Sekularisme Menggerus dan Mematikan Nurani Ayah Terhadap Anaknya

Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lantas dia berbuat baik kepada mereka, niscara mereka akan menjadi penghalang dirinya dari api neraka.” (Muttafaqun ‘alaih)


Oleh. Miliani Ahmad

NarasiPost.Com-Setiap ayah pasti menginginkan masa depan yang terbaik bagi anak perempuannya. Dengan segala keperkasaannya, ayah akan berjuang sekuat tenaga agar putrinya bisa terjaga dan merasakan kebahagiaan. Namun hal ini tak berlaku bagi seorang ayah di Kota Medan.

Entah apa yang ada di benak seorang ayah yang berinisial S umur 38 tahun warga di Kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan. S tega mencabuli lima orang putri kandungnya yang masih di bawah umur sejak Oktober 2020 lalu secara berulang. Kelima putri tersebut berinisial N (14),VL (13), DN (10),GZ (7), dan NA (4). Kejadian bermula saat hubungan S dan istrinya tidak harmonis yang menyebabkan istrinya pergi meninggalkan rumah dan memutuskan tinggal di daerah Marelan.

Polisi telah melakukan penyidikan dan menangkap tersangka setelah sang ibu membuat laporan ke Polrestabes Medan. S hanya mengaku mencabuli satu anak, tapi berdasarkan hasil visum terhadap kelima anaknya ternyata menguatkan adanya dugaan pencabulan terhadap kelimanya. (cnnindonesia.com, 19/02/2021)

Apa yang dilakukan S terhadap anak-anaknya merupakan potret kebiadaban yang menimpa banyak keluarga di Indonesia. Tak hanya S yang tega terhadap anaknya, namun di berbagai sudut negeri ini masalah pencabulan ayah terhadap anak perempuannya menjadi fenomena gunung es yang belum terselesaikan.

Banyak faktor pendukung mengapa seorang ayah bisa tega 'memakan' anaknya sendiri. Gharizah nau' (nakuri seksual) yang ada pada manusia (ayah) sesungguhnya bisa bangkit jika ada faktor eksternal yang memengaruhinya. Seperti tontonan ataupun fakta sekitar yang vulgar dan mampu menimbulkan fantasi serta keinginan untuk memuaskannya.

Tontonan ataupun fakta vulgar yang demikian lazim tumbuh subur dalam sistem sekulerisme saat ini. Sekulerisme memang menafikan ajaran agama (Islam) yang memerintahkan untuk menjaga kemaluan serta menutup semua akses ataupun konten yang mengandung kepornoan. Akses-akses dan konten-konten tersebut banyak beredar di pasaran atau mudah juga ditemukan dalam berbagai media seperti TV dan media sosial.

Sistem yang hidup di bawah narasi kebebasan ini pun mempersilahkan siapa saja untuk boleh berbuat dan berpakaian semaunya dengan menonjolkan sensualitas. Perempuan berpakaian tapi telanjang banyak berkeliaran sehingga semakin memantik hasrat untuk memuaskan syahwat. Ketiadaan pasangan yang sah membuat masalah semakin runyam hingga maraklah kasus orang terdekat yang menjadi korban termasuk anak-anak.

Maka wajar, rantai hasrat seksual masyarakat tak pernah terpuaskan meskipun mereka sendiri mengaku muslim. Padahal jika ditangani dengan tepat naluri ini bisa ditundukkan. Jika tak terpenuhi pun naluri ini hanya menimbulkan efek kegelisahan.

Sekularisme telah memutilasi peran agama dalam membentuk keimanan. Masyarakat tak lagi memiliki daya tahan terhadap kerusakan akibat sistem pendidikan yang bertumpu pada cara pandang sekuler. Pada akhirnya, generasi hasil didikan sistem ini menjadi generasi yang minim iman dan tak memiliki cara pandang yang benar tentang kehidupan. Efeknya ketika mereka berumah tangga termasuk saat menjadi ayah, banyak melakukan kesalahan bahkan kebiadaban.

Padahal, jika negara berhasil menformat cara pandang masyarakat, pastilah mereka akan menjadi sosok hebat sekaligus figur terbaik bagi anak perempuannya. Mereka akan memahami posisinya secara baik dan benar untuk mendidik putri-putri mereka. Sebagaimana Islam telah menempatkan peranan penting seorang ayah untuk putri-putri mereka.

Dalam kitab Tarbiyatul Banaat fil Islam yang ditulis Syaikh Abdul Mun'im dijelaskan bagaimana peran ayah dalam membentuk emosional anak perempuannya. Salah satunya sang ayah harus mampu meyakinkan putrinya jika ia merupakan bagian dari ayahnya. Sang ayah harus mendukung putrinya. Dicontohkan bagaimana Rasulullah Saw. sangat memahami putrinya Fatimah. Dari Miswar bin Makhramah berkata : "Pernah Ali bin Abi Thalib berniat meminang putri Abu Jahal, lalu Fatimah mendengar kabar tersebut. Hingga ia datang kepada Rasulullah untuk melaporkan hal tersebut. "Orang-orang mengira bahwa Engkau tidak akan marah demi putri-putrimu dikarenakan Ali ingin menikahi putri Abu Jahal."

Mendengar pengaduan Fatimah dan putrinya, beliau lantas berdiri dan bersabda : "Amma ba'du. Aku telah menikahkan Abul Ash bin Rabi', dia mengatakan sesuatu kepadaku kepadaku dan dia memenuhi apa yang dia katakan kepadaku. Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari diriku, dan aku tidak menyukai seseorang menyakitinya. Demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah dengan putri musuh Allah di bawah naungan satu laki-laki." Ali bin Abi Thalib selepas itu langsung membatalkan pinangannya (H.R Bukhari no. 3729 dan Muslim no. 2449).

Tak bisa dikesampingkan peran ayah dalam mendampingi dan mendidik anak perempuannya. Hal ini amat diperlukan karena besarnya pengaruh anak perempuan ke depan dalam membentuk masyarakat bahkan peradaban. Artinya, jika anak perempuan itu baik maka baik pula segala urusan umat kedepannya. Tapi jika rusak iman anak perempuannya maka rusak pula kehidupan nantinya.

Karena perannya yang demikian besar, Islam pun memberikan keistimewaan bagi seorang ayah yang memiliki anak perempuan serta balasan setimpal bagi mereka yang mampu berbuat baik kepada putrinya.

عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبلُغَا جَاءَ يَومَ القِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barang siapa merawat dua anak perempuan hingga balig, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan seperti ini.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga bersabda,

لَا تُكْرِهُوا الْبَنَاتِ فَإِنَّهُنَّ الْمُؤْنِسَاتُ الْغَالِيَاتُ

Janganlah engkau membenci anak-anak perempuan. Sesungguhnya mereka adalah sumber kegembiraan yang mahal.” (HR. Ahmad no. 16922 dari Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu)

مَنِ ابتُلِيَ مِن هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيءٍ فَأَحسَنَ إِلَيهِنَّ كُنَّ سِ ر تًا لَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan ini, lantas dia berbuat baik kepada mereka, niscara mereka akan menjadi penghalang dirinya dari api neraka.” (Muttafaqun ‘alaih).

Maha Besar Allah dengan segala keagunganNya yang telah memberikan peluang besar bagi seorang ayah untuk meraih jariyah melalui putri-putrinya. Pahalanya akan terus mengalir hingga mengantarkannya pada keberuntungan hakiki yang tak bisa diganti dengan nikmat-nikmat lainnya.

Namun, peluang ini menjadi sulit untuk diwujudkan dalam sistem kehidupan yang mendepak syariat sebagai landasan dalam berbuat. Sistem ini menjadikan banyak ayah kehilangan hati nuraninya. Hilang pula kesadaran akan arti penting dirinya bagi anak perempuannya.

Maka, sudah selayaknya umat mengembalikan lagi fungsi seorang ayah pada jalurnya dengan bersama memperjuangkan penegakan Islam dalam bingkai sistem kehidupan yang pernah dicontohkan Rasulullah Saw. dan para khalifah sesudahnya. Dalam sistem ini peran ayah akan banyak dimudahkan. Negara akan menjaga pandangan mereka dengan menutup semua akses yang memunculkan kemaksiatan. Negara pun akan membantu mendidik putri-putri mereka dengan pendidikan berbasis akidah Islam. Ayah pun akan dilejitkan perannya untuk mencetak insan pembentuk peradaban.

Kesemuanya ini akan berada dalam satu mekanisme kepemimpin Islam yang bernama khilafah Islamiyah. Sebuah sistem yang telah terbukti memberikan jalan terbaik bagi perlindungan keluarga dan generasi.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan) hidup bagimu” (Q.S al-Anfaal:24).

Wallahua'lam bish-showwab[]


Photo pinteres

Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Generasi Emas Tidak Butuh Moderasi Agama
Next
Buanglah Demokrasi pada Tempatnya
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram