Moderate Behaviour Sang Penakluk Madinah

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS.An Nahl: 125).


Oleh: Ahyani R.

NarasiPost.com - Menyimak bedah buku 'Surrounded by Idiots' yang ditulis oleh seorang pakar komunikasi terkenal, Thomas Erikson, membuat saya teringat pada Duta Islam Pertama, Mush'ab Bin Umair radhiallahu'anhu. Ya, lewat lisannya, Allah menurunkan pertolongan-Nya, membuka jalan bagi tegaknya Islam.

Luar biasanya, amanah ini berhasil ditunaikan Mush'ab bin Umair dalam waktu singkat. Lewat lisannya, mayoritas penduduk Madinahpun menyatakan keislamannya dalam waktu setahun saja. Sebuah capaian dakwah yang mengagumkan yang tentu mengusik rasa ingin tahu kita apa rahasia Mush'ab bin Umair sampai bisa mengislamkan penduduk Madinah di masa itu.

Dari pembahasan buku Surrounded by Idiots ini akhirnya sedikit memberi gambaran. Kemampuan dan karakter Mush'ab bin Umair bisa jadi adalah salah satu kunci rahasia di balik keberhasilannya menyampaikan Islam.

Hal ini tergambar saat dia menghadapi Usaid bin Hudhair dan pemimpin suku Aus, Sa'ad bin Mu'adz. Dikisahkan, keduanya, secara terpisah, mendatangi Mush'ab yang sedang berdakwah dengan penuh kemarahan. Bahkan sebuah tombak telah siap digunakan untuk mengusir Mush'ab. Tapi menghadapi situasi ini apakah membuat Mush'ab kemudian panik dan menghindar? Ternyata tidak. Mush'ab bisa menghadapi kemarahan keduanya dengan sikap tenang. Bahkan dengan kefasihannya dalam menyampaikan Islam, membuat tokoh elit Madinah ini tertarik mendengarkan dan akhirnya masuk Islam. MasyaAllah.

Inilah moderate behaviour yang dijelaskan oleh Thomas Erikson sebagai sikap yang bisa berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi (environment). Dalam kisah Musha'ab bin Umar, sebagai duta Islam yang diamanahkan untuk menyampaikan Islam, dia mampu menyesuaikan diri ketika menghadapi kemarahan pemimpin suku Aus dengan tenang. Bayangkan jika sebaliknya, bersikap menantang dan menyalahkan. Tentu Islam tidak akan mampu membuka pikiran seorang Sa'ad bin Muadz dan jalan dakwah ke depannya.

Kemampuan Mush'ab ini pasti telah diketahui betul oleh Rasulullah Saw. Hingga di antara para sahabat Beliau, dialah yang dipilih untuk mengemban amanah mulia menjadi Duta Islam di Madinah. Tentu didukung dengan asbab lainnya, biiznillah, amanah itu bisa ditunaikannya dengan keberhasilan yang gemilang.

Bercermin dari kisah Mush'ab bin Umair ini, kita bisa mengambil hikmah. Bahwa dalam menyampaikan dakwah, hendaknya kita selalu menjadikan firman Allah Ta'aala sebagai pegangan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS.An Nahl: 125).

Dari ayat ini kita diperintahkan untuk berdakwah dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Artinya membutuhkan bekal tentang cara berkomunikasi yang baik. Salah satunya bisa ditempuh dengan memahami tipe warna dari objek dakwah.

Merah, Kuning, Hijau dan Biru adalah 4 tipe perilaku yang dipaparkan dalam buku SBI. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda termasuk reaksi mereka terhadap masukan/ feedback. Sebagaimana Mush'ab, penting memahami bagaimana cara menghadapi tipe warna yang berbeda ini. Sehingga miskomunikasi bisa dihindari dan pesan dakwahpun dapat tersampaikan.

Ada satu poin menarik yang dipaparkan Pak Thomas yaitu bahwa titik temu dari keempat tipe warna berbeda ini adalah self-awareness. Yaitu kesadaran diri yang merupakan sikap yang berupaya memerhatikan pikiran, perilaku, perasaan dan dampaknya terhadap orang lain. Tidak masalah apakah kita tipe red, yellow, green ataupun blue, moderate behaviour kita adalah sesuatu yang bisa kita latih.

Benar, wajib hukumnya berislam secara kaffah, namun mengantarkan agar mad'u memahaminya tentu butuh proses. Berhasil tidaknya pesan dakwah itu diterima, tergantung pula pada cara kita mengemasnya. Karena objek dakwah bisa jadi Red, Yellow, Green atau Blue maka cara menyampaikannyapun bisa beragam meski pesannya sama. Maka, jika tujuan dakwah bisa tercapai salah satunya dengan memahami tipe behaviour mad'u kita, why not? Semoga kitapun bisa mengikuti jejak Musha'b bin Umair sebagai duta Islam. Menyerukan kebenaran Islam dan mengantarkan umat kembali pada posisinya sebagai khairu ummah. InsyaAllah.

Picture Source by Google

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Ahyani R. Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Cinta di 14 Februari
Next
Wahai Ibu, Jalan Dakwah Menantimu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram