Mengakui Tuhan tapi Tidak Beragama, Kok Bisa?

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” (TQS. Al Ma’idah: 3)

Oleh : Irma Sari rahayu

NarasiPost.Com-Sobat milenial, viral di jagad sosial media sosok aktris yang menyatakan dirinya tidak memeluk agama apa pun, tetapi tetap mengakui eksistensi Tuhan.

"Tidak mengikuti agama apa pun, tetapi dekat sama Tuhan, bingung enggak, lo," tulisnya.

Alhasil unggahan Instagram Storiesnya ini pun ramai dikomentari netizen. Ketika salah seorang netizen menanyakan cara beribadah dan mengajaknya masuk Islam, sang aktris menolak dan menyatakan bahwa dia sudah sangat kuat demgan prinsip hidupnya tentang Tuhan, yaitu berserah dengan jalur yang diberi-Nya (detik.com, 27/4/2021).

Kok, bisa begitu, ya, mengaku mengimani keberadaan Tuhan, tetapi tidak mau beragama? Lalu, bagaimana sang selebritas menerapkan aturan hidupnya? Pakai aturan apa? Nah, pemahaman ini  disebut dengan  agnostik, Sobat.

Secara etimologi, agnostik berasal dari bahasa Yunani, yakni gnostik yang berarti mengetahui atau pengetahuan dan a yang berarti tidak. Jadi secara harafiah, agnostik memiliki arti tidak mengetahui.

Namun, secara definisi, agnostik adalah suatu pandangan atau kepercayaan bahwa ada atau tidaknya Tuhan merupakan sesuatu yang tidak diketahui (popbela.com). Jadi secara umum para penganut agnostik masih percaya dengan Tuhan apabila mereka bisa membuktikannya secara ilmiah.

Saat ini, kaum milenial banyak yang menganut ide agnostik ini, bahkan banyak juga di antara mereka yang mengaku atheis atau tidak percaya dengan Tuhan sama sekali. Dua paham ini sudah menjadi life style di kalangan milenial. Agama hanya didudukkan sebatas pengisi identitas di KTP saja, tidak lebih. Ngeri ya, seakan-akan agama itu sesuatu yang tidak penting dan usang.

Para agnostik menilai bahwa agama bukan sebagai penjamin seseorang masuk surga. Mereka juga mempertanyakan, jika agama bisa mengantarkan kepada surga, mengapa banyak orang yang beragama bahkan bergelar "agamawan" masih berbuat dan berperilaku buruk? Jadi, mereka melihat dari sisi keburukan sikap penganutnya untuk menilai agama itu sendiri.

Sobat milenial, kehidupan sekular-liberal saat ini sudah sedemikian kuat mencengkeram kehidupan. Aturan agama sudah tak relevan lagi terhadap kehidupan. Arus liberalisme telah turut andil dalam membentuk seseorang dalam berpikir dan bertingkah laku sesuai keinginannya. Akal pun mendominasi atas setiap keputusan berperilaku. Maka wajar jika era digital dan informasi yang berputar cepat ikut mempengaruhi pola pikir kaum milenial yang serba instan, tetapi minim aspek spiritual.

Sobat milenial, memiliki anggapan bahwa buruknya perilaku seseorang ada hubungannya dengan agama yang dianut adalah pemikiran yang salah. Baik buruknya perilaku seseorang adalah cerminan dari buruknya ia mengimplementasikan ajaran agama yang dianut, bukan terletak pada ajaran agama itu sendiri. Jadi, sangat tidak adil jika menilai baik buruknya agama hanya dari sisi tingkah laku pemeluknya.

Islam telah diberi predikat sebagai agama yang sempurna bahkan yang diridai oleh Allah Swt. Sebagaimana firman-Nya:

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu” (TQS. Al Ma’idah: 3).

Islam juga diturunkan oleh Allah Swt. sebagai agama yang sempurna dan paripurna, Sobat. Islam tak hanya melulu berisi ibadah spiritual, tetapi juga mencakup ajaran lainnya.

Pertama, mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. dalam aspek ibadah (salat, puasa, zakat, berhaji, nikah dll)

Kedua, hubungan manusia dengan dirinya sendiri melalui pengaturan akhlak, pakaian dan makanan.

Sedangakan yang ketiga adalah hubungan antar manusia yang diatur dalam sistem ekonomi, pergaulan, bernegara, sanksi dll. Kesempurnaan ajaran inilah yang tidak dimiliki agama lainnya.

Semua aturan ini Allah Swt. jelaskan di dalam Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. Sebagaimana firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
(Al A’râf/7:52).

Serta dalam surat An Nahl [18] ayat 89, yang artinya:

"Dan Kami turunkan kepadamu al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang berserah diri”.

Sedangkan bagi pemeluknya, Allah Swt. telah memberikan reward and punishment  berupa pahala dan dosa sesuai dengan perbuatan hamba, apakah ia melaksanakan ataukah ingkar terhadap aturan-Nya. Allah Swt. pula telah menyediakan dua tempat kembali di akhirat yaitu surga dan neraka sesuai dengan banyaknya pahala dan dosa yang dikumpulkan hamba-Nya selama hidup di dunia. 

Maka dari itu, seseorang bisa masuk surga tergantung ia menjalankan perintah agamanya, Sobat. Jika ia taat dengan melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan Allah Swt., Insyaallah jalan menuju surga akan terbentang luas. Jika tidak, maka sebaliknya lah yang akan didapat.

Sobat milenial, di sinilah kita harus memosisikan akal sesuai tempatnya. Akal diberikan kepada manusia untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah Swt. dan memguatkan keimanan, bukan sebagai penimbang baik buruknya perbuatan. Akal manusia bersifat terbatas sehingga tidak bisa dijadikan sebagai penentu benar atau salah. Lalu, jika ada agama yang begitu sempurna mengatur kehidupan manusia, mengapa menyombongkan diri dengan berpaling darinya? Zaman boleh maju. Namun, ketundukan kita sebagai hamba Allah Swt. harus tetap nomor satu.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Korupsi Merajalela, Jangan Kecewa?
Next
Agar Diri Tak Mudah Kecewa
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram