Ramai Pengunjung di Pusat Belanja, Paradoks Kebijakan Dipertontonkan

Hidup dalam sistem sekuler memang membuat umat banyak yang salah bersikap. Salah satunya memaknai hari raya yang seolah mesti diwarnai dengan budaya konsumtif.


Oleh. Fani Ratu Rahmani (Aktivis Dakwah dan Pendidik)

NarasiPost.Com-Ramadan sebentar lagi akan berakhir. Artinya, umat muslim semakin mendekati Hari Raya Idulfitri. Beragam kebijakan menjelang hari raya pun dikeluarkan pemerintah mulai dari pembatasan mobilisasi dengan larangan mudik hingga imbauan Kemenag yang terbaru mengenai salat idul Fitri.

Jelang hari raya, Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat kembali disesaki pengunjung pada Minggu, 3 Mei 2021. Rata-rata para pengunjung datang untuk berburu baju baru jelang Lebaran Idulfitri 2021. Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Marullah Matali menyatakan, Pemprov DKI akan mengurangi jumlah pintu masuk ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ini semua guna mencegah pengunjung pasar berdesakan, sehingga berpotensi terjadi penularan Covid-19. (Liputan6.com, 03 Mei 2021)

Peristiwa ini seakan menjadi buah dari pernyataan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani yang mengutarakan cara jitu mendongkrak perekonomian yang sedang lesu. Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu minta rakyat tetap beli baju saat Lebaran nanti, meski mudiknya tetap dilarang. Tujuannya agar kegiatan ekonomi tetap berjalan. (warta ekonomi, 24 April 2021)

Padatnya pengunjung pusat belanja di beberapa daerah termasuk di Tanah Abang membuktikan pemikiran masyarakat tentang makna hari raya dan juga kesadaran mereka tentang kondisi pandemi saat ini. Ya, banyak yang terbuai dengan gaya hidup konsumtif dan juga abai terhadap protokol kesehatan di tengah pandemi.

Hidup dalam sistem sekuler memang membuat umat banyak yang salah bersikap. Salah satunya memaknai hari raya yang seolah mesti diwarnai dengan budaya konsumtif. Sekularisme melahirkan paham materialistik yang meletakkan kepuasan materi sebagai tujuan dari segala tujuan. Kebahagiaan hanya diukur dari materi, termasuk makna hari raya.

Dan ditambah, pengabaian pengunjung terhadap prokes. Ini mesti menjadi evaluasi bersama bahwa membangun kesadaran individu saja tidak cukup, sebab imbauan Satgas Covid-19 juga tidak diindahkan. Sosialisasi tentang pandemi Covid-19 tidak mampu berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku masyarakat.

Sebagian besar masyarakat juga bingung atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang ada. Di satu sisi mencegah penularan Covid-19, di sisi lain justru membuka keran masuknya virus ini. Melarang kerumunan, tetapi mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi menjelang lebaran demi perbaikan ekonomi.

Inilah yang dinamakan paradoks kebijakan. Di satu sisi menyerukan untuk memutuskan mata rantai Covid-19, justru di sisi lain menyerukan hal yang bertentangan. Tidak selaras antara kebijakan untuk atasi pandemi, dengan kebijakan untuk perbaikan ekonomi. Kita pun tahu bahwa sejak kemunculan pandemi, persoalan ekonomi kian diberatkan oleh pemerintah.

Di sinilah kebutuhan akan kebijakan yang selaras. Kebijakan yang lahir dari asas yang benar. Pemangku kebijakan pun mampu membuktikan implementasinya di tengah masyarakat, bukan justru bersikap longgar dengan dalih ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah perlu menggandeng masyarakat agar bisa menjadi 'partner' untuk akhiri pandemi ini.

Pertimbangan terhadap perekonomian sejatinya semakin menunjukkan bahwa sistem hidup yang dipakai negeri ini, yakni sistem kapitalisme. Kapitalisme punya cara pandang khas tentang nilai materi yang menjadi tujuan dari berbagai hal. Bahkan, harus diutamakan di berbagai kebijakan. Dan posisi pemerintah hanya sebagai pelaku sistem yang jelas berkiblat pada Barat. Artinya, pemerintah juga hanya menjalankan kebijakan global.

Lantas, mau sampai kapan umat Islam terus hidup dalam sistem kapitalisme ini? Bukankah sudah cukup penderitaan dari banyak masalah yang menghampiri? Seharusnya umat Islam sadar akan hal ini dan mewujudkan kembali sistem sahih yang sesuai tuntunan Ilahi. Inilah sistem Islam dalam naungan khilafah, sebab hanya khilafah yang mengeluarkan kebijakan berdasarkan syariat Islam. Karena sistem Islam terbukti mampu menuntaskan berbagai permasalahan.

Wallahu a'lam bis shawab.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Larangan Menyinyir Dan Mendebat Keinginan Allah Swt
Next
Ramadan di Tengah Pandemi, Budaya Konsumtif Tetap Tinggi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram