Gelanggang Kesyahidan

"Kesengsaraan ini sejatinya tak akan pernah berakhir, selama umat Islam masih disekat-sekat oleh nasionalisme. Dengan penyakit wahn yang menjangkiti setiap pemimpin umat dan memikirkan yang diri mereka sendiri, yang hanya ingin aman sendiri"


Oleh: Aya Ummu Najwa

NarasiPost.Com-Dalam hitungan menit telah terkumpul ribuan syahid, juga luka cedera, yang terkumpul dalam satu punggung, menciptakan kembali sajak lama, sajak tentang kegelapan, tentang kelaparan, ketakutan, juga pengepungan. Maka datang kepada mereka nyanyian kematian, merek tak pernah memilih untuk mati, tapi kematianlah yang datang menghampiri mereka.

Dalam layar kacamu, sekilas semua nampak begitu biasa, namun tercipta keadaan yang sangat mengerikan. Pemandangan membara, menggelegar dentuman membahana. Darah, mayat, syahid bersama luka. Hidup hanya menunggu penjagalan berdarah, menuju kesyahidan. Maka bilakah datang luka yang lain? Dan bilakah syuhada datang menghampiri?

Hidup dalam lingkaran penjagalan berdarah. Oleh penjahat paling kejam. Kaum yang dimurkai juga dibenci. Yahudi itulah musuh sejati. Anak-anak Palestina, jiwa kesatria adalah identitas mereka. Syahid adalah tujuan utama, Al-Qur'an adalah senjata. Ketapel hanyalah peluru, dilumuri doa setulus rindu, kepada indahnya firdaus, nikmatnya Salsabila, juga menawannya Ainul Mardiyah.

Mereka tak mencoba bersembunyi dari kematian, juga dari himpitan ketakutan yang mengepung mereka, itulah anak-anak Gaza. Di zaman yang penuh kekejaman, pembunuhan. Mereka mencoba menepi dari lautan darah. Mereka berlomba dengan maut, bertanding dengan kematian, kematian yang pasti bertandang, yang sangat dekat dengan rumah-rumah mereka, jalan-jalan mereka, langit mereka.

Mereka menyadari, karena kehidupan esok hari adalah lembaran pembantaian, yang berhiaskan luka yang menganga, terpencar jasad, melayang nyawa, dan berakhir dengan nama. Di bumi para nabi, di bawah naungan kolong langit, dan tanah sebagai tempat kembali. Jasad mereka terkubur di atas kubur, tersapu angin, dilupakan.

Ledakan demi ledakan berkumandang di tengah malam, di pagi buta, juga siang hari. Mayat-mayat berserakan bagai sampah jalanan. Tak berbentuk, tak berupa. Penculikan, penyiksaan, pembunuhan, pembantaian, terjadi di setiap tempat, setiap saat. Aroma anyir darah bersenandung jerit tangis. Air mata bagai tak ada habisnya untuk mengalir, suara telah lelah untuk berteriak kapankah ini berakhir?

Di mana masyarakat dunia yang berlagak berprikemanusiaan? Yang bertopeng malaikat, di manakah mereka yang selalu menyuarakan kata-kata kebebasan, kemerdekaan, hak asasi? Mereka bersembunyi, mereka menutup mata. Namun tidak, mereka tidak menutup mata, mereka melihat yang terjadi, mereka berkata kasihan mereka, belas kasih palsu berselimut kepicikan.

Di mana raja-raja Arab? Di mana pemuda-pemuda Muslim? Mereka mengaku Kita saudara, kita satu tubuh. Kasur empuk telah melenakan mereka, asyiknya tiktok telah menyibukkan mereka. Wahai para pengecut, para pecinta dunia! Israel terlaknati di dunia dan di akhirat, mengapa kalian jadikan sahabat? Mereka membantai saudaramu dan kalian hanya duduk diam terpaku. Kalian takut kehilangan harta, kalian takut mati.

Kesengsaraan ini sejatinya tak akan pernah berakhir, selama umat Islam masih disekat-sekat oleh nasionalisme. Dengan penyakit wahn yang menjangkiti setiap pemimpin umat dan memikirkan yang diri mereka sendiri, yang hanya ingin aman sendiri. Tak ada simpati, apalagi empati. Maka persatuanlah yang harus dibangun, dengan akidah Islam sebagai pondasi.

Sejatinya, Palestina tak membutuhkan simpati, tapi tindakan nyata dalam aksi. Di bawah keberanian seorang pemimpin sejati, yang telah lama dinanti. Yang menyerukan jihad suci, sebagai pembela kemuliaan Bahama dan juga diri. Seorang Khalifah pemegang janji ilahi, tentang pembebasan seluruh negeri-negeri. Di bawah panji Arrayah nan agung, menghimpun seluruh kekuatan tak terbendung. Palestina, Suriah, Xinjiang, Afganistan, Kashmir, seluruh penjuru negeri terbebaskan dengan pekikan takbir, tanda kepemimpinan Islam telah kembali.

Wallahu a'lam[]


photo : google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Kebijakan Industri Game, Pencipta Sakaw Game Online
Next
Al Quds Tanah Suci Kaum Muslimin
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram