Ironi Negeri Maritim, Alutsista Minim

Ketangguhan kekuatan militer Indonesia diakui dunia internasional. Berdasarkan data dari Global FirePower pada 2021, Indonesia berada pada peringkat 16 dunia. Dalam lingkup Asia, kekuatan militer Indonesia berada pada peringkat 6. Namun ketangguhan kekuatan militer ini tak akan berarti apa-apa jika negeri maritim ini tak memiliki kedaulatan penuh.


Oleh. Sri Indrianti (
Pemerhati Sosial dan Generasi)

NarasiPost.Com-Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 pada 21 April 2021 menyisakan duka yang begitu mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Pasalnya, 53 ksatria laut terbaik kebanggaan bangsa menjemput syahid di bulan Ramadan ini. Putra-putra terbaik yang harus gugur saat bertugas di tengah lautan.

Pengumuman resmi disampaikan oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai bahwa kapal selam KRI Nanggala 402 subsunk (tenggelam) dan 53 personel on board prajurit terbaik hiu kencana telah gugur. Kondisi kapal selam KRI Nanggala 402 terbelah menjadi tiga bagian. (Liputan6.com, 26/4/2021)

Kejadian tenggelamnya KRI Nanggala 402 beserta seluruh awaknya ini semestinya menjadi pelajaran bagi para punggawa negeri ini. Penyebab tenggelamnya kapal selam yang dijuluki monster laut ini harus segera diselidiki dan ditelisik secara teliti. Kemudian menjadi bahan perenungan, sudahkah selama ini melengkapi para ksatria pilihan ini dengan alat utama sistem senjata (alutsista) yang memadai?

Negara Indonesia merupakan negara maritim dengan luas laut 2/3 dari seluruh luas wilayah atau sekitar 5,8 juta kilometer persegi. Dengan wilayah laut seluas itu semestinya Indonesia memiliki alutsista memadai untuk menjaga pertahanan laut Indonesia. Apalagi negeri ini memiliki kekayaan laut yang luar biasa. Tentu saja potensi kelautan Indonesia ini menjadi incaran negara-negara penjajah.

Alutsista Minim

Negeri maritim dengan 62% wilayahnya berupa lautan ini ternyata hanya memiliki 5 kapal selam perang. Sangat jauh jika dibandingkan dengan negara Israel yang luasnya hanya 22.154 kilometer persegi, yakni luas tersebut merupakan setengah dari luas wilayah provinsi Jawa Timur. Namun, negara yang mendapatkan wilayah dari merampas Palestina ini memiliki armada kapal selam dengan jumlah yang sama, yakni 5 unit.

Selain kapal selam yang jumlahnya minim dalam artian tidak seimbang dengan luasnya wilayah perairan Indonesia, negeri maritim ini juga tidak memiliki kapal penyelamat kapal selam atau submarine rescue ship. Padahal keberadaan kapal penyelamat kapal selam ini sangat diperlukan. Sebagaimana pada kasus tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402, TNI AL bekerjasama dengan negara lain yang memiliki perangkat tersebut dalam proses penyelamatan. Sayangnya bantuan tidak cepat datang. Padahal penyelamatan kapal selam berkejaran dengan waktu.

Prajurit militer Angkatan Laut merupakan garda terdepan yang menjaga ketahanan dan keamanan wilayah laut Indonesia. Bisa diibaratkan laut adalah pintu utama masuknya kapal-kapal musuh yang mengincar kekayaan negeri ini. Oleh sebab itu, negara semestinya memberikan perhatian lebih pada prajurit dan memperbaiki kualitas alutsista pendukungnya. Bukan malah dengan membeli alutsista bekas atau kalaupun baru, membeli dengan cara impor dari negara maju yang tentu saja akan mampu menakar kekuatan militer negara pembeli.

Sebenarnya ketangguhan kekuatan militer Indonesia diakui dunia internasional. Berdasarkan data dari Global FirePower pada 2021, Indonesia berada pada peringkat 16 dunia. Dalam lingkup Asia, kekuatan militer Indonesia berada pada peringkat 6. Namun ketangguhan kekuatan militer ini tak akan berarti apa-apa jika negeri maritim ini tak memiliki kedaulatan penuh.

Kekuatan Militer Armada Laut Khilafah Islam

Khilafah merupakan negara berdaulat dengan penjagaan keamanan berada penuh dalam kendali Khilafah. Tak ada satupun negara yang berhak ikut campur urusan dalam negeri Khilafah. Bahkan Khilafah tak mudah menjalin hubungan luar negeri dengan negara di sekitar kekhilafahan.

Dengan model seperti itu menjadikan Khilafah Islam menjadi negara adidaya yang disegani oleh negara-negara di sekitarnya. Khilafah menjadi negara tangguh yang kekuatan militernya membuat gentar para negara musuh. Sebagaimana armada Romawi Timur (Bizantium) yang mengalami kekalahan telak dari armada kaum muslimin di bawah kepemimpinan Abdullah bin Sa'ad pada perang Sawari. Begitu juga ketangguhan armada
laut di bawah kepemimpinan Muhammad Al-Fatih yang berhasil memporak-porandakan benteng Konstantinopel.

Khilafah Usmani juga pernah mengirimkan 17 kapal perang lengkap beserta awak kapal dan kebutuhan logistik ke Aceh Darussalam yang saat itu melawan penjajah Portugis. Ketangguhan dari armada laut kaum muslimin pun tak bisa disebutkan satu persatu. Yang pasti bahwa ketangguhan dari armada laut kaum muslimin tak diragukan lagi.

Khilafah memang betul-betul memaksimalkan kekuatan militer beserta industri militer dan persenjataannya. Bahkan departemen industri pun juga berorientasi pada industri perang. Khilafah mendukung terus ditemukannya teknologi mutakhir demi menopang kekuatan Khilafah. Ketangguhan prajurit beserta kekuatan industri militer dan persenjataannya inilah yang akan membuat gentar negara-negara musuh.

Kondisi yang sangat berbeda dengan saat ini. Negeri-negeri kaum muslimin khususnya Indonesia justru bertekuk lutut pada negara-negara penjajah. Lantas sampai kapan hal ini terjadi? Haruskah menunggu terus para prajurit terbaik berguguran? Selama tidak menjadikan ideologi Islam sebagai dasar untuk mengatur negara, maka mustahil terwujud ketangguhan negara yang dapat menggentarkan negara-negara musuh.

Wallahu a'lam bish showab.[]


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Akhir Pencarianku
Next
Tragedi Nanggala 402 dan Kebutuhan akan Negara yang Memiliki Sistem Pertahanan Handal
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram