Ketika Cinta Berujung Petaka

Dan Janganlah Kalian Mendekati Zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”
(QS Al-Isra [17]: 32).


Oleh. Hana Annisa Afriliani,S.S
(Penulis Buku "Menikah Rasa Jannah)

NarasiPost.Com-Cinta tak selamanya membawa pada kebahagiaan yang hakiki. jika jalannya saja banyak dinodai. Ya, begitu banyak orang yang salah dalam memaknai cinta. Kata mereka, cinta sekadar rasa. Padahal cinta adalah sebuah penghargaan atas sesosok jiwa yang dicinta. Maka, wujudnya adalah memuliakan dan menghormati.

Ketika cinta sekadar rasa, maka dia bisa menjelma menjadi syahwat liar tanpa batas. Tak bisa diredam. Seperti yang terjadi pada seorang teman perempuanku di masa kuliah dulu. Beberapa bulan belakangan, beberapa teman kasak-kusuk tentang tingkahnya yang aneh. Setiap ke kampus, dia selalu menutupi bagian perutnya dengan jaket yang disampirkan di tangannya. Dan ketika tersingkap, ada beberapa teman yang menyadari bahwa perutnya terlihat membuncit. Perawakannya kurus, sehingga ketika ada perubahan pada tubuhnya terlihat sangat jelas.

Akhirnya aku dan beberapa teman memutuskan untuk menemuinya di kostannya, karena kami tak ingin membicarakannya di belakang. Kami ingin semuanya jelas, tanpa prasangka. Bukankah dalam Islam, sebagian prasangka adalah dosa? Ya, daripada dosa, lebih baik langsung bertabayyun kepada yang bersangkutan. Di kostannya kami menanyakan perihal tingkahnya yang belakangan terlihat aneh dan perutnya yang agak membuncit.

" Ah, nggak ada yang aneh kok. Kalau aku buncit, ya mungkin memang aku lagi gemukan aja kali yaa.. " ucapnya sambil tertawa dipaksakan. Kutahu ada yang dia tutupi. Sorot matanya memancarkan kecemasan. Tapi aku dan teman-teman tak ingin mendesaknya terus. Kami berusaha percaya dengan pengakuannya.

"Kita lihat saja beberapa bulan ke depan!" batinku kala itu. Kalau memang hamil tentu perutnya akan lebih besar lagi.

Dan benar saja beberapa bulan berikutnya dia tidak pernah lagi datang ke kampus. Selidik punya selidik, dikabarkan katanya dia sudah menikah dengan pacarnya, teman satu kampus juga. Aku dan teman-teman sedikit kaget dengan kabar itu, karena sebelumnya dia tak pernah membicarakan rencana menikah. Lebih kaget lagi adalah ketika sebulan setelah menikah, dia melahirkan.

Astagfirullah..ternyata benar bahwa kemarin dia hamil. Miris aku mendengar kabar itu. Sehari-hari dia memang sangat lengket dengan sang pacar. Pulang kuliah selalu bareng, makan di kantin bareng, bahkan sering terlihat berduaan di waktu istirahat. Betapa aktivitas pacaran yang dilarang syariat sungguh mampu menjerumuskan seseorang dalam kehinaan. Inilah yang disebut cinta berujung petaka.

Islam melarang mendekati zina. Adapun pacaran terkategori mendekati zina. Bahkan sangat dekat. Karena dalam pacaran ada aktivitas yang mampu membangkitkan syahwat, seperti berkhalwat (berdua-duaan), berpegangan tangan, bahkan lebih jauh dari itu. Tak jarang, orang yang berpacaran berujung pada melakukan hubungan layaknya suami istri. Untuk pembuktian cinta, katanya. Dan bagi mereka itu sah-sah saja. Tak sadar dosa mengintai.

Allah Swt berfirman:

"Dan Janganlah Kalian Mendekati Zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.”
(QS Al-Isra [17]: 32).

Padahal cinta yang hakiki hanya ada dalam pernikahan. Ya, itulah cinta sebenar-benarnya cinta. Cinta yang memuliakan, bukan cinta yang menghinakan.

Kisah temanku itu memberikan pelajaran amat berharga, bahwa kita harus mampu menahan diri dari hal-hal yang dilarang oleh agama. Bukan tak boleh jatuh cinta, sebab itu adalah fitrah. Wujud naluri berkasih sayang yang Allah karuniakan di setiap diri manusia sejak penciptaannya. Namun, hendak dibawa kemana rasa cinta yang menetes di jiwa itu adalah mutlak pilihan kita.

Tak perlu mengikuti tuntunan nafsu, cukuplah syariat menjadi rambu-rambu. Jika belum sanggup menikah, jagalah hati kita, sibukkan diri dengan aktivitas bermanfaat. Apalagi di masa muda, alangkah sia-sia jika waktu digunakan untuk bermaksiat kepadaNya. Ukirlah prestasi, produktiflah dalam kebaikan. Niscaya waktu muda kita akan diselimuti berkah.[]


Photo : Google Source

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Ada Masalah, Hayati dan Hadapi
Next
Islam itu Inspirasi, Aspirasi dan Solusi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram