Bla … Bla … Bla … Ha … Ha … Ha

Barangsiapa yang mencari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan membuka aibnya. Dan barangsiapa yang Allah buka aibnya, maka Allah membongkar keburukannya walaupun ia bersembunyi.
(Hadits ini dihasankan Al-Bani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Oleh: Dewi Purnasari
Aktivis Dakwah Politik.

NarasiPost.Com-Hampir setiap sore, di pinggir jalan depan rumah, ibu-ibu ramai berkumpul. Kalau tidak karena hujan lebat turun, hampir dipastikan mereka berada di tempat itu. Jumlahnya relatif, kadang lima orang, kadang lebih. Kebanyakan mereka tetangga satu gang dekat rumahku. Apa yang mereka lakukan? Ya … ngerumpi, masak mengaji?

Dari dalam rumah, bisa terlihat dengan jelas aktivitas mereka. Karena itu, aku sudah hapal jam berapa mereka mulai berkumpul, yaitu sekitar pukul empat sore sampai berkumandangnya azan Magrib dari musalah dekat rumah. Sebelum azan terdengar, bisa dipastikan mereka tidak akan bubar. Bahkan pernah setelah azan Magrib, ‘diskusi’ masih terus berlanjut. Mungkin karena masih belum puas ngerumpi.

Topik rumpian tidak jelas, mengalir saja seperti air. Apa yang ada di dalam pikiran, mereka lontarkan begitu saja. Lontaran itu kemudian menjadi topik yang seru karena di-tik-tok oleh yang lain. Apalagi ketika dibumbui dengan candaan, maka tik-tok-nya menjadi makin seru.

Seperti itulah, celoteh nyaring dan deraian tawa selalu menghiasi sekitar dua jam waktu itu. Bahkan teriakan dan ringkikan keras dari tawa mereka bisa terdengar hingga gang sebelah. Bla … bla … bla … ha … ha … ha, terdengar riuh rendah.

Kadang apa yang dilihat oleh mata, bisa menjadi topik pembicaraan. Orang yang kebetulan lewat juga tak luput dari gunjingan. Semua hal bisa menjadi bahan rumpian.

Pernah ketika pulang dari warung, aku bertanya kepada salah seorang dari mereka. Kebetulan, sehari sebelumnya terdengar kabar bahwa ada tetangga di RT sebelah jatuh sakit. Maka, aku bertanya tentang tetangga tersebut, sakit apa, dan dirawat di RS mana. Yang menjawab hanya satu orang. Jawabannya pun singkat dan padat saja. Lalu, si ibu itu dengan santai meneruskan kembali gunjingannya.

Aku menggelengkan kepala sambil membatin. Ternyata ibu-ibu jika sedang asik ngerumpi memang susah diajak bicara serius. Jangankan berbicara tentang agama, untuk serius bicara terkait kesusahan orang lain saja enggan. Bahasan yang mereka sukai, ya, seputar kekurangan orang lain, atau barang-barang yang dipunyai atau tidak oleh orang lain. Yang paling top disukai adalah pembicaraan vulgar menyangkut urusan ranjang suami istri. Astaghfirullah!

Aku tak habis pikir, apa asiknya membicarakan hal-hal seperti itu? Apalagi jika menyangkut aib orang lain, jelas berdosa itu. Allah Swt. menegaskan dalam firman-Nya di Surah Al-Hujurat ayat 12, yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain, dan janganlah di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian akan merasa jijik. Bertawakallah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Dalam pandangan Islam, ngerumpi disebut ghibah. Pengertian ghibah dijelaskan oleh Baginda Rasulullah saw. dalam satu hadits-nya:

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Lalu sahabat berkata: “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu.” Rasulullah bersabda:
“Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang ia benci.” Beliau lalu ditanya: “Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan itu benar tentang saudaraku?” Rasulullah bersabda: “Jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu, maka sungguh engkau telah ghibah tentang saudaramu dan jika yang engkau katakan adalah yang sebaliknya, maka engkau telah menyebutkan kedustaan tentang sudaramu.”
(HR. Muslim no. 2589).

Jadi ghibah itu jelas diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, baik yang benar, apalagi yang dusta. Hal ini karena tujuan membuka keadaan orang lain dengan sengaja adalah sekadar untuk membicarakan saja, tanpa mengambil pelajaran (ibrah) darinya.

Apalagi membicarakan orang lain itu ditujukan untuk menyebar-nyebar berita agar diketahui orang banyak. Sesungguhnya seseorang pasti merasa tidak suka jika berita tentang keadaannya disebarluaskan tanpa persetujuan darinya. Itu sifat alami manusia.

Lebih parah lagi, jika keadaan orang lain itu dijadikan bahan olok-olok, seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu tadi. Mereka dengan gembiranya menertawakan orang lain, tanpa beban, tanpa rasa takut sedikit pun! Padahal, Rasulullah dengan tegas menyerukan:

“… Barangsiapa yang mencari aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan membuka aibnya. Dan barangsiapa yang Allah buka aibnya, maka Allah membongkar keburukannya walaupun ia bersembunyi.
(Hadits ini dihasankan Al-Bani dalam Shahih At-Tirmidzi).

Tak takutkah mereka dengan ancaman Allah?! Bahkan jika mereka menyadari kesalahannya karena telah melakukan ghibah, maka taubat yang harus mereka lakukan sangat berat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah  dan lainnya menyatakan, bahwa pelaku ghibah harus meminta ampun kepada orang yang telah di-ghibah-nya. Ia harus menyebutkan kebaikan-kebaikan dari orang itu di tempat-tempat ia melakukan gibah. Berat, bukan? Apalagi banyak orang yang kemudian akan mengetahui sifat buruk mereka yang suka ber-ghibah itu, sehingga secara umum orang akan menjauhi mereka.

Ada yang beranggapan, bahwa melakukan diskusi tentang agama juga termasuk ghibah, karena membicarakan keburukan orang lain. Padahal, ini adalah dua hal yang berbeda.

Jika kita membicarakan tentang keburukan sistem atau peraturan kehidupan, itu tidak termasuk ghibah. Membicarakan perbuatan pelaku maksiat dan kezaliman juga tidak termasuk ber-ghibah selama ditujukan untuk mengambil ibrah dari perbuatan buruk tersebut, agar kita tidak mengikuti jejak langkah mereka.

Selama kita tidak menghina fisik makhluk ciptaan Allah, itu bukan ghibah. Selanjutnya, memaparkan kebenaran yang seharusnya kita lakukan agar menjauhi perbuatan zalim dan maksiat, itu harus disampaikan. Supaya lebih jelas, maka dalil dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah juga harus disampaikan. Itu langkah yang harus ditempuh dalam berdakwah dan berdiskusi. Jadi jelas bedanya, bukan?

Kembali kepada kumpulan rumpi di depan rumah. Terus terang, sangat sulit untuk menasihati mereka. Mereka adalah ibu-ibu yang tak pernah hadir di pengajian. Padahal, di forum itulah nasihat agama disampaikan.

Inginnya langsung menegur dan melarang, meski bisa jadi tidak berhasil, bahkan bisa-bisa aku malah menjadi bahan olok-olok mereka. Namun, lisanku tak bisa diam karena aku tahu mereka melakukan kesalahan. Semoga Allah memberi jalan dan memudahkanku dalam menyadarkan mereka. Aamiin. []

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Dewi Purnasari Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Empal Jantung Pisang, Tak Kalah Nikmat dari Empal Daging
Next
Perpres Penanggulangan Ekstremisme Multitafsir, Rentan Disalahartikan dan Disalahgunakan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram