Bahagia Bersama Dakwah

Tak mudah rasanya mendapatkan nilai amal berupa pahala apalagi pahala yang sifatnya akan terus menerus mengalir meskipun jasad sudah terkubur tanah. Namun, dengan dakwah jalan itu kian terbuka. Karena apa dakwah bisa menjadi peluang jariyah? Semata karena dakwah adalah aktivitas yang mengajak umat kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Maka, bagi mereka yang terus menerus menyeru manusia lalu ada manusia yang mau melakukan apa yang diserukannya maka, ia akan mendapat pahala yang mengalir.


Oleh: Miliani Ahmad

NarasiPost.com - Mengapa kita sering merasa bersedih ketika memilih jalan yang katanya tak bertepi? Mengapa jalan berliku kadang membuat kita terluka? Mengapa ketika kita memilih kadang membuat diri kita seakan terpenjara? Seolah dengan memilihnya hari-hari kita semakin sulit, rumit, terbelit dan menghimpit.

Kadang pertanyaan yang demikian kerap menyelimuti hati manusia yang telah menentukan pilihan hidupnya berada di jalan dakwah. Pertanyaan-pertanyaan demikian memang muncul karena manusia kerap merasakan tekanan ketika mengerjakan aktivitas dakwah. Ya, kiranya tak ada yang salah dengan pertanyaan yang muncul secara spontan seperti ini. Bisa jadi karena ketidaksiapan, kurang memahami realitas perjuangan, bahkan mungkin karena kurang ikhlas dalam dakwah.

Jika muncul pertanyaan demikian, maka hakikatnya kita perlu mengingat kembali hakikat dakwah itu apa, bagaimana dan untuk siapa. Jika kita menelaah definisi dakwah, maka akan kita dapati bahwa dakwah merupakan aktivitas cinta yang ditujukan untuk umat manusia agar kembali kepada jalan keselamatan. Perwujudannya dijalankan dengan aktivitas fisik yang mendorong manusia untuk mencampakkan berbagai kerusakan yang mendominasi kehidupan.
Dakwahpun membawa kebaikan untuk umat manusia terkhusus bagi pengembannya.

Lalu bagimana caranya agar kita dapat menikmati dan bisa berbahagia dengan dakwah?

Pertama, harus kita yakini bahwa mereka yang berjuang di jalan dakwah adalah manusia pilihan.

Di Makkah, selama 13 tahun lamanya dakwah berjalan tak banyak yang mau mengikuti dan mendakwahkan Islam. Meskipun pada saat itu di Makkah banyak ditemukan cendikiawan, bangsawan ataupun orang terpelajar tapi amat sedikit yang mau menerima dan memperjuangkan Islam. Hanya orang-orang pilihanlah yang betul-betul memperjuangkan Islam. Sebut saja ibunda Khadijah, Abu Bakar Ash-shiddiq, Umar bin Khatab, Bilal bin Rabbah dan beberapa sahabat lainnya. Merekalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk menyebarluaskan risalah.

Begitupun juga saat ini, di saat kezaliman merajalela dan kejahiliaan merata di mana-mana, tak banyak orang yang mau memperjuangkan dan mendakwahkan Islam. Meskipun dunia saat ini dipenuhi dengan banyaknya manusia cerdas, berduit, ataupun yang memiliki semua fasilitas namun, tak banyak dari mereka yang mau memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Mereka tahu bahwa jalan dakwah hanya akan menghantarkan mereka pada penderitaan dan kesengsaraan.

Sebaliknya, segelintir orang yang memilih jalan dakwah bukan karena mereka tak paham konsekuensinya. Tapi, mereka berbahagia memilih jalan dakwah sebagai jalan kemuliaan karena Allah rida terhadap jalan tersebut. Allahpun telah memberikan banyak kebaikan bagi mereka yang memilih dakwah. Allah membalasnya senilai dengan unta merah. Siapa yang tak suka dan berbahagia memiliki unta merah (kendaraan terbaik)?

Kedua, dakwah merupakan aktivitas para Nabi dan Rasul.

Mengapa kita bisa berbahagia memilih jalan dakwah?

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw tentang hari kiamat, “Kapan hari kiamat itu?” Nabi bertanya, “Apa yang sudah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab, “Tidak ada. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi bersabda, “Engkau akan bersama dengan yang kau cintai.” Anas berkata, “Tidaklah kami gembira dengan sesuatu seperti gembiranya kami mendengar sabda beliau, ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.” Anas berkata, “Aku mencintai Nabi Saw, Abu Bakar, dan Umar, dan aku berharap bersama mereka disebabkan kecintaanku pada mereka, walaupun belum beramal seperti amalan mereka.”

Hadist di atas menunjukkan gambaran barangsiapa yang ingin bersama Rasulullah Saw. di surga maka hendaklah ia mencintainya. Maknanya, ketika kita mencinta maka kita harus menunjukkan perbuatan yang dapat membuktikan kecintaan kita. Dengan tetap melanjutkan tugas Nabi mengemban risalah. Meskipun berat dan penuh rintangan tapi, jaminan berkumpul dengan Rasulullah kelak di surga akan membuat pengemban dakwah merasa berbahagia telah memilih jalan dakwah.

Ketiga, dakwah merupakan ladang jariyah yang berlimpah.

Rasulullah Saw. bersabda,

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara): shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Tak mudah rasanya mendapatkan nilai amal berupa pahala apalagi pahala yang sifatnya akan terus menerus mengalir meskipun jasad sudah terkubur tanah. Namun, dengan dakwah jalan itu kian terbuka. Karena apa dakwah bisa menjadi peluang jariyah? Semata karena dakwah adalah aktivitas yang mengajak umat kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Maka, bagi mereka yang terus menerus menyeru manusia lalu ada manusia yang mau melakukan apa yang diserukannya maka, ia akan mendapat pahala yang mengalir. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.”

Siapa yang tak tergiur dengan tawaran yang demikian. Bayangkan jika dalam aktivitasnya, ia tak hanya berhasil menyeru satu manusia tapi banyak manusia maka, jariyahnya akan terus menggunung dan berlipat meskipun ia telah tiada.

Maka, apa yang harus disedihkan dengan memilih jalan dakwah? Bersedih boleh, hanya saja ia tak boleh menjadi batu sandungan untuk beristirahat ataupun berhenti dari dakwah. Bagaimanapun juga, dakwah adalah perintah Allah, dicontohkan oleh Rasulullah dan wajib diamalkan oleh umat manusia (Muslim). Jadi, berbahagialah bersama dakwah.

Wallahua'lam bish-showwab.

Picture Source by Google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Kamu Adalah Pilot di Kehidupanmu Sendiri
Next
Orang Baik Dipanggil Duluan?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram