Istana yang Hancur

If you life like a princess. Believe me, God planning more beautiful that human’s planning”


Oleh : Putri Ramdhani Fitri
(Editor Video NarasiPost.Com)

NarasiPost.Com-Hari lebaran adalah hari yang membahagiakan untuk semua orang. Hari di mana semua keluarga akan kumpul dan bersilahtuhrami bersama. Tapi tidak denganku, bukan aku tidak menyukai lebaran hanya saja banyak orang yang membuatku iri, yaitu pelukan seorang ibu ataupun keluarga yang bahagia.

Lebaran di rumahku sudah tak sama seperti dulu. Sejak istanaku hancur oleh perempuan itu, semua berubah drastis, tak ada opor ayam ataupun baju lebaran. Tak ada lagi hari berburu baju ataupun sibuk membuat ketupat di tungku bata.

Aku ingat bagaimana wanita itu pergi meninggalkan kami. Wanita yang aku panggil dia ibu.

“Ibu tidur di sini yah bareng Asya. ” Tanpa persetujuanku ia langsung tidur memelukku yang membelakanginya. Hari itu sikap ibu sangatlah aneh. Biasanya ibu akan tidur dengan nenekku di kamarnya, namun hari itu ibu tidur di kamarku dan meninggalkan nenekku sendiri. Suara tangisan kecil dari ibu menambah rasa curigaku.

Tepat jam 03.00 dini hari, ibu sudah bersiap dengan membawa baju di tasnya yang cukup besar. Ayahku sama sekali tidak curiga dengan ibu. Ia tahu bahwa hari ini adalah hari nenekku pulang dan ibu akan mengantarnya ke desa. Tapi aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak baik di sini.

Jaga rumah yah, Sya.. Jaga ayah juga.” Ibu mengecup pipiku dengan tangisan di pipinya. Aku ingin sekali menahannya untuk pergi. Tapi aku menahan itu semua karena nenek.

Sejak saat itu, ibu mengirim pesan bahwa ia tidak akan kembali ke istana ini. Ayah selalu membujuknya, namun ia mengira itu hanya marah sesaat. Aku selalu mengirim pesan setiap saat membujuknya dengan berbagai cara, bahkan aku berbohong dengan mengatakan jika aku sakit. Namun ibu tidak mempedulikanku saat itu.
Tepat 1 minggu setelah ibu pergi, terdengar kabar jika ibu pergi dari desa dan mengatakan kepada semua orang di desa bahwa ia akan kembali ke istana ini.

Mendengar perkataan itu, membuat aku dan ayah sangatlah senang. Kami masak makanan kesukaannya, kami membersihkan rumah dengan rapih dan tak sabar untuk bertemunya. Seharusnya Ibu akan sampai jam 5 sore namun hingga jam 11 malam perempuan itu tak juga muncul.

Aku sibuk menunggu di depan rumah, berharap wanita itu muncul dan ayahku sibuk menelpon nomor ibu dan keluarganya. Namun hasilnya nihil, nomor ibu tidak aktif dan keluarganya pun tak tahu kepergiannya. Di situ aku menguatkan ayah dan mengatakan, “mungkin ibu sedang mampir ke rumah temannya.

Aku tahu bahwa ia tidak akan kembali ke istana ini. Pelukan itu adalah pelukan terakhir darinya untukku. Tapi aku selalu berharap ia kembali, kutunggu setiap harinya ia di depan pintu. Duduk di sana memandang jalan dan berharap ia datang.
Ayahku mulai sedih, ia terlihat sangat sakit. Makanan yang aku masakan hanya tersentuh sedikit. Aku selalu berusaha kuat di depannya, tanpa ada air mata. Namun ketika ia kerja ataupun aku sedang di sekolah, aku selalu menangis.

Kepergiannya membawa pengaruh besar bagi kami. Peringkat tryout SMPku menurun drastis, dari lima besar menjadi 30 besar. Aku yang anak tunggal yang biasanya selalu dimanja berubah menjadi mandiri. Memasak dan membereskan rumah seperti jadwalku setiap hari.

Terkadang aku menyalahkan keadaan, “Kenapa hanya aku yang merasakan ini?”, “Kenapa orang tua sangatlah egois?”. “Kenapa orang lain bahagia sedangkan aku tidak?" Bahkan aku menjauh dari Sang Pemilik Kehidupan dan menentukan arah diriku sendiri. Namun ada di suatu titik terendahku dan di sana tidak ada siapa-siapa.

Sahabat dan temanku tak ada kabar dan keluarga tidak bisa ku memberitahunya. Di situ aku tahu bahwa hanya Allah yang bersamaku. Allah yang selalu menemaniku. Ku membaca ayat- ayatnya dengan iringan tangisan di bibirku hingga di surat Al-Baqarah ayat 186:
Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (Segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."

Ayat itu membuat tamparan bagiku, menyalahkan takdir dengan menjauhi Allah adalah kesalahan besar bagiku. Aku membutuhkan-Nya, bukan Dia yang membutuhkanku.
Berkat tamparan itu, aku bertekad bahwa aku harus mandiri dan tak boleh membebani ayahku. Akhirnya aku sekolah dengan uangku berjualan piscok (pisang coklat) di sekolah. Ketika aku menuju perguruan tinggi, aku mencoba tes beasiswa dan alhamdulillah Allah membantuku mewujudkan itu.

Aku berpikir, jika aku tidak diberikan cobaan ini mungkin saja aku masih menjadi anak manja yang tidak berpikiran tentang masa depan. Semua ini karena Allah yang memberikan kemudahan dan kebaikan atas segala cobaan yang menimpa kami. Oleh sebab itu, semua masalah yang sekarang kita sedang alami, janganlah berputus asa dan menyalahkan Allah. Karena Allah tau apa yang terbaik untuk kita.

“If you life like a princess. Believe me, God planning more beautiful that human’s planning”[]


photo : Pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
240 Jam
Next
Pluralisme Mendhaifkan Islam
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram