Al-Qur'an, 'Beyond Inspiration' bagi Literasi Peradaban Sepanjang Zaman

“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain (QS: Al-Israa : 88).


Oleh: Rery Kurniawati Danu Iswanto (Praktisi Pendidikan)

NarasiPost.Com-Salah satu rukun yang wajib diimani seorang muslim adalah beriman kepada kitabullah yaitu Al-Qur'anulkarim. Sebagai manifestasi keimanannya, tidak boleh ada keraguan sedikit pun terhadap setiap ayat yang tertulis di dalamnya. Allah Swt. berfirman dalam QS Al Baqarah : 2, "Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya."

Sejak diturunkannya, ketika peradaban Quraisy dikenal dengan kepiawaiannya dalam sastra, tidak ada satu pun ahli sastra Quraisy yang mampu membuat tandingannya. Pun hingga kini setelah 15 abad kemudian. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan bagi umat manusia.

Allah Swt. menuliskan kalam-Nya dalam untaian sastra yang tidak ada bandingannya. Literasi Al-Qur'an melampaui literasi di semua peradaban manusia. Tidak ada makhluk di dunia ini yang mampu membuat tandingannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Al Israa : 88. Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’ân ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain (Al-Israa : 88).

Kesempurnaan dan ketinggian derajat Al-Qur'an merupakan bukti nyata Mahakuasanya Sang Pencipta manusia dan semesta Allah Swt. Al-Qur’an mampu menerangkan keberadaan sebelum dunia ada, waktu hidup di dunia, sampai dengan kehidupan setelah dunia. Tidak ada satu pun produk literasi di dunia ini yang mampu menerangkan hal tersebut. Demikianlah karena Al-Qur’an sebenar-benarnya mukjizat berupa produk literasi yang berasal dari Tuhannya seluruh makhluk, Allah Swt.

Al-Qur'an juga sumber segala ilmu bagi manusia. Teramat luas ilmu Allah bahkan diibaratkan jika lautan adalah gambaran dari luasnya ilmu Allah, maka seluruh ilmu yang diturunkan ke dunia ini tidak lebih hanya setetes air yang jatuh di ujung jari. Masyaallah. Setetes ilmu Allah ini pun tidak akan mampu seluruhnya dikuasai oleh manusia. Sungguh tidak ada yang dapat disombongkan bahkan bagi manusia paling berilmu sekalipun.

Menjadi suatu keharusan bagi setiap manusia untuk mampu menadaburi hikmah yang terkandung dalam mukzijat Rasulullah Saw. Akan tetapi, nyatanya Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia masih menyisakan angka buta huruf Al-Qur’an yang sangat besar. Sebagaimana disampaikan Ustaz Fatih Karim (UFK) dalam event bincang mesra yang di selenggarakan oleh Narasipost.com tanggal 08 Mei 2021 bahwa 53,57% masyarakat muslim di Indonesia tidak mampu membaca Al-Qur’an. Subhanallah, lebih dari setengah masyarakat muslim buta aksara Qur’an. Lantas bagaimana akan mampu menadaburi isi Al-Qur’an, sedangkan membacanya saja tidak bisa. Karena latar belakang itulah UFH bersama tim menggagas program Indonesia Cinta Qur’an.

Selain itu, dalam event tersebut UFK juga berpesan agar setiap kita senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber literasi dunia. Masyaallah, memanglah demikian seharusnya. Satu hal yang tidak boleh tidak untuk dijadikan rujukan bagi pegiat literasi adalah menempatkan Al-Qur'an sebagai sumber utama rujukan, sebagai penuntun jalan, dan pedoman dalam menjalankan kehidupan. Bagi penulis, setiap goresan pena seharusnya menerangkan ilmu-ilmu Allah yang tersurat dalam Al-Qur'an dan diperinci dalam As Sunnah. Wallahualam bishshowab.

Bagian akhir dari QS Al-Baqarah ayat 2 Allah Swt. berfirman, "…petunjuk bagi orang yang bertakwa." Semoga kita senantiasa istikamah dalam jalan dakwah. Mendakwahkan Al-Qur’an sebagai produk literasi yang melampaui literasi umat manusia di sepanjang peradaban. Berharap setiap tulisan mampu terindera dengan baik oleh pembaca, membuka petunjuk Allah Swt., dan menjadikan kita termasuk dalam derajat takwa. Aamiin ya Rabbal'alaamiin.[]


photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Seruan Jihad, Solusi Mengakar Krisis Palestina
Next
Di Jalan Ini Kita Berjumpa
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram