Kesejahteraan Guru yang Dinanti.

Terlepas dengan seluruh kesulitan dan pengorbanan, profesi guru dalam Islam adalah profesi sangat mulia. Apabila seorang guru mengajarkan ilmu yang bermanfaat, maka pahala jariyah akan terus mengalir padanya.


By: Hesty Noviastuty

NarasiPost.Com-Dulu guru menjadi profesi yang jarang diminati sebab menjadi guru selain dituntut dedikasi, juga terkenal dengan gaji yang tidak memadai.

Seseorang dapat menjadi guru karena panggilan jiwa. Terlebih lagi guru-guru yang ditempatkan di daerah terpencil. Penuh dengan pengorbanan. Segala kesulitan bahkan gaji yang tidak kunjung datang. Berbulan-bulan mereka berjuang untuk generasi penerus bangsa juga untuk kehidupan keluarganya.

Bahkan hingga saat ini. Sekalipun tingkat kesejahteraan guru mulai meningkat. Di beberapa daerah, Pemda memberikan tunjangan kerja dan tunjangan profesi dari pemerintah pusat. Hal ini membuat guru-guru di perkotaan menjadi guru yang sejahtera. Namun ternyata masih banyak guru-guru honorer di daerah-daerah tertentu masih belum merasakan kesejahteraan yang sama. Predikat sarjana penuh derita masih saja melekat.

Terlepas dengan seluruh kesulitan dan pengorbanan, profesi guru dalam Islam adalah profesi sangat mulia. Apabila seorang guru mengajarkan ilmu yang bermanfaat, maka pahala jariyah akan terus mengalir padanya.

Guru menjadi profesi yang sangat diperhatikan oleh pemimpin kaum muslimin saat itu. Bahkan di masa Khalifah Umar Khattab guru digaji sebesar 15 Dinar ( 1 Dinar = 4,25 gram emas). Jika dikalkulasikan dengan masa sekarang, dimana 1 emas seharga satu juta rupiah, maka gaji guru yang diberikan sekitar 63.750.000 rupiah. Tidak hanya untuk guru yang berstatus pegawai pemerintah, tapi juga guru-guru honorer.

Guru memang sosok yang berjasa. Sebab tidak semua orang bisa menjadi guru. Saat ini kehidupan guru masih ada yang memprihatinkan. Sehingga butuh perhatian dari pemegang kebijakan untuk terus meningkatkan kesejahteraannya . Dengan demikian guru bisa lebih fokus mendidik anak bangsa tanpa risau akan kebutuhan kehidupannya. Tidak ada lagi predikat sarjana penuh derita, karena telah berganti menjadi sarjana penuh dengan syukur yang mendalam. Sebab kesejahteraan yang dinanti akhirnya dinikmati.[]

Photo : Google Source
Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Dilema dan Problematika Guru Honorer
Next
Neraka Kok Diinginkan?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram