Peran Muslimah Akhir Zaman

Mari kita tengok perempuan-perempuan hebat di masanya. Salah satunya adalah Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah, Ibunda dari Imam Syafi'i salah satu dari empat imam madzhab fikih dan ulama besar sepanjang sejarah Islam. Kecerdasan dan kesempurnaan hafalannya menjadi teladan umat. Di usia dua tahun Imam Syafi'i sudah menjadi yatim sehingga ibunyalah yang merawat dan mendidik anaknya seorang diri. Bisa dibayangkan, betapa hebatnya Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah mencetak generasi pelita umat meski sebagai orang tua tunggal.


Oleh: Banisa Erma Oktavia

NarasiPost.com - Menjadi seorang muslimah tidaklah terbebani dengan sederet aturan yang Allah perintahkan, seperti pandangan orang-orang yang belum mengerti syariat. Peran perempuan sebagai ummu wa robbatul bait atau ibu yang mengurus rumah dan anak-anak dianggap sebagai salah satu bentuk diskriminasi Islam terhadap perempuan. Padahal selain merupakan syariat Rasulullah, peran tersebut juga memberi manfaat bagi kaum perempuan itu sendiri.

Mari kita luruskan. Melahirkan merupakan fitrah perempuan. Dari rahimnyalah lahir penerus generasi dan tentu saja membutuhkan peran ibu yang mendidiknya dengan kasih sayang dan ilmu. Jika tidak memiliki ilmu, bagaimana mungkin seorang ibu dapat mendidik anak-anaknya? Bicara tentang ilmu, apakah Islam melarang perempuan melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi? Tentu tidak. Umat Islam membutuhkan pendidik generasi yang cerdas, berilmu dan berakhlak mulia. Sosok pendidik inilah yang kita sebut dengan ibu.

Kemudian timbul nyanyian sumbang yang mengatakan, "Kalau ujung-ujungnya cuma jadi ibu rumah tangga, ngapain capek-capek sekolah terus kuliah?" Nah inilah pentingnya kita belajar agar tak sesat pendapat. Seperti yang kita bahas sebelumnya, seorang ibu seharusnya memiliki ilmu dan berakhlak mulia, agar kelak anak-anaknya berhasil. Tak hanya berhasil di dunia tapi juga akhirat. Pandangan ini sangat kental dengan arah pandang kapitalis yang memandang ilmu dan pendidikan hanya untuk memenuhi urusan dunia saja.Banyak yang belum menyadari bahwa peran seorang ibu begitu penting dalam sejarah peradaban.

Mari kita tengok perempuan-perempuan hebat di masanya. Salah satunya adalah Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah, Ibunda dari Imam Syafi'i salah satu dari empat imam madzhab fikih dan ulama besar sepanjang sejarah Islam. Kecerdasan dan kesempurnaan hafalannya menjadi teladan umat. Di usia dua tahun Imam Syafi'i sudah menjadi yatim sehingga ibunyalah yang merawat dan mendidik anaknya seorang diri. Bisa dibayangkan, betapa hebatnya Fatimah binti Ubaidillah Azdiyah mencetak generasi pelita umat meski sebagai orang tua tunggal.

Jangan lupakan juga sosok Aisyah Ra, istri Rasulullah yang cerdas dan cantik. Beliau merupakan perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadits Rasulullah. Jumlah hadits yang diriwayatkan sebanyak 2.210 hadits. Masya Allah. Siapa bilang Islam mengekang perempuan dalam menuntut ilmu?

Banyak lagi kisah-kisah inspiratif dalam sejarah Islam, seperti kehebatan Salahuddin Al Ayyubi, sang Pembebas Baitul Maqdis, sosok Uwais Al Qarni yang namanya terkenal di langit karena baktinya pada sang Ibu. Tentulah kehebatan-kehebatan para pejuang Islam dan generasi saleh serta salehah membutuhkan sosok ibu yang berilmu dan berakhlak mulia.

Dari sini kita paham bahwa peran ibu begitu besar bagi peradaban. Yang sedikit hanyalah kesadaran dan aktualisasi kita sebagai calon pencetak generasi. Jangan sampai kita justru menjadi ibu yang mengarahkan anak kepada hal-hal yang merusak moral dan mendukung kemunkaran. Faktanya dewasa ini mudah sekali kita temukan orang tua yang begitu bangga pada anak perempuannya yang memamerkan aurat, membiarkan anaknya berpacaran, sampai menjadikan anak perempuannya sebagai tulang punggung dengan jalan yang keliru. Demi sebuah anggapan keliru sebagai aktualisasi diri dan mengejar materi.

Mari kita renungkan, ada di manakah posisi kita saat ini? Menjadi ibu yang berilmu dan berakhlak sehingga bisa melahirkan generasi yang robbani, menjadi Ibu yang hanya mengikuti perubahan zaman, atau bahkan menjadi bagian dari rusaknya generasi? Naudzubillah!

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Andai Ini Ramadhan Terakhir Kita
Next
Strategi Mendidik Anak Zaman Now
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram