Mahligai Kemenangan

Nasionalisme memang tampak indah. Kita tidak mencampuri urusan negara lain. Namun sebagai muslim, kita wajib berpegang teguh pada tali (agama) Allah. Kita dilarang bercerai-berai karena apa pun, termasuk sekat nasionalisme.


Oleh: Afiyah Rasyad

NarasiPost.Com-Duhai, indah nian bagaskara di bumi Anbiya'. Dersik memukau menyeret pasir dengan lembut. Bulir bening menggenang di netra Mahmud. Sejauh mata memandang, sisa reruntuhan gedung tampak memilukan, berlawanan dengan pesona panorama pagi. Badan tegapnya berdiri. Pandangannya menyapu sekeliling pelataran masjid sembari merekam suasana itu. Emir, sahabatnya menerima rekaman video itu.

Hati Emir ngilu tak terperi. Dia merindukan sosok seperti Salahuddin Al Ayyubi yang diceritakan kakeknya dulu. Dia berharap, ada pasukan setangguh itu untuk membebaskan kembali Palestina. Tak akan berpikir dua kali, dia akan berangkat ke Palestina menggabungkan diri dengan pasukan pembebas. Namun, Emir hanya mampu memberi motivasi agar terus bersabar dan berjuang mewujudkan janji Allah dan bisyarah Rasulullah. Meski motivasi sederhana yang dikirim Emir, Mahmud merasakan bungah dan semangat yang berlipat ganda.

Emir tentu saja mengutuk dan mengecam kebiadaban Israel. Pemuda 18 tahun itu merasa murka menyaksikan kekejaman Israel meski hanya dari video. Dia sadar, permasalahan Palestina dan penderitaan muslim di dunia tak akan selesai hanya dengan kecaman ataupun bantuan suaka saja. Emir telah mempersiapkan diri sesadar-sadarnya sejak usia sangat belia. Kisah-kisah dari sang kakek begitu mempengaruhinya. Keteladanan Ummi dan Abi ikut serta dalam pembentukan karakter Emir yang prima.

Emir turut ambil peran dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam. Dia ikut pembinaan rutin dan kegiatan dakwah berjamaah sejak usia 13 tahun. Emir tidak mau sekadar ikut dan menonton kedua orang tuanya yang gigih dalam memperjuangkan Islam. Pemuda supel dan baik itu mengajak teman sebayanya untuk terlibat aktif dalam medan dakwah. Kesabaran dan keuletan menjadi sifat yang menempel pada Emir. Allah memudahkan usahanya. Banyak temannya yang tergabung dalam barisan dakwah. Hal itu Emir syukuri tiada henti. Doanya semakin dikencangkan agar bisa mengetuk pintu langit dan pertolongan Allah segera datang.

Emir dan teman-temannya istikamah mengkaji Islam kafah pada Ustaz Wildan. Mereka aktif di dunia nyata dan maya menyerukan Islam. Bukan tanpa ujian dan cobaan ketika mereka aktif berdakwah. Berbagai fitnah dan tuduhan keji mengitari mereka. Namun, sedikit pun mereka tak terpengaruh oleh sebutan radikal radikul ataupun good looking. Mereka fokus pada perjuangan Islam.

"Belum ada apa-apanya, Mir, perjuangan kita di sini dibanding saudara-saudara kita di Palestina," ujar Ghufron berapi-api memberi suntikan semangat pada Emir dan teman-temannya.

Emir langsung meneruskan kiriman video dari Mahmud di seluruh grup WA. Berbagai respon dia dapatkan. Banyak respon negatif yang diterima. Alasan klasik nasionalisme mencuat di layar androidnya. Hatinya tentu saja terasa panas bagai tersengat aliran litrik. Namun, dia bersemangat menanggapi respon, selama itu bukan debat kusir.

"Tante yang baik, nasionalisme memang tampak indah. Kita tidak mencampuri urusan negara lain. Namun sebagai muslim, kita wajib berpegang teguh pada tali (agama) Allah. Kita dilarang bercerai-berai karena apa pun, termasuk sekat nasionalisme. Maaf Tante, bukan bermaksud menggurui, tetapi setiap muslim itu bersaudara. Saya rasa Tante paham hal itu." Emir menanggapi salah satu respon negatif.

Sementara itu, respon positif juga sangat banyak. Namun, hal itu tak membuat pemuda berparas oval itu jumawa. Dia selalu berusaha menyadarkan siapa pun, terutama keluarga besarnya untuk menerapkan Islam secara sempurna.

"Tujuan kita di dunia ini adalah beribadah pada Allah. Jangan sampai ada sedikit pun aktivitas kita, terutama dakwah kita sia-sia. Namun, semuanya harus bernilai ibadah agar kita bisa meraih rida Allah Swt. Itulah kebahagiaan hakiki bagi kita. Bagaimana caranya? Libatkan Allah dalam seluruh aktivitas kita atau yang sering kita sebut idrak sillah billah!" nasihat Ustaz Wildan terhujam dalam kalbu dan benak Emir.

Emir menyadari bahwa manusia itu lemah, terbatas, dan butuh pada yang lainnya. Maka, dia tsiqah dalam barisan dakwah agar senantiasa terkontrol. Selain itu, dakwah berjamaah merupakan kewajiban yang harus dijalankannya, tidak cukup umi dan abinya saja. Sebagai anak sulung, dia berkomitmen agar adik-adiknya menjadi pengemban dakwah juga. Sehingga, keluarganya menjadi salah satu keluarga yang membangun mahligai kemenangan Islam di dunia ini.

Segala penderitaan akan sirna saat Islam dijadikan landasan berpikir dan aturan dalam kehidupan. Penindasan, penjajahan, dan penganiayaan yang membabi-buta juga tak akan berlarut begitu lamanya saat Islam menjadi mercusuar peradaban dunia. Emir suka sekali membaca Shirah Nabawiyah karena hal itu bisa memberinya asupan energi positif yang super dahsyat. Dengan begitu, Emir akan semakin bersemangat membangun mahligai kemenangan Islam. Dengan begitu, arunika akan berpijar indah dalam harmonisasi kehidupan Islam, selamanya.[]


photo : pinterest

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
PPN Direncanakan Bakal Naik, Ekonomi Masyarakat Makin Tercekik
Next
Di Balik Dukungan Setengah Hati AS dan OKI terhadap Palestina
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram