Tiga Puluh Purnama

"Kemudian  menghilang, tak ada kabar sama sekali. Keluarga Rafi pun mencemaskan anaknya. Ini sudah tiga puluh purnama, hampir tahun ketiga, dan belum ada kabar."


Oleh: Widayati, Pegiat Literasi Surabaya

NarasiPost.Com-Sore yang gerimis, Kinan menatap tetesannya yang mirip benang- benang halus yang turun dari langit. Bunyi air hujan ketika jatuh di atap memperdengarkan nada tersendiri. Cafe Zahra sedang tidak banyak pengunjung sore itu. Kinan mengambil tempat favoritnya, di samping jendela.

Cafe akhwat, begitulah teman rohisnya dulu memberi julukan, sebab sebagian besar pengunjung adalah perempuan. Menatap lemon tea pesanannya yang tinggal separuh, Kinan menghela napas panjang. Rasanya ingin sekali ia melepas beban yang mengimpit di dada saat ini. Ingatan gadis itu melayang pada kata-kata ibunya seminggu yang lalu.

“Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu,” kata Ibu waktu itu.

Kinan yang baru saja membuka laptop, perlahan menutup kembali benda persegi itu. Pasti ada yang serius, batin Kinan menduga. Mereka sedang di ruang tengah berdua. Ayah pergi jamaah ke masjid di seberang jalan.

“Ada apa, Bu? Kok sepertinya penting sekali?” Kinan menatap ibunya. Wanita setengah baya itu bergerak meraih jemari gadis sulungnya.

“Nduk, kamu tahu Om Pras yang kemarin malam bertamu ke sini?”
Kinan mengangguk. Om Pras teman lama Ayah. Sayang, Kinan tidak bisa ikut menemuinya karena ada kajian keputrian yang harus dia handel.

“Beliau … ingin menjodohkanmu dengan Rizal, putranya.” Senyum Ibu merekah.

Dingin merambati seluruh tubuh. Kinan menahan diri untuk tidak menggigil. Begitulah yang dirasakan gadis itu, setiap kali ia terlalu terkejut. Ibu mengeratkan genggamannya, seperti ingin memberi kekuatan.

“Ibu dan Ayah tidak berjanji  apa pun pada beliau. Semua terserah padamu karena kamu yang akan menjalani. Ibu dan Ayah hanya ingin Kinanti bahagia, tidak merasa terpaksa melakukannya. Ibu ingin melihatmu bahagia, seperti Bimo.”

Mata ibu berkaca-kaca. Kinan menelan ludah. Ada nyeri dalam hati melihat wanita terkasih ini sedih, apalagi itu disebabkan olehnya.
Bimo, adik lelaki satu-satunya telah menikah tahun lalu. Sekarang, Sekar, istri Bimo tengah mengandung empat bulan.

“Sudah hampir tiga tahun, apakah kamu akan terus menunggu Rafi?” tanya Ibu dengan suara tertekan.

“Ibu….”

“Ibu tahu, Rafi pemuda yang baik dan saleh. Ibu juga tahu, ia akan menepati janjinya. Tapi, ibu tak rela melihatmu seperti ini, seperti tak dianggap. Apakah Rafi rutin menelponmu?”

“Ibu, Kak Rafi bukan orang yang seperti itu,” jelas Kinan lembut.

“Ibu juga tak rela kamu jadi bahan gunjingan orang.” Meleleh sudah air mata beliau. Hati Kinan merasa diremas.

“Ibu ….”

“Pikirkanlah permintaan Om Pras, Nduk! Istikharahlah, semoga Allah memberi jalan terbaik! Ayah dan Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu.” Sambil mengusap ai mata, ibu meninggalkan Kinan.

Gerimis sore ini masih jatuh, dan Cafe Zahra mulai ramai pengunjung. Di sebelah jendela, gadis manis itu mengusap matanya yang basah, ”Ya, Rabb, tolonglah hamba!”
*

Rafi El Rumi, kakak laki-laki Zahra, sahabat kecil Kinan, mereka sering main bersama karena rumah mereka bersebelahan. Laki-laki dengan perawakan sedang dengan dagu kokoh dan kulit sawo matang itu cenderung pendiam dan tak pedulian. Namun, ia selalu siap menolong bila Kinan membutuhkan bantuan, mengajarinya matematika.

Kinan selalu ingat caranya menerangkan soal, sangat runut dan jelas. Saat SMP, Kinan suka mendengar suaranya yang lembut, dan diam-diam mencuri pandang pada rambut Kak Rafi yang berombak. Ada anak rambut yang sering sekali jatuh di kening, membuat gadis itu teringat seorang superhero di film. Ketika naik kelas tiga SMP, Kinan jarang bertemu dengannya saat main ke rumah Zahra.

”Mondok,” kata sahabat kecilnya.
Setelah itu, keluarga Zahra pindah karena Abah Zahra pindah tugas ke provinsi lain.

Mereka bertemu kembali ketika Rohis kampus Kinan mengadakan kajian tafsir dengan mengundang seorang ustad muda, Rafi El Rumi. Begitulah, mereka berdua akhirnya bertemu kembali, saling tukar nomor ponsel, dan dua bulan kemudian Rafi menyatakan keseriusannya pada Kinan.

[Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaikum wr wb
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Rafi El Rumi bin Abdul Manaf
Asal    : Dari keluarga baik-baik
Menyatakan keinginan hati, untuk menyunting Kinanti  binti Adi Gunawan menjadi pendamping di dunia ini hingga jannah.
Demikian proposal ini dibuat, dan semoga jawaban yang menyejukkan bisa didapat.
Terima kasih. Wassalamualaikum wr wb]

Pesan WA panjang dari Kak Rafi membuat bunga di hati Kinan bermekaran. Ia tak menyangka, ternyata Kak Rafi romantis juga.

Satu bulan sebelum proses lamaran, Kak Rafi datang ke rumah Kinan dengan wajah gundah.

“Aku ingin ketemu Pak Gunawan,” kata Kak Rafi menyebut nama ayah Kinan.

Kemudian Kak Rafi mulai menjelaskan segalanya, tentang beasiswa S2 yang dia terima dari salah satu universitas di Khartoum, Sudan. Dia harus berangkat bulan ini, dan tanggal keberangkatan sudah ditentukan.

“Jadi, Bapak, saya mohon maaf bila rencana kedatangan keluarga saya untuk mengkhitbah Kinan, saya undur,” terang Kak Rafi dengan suara bergetar.

“Sampai kapan?” Getas suara bapak menjawab.

Hening. Rafi hanya menunduk, sementara Kinan mulai dijalari udara dingin. Bagaimanapun, ia tak tega Kak Rafi ditekan ayahnya.

“Saya janji, saya akan segera kesini setelah pulang, tapi kalau Kinanti merasa terlalu lama dan ada seseorang yang ingin menikah dengannya, saya akan melepaskan.” Getar suara lelaki muda ini semakin kentara.

“Saya akan menunggu, insyaallah,” sahut Kinan cepat. Ada gurat lega yang tersirat di wajah Kak Rafi. Ayah menghela napas, masgul.

“Kau sudah mendengar jawaban Kinan. Bapak harap, kamu menetapi janji, Nak Rafi!”

Rafi mengangguk, “Insyaallah.”

Setahun pertama setelah percakapan itu, sesekali Kak Rafi menelpon ayah Kinan, mengabarkan kondisinya. Kemudian  menghilang, tak ada kabar sama sekali. Keluarga Rafi pun mencemaskan anaknya. Ini sudah tiga puluh purnama, hampir tahun ketiga, dan belum ada kabar.

“Di manakah sesungguhnya dirimu, Kak Rafi? Semoga Allah melindungimu selalu dalam kebaikan,” doa Kinan, setiap kali ia teringat laki-laki itu, seperti saat ini.

Dering ponsel mengalihkannya. Telepon dari Zahra! Cepat, digesernya ikon hijau bergambar telepon.

“Assalamualaikum, Kinaan … Kak Rafi besok pulang!” Zahra menjerit di seberang telepon.

TAMAT[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Widayati Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Lingkar Kajian Sejarawan ILKI Memanggil Sejarawan Meneliti Sejarah dari Arsip Relasi Ustmani dengan Nusantara
Next
Kuldesak Demokrasi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram