Nasihat Ayah

Sosok ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Sosok yang selalu melindungi tanpa batas kasih sayangnya dan tanpa bosan memberi nasehat demi putrinya.

Oleh: Sarah Mulyani

NarasiPost.Com-“Ih, sebal. Kenapa sih, seenaknya aja orang lewat menginjak teras rumah?” keluh seorang gadis saat membersihkan teras yang penuh dengan jejak sandal dan tanah. Kemarin sore memang turun hujan.

Keluhan itu terdengar sang ayah yang sedang berada di dalam rumah. Lelaki itu berjalan menghampiri puterinya.

“Teh, daripada menghabiskan energi untuk marah-marah dan ngeluh, fokus aja bersihkan teras! Sayang, energinya kebuang sia-sia kalau cuma marah-marah gitu!”

Ayahnya memanggil Teh, singkatan dari teteh. Itu adalah panggilan pada anak perempuan atau perempuan yang lebih tua di suku Sunda. Ia memanggil Teteh pada gadis itu untuk membiasakan panggilan pada adik-adiknya.

“Iya, tapi kesel, Pak. Mereka kok gak ada pikiran banget, seenaknya aja injek teras rumah orang. Kan, jalan masih luas?” jawab puterinya yang masih kesal.

Rumah itu berlokasi di gang kecil. Di sana terdapat persimpangan. Posisi rumah tepat di persimpangan gang. Karena itu, seringkali orang yang lewat menginjak teras rumah saat hendak berbelok, bukan melalui jalan yang seharusnya.

Ayah pun hanya tersenyum dan membiarkan puterinya membersihkan teras sampai selesai. Setelah selesai bersih-bersih, gadis itu pun melanjutkan pekerjaan rumah yang lain, kemudian mengambil waktu untuk istirahat dengan menonton TV atau pun mendengarkan musik.

Pada kesempatan lain, keluar lagi keluhan dari lisan gadis tersebut.

“Piring numpuk banget di wastafel. Kenapa sih, nyimpen piring kotornya sembarangan gini?”

Lagi-lagi keluhan dilancarkan, tapi pekerjaan tetap diselesaikan juga. Sepanjang aktivitas mencuci piring, selama itu juga mulut itu ikut ‘bekerja’, mengeluh pada adik-adiknya yang menumpuk piring kotor sembarangan di wastafel.

Keluhan demi keluhan diucapkan setiap mengerjakan pekerjaan rumah, terlebih ketika ada hal yang dianggap mengganggu, misalnya, saat ada handuk basah di atas kasur, menyimpan barang tidak pada tempat semula, sepatu atau sandal bekas pakai yang tidak disimpan lagi ke rak, sajadah yang tidak dilipat lagi setelah digunakan, dan sebagainya.
Bahkan tidak jarang sang ayah yang tidak asing dengan penampakan tersebut justru memancing omelan puterinya. Hal itu terus berulang untuk beberapa waktu.

Sampai pada suatu hari, ketika sedang santai, suasana hati sang gadis nampak sedang baik. Sang ayah pun mendekat.

“Teh, kalo lagi beres-beres rumah sambil ngomel kayak gitu, apa gak capek?” Sang Ayah melancarkan pertanyaan.

“Capek atuh, Pak. Lagian, pada seneng banget sih, bikin rumah berantakan!”

“Oh, gitu?”

Sang Ayah diam sejenak, memikirkan kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada puterinya.

“Nanti mah, gini aja Teh, kalo lihat sesuatu yang berantakan, tarik nafas dulu, istighfar, terus tenangkan diri dulu! Kalo dirasa udah siap, baru mulai beres-beres rumah lagi! Tapi, tanpa ngomel,” saran Ayah.

“Sayang Teh, energi yang keluar jadi dobel, kan? Energi untuk beres-beres rumah, juga energi untuk mengomel. Nah, ruginya lagi, pahala membantu orang tua bisa jadi batal karena ngomel terus.”

Meski si gadis berpura-pura menonton TV dan tidak mendengar apa yang disampaikan Ayahnya, tapi ia mencerna betul kalimat itu. Ia hanya membalas dengan nada lemas.

“Iya.”

Setelah hari itu, si gadis selalu berusaha mengurangi omelan selama melakukan pekerjaan rumah, terlebih ketika ada yang tidak sesuai dengan keinginan. Kalau melihat teras kotor karena orang-orang masih menginjak dengan seenaknya, ia hanya berusaha menarik napas dalam dan beristighfar, kemudian menunggu beberapa waktu untuk menenangkan diri. Terkadang ia memainkan ponsel atau kembali ke kamar hanya untuk berbaring. Setelah dirasa cukup, barulah mulai membersihkan teras dengan bahagia.

Bahkan setelah menikah pun, nasihat ayahnya terbukti sangat ampuh menengkan apabila suaminya ‘berulah’ menyimpan handuk basah di atas kasur, menyimpan piring kotor tidak pada tempatnya, menyimpan botol minuman dibawah ranjang.

Daripada membuang energi untuk mengomel, lebih baik memanfaatkan waktu untuk melakukan hal yang disukai. Dengan begitu, ia bisa mengumpulkan energi positif dan melanjutkan pekerjaan rumah tangga hingga selesai. Ia berusaha mengawali pekerjaan dengan mengharap rida Allah dan pahala atas segala kesabarannya dalam menghadapi hal-hal kecil tapi menjengkelkan.

Ia menikmati dengan senyuman saat melugat rumah yang berantakan selama beberapa saat. Yang terpenting adalah menghilangkan energi-energi negatif dan mengumpulkan segala energi positif. Penting disadari pula, bisa jadi, amalan kecil itulah yang bisa menambah pahala atau justru sebagai penggugur pahala.

Ia berusaha menjalankan peran sebagai seorang istri dan pengatur rumah tangga semata-mata karena kesadaran, dalam rangka taat kepada suami dan mengikuti tuntunan agama. Wallahu’alam[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Sarah Mulyani Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Islam Ada, Keberkahan Menjelma
Next
Persepsi 2021: Rapatkan Barisan, Optimalkan Perjuangan, Songsong Abad Khilafah
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram