Rohingya ; Aina Anta yaa Amirul Mukminin?

Islam juga tidak hanya melindungi warga negaranya saja, tapi siapapun yang memberikan kepercayaannya terhadap kepemimpinan Islam, maka ia akan dilindungi dan dibebaskan dari kedzaliman penguasanya.


Oleh : Ita Harmi (Pengamat Sosial dan Politik)

NarasiPost.Com — Bagai anak ayam kehilangan induknya. Keadaannya tak lagi aman, tiada pelindung. Peluang dimangsa oleh binatang buas amatlah besar. Bila hujan kedinginan, tak ada sosok induk yang menghangatkan. Demikianlah gambaran kondisi umat Islam sejak hilangnya pelindung mereka. Sejam dihabisi oleh kekejaman Imperialisme Barat.

Rohingya adalah salah satu etnis minoritas kaum muslim yang berasal dari daerah Rakhine, Myanmar. Dahulunya, wilayah ini dikenal dengan nama Arakan. Sebuah nama yang diambil dari bahasa Arab "rukun" yang berarti pilar atau sendi. Jelas nama ini beraroma Islam, karena memang wilayah Arakan adalah wilayah kekuasaan Islam dibawah kerajaan Islam Arakan. Maka, wajarlah jika mayoritas etnis Rohingya beragama Islam. Namun, setelah invasi kerajaan Burma, etnis Rohingya di Arakan berubah menjadi minoritas sampai hari ini. Dan penamaan Arakan diganti menjadi Rakhine oleh kolonial British India, dimana Myanmar termasuk pada wilayah Imperium Inggris saat itu.


Kini minoritas Rohingya telah terusir dari kampung halamannya, oleh kerjasama pemerintah dan kalangan militer Myanmar secara brutal. Sejak terjadinya "Tragedi Rakhine" pada tahun 2012 yang lalu, muslim Rohingya mengalami nasib yang semakin tragis hingga saat ini.

Terusirnya mereka dari kampung halaman disebut karena konflik yang menyangkut SARA di wilayah tersebut. Adanya permusuhan antara Islam dan Budha di Rohingya diklaim sebagai faktor utama terjadinya konflik. Padahal, dibalik isu agama yang diberitakan kepada dunia, terdapat sebuah fakta yang tak bisa diabaikan. Bumi Rakhine yang ditinggali oleh muslim Rohingya memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti minyak bumi, gas, berlian, dan sumber daya alam lainnya.

Masalahnya adalah kekayaan tersebut di tempati dan dimiliki oleh sebagian besar penduduk muslim Rohingya. Makanya, dengan memunculkan isu agama, menjadi salah satu cara yang ampuh untuk menyulut kemarahan penduduk Myanmar nonmuslim untuk "mengusir" muslim Rohingya, kemudian mengambil alih tanah-tanah mereka.

Menurut pengakuan seorang pengungsi Rohingya yang sempat berlabuh di Aceh tahun 2015, bahwasanya pihak pemerintah Myanmar telah menguras kekayaan alam mereka. Ini terbukti dari dibangunnya pipa-pipa penyaluran minyak di daerah mereka, dimana hasil minyak tersebut dialirkan ke negeri Tirai Bambu.

Terusirnya muslim Rohingya ke negara-negara terdekat seperti Bangladesh, pada akhirnya juga menjadi masalah baru oleh pihak pemerintah setempat. Mereka menolak kedatangan para pengungsi tersebut, sebab dianggap sebagai imigran gelap. Karena itulah, pemerintah Dhaka mengambil kebijakan untuk memindahkan pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil bernama Pulau Bhasan Char yang terbentuk dari endapan lumpur yang rawan banjir, tak jauh dari daratan Bangladesh. Perbedaan kebangsaan memang menjadi alasan bagi Bangladesh untuk menolak muslim Rohingya secara halus, walaupun sejatinya Bangladesh adalah negara ketiga dengan penduduk muslim terbesar setelah Indonesia dan Pakistan.

Ide busuk nasionalisme faktanya memang telah mampu menyekat persatuan kaum muslim. Menghilangkan rasa kepedulian antar sesama saudara seiman. Nasionalisme menjadi racun di setiap benak kaum muslim. Menyebabkan penderitaan dari saudara muslim yang tidak "sepagar" dengan mereka bukanlah urusan mereka.

Pihak dunia juga tak memiliki pengaruh apapun terhadap konflik yang terjadi di Myanmar. Lembaga tingkat internasional seperti PBB dan Human Rights Watch (HRW), bahkan hanya sebatas mengecam tindakan tersebut. Tanpa menunjukkan tindakan nyata apapun. Padahal, jelas-jelas disana terdapat kekerasan, pemerasan, pelanggaran HAM, bahkan pembantaian manusia. Seharusnya, merekalah yang terdepan dan paling lantang membela muslim Rohingya, sekalipun hanya dengan alasan kemanusiaan. Berharap solusi atas kemelut Rohingya kepada mereka sama saja seperti pungguk merindukan bulan.

Minoritas muslim Rohingya nyatanya telah mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil, baik oleh pemerintah Myanmar maupun oleh lembaga resmi dunia. Keadaan ini sangat bertolak belakang bila dibandingkan dengan sesama etnis minoritas seperti Israel. Negara Israel yang hari ini berada di Yerusalem adalah wilayah kaum muslim pada dasarnya. Wilayah yang dahulunya dibebaskan oleh Shalahuddin Al Ayyubi dari kekuasaan Pasukan Salib. Justru diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kaum muslim dan nonmuslim yang menyerahkan perlindungannya kepada Islam. Namun, oleh Israel wilayah ini kemudian dirampas, dicaplok, dan penduduk muslim setempat diusir dan dibantai secara brutal.

Aksi Israel di tanah Baitul Maqdis ini justru didukung dan disokong oleh PBB yang sejatinya adalah lembaga bentukan dari Amerika, Inggris, Cina, Prancis dan Uni Soviet. Dengan cara win-win solution, PBB membagi dua wilayah Yerusalem, untuk Israel dan muslim Palestina. PBB bukannya memberikan kartu merah untuk Israel atas perampasan wilayah yang dilakukannya. Dari sini bisa disimpulkan bahwa penghapusan penjajahan atas kaum muslim di seluruh dunia tidak akan pernah mendapatkan penyelesaianm. Karena didukung oleh lembaga dunia, meskipun berdirinya mereka atas nama HAM dan kemanusiaan.

Harapan satu-satunya kaum muslim di seluruh dunia untuk terbebas dari penjajahan bangsa-bangsa serakah adalah dengan mempersatukan kembali kaum muslim sedunia dibawah satu kendali kepemimpinan, yakni Islam.

Islam memiliki pandangan bahwa semua muslim adalah saudara. Saudara seakidah dengan satu iman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad sholallahu 'alaihi wassalam. Sebagaimana yang termaktub dalam kalam-Nya, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara." (TQS. Al Hujurat : 10)


Hal ini juga diperkuat dengan perkataan kekasih-Nya sang Khatimul Anbiya,
"Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam." (HR Bukhari dan Muslim)


"Salah seorang di antara kamu sekalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim)

Islam tidak mengikat kaum muslim dalam batas nasionalisme, namun mereka berada dalam satu payung kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Islam. Satu negara untuk seluruh kaum muslim sedunia. Dengan kepemimpinan inilah nantinya hak-hak kaum muslim dilindungi dan dijaga dari penjajahan bangsa manapun. Sehingga, apabila saudaranya ditindas di luar wilayah kekuasaan Islam, mereka akan dengan mudah menerima dan membantu kesusahan saudaranya.

Sebagaimana yang telah dialami oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalam, ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah. Makkah sekalipun adalah kampung halaman Nabi, tetapi menjadi tempat yang tidak aman untuk keberadaan kaum Muslim saat itu. Sebab itulah beliau hijrah ke Madinah. Disana disambut dengan sambutan yang tidak ada bandingannya hingga hari ini. Masyarakat Madinah dengan tangan terbuka menyambut kedatangan saudaranya yang mengungsi dari Makkah. Kaum Khazraj dan 'Auz kala itu memberikan sebagian rumah-rumah, kebun-kebun, bahkan sebagian dari istri-istri yang mereka miliki untuk para pengungsi dari Makkah. Sedikitpun mereka tidak menolak apalagi sampai mengusir kembali dengan membuang saudaranya ke pulau terpencil tanpa jaminan kebutuhan pokok. Adakah yang melebihi kecintaan demikian hari ini?

Islam juga tidak hanya melindungi warga negaranya saja, tapi siapapun yang memberikan kepercayaannya terhadap kepemimpinan Islam, maka ia akan dilindungi dan dibebaskan dari kezaliman penguasanya.

Sultan Bayezid II pernah mengirimkan pasukan dari angkatan laut Utsmani dengan komando Laksamana Kemal Reis ke Spanyol demi menyelamatkan Yahudi yang diusir oleh para Kristen dari Spanyol. Dia memberikan jaminan tempat tinggal dan hak menjadi warga negara kekhilafahan Utsmani. Bahkan, Sultan Beyezid II berpesan kepada seluruh walinya yang ada di wilayah Eropa untuk menerima kedatangan pengungsi Yahudi tersebut dengan sambutan terbaik. Mengancam akan menghukum mati siapa saja yang berani menolak dan mengancam keberadaan para pengungsi di dalam wilayah kekuasaan Islam.

Masyaa Allah, Demi Allah sungguh tidak ada bangsa manapun yang menandingi perlindungan seperti perlindungan yang diberikan Islam kepada umat manusia.

Sayang sejuta sayang, Islam sebagai pengatur kehidupan justru dicampakkan, dibuang, dan dicap sebagai biang masalah di seluruh dunia. Sehingga keberadaannya disifati dengan radikal dan penebar teror. Dunia telah berhasil memutarbalikkan fakta yang sebenarnya.

Oleh sebab itu, menjadi kewajiban atas seluruh pundak kaum muslim hari ini untuk berusaha mengembalikan Islam kepada tempatnya semula. Selain untuk memenuhi konsekuensi keimanannya terhadap Allah, juga agar kaum muslim di seluruh dunia tidak dengan mudahnya ditindas hak-haknya. Dijarah tanah-tanahnya dan dirampas harta kekayaannya. Rohingya wajib dikembalikan ke keadaan disaat mereka meraih kejayaannya, bersama kerajaan Arakan yang berada dibawah kepemimpinan Daulah Islam.

Tak hanya Rohingya, Uyghur, muslim India, Bosnia, dan muslim lainnya. Dimanapun mereka berada, tidak lagi merasakan kepedihan seperti kepedihan yang mereka dapatkan hari ini. Terjamin keamanan dan kehidupannya oleh sang pemimpin Daulah Islam. Yaa Amirul Mukminin, aina anta? Kami sangat membutuhkan perlindunganm. Wahai kaum muslim, bangkitlah! Dan layakkan dirimu saat ini untuk mendapatkan bisyaroh Rasulullah!

"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas izin Alah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430)

Wallahu a'lam bishowab

Pictures by google


Disclaimer: Www.NarasiPost.Com adalah wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Disclaimer

Www.NarasiPost.Com adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  NarasiPost.Com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Www.NarasiPost.Com. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Mereformasikan Diri Dengan Tauhid
Next
Panggung Ratapan
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram