Antara Dakwah dan Publik Speaking

Antara dakwah dan publik speaking adalah dua hal yang saling berkaitan. Pengembangan dakwah harus pandai publik speaking agar apa yang disampaikan mudah dipahami oleh masyarakat.

Oleh. Dewi Kusuma
(Kontributor NarasiPost.Com dan Pemerhati Umat)

NarasiPost.Com-Aktivitas dakwah adalah kewajiban yang datangnya dari Allah. Sedangkan publik speaking adalah teknik penyampaian dalam berdakwah. Keduanya bisa dilakukan di mana saja. Di segala situasi dan tempat demi meraih rida Allah semata

Menikmati perjalanan dengan kereta api commuter line. Transportasi murah yang disiapkan pemerintah untuk masyarakat. Meski penumpang pun penuh sesak, banyak yang bergelantungan tangan pada ring pegangan. Namun, mereka rela demi menjangkau biaya yang murah.

Di setiap gerbong KRL terdapat tempat duduk khusus yang diperuntukkan untuk para lanjut usia, ibu hamil, disabilitas dan orang tua yang membawa anak kecil. Alhamdulillah iktikad baik ini ditaati oleh kebanyakan para penumpang KRL.

Hal ini adalah termasuk menjaga adab dalam memberikan perhatian kepada orang lain. Meskipun tempat duduk tersebut telah mereka duduki sebelumnya. Mereka rela berdiri demi memprioritaskan kepada 4 golongan penumpang tadi.

Indahnya adab dalam mengarungi kehidupan ini. Terlebih saat aturan Allah diterapkan di setiap lini kehidupan. Tentu keindahan itu semakin terasa menyejukkan hati. Adab dipatuhi aturan Allah pun dijalankan.

Adanya aturan Allah yang diterapkan dalam kehidupan tentu menguatkan kita dalam menjalani kehidupan, sebab manusia bersifat lemah. Dengan menaati aturan-Nya, maka Allah akan menguatkan kita. Memberikan semangat dan nikmat dalam melakukan aktivitas di dunia ini.

"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (TQS. An-Nisa: 59)

Meski perjalanan penuh dengan banyaknya penumpang. Namun, kita mesti bijaksana dalam menyikapi keadaan. Agar perjalanan tersebut tidak membuat hati kita boring, maka kita manfaatkan waktu yang ada dengan menjalin komunikasi dengan sesama penumpang. Apalagi di momen Ramadan yang penuh berkah ini. Semua bisa dijadikan sebagai bahan untuk meraih amal ibadah.

Kita bisa menanyakan tentang puasa Ramadan yang sedang kita jalani atau bisa bertanya bagaimana saat bekerja sambil menjalankan ibadah puasa Ramadan. Bisa juga bertanya dari mana, mau ke mana mengadakan perjalanan menggunakan KRL ini.

Semua itu bisa dipakai untuk ajang dakwah dan ajang untuk mengolah publik speaking. Sebab dakwah bukan hanya disampaikan saat di atas podium atau di atas panggung. Namun, bisa dilakukan di segala kesempatan. Dengan gaya bahasa yang menarik dan sapaan hangat, maka suasana akan menjadi nikmat.

Membuat konten di atas KRL pun menjadi hal yang mengasyikkan, sehingga kita terhibur dalam menikmati perjalanan KRL yang penuh sesak. Memberikan tempat duduk saat menunggu kereta api datang pun menjadi saat yang tepat untuk memulai kita dalam berkomunikasi maupun memulai dakwah dengan orang lain.

https://narasipost.com/story/02/2024/public-speaking-yang-terasa-gagal/

Di sinilah aku memulai mengaplikasikan bahwa antara dakwah dan publik speaking itu adalah dua hal yang saling berkaitan.

"Ibu silahkan ini masih ada tempat duduk yang kosong di samping saya". Demikian pembuka obrolan saya saat menunggu kereta datang.

"Dari mana ibu? Mau ke mana? Kok sendirian? Tidak ditemani anak, cucu maupun suami?" Demikian berondong pertanyaan saya.

"Terima kasih, Neng sudah memberikan tempat duduk dan juga menyapa ibu", katanya.

Ibu itu pun bercerita bahwa dia telah hidup seorang diri di usianya yang sudah di atas 60 tahun. Eh, cuma kenapa beliau sebut saya dengan panggilan neng? Memang saya masih muda? Lah, usiaku 'kan sudah sama-sama senja. Jadi kegeeran nih? Paling usiaku dengan usia ibu tersebut sepantaran.

Beliau ditinggalkan suaminya meninggal sudah lama. Anaknya pun meninggal di usia masih 7 tahun dan satu sudah dewasa. Beliau pun menitikkan air mata mengungkapkan kesedihannya. Beliau bercerita bahwa tidak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Hidupnya disantuni oleh tetangga dekatnya. Setiap kali ditanyakan bantuan sosial ke petugas untuk dirinya, jawabannya, belum ada bagian untuk nenek. Padahal, beliau melihat banyak yang mendapatkan bantuan. Namun sebenarnya mereka masih mampu. Waduh jadi mengaduk rasa nih si ibu.

"Sabar Bu, begitulah kenyataan hidup saat ini. Pemerintah belum tuntas memberikan BLT. Apalagi saat ini antara kebutuhan pokok maupun memenuhi kebutuhan dasar serba sulit. Semua akibat dari ditinggalkannya aturan Allah dalam menjalani kehidupan maupun bernegara. Jadi masyarakat mesti harus hidup mandiri tanpa ada yang mengayomi." Begitulah yang bisa aku katakan kepadanya.

"Ini mau ke mana? Kok jauh-jauh naik kereta?"

"Ya mau ke rumah teman. Barangkali di sana ada rejeki. Kebetulan ada yang ngasih uang Rp15 ribu dibuat ongkos," jawabnya.

"Mau bekerja ya enggak ada yang mau terima karena sudah tua," tambahnya.

Ya Allah, ini hanya segelintir orang yang saya ajak ngobrol di antara banyaknya orang yang sedang dalam perjalanan. Miris, tidak ada jaminan hidup untuk para orang tua seperti dia. Apa yang aku bisa? Hanya sekadar menyelipkan uang untuk berbuka puasa. Aku ucapkan salam dan untuk berhati-hati sebelum saya turun dari kereta.

“Akan merasakan manisnya iman; orang yang rida Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.”
(HR. Muslim no. 34)

Demikianlah satu dari banyaknya cara menghubungkan antara aktivitas dakwah dan publik speaking. Pengembangan dakwah harus pandai publik speaking agar apa yang disampaikan mudah dipahami lawan bicara kita.

Kisah ibu tadi adalah kenyataan hidup yang menggambarkan bahwa pentingnya umat untuk memiliki junnah yang mampu mengayomi seluruh masyarakat. Kesengsaraan sering terjadi. Para orang tua usia senja pun tak tersantuni. Salah satu pilihan tepat hanya kembali kepada masa kejayaan Islam saat Rasulullah saw. memimpin negara di Madinah. Nabi saw. menerapkan syariat Islam secara sempurna. Menjalankan syariat Islam secara totalitas dalam memimpin negara dan menjalankan roda pemerintahan yang dipimpinnya. Alhamdulillah sejarah mencatat kejayaan Islam meliputi 2/3 dunia dan berjaya selama 13 abad.

Wallahu a'lam bishawab.[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com
Dewi Kusuma Kontributor NarasiPost.Com & Pemerhati Umat
Previous
Krisis Mental Health Melanda Keluarga
Next
Daya Beli Melemah, Ekonomi Kian Merapuh
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Firda Umayah
Firda Umayah
13 days ago

Barakallah untuk Bu Dewi. Bu Dewi memang kelihatan lebih muda dari usia yang ada. Masyaallah semoga sehat selalu dan istikamah di jalan dakwah Islam ya bu. Aamiin

Dewi Kusuma
Dewi Kusuma
Reply to  Firda Umayah
13 days ago

Aamiin
Barakallah fik mba Frida jangan pernah lelah ajak aku dalam ketaatan

bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram