Dari Palestina Aku Belajar tentang Cinta

Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)


Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
(Tim Redaktur NarasiPost.com)

NarasiPost.Com-Jelang subuh usai menyantap makan sahur di bulan Ramadan kemarin, tak sengaja kusaksikan sebuah tayangan video tentang penyerangan tentara Israel ke masjidil Aqsa di malam ke 27 Ramadan, yang lewat di beranda akun sosial mediaku. Hatiku seketika bergetar pilu. Betapa tidak, kiblat pertama umat Islam diinjak-injak kehormatannya dengan penuh kesombongan oleh kaum Yahudi laknatullah.

Jeritan para perempuan terdengar mengiris hati di sela-sela suara bedil dan granat kejut. Belum lagi suara tangisan anak-anak yang ketakutan, terdengar menyayat kalbu. Terlihat, banyak yang terluka atas kejadian tersebut. Mataku mendadak panas seiring hatiku yang bergejolak menahan amarah. Marah atas perlakuan keji nan jauh dari manusiawi terhadap saudara muslimku di sana.

Tiba-tiba anak sulungku menghampiri, "Bunda, kenapa menangis?" tanyanya penuh keingintahuan.

Aku pun memperlihatkan video penyerangan itu kepada anakku, setelah itu kujelaskan secara singkat awal mulai Israel menginvansi Palestina. Anakku tampak memendam rasa benci, "Kenapa mereka begitu jahat?"

"Karakter orang-orang Yahudi memang seperti itu. Mereka ingin menguasai tanah Palestina karena merasa bahwa itulah tanah yang dijanjikan untuk mereka. Padahal Palestina adalah tanah milik umat Islam. Namanya tanah kharajiyah. Dulu, Palestina ditaklukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Salahudin Al-Ayubi. " Jelasku.

Setelah itu, kembali kusaksikan video lainnya, yakni video yang merekam ribuan rakyat Palestina yang bersumpah di depan Masjdil Aqsa untuk mempertahankan tanah yang diberkahi itu. "Birruh, Biddam, Nafdika Yaa Aqsa!" pekik mereka penuh semangat. Tak ada rasa takut sama sekali di wajah-wajah mereka, yang terpancar hanyalah kekuatan cinta yang begitu dahsyat kepada Rabb mereka, Allah Swt.

Besarnya cinta di dada mereka, membuat mereka bertekad mempertahankan tanahnya, bukan semata karena dorongan nasionalisme, melainkan karena memahami bahwa selamanya tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin, tanah kharajiyah. Maka, tak boleh dirampas sejengkal pun dari tangan kaum muslimin. Atas nama cinta pula, mereka tak takut akan kematian, justru kematian itulah yang mereka cari. Bukankah setiap muslim yang berjuang atas nama Allah lantas ia terbunuh, maka matinya adalah syahid? Adapun mati syahid adalah kematian yang paling didambakan oleh setiap muslim. Itulah cita-cita tertinggi, karena orang yang syahid akan mendapatkan banyak kemuliaan di sisi Allah Swt.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“ Orang yang mati syahid di sisi Allah mempunyai enam keutamaan; dosanya akan diampuni sejak awal kematiannya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dijaga dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, diberi mahkota kemuliaan yang satu permata darinya lebih baik dari dunia seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari dan diberi hak untuk memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya,” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sungguh, dari Palestina lah aku belajar tentang cinta sejati. Betapa cinta mampu mengalahkan segala rasa yang bergejolak di dada. Sampai-sampai seorang anak kecil pun memancarkan kekuatan cinta yang sama. Mereka berani berdiri di depan moncong senjata zionis Israel dengan tangan hampa. Lisan mereka tak lepas dari zikrullah tatkala rentetan suara rudal mengusik malam mereka. Ya Rabb.. Aku malu karena belum bisa melakukan apa-apa selain doa. Aku juga malu, atas diri yang diliputi keamanan, kenyamanan, dan ketenangan, namun mungkin belum memiliki iman sekuat mereka.

Duka Palestina masih terasa bahkan hingga malam Idulfitri kemarin. Saat di negeriku, gema takbir berkumandang dengan hiasan senyum dan wajah-wajah cerah kaum muslimin penuh suka cita, di Palestina tak sama potretnya. Kaum muslimin di sana masih berkubang duka, satu persatu tempat tinggal mereka dihancurkan, keluarga mereka meregang nyawa, lantas bagaimana mungkin mereka bersuka cita?

" Duaarrr! " Suara petasan meletus cukup keras di dekat tempat tinggalku. Tradisi malam takbiran, seperti itulah biasanya. Anak-anak menyalakan petasan. Namun, suaranya yang keras dan bertubi-tubi membuat bayiku menangis karena kaget, pun anak balitaku yang langsung menghampiri memelukku, "Bunda, takut… " Katanya.

Ingatanku pun kembali melayang pada anak-anak Palestina itu. Jika suara petasan saja, membuat anak-anakku ketakutan, bagaimana dengan mereka yang hampir setiap hari dihujani granat dan rudal, bukan lagi petasan? Pipiku seketika basah. Ada luka yang perlahan terasa perih di dalam dadaku.

Beginilah jika kaum muslimin tak memiliki perisai. Beginilah jika kaum muslimin terpecah-belah tak punya institusi. Nyawa mereka seakan murah harganya. Benarkah sabda Rasulullah Saw:

Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Kelak akan kukobarkan semangat perjuangan di dada anak-anakku dan kutanamkan rasa cinta yang begitu menghujam pada Rabb semesta alam sebagaimana tercermin dalam diri kaum muslimin di Palestina. Dari Palestina, sungguh aku belajar tentang cinta. Cinta yang penuh keagungan, cinta yang tak mampu terbeli oleh apapun. Dialah cinta kepada Sang Pemilik Kehidupan, Allah Swt. Untuk-Nya lah kami hidup dan kelak kepada-Nya lah kami kembali. Allahu Akbar!!!!!![]


photo : pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Mewujudkan Kehidupan Baru Pasca Ramadhan
Next
Melazimi Korupsi dalam Negara Demokrasi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram