Refleksi 2020, The Dip Perjuangan Kebangkitan Islam

(Salah satu naskah Challenge NarasiPost.Com. Naskah tidak diedit oleh editor NP, sesuai keaslian para penulisnya )


Oleh: Saptaningtyas

"NarasiPost.Com-Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."  (QS. Al-A’raf :96)

Puncak keberhasilan ialah datangnya limpahan keberkahan dari Allah SWT atas penduduk negeri. Namun, keberkahan hadir hanya jika penduduk negeri bertakwa, yaitu melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karenanya, penerapan aturan Allah (syariat Islam) secara sempurna wajib diperjuangkan oleh umat Islam. 

Akan tetapi, sudah lazim (sunnatullah) bahwa perjalanan seseorang ataupun kelompok menuju keberhasilan (apa pun jenisnya), mustahil linear. Pasti akan mengalami halangan dan rintangan. Saat-saat sulit pasti dihadapi. Bahkan, hingga ada masanya  berada pada titik terendah. 

Fase tersulit perjuangan hidup manusia ini, oleh Seth Godin disebut dengan the dip. Dalam bukunya yang juga ia beri judul The Dip, Godin menggambarkan sebuah kurva The Dip. Yakni, kurva yang menunjukkan perjalanan dari titik nol, perlahan mengalami peningkatan, lalu menurun tajam hingga berada pada lembah terendah (dip). Namun, setelahnya justru ia mengalami eksponensial, melesat menuju puncak keberhasilan. 

Sikap seseorang atau kelompok dalam menghadapi fase the dip inilah yang menjadi kunci apakah ia akan mampu melampauinya lalu melesat menuju puncak keberhasilan, atau justru sebaliknya, menyerah pada kondisi yang salah hingga ia tetap terjerembab di lembah keterpurukan. 

Dalam penjelasannya, Seth Godin menjabarkan tiga langkah untuk bisa lolos dari fase the dip lalu meraih sukses. Pertama, keluar dari hal-hal yang salah (quit the wrong stuff). Kedua, bertahan pada hal-hal yang benar (stick with the right stuff). Ketiga, berani melakukan hal yang satu atau hal lain (have the guts to do one or the orther). 

The Dip Era Rasulullah saw. 

Jika diperhatikan, pada siroh perjalanan dakwah Rasulullah saw. dalam menyebarkan risalah Islam, tampak terbentuk pula kurva the dip ini. Titik nol dakwah Islam bermula ketika Rasulullah saw. pertama kali menerima wahyu Allah SWT melalui malaikat Jibril. Kemudian kurva menanjak seiring keislaman Siti Khadijah dan para sahabat, hingga Rasulullah saw. berdakwah secara terang-terangan di Makkah. 

Pada fase dakwah terang-terangan, rintangan dakwah bertambah. Kafir Quraisy berupaya menghalangi dakwah dengan melontarkan propaganda menentang beliau dan risalah Islam yang beliau emban. Bahkan, bukan hanya fitnah keji, Rasulullah saw. beserta para sahabat pun mengalami hambatan secara fisik. 

Kafir Quraisy semakin keras melakukan permusuhan terhadap dakwah. Mereka berusaha melakukan pembunuhan terhadap Rasulullah saw. Di samping itu, sahabat pun disiksa, bahkan Yasir dan Sumayyah istrinya syahid lantaran penyiksaan itu. 

Ini menggambarkan kurva dakwah berada di fase lembah terdalam (the dip). Quraisy membuat perjanjian tertulis yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib secara total. Tahun-tahun sulit bagi Rasulullah saw. dan sahabat di lembah Makkah. Namun, mereka tetap bersabar dan makin teguh mengenggam Islam. Pun, mereka kian semangat di jalan dakwah, mengajak manusia pada tegaknya agama Allah. 

Inilah makna quit the wrong stuff. Mereka dengan berani meninggalkan paham jahiliyah yang selama ini dianut penduduk Makkah. Lalu tetap bertahan dalam hal yang benar, apa pun yang terjadi (stick with the right stuff). Hingga kemudian Allah memberikan pertolongan. Pemboikotan berakhir, dakwah kembali menyebar di kalangan bangsa Arab. Fase eksponensial dakwah terjadi. Kabilah-kabilah yang datang berhaji (Aus dan Khazraj) menerima dakwah. Lalu, terjadi Bai'at Aqabah I. Atmosfer dakwah pun melingkupi penjuru Madinah. 

Selanjutnya Bai'at Aqabah II, disusul dengan hijrah, meninggalkan hukum jahiliyah yang dianut dan diterapkan Quraisy lalu menerapkan hukum Allah secara kaffah yang diawali di Madinah. Inilah yang terjadi. Rasulullah saw. dan  sahabat memiliki keberanian untuk melakukan yang satu dan meninggalkan yang lain (have the guts to do one or the orther). Atas izin Allah, Islam tegak di Madinah, dipimpin langsung oleh Rasulullah saw. meninggalkan the dip, melesatkepuncak keberhasilan. 

The Dip Era Milenial 

Jika direfleksikan, tak salah bila dinyatakan bahwa 2020 adalah the dip  perjuangan dakwah umat Islam. Baik secara global, maupun yang terjadi di negeri ini. Tahun 2020 bagai lembah kelam. Bukan hanya kesulitan akibat pandemi, namun juga karena pembenci Islam merintangi dakwah tegaknya syariah kaffah dengan menggunakan tangan-tangan kekuasaan.

Propaganda islamofobia melalui narasi radikalisme dan intoleransi terus diembuskan sepanjang 2020. Moderasi Islam dan deradikalisasi terus digaungkan. Dengan alasan itu, ajaran Islam pun diutak-atik. Materi khilafah dan jihad yang semula ada dalam mata pelajaran Fikih dipindahkan ke dalam Sejarah Kebudayaan Islam (Cnnindonesia.com, 8/12/2019). Revisi ini terus berpolemik di awal 2020 karena dinilai mereduksi ajaran Islam itu sendiri.

Polemik bertambah ketika narasi radikalisme kian kencang. Terlebih ketika BPIP memberikan pernyataan agama sebagai musuh Pancasila. Narasi-narasi yang seakan dituduhkan pada ajaran Islam dan pengemban dakwah Islam. 

Rintangan secara fisik pun dialami para pengemban dakwah. Sebagian aktivis dihadapkan pada meja hijau dan jeruji karena lantang menyuarakan Islam dan mengkritisi kebijakan yang zalim. Misalnya saja Despianoor, Ali Baharsyah, Gus Nur, Ustaz Maher Attuailibi, Ustaz Haikal hingga Imam Besar. Bahkan enam orang pengikut Imam Besar meninggal karena tembakan aparat. 

Rintangan dakwah pun terjadi pada organisasi. Restrukturisasi MUI pada November 2020 menyingkirkan ulama-ulama kritis. Di penghujung 2020, organisasi yang dipimpin Imam Besar yang dikenal lantang melakukan nahi munkar pun dibubarkan. Peristiwa ini mengulang kejadian 3 tahun sebelumnya saat pencabutan BHP organisasi yang lantang menyerukan penegakan syariah khilafah. 

Ditambah lagi, reshuffle kabinet telah menempatkan sosok yang dahulu diharapkan mewakili suara umat menjadi satu atap dengan yang tak setuju Islam kaffah. Keadaan ini menunjukkan seakan tak ada celah dalam sistem demokrasi  bagi dakwah syariah khilafah. Fase ini ibarat pemboikotan terhadap dakwah. Inilah the dip dakwah era milenial. 

Resolusi Hakiki

Jika dilihat, resolusi menghadapi fase the dip sebagaimana disampaikan Seth Godin, sejatinya telah ditempuh Rasulullah saw. dalam perjuangan dakwah beliau. Karenanya, umat Islam wajib meneladani metode Rasulullah saw. dalam menghadapi fase the dip dakwah. 

Pertama, dalam hal quit the wrong stuff, Rasulullah saw.keluar dari prinsip-prinsip salah yang diyakini Quraiys yang mengingkari kebenaran Islam. Karenanya,  umat kini harus keluar dari paham sekularisme-liberalisme yang jelas bertentangan dengan Islam.

Kedua, stick with the right stuff. Tetap berpegang teguh pada kemurnian ajaran Islam, tidak terjebak arus moderasi yang memalingkan dari kebenaran Islam. Semakin menguatkan keimanan, sabar, dan terus bersemangat mendakwahkan Islam meski apa pun yang terjadi.

Ketiga, have the guts to do one or the orther. Umat harus berani melakukan hal yang baru. Sebagaimana Rasulullah saw. berani mengingkari dan meninggalkan hukum jahiliah yang diterapkan di Makkah, umat kini harus berani meninggalkan sistem demokrasi-kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. 

Pasalnya, sistem ini tak ubahnya  hukum jahiliyah. Kerusakan sistem ini bahkan telah diakui oleh Barat sendiri. Kalaupun demokrasi mati, ujung kematiannya adalah tirani. Demokrasi rasa tirani itulah yang tersaji bagi umat di sepanjang 2020. Saatnya umat harus berani meninggalkan demokrasi dan melakukan hal baru, yakni merapkan syariah secara kaffah. 

Dengan itulah puncak keberhasilan kebangkitan Islam akan diraih. Sebagaimana bisyaroh Rasulullah saw., 

"Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.”
(HR. Ahmad) []


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com


Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kontributor NarasiPost.Com Dan Pegiat Pena Banua
Saptaningtyas Kontributor NarasiPost.Com
Previous
Bukan Sekadar Kebaikan
Next
Hukuman Kebiri, Benarkah Setimpal untuk Kekerasan Seksual?
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram