin Al Mubarrok berkata, puncak dari sifat tawadhu yaitu ketika engkau mendudukkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam hal nikmat Allah, bahkan sampai engkau memberitahunya bahwa dirimu tidaklah semulia dirinya." (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298)

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

"Ya Allah, tunjukilah aku akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki kepada baiknya akhlak tersebut kecuali Engkau." (HR. Muslim no. 771).

Tawadhu adalah kebalikan dari sifat sombong. Jika rendah hati akan mendatangkan kasih sayang Allah dan dari sesama manusia, maka sifat sombong hanya akan mendatangkan laknat Allah dan dijauhi manusia. Karena sifat sombong adalah sifat rendah dan hina yang dapat menghalangi pelakunya untuk dapat masuk surga. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

"Tidak masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan" (HR Muslim)."

Na'udzubillah. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam mencapai ketawadhuan dan menjauhi sifat sombong juga tinggi hati.

Wallahua'lam.[]

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Event Organizer Kecil Walimah
Next
Gerakan "Ayo Sekolah" di Garut, Peluncuran Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Amankah?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram