Cinta Pertama

“Dengan sakit ini, Bapak diminta Allah untuk istirahat dulu. Jika sudah cukup istirahat, Allah pasti sehatkan Bapak kembali."

Oleh: Deena Noor

NarasiPost.Com-Teringat masa kecilku, kaupeluk dan kaumanja
Indahnya saat itu, buatku melambung
Di sisimu terngiang hangat, napas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Kauingin 'ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktu kuberanjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu, jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Kuterus berjanji 'tak 'kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
'Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu
Andaikan detik itu 'kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
'Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Kuterus berjanji 'tak 'kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya kumencintaimu
'Kan kubuktikan kumampu penuhi maumu
*
Sayup-sayup kudengar lagu Ada Band mengalun dari radio yang berasal dari kamar Sita, tepat di sebelah kamarku. Lelahku setelah dari pagi berkutat dengan segala aktivitas di kampus berubah syahdu. Tanpa terasa, bulir bening telah menggenang di pelupuk mata ini. Rindu padanya tiba-tiba menyergap. Haru, teringat setiap memori indah tentangnya.

Sudah dua tahun ini Bapak tiada, tepat sebelum aku memulai status sebagai seorang mahasiswi. Tak terbayangkan bahwa aku akan mengawali masa dewasa dengan kepergiannya.

Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Sering kudengar dan kubaca kalimat ini. Aku setuju. Cintanya tak pernah lekang, tanpa syarat, hanya mengharap putrinya selalu bahagia, aman, tentram, jauh dari segala kesulitan dan bahaya.

Masih kuingat ritual pagi sebelum berangkat kerja. Selalu tercium aroma minyak rambut andalannya, seusai mandi, campuran fenomenal antara gel rambut dengan minyak urang-aring, unik dan tiada bandingannya! Seragam kerja selalu rapi, bahkan diikat pakai raffia supaya tak ketarik-tarik. Sungguh trik yang mantul! Hehe…

Bapakku orang yang sesuai antara perkataan dan perbuatan. Ia jujur, sederhana dan lurus, tak ada pencitraan. Ia tidak neko-neko, apa adanya. Ia berkata dengan perbuatan. Ia tunjukkan dengan aksi nyata bahwa jika ingin sukses, harus mau kerja keras dan berkorban, dalam hal apa pun. Semua itu tertancap di pikiranku, terngiang selalu hingga kini setelah puluhan tahun berlalu.

Ia juga suka memuji untuk setiap hal baik yang kulakukan, bukan hanya tentang prestasi akademik. Ini membentukku menjadi orang yang tak melulu melihat sesuatu dari materiil belaka. Kebahagiaan jauh lebih dari sekadar ketercapaian pada materi.

Kala rindu tiba, kukirimkan doa untuknya. Selalu ada nama bapak dalam setiap sujudku. Hanya inilah yang bisa kulakukan untuknya. Kuyakin, Tuhan akan selalu menjaga di manapun ia berada. Meski kami telah terpisah dunia, namun ia di hatiku selamanya.

Sakit menjadi pengantar kepergiannya menghadap Sang Pencipta. Tiga tahun lamanya, ia bergelut dengan stroke yang melemahkan, tak hanya fisik, tapi juga semangat. Ia yang pekerja keras, amat terpukul dengan penyakit yang sangat membatasi gerak itu. Lelaki yang giat bekerja itu dipaksa untuk diam sementara. Tubuhnya pun kian kurus.

Kami sekeluarga tidak hanya merawat fisik, tetapi mengembalikan semangatnya. Aku turut menyemangati dengan memijit-mijit kaki sambil bercerita banyak hal, tentang sekolah, tentang cita-cita dan harapan, tentang si Deni, cowok RT sebelah yang katanya naksir aku, atau tentang berita terkini. Pokoknya, apa pun yang bisa membangkitkan semangatnya untuk sembuh kembali.

“Dengan sakit ini, Bapak diminta Allah untuk istirahat dulu. Jika sudah cukup istirahat, Allah pasti sehatkan Bapak kembali.

Begitulah ibuku berusaha memompa semangat bapak. Dan benar, Allah cukupkan istirahat bapak di dunia. Kamis, dini hari, bapak dilarikan ke RS karena kejang-kejang. Itulah terakhir kali aku melihat bapak, tanpa ada kata pamit atau apa pun. Karena setelah itu, ia koma hingga ajal menjemput.

Tak sempat aku meminta maaf atas semua kesalahanku padanya. Tak sempat aku berterima kasih untuk yang terakhir kali atas segala cinta dan kasih sayangnya yang tulus. Tak sempat kusampaikan, betapa aku bangga dan bersyukur menjadi putrinya.
Tak sempat, semua terjadi begitu cepat. Ah, sungguh kematian adalah yang paling dekat dengan kita, teramat dekat hingga ia bisa datang kapan pun tanpa kita tahu waktunya.

Di hari Jum’at yang gerimis sedari pagi itu, Allah memanggil bapak pulang. Suara Pak Marjuki yang mengumumkan meninggalnya bapak melalui toa masjid, memecah siang yang hening, sendu, pilu, sekaligus lega karena bapak tak merasa sakit lagi. Tak terasa air mataku mengalir deras. Inilah yang terbaik baginya. Istrirahat yang tenang, Bapak…

Kini, aku hanya mampu menjumpainya dalam doa. Tangan kokoh itu tak lagi bisa menopang setiap saat. Tak bisa lagi kulihat senyum tipis, setipis kumis yang selalu tercukur rapi itu. Tak ada lagi sosok kurus nan kuat menunggangi motor bebek merah mengantar ke mana pun aku pergi. Bapak… Aku bangga menjadi putrimu.

Namun, semua yang telah ia lakukan untukku akan selalu menjadi motivasi agar diri ini terus berbenah, supaya ia bisa bangga padaku. Karena dialah, aku mendapat motivasi besar dalam berhijrah. Aku ingin membalas semua kasih sayangnya dengan berusaha menaati perintah-Nya. Aku ingin menjadi putri yang salehah untuknya, yang mampu menerangi rumah sementaranya di sana, hingga kelak kami kembali berkumpul di surga-Nya. Semoga…[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim Penulis Inti NarasiPost.Com
Deena Noor Tim Penulis Inti NarasiPost.Com
Previous
Jumawa Manusia
Next
Jaminan Sosial Yang Sempurna Dalam Islam
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram