Sebuah Refleksi Akhir Tahun dan Misi Utama Kaum Muslimin

Apa yang dialami umat muslim sedunia di segala aspek kehidupan, merupakan akibat dari tidak diterapkannya sistem Islam. Semua kepedihan, penderitaan, dan kesengsaraan umat ini berawal dari penerapan sistem kufur.

Oleh : Nay Beiskara (Kontributor Media)

NarasiPost.Com — Allah Swt. telah menyematkan titel 'Khoiru Ummah' pada pundak umat muslim. Namun, titel ini tak begitu saja didapatkan oleh umat. Ada syarat dan ketentuan berlaku. Yakni, kala umat menunaikan kewajiban amar ma'ruf nahi munkar demi tegaknya hukum Islam di bumi Allah. Penegakan hukum Islam ini yang kemudian menjadi misi utama umat muslim. Bukan hanya di negeri ini, tapi juga seluruh dunia.

Realita kaum muslimin hingga saat ini masih terpuruk di segala bidang kehidupan. Yaitu dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, maupun keamanan. Akhir 2020 ini pun, kondisinya tak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mari kita kaji satu persatu secara singkat.

Dalam bidang ekonomi, kemiskinan masih menghantui umat. Di negeri yang gemah ripah loh jenawi ini, ternyata rakyatnya banyak yang miskin. Utang yang membelit karena penerapan sistem kapitalisme berbasis ribawi telah menyentuh angka 413,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp6.076,9 triliun dengan kurs Rp 14.700 (kompas.com, 15/10). Jumlah yang fantastis, bukan?

Bahkan berdasarkan laporan yang dirilis Bank Dunia berjudul International Debt Statistics (IDS) pada 12 Oktober 2020, Indonesia berada pada posisi ketujuh dari daftar 10 negara berpendapatan kecil menengah dengan nilai utang luar negeri terbesar di dunia. Sungguh prestasi yang luar biasa. Padahal, pemimpin saat ini berjanji takkan berutang lagi kala kampanye di 2014 lalu. Nyatanya, dalam dua periode kepemimpinannya, utang Indonesia kian membengkak tajam. (zonajakarta.com, 19/10/2020).

Itu baru mengenai utang. Belum lagi bila membahas pengelolaan sumber daya alam (SDA). Akan didapati bahwa pengelolaan SDA negeri ini telah diserahkan kepada pihak asing, terutama barang tambang. Menurut data Indonesia Mining Asosiation, Indonesia berada di peringkat ke-6 di dunia dengan kategori negara yang kaya akan sumber daya tambang.  Kekayaan alam berupa emas, nikel, batu bara, minyak dan gas alam. Dengan kekayaan barang tambang yang melimpah itu, sebenarnya Indonesia dapat mandiri secara ekonomi. Andai saja pengelolaannya 100 persen dilakukan oleh negara. Namun masalahnya, sebagian besar barang tambang itu telah dikuasai asing.

Dalam bidang Politik, hampir semua negeri muslim menerapkan demokrasi sistem kufur. Sistem ini telah melahirkan banyak kebijakan yang menzalimi dan menyengsarakan rakyat. Dalam politik internasional pun, negeri-negeri muslim menjadi negara pengekor yang terikat dengan banyak perjanjian. Tidaklah perjanjian-perjanjian itu menguntungkan, justru merugikan dan membawa mereka terjerumus dalam jebakan kapitalisme lebih jauh lagi.

Negeri-negeri muslim yang terkerat menjadi 50 negara dengan masing-masing entitasnya menjadi terlalu lemah tuk menghadapi negara kafir Barat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., mereka bak buih di lautan. Jumlahnya banyak, tapi tak memiliki kekuatan. Terombang-ambing dalam cengkraman para kapitalis global.

Apatah lagi bila berbicara mengenai UU terbaru yang disahkan. Mulai dari penggodokan RUU Ormas, UU HIP, UU Minerba, kisruh RUU PKS, hingga saat ini menuai pro dan kontra. RUU Cipta Kerja lebih sensasional. Diketok palu di tengah malam dengan pembahasan super cepat. Ditengarai semua UU itu lebih pro terhadap asing dibanding rakyat.

Belum selesai sampai di situ. Di tengah pandemi yang masih menghantui, pemerintah tetap keukeuh mengadakan Pilkada. Walaupun korban berjatuhan karena terserang covid-19 kian bertambah.

Adapun dalam bidang sosial keagamaan, kaum muslimin diwarnai dengan dekadensi moral. Kasus perceraian makin marak di masa pandemi. Kekerasan dalam rumah tangga, kasus pelecehan seksual, kenakalan remaja, pembunuhan, hingga kasus penyalahgunaan narkoba di berbagai kalangan kian marak terjadi.

Tak ketinggalan kasus persekusi tokoh-tokoh agama dan kriminalisasi yang berujung bui. Hanya karena mereka menyampaikan ajaran Islam yang menurut pandangan pemerintah bertentangan dengan pancasila. Bukan hanya pengembannya yang dipermasalahkan, ajaran Islamnya pun seperti khilafah, jihad, sejarah Islam mengenai peperangan, dll, menjadi bahan ajar yang harus 'dibersihkan' dari kurikulum pendidikan segala jenjang. Ditambah dalam dunia internasional, Islam dan Rasulullah Saw. masih menjadi bahan penghinaan dan ejekan. Sehingga, muncul gerakan-gerakan cinta Rasul di berbagai wilayah.

Para ulama yang vokal pun baru-baru ini didepak dari MUI, wadah yang menyatukan seluruh ormas Islam. Para pengamat politik menganalisis bahwa kemungkinan ada upaya 'pembersihan' dari orang-orang yang dinilai 'berbahaya'.

Dalam bidang pertahanan dan keamanan, wajah negeri ini selalu dibayang-bayangi kasus disintegrasi. Terutama di wilayah timur Indonesia, yakni Papua. Benny Wenda, Ketua United Liberation Movement West Papua, bahkan telah mendeklarasikan kemerdekaan Papua, 1 Desember lalu. Benny Wenda, yang ditunjuk sebagai Presiden Sementara Papua Barat tak lagi menghormati kedaulatan negeri ini. Bahkan berupaya meminta pertolongan dan pengukuhan dari Australia.

Lalu, bagaimana sikap penguasa? Dapat dikatakan adem ayem. Seperti tak ada sesuatu yang berbahaya. Padahal, jelas pendeklarasian itu mengancam keutuhan dan persatuan negeri ini. Berbeda halnya, bila yang melakukan upaya separatis itu muslim.

Umat muslim di luar negeri pun tak kalah sengsara. Muslim Palestina hingga kini masih terjajah. Suriah, Yaman, Yordan, Irak kian membara. Pakistan, Kirgistan, dan Afganistan masih mengalami diskriminasi. Bosnia dan Herzegovina masih teraniaya. Muslim Rohingya kian terusir. Muslim Xinjiang tetap berada dalam tekanan Pemerintahan Komunis China.

Masalah Utama Umat Muslim

Apa yang dialami umat muslim sedunia di segala aspek kehidupan, merupakan akibat dari tidak diterapkannya sistem Islam. Semua kepedihan, penderitaan, dan kesengsaraan umat ini berawal dari penerapan sistem kufur. Sistem Kapitalisme yang berasaskan sekularisme, yang kian hari kian mencengkram negeri-negeri kaum muslimin, tak terkecuali Indonesia. Walaupun kegagahan Kapitalisme sebenarnya telah memasuki masa usia senja.

Hal ini -tidak diterapkannya hukum Islam-, harus disepakati oleh seluruh kaum muslimin sebagai masalah utamanya. Bukan kemiskinan, kebodohan, bukan pula banyakmya kezaliman yang menimpa umat. Sekali lagi bukan. Karena sejatinya, semua masalah yang tadi disebutkan hanyalah masalah furu' alias masalah cabang. Sedangkan, masalah utamanya terletak pada tidak diterapkannya sistem Ilahi dalam kehidupan. Tapi, yang diterapkan adalah sistem yang berbasis akidah buatan manusia yang rusak dan merusak. Tak hanya merusak habitat manusia, tapi juga manusia dan rasa kemanusiaan itu sendiri.

Tidaklah lagi umat ini menyandang titel 'Khairu Ummah' atau umat terbaik, selama sistem Islam dicampakkan dalam kehidupan. Karenanya, agar umat Islam kembali menyandang titel itu, ada syarat dan ketentuan berlaku. Yaitu, umat ini harus bergerak melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar kepada penguasa zalim dan berjuang tuk menegakkan kembali sistem Islam.Ok

Namun, sistem Islam takkan dapat tegak bila menggunakan metode yang berasal dari sistem lain (sistem sekular demokrasi). Sistem Islam hanya akan tegak dengan mengikuti metode kenabian, yakni dengan menegakkan kembali institusi politik pemersatu umat. Tak lain dan tak bukan yaitu sistem pemerintahan Khilafah. Khilafahlah yang akan menerapkan hukum Allah secara totalitas dan menyatukan negeri-negeri muslim yang tersekat-sekat oleh batas semu nasionalisme.

Penegakan institusi politik ini menjadi misi seluruh umat Islam. Bukan hanya di negeri khatulistiwa ini, tapi juga di seluruh dunia. Dengan menegakkan kembali Khilafah, rahmat Allah Swt. dan keberkahan akan melingkupi jagad alam. Umat muslim pun akan terhindar dari segala bentuk penjajahan. Baik penjajahan fisik, ekonomi, politik, maupun budaya. Segala permasalahan yang mendera umat pun akan dapat teratasi.

Cukuplah dalil-dalil berikut ini sebagai pengingat dan penyemangat untuk selalu bergerak.

Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih baik untuk manusia daripada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi.” (HR Ahmad).

"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjaka." (TQS al-Araf [7]: 96)

Demikianlah, agar menjadi renungan bersama bagi kaum muslim. Bahwa harus fokus pada masalah utamanya. Tiada kebaikan pada pergantian demi pergantian pemimpin tanpa pergantian sistem yang sahih. Wallahu 'alam bishshawwab []

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tim NarasiPost.Com
Nay Beiskara Tim Redaksi NarasiPost.Com
Previous
Wilayah Konservasi dalam Islam
Next
Racun Berbalut Madu
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle

You cannot copy content of this page

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram