Kampung Akhirat

"Tak ada keributan dunia, yang ada kesibukan warga untuk senantiasa hadir dalam kegiatan Islam"


Oleh. Didi Diah, S.Kom.

NarasiPost.Com-Sudah sepuluh tahun aku mengenal ibu Hj. Halimah, sosoknya begitu inspiratif bagiku dan teman-teman. Tubuhnya tak lagi gagah karena ibu sudah tua, namun pesona, kelembutan, serta tutur kata yang santun, membuat beliau begitu dicintai oleh penduduk kampung Wadas, Ciledug, Tangerang, Banten, sekalipun ibu bukan asli orang kampung Wadas.

Awal berkenalan dengan beliau sungguh membuat haru hatiku. Aku yang jauh lebih muda begitu dihormati oleh beliau. “Masuk Ustazah, maaf rumah saya begini adanya,” ingatku saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah beliau.

Perbincangan kami begitu mengesankan, ibu ingin aku dan teman-teman membantu mengisi pengajian anak-anak, remaja, ataupun ibu-Ibu lansia yang sudah berjalan, cari Ustazah baru kata beliau. Maka tak perlu berlama-lama, aku menyanggupi untuk ikut membantu beliau mengisi kajian Majelis Taklim Hidayah, nama majelis beliau.

Hari demi hari seiring perjalanan waktu, aku menikmati berkenalan dengan sosok luar biasa ini. Ibu awalnya hanya pendatang setelah menikah dengan seorang laki-laki di kampung ini, beliau selalu bertanya kepada suaminya, "Apa yang bisa saya perbuat untuk kebaikan umat?" Akhirnya beliau mengajar ngaji anak-anak kampung. Saat ibu melihat kondisi kampung yang tidak besar, dekat dengan pintu air, ibu melihat banyak pendatang yang berprofesi sebagai pedagang. Hal itu tidak menyulitkan Ibu untuk berkenalan dan bercengkerama dengan penduduk setempat.

Dari perkenalan itulah, akhirnya ibu merambah mengajar ngaji ibu-ibu dan mengasuh beberapa lansia yang ada. Bukan hanya tenaga, namun tidak sedikit materi yang beliau keluarkan. Sungguh, ibu begitu mengagumkan.

Sebelum aku mengisi kajian remaja, Ibu bercerita bahwa anak-anak ini pada awalnya sulit untuk diajak mengaji karena harus bantu orang tua memulung dan bekerja. Namun, beliau menemukan cara, setiap yang ikut pengajian akan diberikan makanan saat pulang. Seiring berjalannya waktu, setelah ada beberapa dermawan kampung yang memberikan donasi, anak-anak tersebut dibekali uang sepuluh ribu dan makanan sehabis kajian. Entah mulai kapan, akhirnya majelis itu penuh dihadiri anak-anak dari usia sekolah dasar hingga remaja.

Tahukah kalian, Majelis Hidayah yang berdiri sederhana dan kokoh itu awalnya hanya tempat pembuangan akhir sampah di kampung Wadas tersebut. Beliau berpikir bagaimana anak-anak dan para ibu bisa mengaji dengan tenang, akhirnya ibu meminta izin kepada kepala dan tokoh masyarakat kampung Wadas untuk mengubah tempat sampah itu menjadi majelis taklim dan memikirkan tempat baru ke mana sampah itu akan dibuang. Alhamdulillah niat ibu ditanggapi dengan serius, hingga kepala desa pun ikut menyetujui. Perlahan demi perlahan majelis itu berdiri dan hingga saat ini masih terus dipakai untuk kajian penduduk kampung. Warga kampung Wadas juga begitu menghormati apa-apa yang disampaikan ibu dalam setiap arahannya.

Hingga akhirnya, suami Ibu meninggal dunia, beliau tak lama bersedih karena ingat pesan almarhum suaminya untuk terus melanjutkan niat dan hajat yang baik tersebut. Maka, ibu tetap meneruskan kegiatan demi kegiatan hingga kampung itu terasa dekat antarsatu penduduk dengan penduduk lainnya. Hal yang tak kalah membuat hati terharu, mereka begitu mencintai dan menjaga ibu dengan sangat baik.

Belum lagi, ibu juga menyarankan agar para lansia yang memulung tetap ikut ngaji sepulang mereka bekerja. Mereka juga mendapatkan bekal makanan siap saji yang telah dimasak ibu dan beberapa anggota mejelis. Satu waktu kampung itu memiliki ide bank sampah. Para lansia mengumpulkan plastik, kardus, serta barang-barang yang bisa dijual di bank sampah, kemudian uangnya ditabung atas nama mereka. Tujuannya agar mereka tidak menjadi beban masyarakat begitu alasan ibu, rata-rata mereka janda dan sebatang kara.

Ibu selalu mengajarkan tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Maka, aku pun pernah mengusulkan kepada ibu, jika Ibu memberikan uang jajan kepada anak-anak pengajian dari para donatur, mereka juga harus belajar menyisihkan lagi untuk berbagi. Alhamdulillah ideku diterima dan dijalankan oleh ibu dan anak-anak.

Bahagianya aku mengisi kajian para lansia, mereka begitu sangat menghormati kami. Saat bersalaman, kerap kali aku menarik tangan hingga meneteskan air mata. Aku yang seharusnya mencium tangan-tangan berkerut yang hebat itu, bukan tanganku yang dicium oleh mereka. Kadang mereka memelukku seakan bertemu dengan cucu-cucu mereka. Duh, rasanya begitu sangat berharga, hal ini pengalaman yang tidak akan terlupakan, mengapa tidak?

Di kala lelah setelah memulung, mereka mencuci pakaian orang dan berdagang di pasar. Setelah itu, mereka istirahat sejenak, lalu berbondong-bondong mengikuti kajian. Di akhir kajian, mereka bahagia bisa pulang membawa makanan satu kantong plastik yang berisi nasi dan lauk, serta sedikit kue-kue kecil.

Dari mereka, aku banyak belajar menjadi wanita tangguh yang kuat. Dari ibu aku memetik banyak pelajaran bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tapi bertakzim untuk umat, membantu agar ikhlas dan sabar mengajar tanpa mengharap imbalan. Semua beliau lakukan karena Allah Swt. Sungguh kebahagiaan tersendiri bagi kami bisa mengajar di sana karena banyak orang bisa membaca Al Qur-an dan paham Islam lebih sempurna lagi.

Kampung Wadas, kini ibarat kampung akhirat. Tolong menolongnya selalu hadir, perhatian antarwarga begitu luar biasa, dan kegiatan-kegiatannya begitu semarak oleh anak-anak dan remaja. Tak ada keributan dunia, yang ada kesibukan warga untuk senantiasa hadir dalam kegiatan Islam. Aku yang kerap hadir di kampung itu, begitu merasakan kampung yang penuh suasana kekeluargaan bersama mereka.

Ibu Hj. Halimah, doaku selalu untuk Ibu, agar senantiasa sehat di masa tua Ibu, apalagi bisa melihat dan mendengar kebaikan-kebaikan yang Ibu rintis puluhan tahun lalu. Aku sayang Ibu. Kelak aku bisa mengikuti jejak ibu yang penuh kesabaran juga ikhlas membangun sebuah majelis. Aaamiin Ya Mujibas Saailiin.[]


Photo : Google

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Tarif PPN Naik, Rakyat Makin Tercekik
Next
Palestina Butuh Solusi Hakiki, Bukan Solusi Setengah Hati
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram