Rakyat Berduka, Pejabat Pesta Pora, Wajah Kepemimpinan ala Demokrasi

"Rakyat butuh sosok pemimpin yang amanah hadir di tengah umat yang bisa membawa perubahan baru bagi tatanan masyarakat. Sososk pemimpin yang menjadi teladan dan mampu memelihara urusan umat."

Oleh. Ana Nazahah
( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

NarasiPost.Com-Sejatinya pemimpin adalah sosok yang layak dijadikan panutan. Karena itu, orang yang padanya diberikan amanah memimpin wajib memberi contoh yang baik. Namun, apa jadinya jika pemimpin justru melakukan perbuatan yang tidak layak? Seperti yang terjadi pada 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara. Dikutip dari CNNIndonesia (8/8/2021), sebanyak 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara (Labura) ditangkap aparat Polres Asahan, pada Sabtu (7/8) malam saat sedang dugem dengan sejumlah wanita dan mereka dinyatakan positif mengonsumsi narkoba.

Sungguh Ironis! Bagaimana bisa di tengah kondisi rakyat yang tengah kesusahan, ada pejabat yang justru pesta pora? Melanggar aturan PPKM dan mengonsumsi barang haram. Inikah wajah pemimpin hasil demokrasi? Mampukah pemimpin seperti ini membawa negeri menjadi lebih baik?

Fenomena Public Distrust

Kepercayaan adalah modal utama bagi pemimpin dipilih oleh rakyat. Atas sebab itu, rakyat meletakkan berbagai amanah kepemimpinan kepadanya. Mereka dipilih oleh rakyat, digaji dari uang rakyat, dengan harapan agar menjalankan mandat dan amanah demi terwujudnya kehidupan negara yang lebih baik. Maka, pemimpin yang baik itu, mereka wajib memiliki hubungan yang baik dengan rakyat. Membangun rasa percaya, sehingga rakyat merasa tenang dengan kepemimpinannya.

Namun, masalah klasik yang kita temui dewasa ini, justru sosok pemimpin tidak bisa dipercaya. Para pemimpin kerap berdusta, mengingkari janji, tidak adil, serta gagal memberi rasa aman dan ketenangan bagi rakyatnya. Hal ini kian diperparah dengan berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan pejabat. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi penyakit serius, menggerogoti tubuh pejabat bangsa.

Fenomena driskiminasi kebijakan oleh penegak hukum pun, tak luput jadi alasan bertambahnya ketidakpercayaan rakyat pada pejabat. Hukum yang tumpul ke atas, sementara tajam ke bawah, telah menimbulkan kekecewaan yang mendalam dan tertancap di benak rakyat. Sehingga wajar, terjadi krisis kepercayaan rakyat terhadap pejabat. Fenomena public distrush terjadi karena pejabat telah mengkhianati amanahnya sebagai wakil rakyat. Inilah yang menyebabkan rakyat akhirnya acuh tak acuh pada aturan dan hukum. Ketidakpatuhan hukum oleh pejabat, mendorong rakyat memilih abai terhadap aturan dan UU.

Dan inilah wajah kepemimpinan ala demokrasi, kebebasan berprilaku dijunjung tinggi. Sayangnya, kebebasan ini telah mematikan nurani, sehingga melahirkan pemimpin yang tidak amanah bagi rakyat, melainkan bekerja hanya demi kepentingan pribadi, kelompok, dan partainya masing-masing.

Sekularime Melahirkan Pemimpin Bermasalah

Di tengah krisis kepercayaan terhadap pemimpin ini, wajar saja jika rakyat merasa butuh reformasi dalam hal kepemimpinan. Masalahnya reformasi seperti apa? Apa cukup hanya sekadar ganti pemimpin? Benarkah disorientasi rakyat dan pejabat selama ini disebabkan oleh SDM?

Pada kenyataannya, sistem sekulerlah yang telah melahirkan pemimpin yang tidak jujur, korup, dan tidak bertanggung jawab. Siapa pun pemimpin yang lahir dari sistem ini, akan tetap sama, melanggengkan kebijakan pragmatis, menguntungkan kelompok atau partainya. Bisa dilihat dari angka korupsi yang tidak pernah surut, komitmen negara untuk memberantas korupsi tak pernah sampai ke akar. Sistem kapitalis dan pemerintah korup akan selalu hidup berdampingan.

Sekularisme inilah sumber masalahnya. Islam sebagai dien yang sempurna dijauhkan dari kehidupan. Sementara demokrasi hasil pemikiran terbatas manusia diambil dan dijadikan aturan demi menggeser hukum Tuhan. Aturan yang serba cacat inilah, yang melahirkan pejabat yang jauh dari sikap amanah.

Karenanya, siapa pun pejabatnya, SDA tetap dijarah asing, sementara rakyat tetap miskin. Koruptor tetap merajalela, sementara rakyat tetap menderita. Di tengah pandemi dan kesulitan ekonomi yang rakyat derita, pejabat malah pesta pora. Inilah potret kemimpinan hasil diterapkannya sekularisme dan demokrasi.

Rakyat Butuh Pemimpin yang Amanah

Amanah merupakan salah satu sikap yang wajib dimiliki seorang pemimpin. Menurut istilah, amanah sendiri memiliki makna kepercayaan, yakni orang-orang yang padanya dipercayakan urusan umat. Dan di dalam Islam, tidak ada kejujuran dan kepercayaan yang lebih tinggi kecuali hasil representasi iman dan ketaatan.

Karenanya, untuk mengemban amanah besar memimpin negara, rakyat butuh sosok pemimpin yang memiliki hubungan baik dengan Allah Swt. Kedekatan pemimpin dengan Rabbnya akan menjadikannya sosok yang takut bermaksiat dan takut berkhianat, semata karena sadar Allah senantiasa mengawasinya.

Pemimpin yang merasa diawasi Allah akan senantiasa menjaga amanah. Tersebab itu, dia akan selalu berpikir dan berbuat semata demi kebaikan umat yang dipimpinnya. Ia memiliki visi dan misi yang jelas terkait masalah keumatan. Memberi petunjuk pada rakyat yang dipimpinnya agar senantiasa berada di jalan kebaikan. Sebagaimana firman Allah Swt, dalam surat Al-Anbiya ayat ke 73. Allah menyebutkan ciri-ciri pemimpin yang amanah itu adalah mereka yang memberi petunjuk dengan wahyu, "Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah."

Khatimah

Di tengah kondisi terpuruk saat ini, tentu saja rakyat sangat merindukan sosok pemimpin yang amanah hadir di tengah umat. Pemimpin yang kehadirannya membawa perubahan baru bagi tatanan masyarakat. Sosok pemimpin yang ia mampu menjadi teladan bagi umat. Karena kemampuannya dalam hal memelihara urusan umat. Pun sebagai junnah, yakni ia yang menjadi perisai bagi rakyatnya. Dimana rakyatnya berada di belakangnya, sementara ia menjadi pelindung bagi rakyatnya.

Masalahnya, pemimpin yang baik harus lahir dari sistem yang baik pula. Dan sistem yang baik hanya bersumber dari syariat Islam saja. Karena itu, marilah kita penuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, untuk berhukum dengan hukum Tuhan. Agar negeri yang makmur ini bisa dipimpin oleh pemimpin yang amanah, sehingga berkah dari langit pun tercurah. Seluruh rakyat akan mendapatkan kemaslahatan, karena sistem Islam mampu membawa rahmat bagi sekalian alam.

Wallahu a'lam…[]

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim penulis Inti NarasiPost.Com
Yana Sofia Tim Penulis Inti NarasiPost.Com. Sangat piawai dalam menulis naskah-naskah bergenre teenager dan motivasi. Berasal dari Aceh dan senantiasa bergerak dalam dakwah bersama kaum remaja.
Previous
Nikah Dini Merebak di Masa Pandemi, Komplikasi atau Solusi?
Next
Perjuangan dengan Dakwah Islam
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram