Event Organizer Kecil Walimah

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad : 7)


Oleh. NS Rahayu (Pengamat Lingkungan)

NarasiPost.Com-Dua pekan sebelum Ramadan 1442 H, saya kedatangan tamu saudara satu pengajian. Maksud kedatangannya sudah bisa saya duga, karena sebelumnya diberi bocoran oleh seorang ibu pengajian yang lain tentang informasinya.

Atur-atur ngunduh mantu (mengundang secara khusus hajatan manten laki-laki). Karena putranya bertemu pasangan hidupnya dengan proses ta'aruf. Sebut saja Bude Tinah namanya. Dia seorang petani tradisional sederhana yang tinggal di pinggiran kota.

Bu Tinah ini sosok khusus dalam pandangan saya, meski dengan pendidikan yang tak tinggi, sederhana namun beliau orang yang suka memberi, baik hati dan istikamah dalam belajar memahami Islam, tampak dari intensifnya dalam mengikuti kajian-kajian. Rasa ingin tahunya tinggi dan yang membuat bangga adalah semangatnya untuk meneruskan ilmunya pada orang-orang yang ditemuinya.

Jika awalnya orang tak menghiraukannya, perlahan tapi pasti beliau mulai disegani di lingkungan sekitarnya, karena lisannya selalu menebarkan kebenaran. Uniknya di mana pun tempatnya, beliau menggunakan boso kromo (bahasa Jawa halus) kepada setiap orang yang ditemuinya. Sehingga orang yang mau marah pun tidak bisa mengeluarkan kalimatnya, karena sulit menyusun kalimat kromo untuk menjawab.

Perubahan itu membuat keluarganya satu persatu mengikuti langkahnya untuk lebih mengenal dan memahami Islam lebih dalam. Mereka ingin hidup dalam aturan Islam sepenuhnya. Meski sering berlawanan dengan kebiasaan di lingkungannya tinggal, bu Tinah tidak pernah surut.

Termasuk kedatangannya ke rumah saya, tak lain untuk mengeluarkan keinginannya agar bisa melaksanakan walimahan syari.

“Bu, minta tolong untuk membantu pelaksanaan ngunduh mantu besok hari anu tanggal anu. Saya pasrah bongkokan (total),” pintanya pada saya.

Saya tersenyum, tapi pikiran dan hati beraduk seperti rasa rujak ke mana-mana, manis, asam, pedas campur jadi satu. Meskipun sudah sering menyaksikan pernikahan syari, tapi belum pernah terjun langsung menanganinya sendiri. Wow, akhirnya harus terjun langsung juga.

Bude, maunya walimah yang bagaimana?” tanya saya (meski sudah tahu pasti jawabnya).

Dipisah, Bu. Tamu laki-laki dan perempuan.” Jelasnya.

Ow njih, Bude. Bude harus siap dengan segala aturan syariat njih, di tengah lingkungan yang belum familiar dengan resepsi pemisahan sempurna. Pripun! Bude siap?” Jelas saya.

Njih, saya siap, Bu,” jawabnya tegas.

Alhamdulillah saya lega mendengar jawabannya, karena dalam pikiran saya, sudah menemukan jalan untuk akses berikutnya. Saya jelaskan apa saja yang harus dia lakukan dan itu tertulis, agar bisa dilihat catatan jika ada yang belum dilakukan.

Hal yang tidak mungkin jika saya yang keliling menyelesaikan semua urusan, karena saya bukan yang punya hajat. Ini di desa, ada adab yang harus dijaga yang saya tidak ingin terlalu dominan dalam berperan. Posisi saya hanya membantu, seperti yang lain.

Lingkungan tidak boleh melihat saya sebagai EO (event organizer) kecil-kecilan walimah itu. Biar secara kasat mata semua berjalan alamiah seperti biasanya. Bude Tinah yang harus berjalan meng-handle semuanya, meski semua yang merencanakan saya.

Saya janjikan akan ke rumah Bude Tinah tiga hari berikutnya, setelah saya gambarkan langkah awal yang harus dia lakukan agar tidak terjadi benturan dengan adat kebiasaan masyarakat. Karena walimahan syari di desa memang jarang terjadi. Biasanya yang terjadi adalah walimah dengan tamu campur baur, temanten yang di jajar dan peladen yang juga campur baur.

Harus super hati-hati ketika hendak memasukkan cara islami ke tengah masyarakat yang masih awam penerapan aturan Islam sempurna di tengah derasnya aturan sekularisme dan pagan. Salah sedikit dapat memutus jembatan yang sudah lama bisa dilewati bersama.

Sifat gotong royong yang indah di desa, hal ini tentu saja hal yang tidak boleh diabaikan. Hal ini yang saya gunakan untuk menjembatani pernikahan dengan pemisahan sempurna yang tidak biasa di tengah masyarakat. Saya memikirkan agar tidak terjadi kesalahpahaman, sehingga walimahan syari tetap bisa terselenggara tanpa terjadi benturan.

Jika di kota mungkin lebih mudah, bisa sewa EO pernikahan sesuai keinginan yang punya hajat. Dari acara, hidangan maupun punjungan (hantaran pada orang-orang yang lebih tua, pejabat dll), tanpa ada komplain dari tetangga. Karena kesibukan masing-masing, hal itu sudah biasa. Sedangkan di desa tidak bisa seperti itu.

Tiga hari pasca kedatangan bu Tinah, saya ke rumahnya, untuk memastikan target-target yang telah saya sampaikan ke bu Tinah. Dari terop untuk menggunakan sekat sempurna untuk tamu laki-laki dan perempuan, mendatangi pak RT (Rukun Tetangga) untuk nembung (minta) bantuan sinoman RT dalam penyelenggaraan walimah, juga menemui juru masak untuk membahas kebutuhan sajian dll.

Alhamdulillah, semua berjalan sesuai rencana. Apa yang dilakukan bu Tinah sudah sangat membantu, tanpa peran saya sedikit pun. Saya hanya memberi konsep. Tinggal 40% yang harus dilakukan, yaitu memastikan semua berjalan sesuai seperti yang kita inginkan.

Semua dilakukan sebagai bentuk gotong royong yang masih kental. Saling membantu, prinsip itu melekat. Jika lingkungan tidak dilibatkan justru memungkinkan terjadi benturan. Agar bisa menjadi mudah, ya kerjasama. Hanya butuh komunikasi.

Memang semua harus terkontrol dan terhitung, agar tidak ada kesalahan, meski juga masih ada beberapa kekurangan, tapi masih terkendali. Akhirnya dua hari sebelum hari H, saya harus muncul memastikan semua terkendali. Bukan sebagai EO, tapi rekan pengajian yang sedang rewang. Jika pun ada yang tahu, konsep semua ada pada saya, itu hanya orang-orang tertentu saja, karena saya harus menemuinya.

Sambil mengupas kentang, berbincang dengan juru masak, memastikan tercukupi semua kebutuhannya agar tidak sampai kekurangan sajian.
Kemudian bersama bu Tinah, dipertemukan dengan pemasang terop, diskusi posisi tamu laki-laki dan perempuan terpisah sempurna, termasuk menjaga jarak kursi tamu hajatan, karena dibatasi hanya 100 orang tamu. Menginggat masih masa pandemi Covid-19, sampai dipahami semua.

Sekaligus pak RT dipertemukan dengan saya dalam membahas bagaimana seharusnya peladen bisa membantu kelancaran walimahan syari. Saya jelaskan semuanya bahwa tamu laki-laki peladen laki-laki, tamu perempuan peladen perempuan semua.

Alhamdulillah, atas izin Allah Swt, pada hari-H semua berjalan lancar sesuai rencana. Tidak ada benturan dan nada sumbang setelahnya. Tetangga dan tamu bisa menyaksikan sederhananya pernikahan syari, karena tidak butuh perias, moderator manten dll dengan biaya tinggi.

Lega. Bisa mengadakan resepsi islami, bisa merangkul tetangga yang suka gotong royong dan memberi edukasi tentang cara-cara pernikahan syari, sekaligus meninggalkan kesan positif. Allah Swt memberi kemudahan dalam acara walimahan tersebut.

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS Muhammad : 7)[]


Photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Insan Berhati Emas Itu Bernama Orang Tua
Next
Mulianya Tawadhu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram