Ajari Aku Alquran

Aku menggeleng pelan dan menunduk, malu sekali. Padahal, baru ditanyakan di dunia, bagaimana nanti kelak setelah meninggal? Apa yang aku jawab di hadapan Allah? Ya, ampun, sudah lama aku tidak menyebut nama-Nya.

Oleh: Nina Ummu Muza

NarasiPost.com - "Jadi, bagaimana keputusanmu mengenai syaratnya?" tanya seseorang membuyarkan lamunanku. Syarat yang sebenarnya mudah bagi sebagian orang untuk menyanggupi, namun, berbeda denganku.

"Aku juga bingung. Niat untuk melamarnya waktu itu muncul begitu saja sehingga tidak berpikir dulu, dia mau atau tidak denganku yang belum jelas masa depannya," jawabku semakin lemas dengan bayangan yang semakin jauh dari harapan.

Apalah daya, aku hanya seorang pengamen jalanan, tinggal beratap langit dan tidur beralaskan kardus. Pakaian yang kumiliki bisa dihitung jari. Bisa makan dengan sebungkus nasi dan telur sebagai lauk merupakan anugerah. Tapi aku berani mengajukan diri melamar seorang gadis anggun, saleha, dan bersuara lembut.

Tiga tahun lalu, aku dan teman sekampung memberanikan diri keluar dari kampung halaman untuk mengadu nasib di kota. Naasnya, saat di perjalanan, tas berisi bekal yang kubawa selama satu bulan raib digondol orang tak bertanggung jawab. Untuk hidup di kota, aku mengandalkan diri dengan mengamen dan kerja serabutan. Sedangkan temanku bekerja sebagai sales alat masak.

"Optimis, lah, bro!" ucapnya mencoba menyemangati, tapi terdengar mengejek.

"Bisa jadi, syarat yang diajukan itu hanya cara halus menolakku. Mastinya, tolak aja dengan jelas," keluhku.

Aku semakin merutuki diri yang terlampau tinggi berharap bisa memperistri bidadari. Bukankah Allah tidak akan menyulitkan hamba-Nya ketika memberikan ujian? Ujian miskin harta sering kualami, tapi sakitnya tidak seperti ujian hati kali ini.

Pertemuan dengannya tidak sebanyak aku naik-turun bus mendendangkan lirik lagu yang bermodalkan gitar kecil milik temanku. Kalau dihitung, hanya tiga kali kami bertemu. Pertemuan pertama terasa biasa. Pertemuan kedua, ada getaran halus saat kulirik dirinya yang hanya menunduk membuka segenggam benda kecil yang isinya berlembar-lembar dengan tulisan Arab. Apakah itu yang disebut Al Quran? Entahlah, rasanya sudah lama aku tidak membuka lembaran itu. Kemudian pertemuan ketiga, mulutku justru dengan lancang mengajaknya berkenalan. Apakah dia mengacuhkanku? Tidak, justru dari sana aku mendengar suaranya.

"Assalamu'alaikum …"

Aku mencoba menyapanya. Metromini itu menjadi saksi bisu keteganganku ketika menyapa dengan salam yang kutahu biasa diucapkan oleh seorang muslim ketika memulai obrolan. Kerudung yang menutupi kepalanya menujukkan dengan jelas bahwa dia seorang muslim.

"Wa'alaikumussalam." jawabnya singkat dengan tetap menundukkan pandangan. Hanya saja, benda kecil yang biasa dibacanya ditutup, menujukkan dia akan mendengarkanku.

"Boleh kita … kenalan? Nama saya Joni," ucapku tergagap sambil menyodorkan tangan. Entahlah dari mana aku mendapatkan keberanian.

"Saya Hafizah," jawabnya singkat sambil menelungkupkan kedua tanganyan di dada.

Aku segera menarik tangan yang hanya disambut dengan angin lalu. Kusapu seluruh isi Metromini. Saat itu, tidak banyak penumpang. Hanya saja, beberapa pasang mata mengamatiku seperti tatapan mengejek, kasihan atau bahkan jijik? Entahlah.

"Kalau Abang mau mengenal saya, silakan datang ke alamat ini," lanjutnya sambil memberikan secarik kertas, menggantikan perhatianku terhadap beberapa pasang mata yang ternyata multi tertarik dengan obrolan kami.

Kubaca sekilas, kali ini cukup berterima kasih pada emak yang sudah memarahi agar pergi ke sekolah sehingga l bisa baca dan tulis.

Jl. Widuri, Perum Indah Asri Blok. H No. 9

Itu sebuah alamat. Aku bingung. Apa … maksudnya, aku disuruh ke rumahnya? Beragam pertanyaan belum sempat kuutarakan, ternyata dia sudah turun di tempat tujuannya.


Hal gila itu pun akhirnya kulakukan setelah satu bulan pertemuan terakhir kami. Iya, setelah Pertemuan itu, kami tidak lagi bertemu. Namun anehnya, aku semakin ingin menemuinya.

Dengan persiapan ala kadarnya, kemeja dan celana yang berhasil kubeli di pasar loak dari hasil kerja serabutan dan mengamen beberapa hari. Tidak lupa, kubeli sekotak martabak manis sebagai bingkisan. Aku berhasil menemukan dan mengetuk rumahnya.

Ternyata aku berhadapan dengan orang terpandang. Saat mencari alamatnya, semua orang pasti tahu hingga akhirnya saat ini aku berdiri di sebuah bangunan berpuluh lipat rumah emak di kampung dengan pagar menjulang ke atas. Saat itu, ternyata nyaliku masih ada. Buktinya, saat ini aku kelimpungan memikirkan syarat yang diajukannya.

Akhirnya aku memencet bel yang menempel di dekat gerbang yang menjulang setelah beberapa kali maju mundur menghitung kancing di kemeja.

"Wa'alaikumussalam …" sahutan di dalam semakin membuatku ketar-ketir. Hati kecilku tetap menyemangati karena sudah sejauh ini untuk bertemu sang pujaan hati. Namun, dengan alasan apa aku bisa bertemu lagi dengannya? Sedang pusing memikirkan alasan, tiba-tiba terdengar suara kunci pagar dibuka.

Seorang wanita paruh baya berkerudung muncul di balik pagar.

"Siapa, ya? Oh, Abang yang mau melamar jadi tukang kebun?"

Aku yang belum sempat mengenalkan diri jadi memiliki alasan untuk bisa masuk. Tanpa sengaja aku pun melihat selembaran yang ditempel di dekat pagar. Ternyata benar, rumah ini sedang mencari tukang kebun. Pantas saja saat menanyakan alamat, orang-orang selalu bertanya, "Tukang kebun baru, ya?" Kenapa baru terpikir? Pucuk dicinta ulam pun tiba, pepatah yang pas untukku saat ini.

"Siapa, Bi?" tanya seseorang di lantai atas yang bisa langsung melihat halaman depan pagar.

Suara itu, suara yang beberapa pekan ini seperti menghantuiku.

"Ini, Neng, ada yang mau jadi tukang kebun."

"Oh, masuk aja, ada Ayah!"

"Nah, ayo, Bang ,masuk. Ada sedikit wawancara sama Bapak."

Wanita paruh baya itu sedikit membukakan pagar dan masuk ke dalam. Aku pun mengekorinya hingga masuk ke rumah. Sepertinya ruang tamu. Aku dipersilakan duduk dan ditawari minuman. Sebegitunya aku diperlakukan padaha hanya untuk melamar tukang kebun apalagi melamar anaknya.

Kusapu sekeliling, nampak ruang tamu yang mewah. Di hadapanku, nampak foto jumbo berpigura yang menempel di tembok. Ada pujaan hatiku di sana bersama dua prison dan seorang wanita yang duduk di kursi roda.

Seseorang keluar dari sudut ruangan yang berada di samping foto berpigura.

"Masyaallah, dengan Abang siapa namanya?" tanya orang itu menya, seorang lelaki yang usianya pertengahan abad, tapi memiliki wajah yang teduh.

"Oh, ya, saya Joni, Pak."

"Abang Joni asalnya dari mana?"

"Asli Cirebon, Pak"

"Masyaallah! Kok bisa tahu, di sini sedang mencari tukang kebun?" tanyanya penasaran.

Tidak mungkin aku menjawab karena diberi alamat oleh putrinya yang cantik, makanya datang kemari untuk berkenalan. Heheh, bisa-bisa aku nggak bisa keluar dari rumah ini, malah jadi umpan amuk masa.

"Bang Jon? "

"He, oh ya, Pak, saya sedang mencari pekerjaan tetap. Awalnya serabutan di pasar. Karena tidak pasti dapat kerjaan, saya keliling mencari pekerjaan di beberapa komplek. Akhirnya, saya lihat tempelan depan rumah Bapak dan beranikan diri untuk bertanya, masih ada lowongan?" jawabku panjang lebar, setelah putar otak.

"Oh, Alhamdulillah. Bang Joni, muslim? Maaf, ya, saya tanya ini, agar lebih enak dan nyaman dalam kita bersosialisasi."

"I … iya, Pak," jawabku ragu. Di KTP-ku tertulis agama Islam, berarti aku muslim, kan? Ah, tapi rasanya malu sekali.

"Alhamdulillah, bisa baca Alquran?"

Aku menggeleng pelan dan menunduk, malu sekali. Padahal, baru ditanyakan di dunia, bagaimana nanti kelak setelah meninggal? Apa yang aku jawab di hadapan Allah? Ya, ampun, sudah lama aku tidak menyebut nama-Nya.

"Tidak apa, jangan sungkan. Kalau mau kerja di sini, syaratnya Bang Jon mau belajar Alquran, gimana?"

"Kalau melamar anak Bapak, apakah ada syaratnya juga?" tanyaku spontan.

"Maksud Bang Jon, Hafidzah? Tentu, saya akan pastikan harta berharga milik saya diberikan kepada orang yang telah Allah pilih. Kok, jadi ke anak saya? Apakah Bang Joni kenal Hafidzah?"

Akhirnya aku jujur dan menceritakan kisah pertemuan dengan Hafidzah hingga bisa datang ke rumahnya. Raut wajah Pak Rahman, lelaki paruh baya itu tidak menampakkan wajah kesal, marah atau jijik setelah mengetahui bahwa ada seorang pengamen yang tidak memiliki rumah, datang ingin melamar anaknya.

"Apa Bapak tidak marah sama saya?"

"Cinta dan ketertarikan adalah fitrah manusia. Bagaimana menyikapinya, itu pilihan manusia. Saya tidak marah Bang Joni suka sama anak saya bahkan ingin melamarnya. Masyaallah, sebuah keberanian luar biasa bagi laki-laki yang langsung ingin berkomitmen dengan seorang perempuan tanpa berpacaran.

Namun, saya walinya pasti akan memastikan terlebih dahulu siapa laki-laki yang pantas menggantikan saya menjaga dan memikul tanggungbjawab dunia akhirat Hafidzah."

Gejolak perasaanku yang semula ingin melamarnya, menguap menjadi rasa bersalah dan takjub dengan ketegasan Pak Rahman.

"Kalau ini, syaratnya lebih berat, bisa hafal Alquran minimal satu surat dan maknanya. Bagaimana? Tapi Bang Joni belajar Alquran jangan semata untuk melamar anak saya, ya, niatkan karena Allah, insyaallah, Allah yang akan memberikan jalannya. Kalau kalian berjodoh, Allah yang tunjukkan pertemuan kalian lagi dengan kondisi berbeda, bahkan lebih baik lagi," lanjutnya sambil menatapku tegas.

Akhirnya obrolan kami ditutup dengan pamitnya diriku. Pak Rahman bahkan mengundang lagi, jika syaratnya mampu kupenuhi. Bahkan tetap menawariku pekerjaan sebagai tukang kebun.


"Heh, Bro, jadi gimana kelanjutannya?" tanya teman sekampungku membuyarkan lamunan tadi.

"Oke, dipastikan aku akan tetap melamarnya, setelah aku belajar Alquran dan memaknainya. Insyaallah, Allah yang akan tentukan jalannya. Kalau tidak berjodoh, setidaknya aku telah menemukan cinta sejati melalui ucapan Pak Rahman."

"Mantap, Bro. "

-Tamat-

Picture Source by Google


Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Nina Ummu Muza Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Pengorbanan yang Bernilai
Next
Jaga Kesehatan Otak dengan Buah Berry
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram